Artikel Ilmiah

Artikel Ilmiah (57)

Penyakit tungro pada padi disebabkan oleh kompleks virus berbentuk batang dan bulat dan ditularkan oleh wereng hijau terutama Nephotettix virescens. Penularan penyakit bersifat semipersisten dengan periode pemerolehan dan penularan virus oleh vektor yang sangat singkat. Penyakit ini merupakan salah satu kendala dalam menciptakan stabilitas produksi padi karena bersifat endemis di sentra produksi padi nasional Jawa dan Bali. Fluktuasi kepadatan populasi vektor mempengaruhi keberadaan penyakit.

Kepadatan populasi wereng hijau umumnya rendah (kurang dari 1 ekor imago/rumpun) dan hanya meningkat sekali selama satu periode pertanaman padi, terutama pada pola tanam tidak serempak. Pemencaran imago mempengaruhi dinamika populasi wereng hijau. Oleh karena itu, upaya menekan proporsi vektor infektif merupakan alternatif strategi dalam menghambat penyebaran penyakit tungro dan mengimbangi kemampuan pemencaran imago. Berdasarkan strategi tersebut pengendalian terpadu penyakit tungro disusun dengan mengintegrasikan taktik pengendalian yang dapat menekan aktivitas pemencaran imago wereng hijau dan mengurangi kemampuan dalam memperoleh maupun menularkan



Padi tipe baru (PTB) atau new plant type of rice (NPT) mempunyai potensi hasil lebih tinggi daripada varietas unggul baru. Oleh karena itu, pembentukan PTB perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan produktivitas dan produksi padi. Pembentukan PTB di Indonesia dimulai pada tahun 1995. Melalui program ini telah dilepas varietas unggul semi-PTB, yaitu Cimelati (2001), Gilirang (2002), dan Ciapus (2003), serta varietas unggul tipe baru Fatmawati (2003). Namun varietas-varietas tersebut memiliki kekurangan, seperti anakan sedikit dan persentase gabah hampa tinggi, sehingga potensi hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Sesuai dengan kondisi Indonesia yang beriklim tropis serta hama dan penyakit merupakan masalah utama, PTB yang cocok adalah yang mempunyai jumlah anakan sedang tetapi semua produktif (12-18 batang), jumlah gabah per malai 150-250 butir, persentase gabah bernas 85-95%, bobot 1.000 gabah bernas 25-26 g, batang kokoh dan pendek (80-90 cm), umur genjah (110-120 hari), daun tegak, sempit, berbentuk huruf V, hijau sampai hijau tua, 2-3 daun terakhir tidak cepat luruh, akar banyak dan menyebar dalam, tahan terhadap hama dan penyakit utama, gabah langsing, serta mutu beras dan nasi baik. Dengan sifat-sifat tersebut, varietas PTB diharapkan mampu berproduksi 9-13 t GKG/ha.

Pada tahun 2001, pembentukan PTB lebih diintensifkan dengan menggunakan berbagai sumber gen atau sifat dari indica, japonica, dan padi liar melalui persilangan. Melalui upaya tersebut telah diperoleh galur-galur harapan yang mempunyai sifat-sifat yang lebih baik dibanding varietas-varietas yang ada, seperti gabah hampa lebih rendah dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama.

Sejak tahun 2004 telah digunakan metode seleksi silang berulang dan kultur antera untuk mempercepat pembentukan varietas PTB. Dengan menggunakan metode tersebut telah diperoleh galur-galur yang mempunyai potensi hasil tinggi dan seragam.

 



Penetapan lahan sawah abadi di Pulau Jawa merupakan kepentingan nasional, mengingat luasnya lahan dan tingginya tingkat produktivitas sehingga mampu memasok 60% produksi padi nasional. Namun, keberadaan lahan sawah tersebut terus terancam oleh proses konversi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa selama tahun 1981-1999 di Indonesia terjadi konversi lahan sawah seluas 1,60 juta ha, dan sekitar 1 juta ha di antaranya terjadi di Jawa. Oleh karena itu, agar ketahanan pangan nasional tetap terjamin, perlu ditetapkan kawasan yang harus terus dipertahankan sebagai lahan sawah abadi atau utama, dan hanya boleh dikonversi dengan kompensasi yang berat.

Untuk tujuan tersebut telah tersedia metode penggolongan lahan sawah yang didasarkan pada kriteria biofisik dengan tiga parameter, yaitu status irigasi, intensitas tanam (IP-padi), dan tingkat produktivitas. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh empat kelas sawah, yaitu lahan utama I, lahan utama II, lahan sekunder I, dan lahan sekunder II. Hasil pemetaan dan penghitungan membuktikan bahwa luas lahan sawah utama di Jawa mencapai 3.134.588 ha atau 88,50% dari luas lahan sawah di Jawa yang harus dilindungi dari upaya konversi. Penetapan lahan sawah abadi perlu didukung dengan peraturan (perundangan) yang kuat serta upaya pemecahan masalah sosial dan ekonomi.

 



Rendahnya tingkat adopsi dan sempitnya keragaman genetik varietas unggul di lahan petani merupakan salah satu masalah utama dalam program pemuliaan padi gogo yang tersentralisasi. Seleksi varietas secara partisipatif (Participatory Varietal Selection=PVS) dirancang untuk memecahkan permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penampilan sejumlah galur harapan padi gogo dan mengetahui preferensi petani melalui pendekatan PVS dengan menggunakan metode Induk-Anak (Mother-Baby Trial).

Sebanyak 14 galur harapan padi gogo dievaluasi di kebun percobaan dan di lahan petani di Lampung sebagai percobaan Induk, dan tujuh galur harapan diuji di sepuluh lahan petani sebagai percobaan Anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua galur harapan mendapatkan respon disukai maupun tidak disukai oleh para petani. Hal ini mengindikasikan adanya keragaman preferensi petani terhadap galur-galur hasil pemuliaan. Introduksi galur-galur harapan yang beragam melalui PVS untuk menggantikan varietas lokal yang ada di petani diharapkan dapat mempercepat adopsi varietas unggul sekaligus memelihara keragaman genetik di lahan petani.

 



The F1 hybrid sterility in indica/japonica crosses is the major barrier in developing hybrid rice varieties between these two diverse germplasm. The sterility problem in japonica/indica hybrids can be overcome by using wide compatibility genes. The objective of this study was to identify wide compatibility varieties (WCVs) in some tropical japonica rice. Twenty five tropical japonica varieties as male parents were crossed with indica (IR64) and japonica (Akitakomachi) testers as female parents. The crosses were planted following a randomized complete block design with three replications.

Varieties having average spikelet fertility of more than 70% with both the indica and japonica testers were rated as WCVs. Result from this study showed that six tropical japonica varieties were classified as WCVs, i.e., Cabacu, Grogol, Kencana Bali, Klemas, Lampung Lawer, and Napa. Hybrid sterility is caused by partial sterility of male and female gametes. The WCVs from the present study can be used in hybrid rice breeding program to solve hybrid sterility in indica/japonica hybrids.

 



Rabu, 20 Mei 2015 15:49

Silikon Hara Penting pada Sistem Produksi Padi

Ditulis oleh

Silikon (Si) banyak terkandung pada tanaman graminae, seperti padi, jagung, dan tebu, terutama di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah/tidak optimal; (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan; (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan penyakit dan hama; (4) tanaman mudah rebah; dan (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit. Akibatnya, hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah.

Penggunaan kembali Si yang dahulu selalu diperhatikan pada budi daya padi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, hampir dapat dipastikan akan meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Memopulerkan kembali penggunaan pupuk silikat pada tanaman padi saat ini sangat tepat, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional sebesar 5%, dimana pemanfaatan lahan-lahan suboptimal, lahan- lahan endemik hama dan penyakit, serta lahan optimal dengan penggunaan pupuk N dosis tinggi semakin meluas dan intensif. Lahan-lahan tersebut me- merlukan tambahan silikat.

 



Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas galur BP1924-1e-5-2 dengan nama varietas Aek Sibundong. Untuk mengevaluasi respon dan preferensi konsumen terhadap beras merah yang ditawarkan, dilakukan penelitian di tujuh provinsi yaitu Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, dan NTB. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik kimiawi beras merah, karakteristik dan opini responden, persepsi dan respon terhadap produk beras merah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka menggunakan kuesioner sebagai pedoman.

Jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 700 orang yang terdiri dari petani produsen, pengusaha, dan konsumen. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa dari segi mutu gizi, Aek Sibundong mempunyai kandungan asam folat dua kali lipat dibanding Ciherang. Karena itu Aek Sibundong dapat menurunkan kadar homosistein penyebab kepikunan dan menyingkirkan sumbatan pembuluh darah pemicu serangan stroke dan jantung koroner. Secara statistik, responden di semua lokasi penelitian menyatakan rasa nasi beras merah lebih baik atau sama saja dibanding rasa nasi yang biasa dikonsumsi.

Responden di desa umumnya lebih menyukai rasa nasi beras merah dibanding responden kota, kecuali responden di propinsi Jatim dan Bali. Tingkat pengetahuan responden di Sumut, Bali, dan NTB yang terbiasa mengonsumsi beras merah lebih baik dibanding propinsi lainnya. Responden di Jabar, Jateng, dan Sulsel baik di desa maupun di kota menyatakan warna beras merah lebih baik, lebih jelek atau sama saja dengan yang biasa terhadap dikonsumsi relatif sama. Secara statistik ukuran beras merah yang diperkenalkan tidak berbeda nyata dengan beras putih yang biasa dikonsumsi responden.

Persepsi antara responden di desa dan di kota terhadap beras merah dalam hal gizi dibanding beras yang biasa dikonsumsi ternyata sama secara statistik, kecuali di propinsi Jateng dan Bali. Secara keseluruhan responden di desa dan di kota di propinsi Jateng, Jatim, Bali, dan NTB menyatakan beras merah yang diperkenalkan lebih baik dibanding beras yang biasa dikonsumsi kecuali di Jabar dan Sulsel.

 



Rabu, 20 Mei 2015 15:47

Pengembangan Padi Hibrida di Indonesia

Ditulis oleh

Pengembangan varietas padi hibrida secara komersial setidaknya didasarkan atas dua hal, yaitu keunggulan varietas hibrida tersebut dan kemudahan produksi benihnya. Keunggulan varietas padi hibrida didasarkan atas fenomena heterosis yang diharapkan muncul, terutama potensi hasil, sedangkan kemudahan produksi benih dapat dilakukan dengan penggunaan galur mandul jantan dengan karakter pembungaan yang mendukung persilangan alami.

Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1983 dengan tujuan menjajagi prospek dan kendala penggunaan padi hibrida. Sejak 1998 penelitian lebih diintensifkan dengan melakukan pembentukan tetua padi hibrida yang berasal dari plasma nutfah sendiri dengan target mendapatkan padi hibrida yang adaptif di lingkungan Indonesia dan berpotensi hasil 15-20% lebih tinggi dibanding varietas inbrida terbaik.

Sejak 2001 penelitian padi hibrida melibatkan lebih banyak peneliti dari berbagai disiplin ilmu dengan tujuan meningkatkan stabilitas heterosis dan mendapatkan teknik budi daya yang sesuai untuk padi hibrida. Dari program pembentukan tetua dan hibrida telah diperoleh sejumlah padi hibrida harapan, kandidat galur mandul jantan baru beserta pasangannya, dan galur-galur restorer.

Pada tahun 2002 telah dilepas varietas Maro dan Rokan, disusul Hipa 3 dan Hipa 4 pada tahun 2004, Hipa 5 Ceva dan Hipa 6 Jete pada tahun 2007. Di lingkungan yang sesuai, varietas-varietas tersebut mampu menghasilkan gabah 1,0-1,5 t/ha lebih tinggi dibanding varietas inbrida terbaik di daerah yang bersangkutan. Pada umumnya varietas padi hibrida yang sudah dilepas termasuk 25 varietas padi hibrida swasta masih mempunyai kelemahan, antara lain rentan terhadap wereng coklat, hawar daun bakteri, dan atau tungro.

Tingkat heterosis dari varietas padi hibrida yang dilepas oleh BB Padi bervariasi antarlokasi. Dengan kata lain, hibrida tersebut bersifat spesifik lokasi. Pengujian selanjutnya menunjukkan sejumlah hibrida yang unggul merupakan turunan dari galur mandul IR58025A, IR62829A, dan IR68897A. Pemuliaan untuk membentuk galur-galur tetua dan hibrida yang lebih baik dilakukan secara terus-menerus. Pembentukan dan perbaikan galur mandul jantan dan restorer yang tahan wereng coklat, hawar daun bakteri atau tungro sedang dalam proses dan saat ini sudah diperoleh sejumlah galur mandul jantan dan restorer yang tahan wereng coklat dan hawar daun bakteri.

 



Pemanfaatan kandungan fosfat tanah secara optimal merupakan strategi terbaik untuk mempertahankan produktivitas lahan dan meningkatkan efisiensi pemupukan. Pada lahan irigasi, pemanfaatan fosfat tanah bahkan dapat mengurangi terjadinya timbunan pupuk P, dan menghindari kemungkinan kahat seng maupun nitrogen pada tanaman padi akibat terikat oleh fosfat.

Agar tanah tetap produktif maka konsep pemupukan hendaknya mengikuti prinsip bahwa jumlah hara yang diberikan berupa pupuk cukup untuk menutupi defisit antara hara yang diperlukan tanaman dengan kemampuan tanah mensuplai hara. Penetapan jumlah pupuk perlu memperhatikan target hasil yang ingin diperoleh dan status hara dalam tanah agar pemupukan lebih efisien.

Tiga metode yang disarankan untuk dijadikan pedoman dalam menetapkan dosis pupuk P pada tanaman padi sawah adalah: (1) berdasarkan hasil analisis tanah, (2) penggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS), (3) berdasarkan hasil uji pupuk melalui petak omisi. Ketiga metode ini saling komplementer, dapat digunakan salah satu atau lebih, karena hasilnya saling melengkapi. U

 



Mineral mempunyai fungsi penting bagi kesehatan manusia, seperti membentuk jaringan tubuh, menggiatkan, mengatur, dan mengendalikan proses meta- bolisme, serta mengalihkan pesan-pesan syaraf. Mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral makro (Ca, P, Mg, Na, K, Cl, S) serta mineral mikro (Fe, I, Zn, Cu, Mn, Cr, Co, Se, Mo, F). Kebutuhan akan mineral-mineral itu dapat dipenuhi melalui pangan.

Di Indonesia, beras menyumbang 63% terhadap total kecukupan energi, 38% protein, dan 21,5% zat besi. Para pemulia tanaman Indonesia telah merakit sejumlah varietas unggul padi yang masing-masing mempunyai keunggulan dalam hal kandungan mineralnya. Varietas Bengawan Solo (Ca tinggi) atau Limboto (P tinggi) baik dikonsumsi untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis).

IR42 dan Cimelati cocok dikonsumsi anak-anak penderita autis serta diolah menjadi tepung pengganti tepung terigu. Cimelati (besi tinggi) atau Bengawan Solo (tembaga tinggi) sesuai bagi wanita hamil, pekerja keras, anak- anak di bawah lima tahun, serta anak-anak penderita anemia gizi besi.

 



Halaman 1 dari 5

Artikel Ilmiah

Sistem Perbenihan Padi

Hits:2545 | 20-05-2015

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini263
Hari kemarin1841
Minggu ini263
Bulan ini48443
Jumlah Pengunjung966436
Online sekarang
25

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Artikel Ilmiah

Artikel Ilmiah (57)

Penyakit tungro pada padi disebabkan oleh kompleks virus berbentuk batang dan bulat dan ditularkan oleh wereng hijau terutama Nephotettix virescens. Penularan penyakit bersifat semipersisten dengan periode pemerolehan dan penularan virus oleh vektor yang sangat singkat. Penyakit ini merupakan salah satu kendala dalam menciptakan stabilitas produksi padi karena bersifat endemis di sentra produksi padi nasional Jawa dan Bali. Fluktuasi kepadatan populasi vektor mempengaruhi keberadaan penyakit.

Kepadatan populasi wereng hijau umumnya rendah (kurang dari 1 ekor imago/rumpun) dan hanya meningkat sekali selama satu periode pertanaman padi, terutama pada pola tanam tidak serempak. Pemencaran imago mempengaruhi dinamika populasi wereng hijau. Oleh karena itu, upaya menekan proporsi vektor infektif merupakan alternatif strategi dalam menghambat penyebaran penyakit tungro dan mengimbangi kemampuan pemencaran imago. Berdasarkan strategi tersebut pengendalian terpadu penyakit tungro disusun dengan mengintegrasikan taktik pengendalian yang dapat menekan aktivitas pemencaran imago wereng hijau dan mengurangi kemampuan dalam memperoleh maupun menularkan



Padi tipe baru (PTB) atau new plant type of rice (NPT) mempunyai potensi hasil lebih tinggi daripada varietas unggul baru. Oleh karena itu, pembentukan PTB perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan produktivitas dan produksi padi. Pembentukan PTB di Indonesia dimulai pada tahun 1995. Melalui program ini telah dilepas varietas unggul semi-PTB, yaitu Cimelati (2001), Gilirang (2002), dan Ciapus (2003), serta varietas unggul tipe baru Fatmawati (2003). Namun varietas-varietas tersebut memiliki kekurangan, seperti anakan sedikit dan persentase gabah hampa tinggi, sehingga potensi hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Sesuai dengan kondisi Indonesia yang beriklim tropis serta hama dan penyakit merupakan masalah utama, PTB yang cocok adalah yang mempunyai jumlah anakan sedang tetapi semua produktif (12-18 batang), jumlah gabah per malai 150-250 butir, persentase gabah bernas 85-95%, bobot 1.000 gabah bernas 25-26 g, batang kokoh dan pendek (80-90 cm), umur genjah (110-120 hari), daun tegak, sempit, berbentuk huruf V, hijau sampai hijau tua, 2-3 daun terakhir tidak cepat luruh, akar banyak dan menyebar dalam, tahan terhadap hama dan penyakit utama, gabah langsing, serta mutu beras dan nasi baik. Dengan sifat-sifat tersebut, varietas PTB diharapkan mampu berproduksi 9-13 t GKG/ha.

Pada tahun 2001, pembentukan PTB lebih diintensifkan dengan menggunakan berbagai sumber gen atau sifat dari indica, japonica, dan padi liar melalui persilangan. Melalui upaya tersebut telah diperoleh galur-galur harapan yang mempunyai sifat-sifat yang lebih baik dibanding varietas-varietas yang ada, seperti gabah hampa lebih rendah dan lebih tahan terhadap hama dan penyakit utama.

Sejak tahun 2004 telah digunakan metode seleksi silang berulang dan kultur antera untuk mempercepat pembentukan varietas PTB. Dengan menggunakan metode tersebut telah diperoleh galur-galur yang mempunyai potensi hasil tinggi dan seragam.

 



Penetapan lahan sawah abadi di Pulau Jawa merupakan kepentingan nasional, mengingat luasnya lahan dan tingginya tingkat produktivitas sehingga mampu memasok 60% produksi padi nasional. Namun, keberadaan lahan sawah tersebut terus terancam oleh proses konversi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa selama tahun 1981-1999 di Indonesia terjadi konversi lahan sawah seluas 1,60 juta ha, dan sekitar 1 juta ha di antaranya terjadi di Jawa. Oleh karena itu, agar ketahanan pangan nasional tetap terjamin, perlu ditetapkan kawasan yang harus terus dipertahankan sebagai lahan sawah abadi atau utama, dan hanya boleh dikonversi dengan kompensasi yang berat.

Untuk tujuan tersebut telah tersedia metode penggolongan lahan sawah yang didasarkan pada kriteria biofisik dengan tiga parameter, yaitu status irigasi, intensitas tanam (IP-padi), dan tingkat produktivitas. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh empat kelas sawah, yaitu lahan utama I, lahan utama II, lahan sekunder I, dan lahan sekunder II. Hasil pemetaan dan penghitungan membuktikan bahwa luas lahan sawah utama di Jawa mencapai 3.134.588 ha atau 88,50% dari luas lahan sawah di Jawa yang harus dilindungi dari upaya konversi. Penetapan lahan sawah abadi perlu didukung dengan peraturan (perundangan) yang kuat serta upaya pemecahan masalah sosial dan ekonomi.

 



Rendahnya tingkat adopsi dan sempitnya keragaman genetik varietas unggul di lahan petani merupakan salah satu masalah utama dalam program pemuliaan padi gogo yang tersentralisasi. Seleksi varietas secara partisipatif (Participatory Varietal Selection=PVS) dirancang untuk memecahkan permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penampilan sejumlah galur harapan padi gogo dan mengetahui preferensi petani melalui pendekatan PVS dengan menggunakan metode Induk-Anak (Mother-Baby Trial).

Sebanyak 14 galur harapan padi gogo dievaluasi di kebun percobaan dan di lahan petani di Lampung sebagai percobaan Induk, dan tujuh galur harapan diuji di sepuluh lahan petani sebagai percobaan Anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua galur harapan mendapatkan respon disukai maupun tidak disukai oleh para petani. Hal ini mengindikasikan adanya keragaman preferensi petani terhadap galur-galur hasil pemuliaan. Introduksi galur-galur harapan yang beragam melalui PVS untuk menggantikan varietas lokal yang ada di petani diharapkan dapat mempercepat adopsi varietas unggul sekaligus memelihara keragaman genetik di lahan petani.

 



The F1 hybrid sterility in indica/japonica crosses is the major barrier in developing hybrid rice varieties between these two diverse germplasm. The sterility problem in japonica/indica hybrids can be overcome by using wide compatibility genes. The objective of this study was to identify wide compatibility varieties (WCVs) in some tropical japonica rice. Twenty five tropical japonica varieties as male parents were crossed with indica (IR64) and japonica (Akitakomachi) testers as female parents. The crosses were planted following a randomized complete block design with three replications.

Varieties having average spikelet fertility of more than 70% with both the indica and japonica testers were rated as WCVs. Result from this study showed that six tropical japonica varieties were classified as WCVs, i.e., Cabacu, Grogol, Kencana Bali, Klemas, Lampung Lawer, and Napa. Hybrid sterility is caused by partial sterility of male and female gametes. The WCVs from the present study can be used in hybrid rice breeding program to solve hybrid sterility in indica/japonica hybrids.

 



Rabu, 20 Mei 2015 15:49

Silikon Hara Penting pada Sistem Produksi Padi

Ditulis oleh

Silikon (Si) banyak terkandung pada tanaman graminae, seperti padi, jagung, dan tebu, terutama di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah/tidak optimal; (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan; (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan penyakit dan hama; (4) tanaman mudah rebah; dan (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit. Akibatnya, hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah.

Penggunaan kembali Si yang dahulu selalu diperhatikan pada budi daya padi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, hampir dapat dipastikan akan meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Memopulerkan kembali penggunaan pupuk silikat pada tanaman padi saat ini sangat tepat, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional sebesar 5%, dimana pemanfaatan lahan-lahan suboptimal, lahan- lahan endemik hama dan penyakit, serta lahan optimal dengan penggunaan pupuk N dosis tinggi semakin meluas dan intensif. Lahan-lahan tersebut me- merlukan tambahan silikat.

 



Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas galur BP1924-1e-5-2 dengan nama varietas Aek Sibundong. Untuk mengevaluasi respon dan preferensi konsumen terhadap beras merah yang ditawarkan, dilakukan penelitian di tujuh provinsi yaitu Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, dan NTB. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik kimiawi beras merah, karakteristik dan opini responden, persepsi dan respon terhadap produk beras merah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka menggunakan kuesioner sebagai pedoman.

Jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 700 orang yang terdiri dari petani produsen, pengusaha, dan konsumen. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa dari segi mutu gizi, Aek Sibundong mempunyai kandungan asam folat dua kali lipat dibanding Ciherang. Karena itu Aek Sibundong dapat menurunkan kadar homosistein penyebab kepikunan dan menyingkirkan sumbatan pembuluh darah pemicu serangan stroke dan jantung koroner. Secara statistik, responden di semua lokasi penelitian menyatakan rasa nasi beras merah lebih baik atau sama saja dibanding rasa nasi yang biasa dikonsumsi.

Responden di desa umumnya lebih menyukai rasa nasi beras merah dibanding responden kota, kecuali responden di propinsi Jatim dan Bali. Tingkat pengetahuan responden di Sumut, Bali, dan NTB yang terbiasa mengonsumsi beras merah lebih baik dibanding propinsi lainnya. Responden di Jabar, Jateng, dan Sulsel baik di desa maupun di kota menyatakan warna beras merah lebih baik, lebih jelek atau sama saja dengan yang biasa terhadap dikonsumsi relatif sama. Secara statistik ukuran beras merah yang diperkenalkan tidak berbeda nyata dengan beras putih yang biasa dikonsumsi responden.

Persepsi antara responden di desa dan di kota terhadap beras merah dalam hal gizi dibanding beras yang biasa dikonsumsi ternyata sama secara statistik, kecuali di propinsi Jateng dan Bali. Secara keseluruhan responden di desa dan di kota di propinsi Jateng, Jatim, Bali, dan NTB menyatakan beras merah yang diperkenalkan lebih baik dibanding beras yang biasa dikonsumsi kecuali di Jabar dan Sulsel.

 



Rabu, 20 Mei 2015 15:47

Pengembangan Padi Hibrida di Indonesia

Ditulis oleh

Pengembangan varietas padi hibrida secara komersial setidaknya didasarkan atas dua hal, yaitu keunggulan varietas hibrida tersebut dan kemudahan produksi benihnya. Keunggulan varietas padi hibrida didasarkan atas fenomena heterosis yang diharapkan muncul, terutama potensi hasil, sedangkan kemudahan produksi benih dapat dilakukan dengan penggunaan galur mandul jantan dengan karakter pembungaan yang mendukung persilangan alami.

Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1983 dengan tujuan menjajagi prospek dan kendala penggunaan padi hibrida. Sejak 1998 penelitian lebih diintensifkan dengan melakukan pembentukan tetua padi hibrida yang berasal dari plasma nutfah sendiri dengan target mendapatkan padi hibrida yang adaptif di lingkungan Indonesia dan berpotensi hasil 15-20% lebih tinggi dibanding varietas inbrida terbaik.

Sejak 2001 penelitian padi hibrida melibatkan lebih banyak peneliti dari berbagai disiplin ilmu dengan tujuan meningkatkan stabilitas heterosis dan mendapatkan teknik budi daya yang sesuai untuk padi hibrida. Dari program pembentukan tetua dan hibrida telah diperoleh sejumlah padi hibrida harapan, kandidat galur mandul jantan baru beserta pasangannya, dan galur-galur restorer.

Pada tahun 2002 telah dilepas varietas Maro dan Rokan, disusul Hipa 3 dan Hipa 4 pada tahun 2004, Hipa 5 Ceva dan Hipa 6 Jete pada tahun 2007. Di lingkungan yang sesuai, varietas-varietas tersebut mampu menghasilkan gabah 1,0-1,5 t/ha lebih tinggi dibanding varietas inbrida terbaik di daerah yang bersangkutan. Pada umumnya varietas padi hibrida yang sudah dilepas termasuk 25 varietas padi hibrida swasta masih mempunyai kelemahan, antara lain rentan terhadap wereng coklat, hawar daun bakteri, dan atau tungro.

Tingkat heterosis dari varietas padi hibrida yang dilepas oleh BB Padi bervariasi antarlokasi. Dengan kata lain, hibrida tersebut bersifat spesifik lokasi. Pengujian selanjutnya menunjukkan sejumlah hibrida yang unggul merupakan turunan dari galur mandul IR58025A, IR62829A, dan IR68897A. Pemuliaan untuk membentuk galur-galur tetua dan hibrida yang lebih baik dilakukan secara terus-menerus. Pembentukan dan perbaikan galur mandul jantan dan restorer yang tahan wereng coklat, hawar daun bakteri atau tungro sedang dalam proses dan saat ini sudah diperoleh sejumlah galur mandul jantan dan restorer yang tahan wereng coklat dan hawar daun bakteri.

 



Pemanfaatan kandungan fosfat tanah secara optimal merupakan strategi terbaik untuk mempertahankan produktivitas lahan dan meningkatkan efisiensi pemupukan. Pada lahan irigasi, pemanfaatan fosfat tanah bahkan dapat mengurangi terjadinya timbunan pupuk P, dan menghindari kemungkinan kahat seng maupun nitrogen pada tanaman padi akibat terikat oleh fosfat.

Agar tanah tetap produktif maka konsep pemupukan hendaknya mengikuti prinsip bahwa jumlah hara yang diberikan berupa pupuk cukup untuk menutupi defisit antara hara yang diperlukan tanaman dengan kemampuan tanah mensuplai hara. Penetapan jumlah pupuk perlu memperhatikan target hasil yang ingin diperoleh dan status hara dalam tanah agar pemupukan lebih efisien.

Tiga metode yang disarankan untuk dijadikan pedoman dalam menetapkan dosis pupuk P pada tanaman padi sawah adalah: (1) berdasarkan hasil analisis tanah, (2) penggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS), (3) berdasarkan hasil uji pupuk melalui petak omisi. Ketiga metode ini saling komplementer, dapat digunakan salah satu atau lebih, karena hasilnya saling melengkapi. U

 



Mineral mempunyai fungsi penting bagi kesehatan manusia, seperti membentuk jaringan tubuh, menggiatkan, mengatur, dan mengendalikan proses meta- bolisme, serta mengalihkan pesan-pesan syaraf. Mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral makro (Ca, P, Mg, Na, K, Cl, S) serta mineral mikro (Fe, I, Zn, Cu, Mn, Cr, Co, Se, Mo, F). Kebutuhan akan mineral-mineral itu dapat dipenuhi melalui pangan.

Di Indonesia, beras menyumbang 63% terhadap total kecukupan energi, 38% protein, dan 21,5% zat besi. Para pemulia tanaman Indonesia telah merakit sejumlah varietas unggul padi yang masing-masing mempunyai keunggulan dalam hal kandungan mineralnya. Varietas Bengawan Solo (Ca tinggi) atau Limboto (P tinggi) baik dikonsumsi untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis).

IR42 dan Cimelati cocok dikonsumsi anak-anak penderita autis serta diolah menjadi tepung pengganti tepung terigu. Cimelati (besi tinggi) atau Bengawan Solo (tembaga tinggi) sesuai bagi wanita hamil, pekerja keras, anak- anak di bawah lima tahun, serta anak-anak penderita anemia gizi besi.

 



Halaman 1 dari 5

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi