Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Info Teknologi»Teknologi Pengendalian Penyakit secara Kimiawi

Teknologi Pengendalian Penyakit secara Kimiawi

12.11.2015
BBPadi
10798

Teknologi Pengendalian Penyakit secara Kimiawi

12.11.2015
BBPadi
10798

Feromon

Serangga betina dewasa berkomunikasi dengan jantan dewasa menggunakan ekskresi bahan kimia dari tubuh yang disebut feromon. Feromon sangat spesifik, hanya untuk spesies yang sama. Serangga betina mengekresikan feromon untuk menarik serangga jantan. Feromon akan menuntun jantan untuk menemukan betina, karena sifatnya yang dapat menarik serangga jantan, feromon dapat digunakan untuk menangkap massal serangga jantan atau untuk mengacaukan proses perkawinan. Penggunaan feromon buatan mengecoh serangga jantan sehingga mengacaukan perkawinan. Karena itu kopulasi alami tidak terjadi atau terganggu (mating disruption). Feromon hama padi yang telah teridentifikasi adalah untuk tiga spesies penggerek batang (Hendarsih et al.2000)

Pestisida Nabati

Ekstrak tanaman tembakau dan akar tuba dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah nimba dan sambilata (Mariappan et al. 1983 Widiarta et al. 1997). Bahan nabati yang dapat digunakan untuk mengendalikan keong (molukisida nabati) adalah rerak, ekstrak biji teh.

Fungisida

Fungisida digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penggunaan fungisida untuk mengendalikan penyakit tanaman padi lebih berkembang dibandingkan dengan bakterisida untuk mengendalikan penyakit padi yang disebabkan oleh bakteri (Sudir dan Suparyono 1999)

Pestisida Sintesis

Insektisida sintesis paling dikenal dan digunakan secara luas untuk mengendalikan hama serangga. Insektisida diandalkan untuk menekan populasi dalam waktu yang relatif singkat, petani sangat menyukainya sehingga penggunaan pestisida tidak rasional.

Penggunaan insektisida yang tidak rasional dapat menyebabkan hama lebih tahan (resisten) terhadap insektisida, bahkan populasinya bertambah setelah aplikasi (resurjen) (Chelliah et al. 1980). Untuk membunuh serangga yang telah tahan, diperlukan dosis yang lebih tinggi. Resurjen terjadi karena perubahan fisiologis serangga sehingga keperidiannya meningkat, atau secara ekologis karena musuh alaminya berkurang.

Rodentisida

Rodentisida digunakan untuk meracuni tikus, diformulasi dalam bentuk yang telah dicampur dengan umpan atau terpisah (Sudarmaji 2007). Daya racun rodentisida ada yang dapat mematikan tikus (racun akut) pada saat memakan dan ada yang perlu waktu beberapa hari untuk mematikan tikus (antikuagulan).

Fumigan

Bahan kimia dalam bentuk uap atau asap digunakan untuk membunuh hama atau serangga di gudang penyimpanan atau tikus dalam lubang. Untuk menghembuskan asap ke dalam lubang tikus digunakan alat yang disebut emposan (Sudarmaji 2007)

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
  • https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini4
Hari Kemarin52
Minggu ini377
Bulan ini1060
Total Pengunjung4912238
Online saat ini
1

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi