BBPadi

ICRR

Indonesian Center for Rice Research

IAARD - Ministry of Agriculture

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
You are here:Beranda»Info & Berita»Berita»Belajar Reproduksi: Petani Belanti Siam Praktek Bedah Tikus

Belajar Reproduksi: Petani Belanti Siam Praktek Bedah Tikus

Thursday, 01 July 2021
Written by BBPadi
540

Belajar Reproduksi: Petani Belanti Siam Praktek Bedah Tikus

Thursday, 01 July 2021
Written by BBPadi
540

Tikus sawah merupakan hama utama tanaman padi yang paling banyak menimbulkan kerusakan di area pertanaman program Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif lahan rawa di Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kerusakan tanaman yang tergolong ringan tersebut disebabkan stadia tanaman yang bervariasi dan kurangnya pemahaman petani dalam teknik pengendalian tikus terpadu.

Upaya Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dalam pengendalian hama tikus di wilayah itu diawali dengan memberikan pemahaman tentang tikus melalui bimbingan teknis pengendalian hama tikus terpadu dan presisi kepada dua kelompok tani di Desa Belanti Siam.

Rachmawati selaku peneliti hama tikus yang juga narasumber dalam bimtek ini mengajak para petani untuk bersama-sama melakukan praktik fumigasi (pengemposan) lubang sarang dan memberikan pemahaman tentang reproduksi tikus sawah.

Disela-sela kegiatan praktek pengemposan yang dilakukan bersama-sama 30 petani, Rachma menjelaskan tentang karakteristik lubang tikus dan tips mengempos yang benar dan efektif. Alhasil dari pengemposan dengan belerang dapat menangkap sepuluh ekor tikus jantan dan betina dari tujuh lubang yang diempos.

Peserta bimtek diajak membedah tikus hasil tangkapan untuk bersama-sama aktif mempelajari reproduksinya. Dijelaskan bahwa reproduksi merupakan faktor biologis yang penting dalam peningkatan populasi tikus sawah. Rachma mengatakan bahwa tikus betina siap kawin pada umur 30 hari dan tikus jantan baru siap kawin setelah berumur 60 hari. Periode bunting dan menyusui masing-masing selama 21 hari dan dapat kawin lagi 48 jam setelah melahirkan anak. Jumlah anak yang dilahirkan rata-rata 10 ekor setiap kelahiran dengan nisbah kelamin 1:1.

Ditambahkan bahwa satu ekor tikus betina berpotensi melahirkan tiga kali dan dapat berkembang menjadi 80 ekor tikus dalam satu musim tanam padi.

Melansir naskah orasi Prof. Sudarmaji disebutkan bahwa reproduksi tikus sawah dipicu oleh adanya tanaman padi bunting. Secara alamiah terindikasi bahwa tikus bunting berbarengan waktunya dengan buntingnya tanaman padi. Hal ini diduga tikus merespon terjadinya perubahan fenologi tanaman. Dinamika populasi tikus sawah di ekosistem sawah irigasi dan rawa mengikuti pola tanam padi. Pada pola tanam padi dua kali setahun akan terdapat dua kali puncak populasi. Sedangkan pada daerah dengan pola tanam padi intensif dan waktu tanam tidak serempak, fluktuasi populasi tikus sawah tidak beraturan dan cenderung selalu tinggi.

Oleh karena itu pengendalian tikus sebisa mungkin dilakukan secara massal, serentak dan kompak dalam skala luas karena dapat menurunkan populasi tikus yang sangat signifikan dan peran petani akan sangat membantu dalam upaya pengendalian hama ini.

Tikus sawah sebagai hama utama menjadi salah satu ancaman dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Inovasi teknologi pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) merupakan terobosan untuk mengatasi hama tikus pada tanaman padi. Konsep dasar PHTT adalah pengendalian hama tikus berbasis bioekologi dan kelembagaan petani, dengan komponen teknologi utama TBS dan LTBS yang didukung oleh teknologi konvensional lainnya.  (BB Padi Media)

Bagikan Konten

Tagged under

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
  • https://bbpadi.litbang.pertanian.go.id
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini43
Hari Kemarin67
Minggu ini183
Bulan ini1300
Total Pengunjung4912478
Online saat ini
1

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi