Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Tahukah Anda?

Hibrida adalah produk persilangan antara dua tetua padi yang berbeda secara genetik. Apabila tetua-tetua diseleksi secara tepat maka hibrida turunannya akan memiliki vigor dan daya hasil yang lebih tinggi daripada kedua tetua tersebut.

Keunggulan padi hibrida adalah:

  • Hasil yang lebih tinggi daripada hasil padi unggul biasa
  • Vigor lebih baik sehingga lebih kompetitif terhadap gulma, dan

Kekurangan padi hibrida adalah:

  1. Harga benih mahal.
  2. Petani harus membeli benih baru setiap tanam, karena benih hasil panen sebelumnya tidak dapat dipakai untuk pertanaman berikutnya.
  3. Tidak setiap galur atau varietas dapat dijadikan sebagai tetua padi hibrida.

Untuk memproduksi hibrida, perlu ada:

  1. Sistem produksi dan distribusi benih nasional,
  2. Program jaminan mutu nasional, dan
  3. Kemampuan nasional untuk mengawasi produksi galur dan benih.

Catatan: Meskipun pada awalnya terdapat banyak kekhawatiran, kini tersedia hibrida dengan kualitas gabah yang baik dan ketahanan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit.

30.07.2015
BBPadi
10201

Berdasarkan umur, secara umum tanaman padi dikategorikan dalam umur genjah (sekitar 110 hari) dan (lebih dari 120 hari). Padi varietas lokal pada umumnya berumur dalam, sedangkan padi varietas unggul berumur genjah. Secara lebih rinci, umur tanaman padi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1.  Dalam             : > 151 hari setelah sebar (HSS)
  2.  Sedang           : 125 - 150 HSS
  3.  Genjah            : 105 - 124 HSS
  4.  Sangat Genjah  : 90 - 104 HSS
  5.  Ultra Genjah     : <90 HSS
27.07.2015
BBPadi
48112

Pengairan berselang (intermittent irrigation) adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Kondisi seperti ini ditujukan antara lain untuk :

  • menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi menjadi lebih luas
  • memberi kesempatan kepada akar tanaman untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam.
  • mencegah timbulnya keracunan besi
  • mencegah penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar
  • mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat
  • mengurangi kerebahan
  • mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah)
  • menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen
  • memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah)
  • memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, dan mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus.
27.07.2015
BBPadi
6446
  • Untuk memilih benih yang baik, benih direndam dalam larutan 20 g ZA/liter air atau larutan 20 g garam/liter air. Dapat juga digunakan abu dengan menggunakan indikator telur, yang semula berada dalam dasar air setelah diberi abu telur mulai terangkat kepermukaan. Kemudian benih yang mengambang/ mengapung dibuang.
  • Untuk daerah yang sering terserang hama penggerek batang, perlakukan benih dengan pestisida berbahan aktif fipronil. Perlakuan pestisida ini juga dapat membantu mengendalikan keong mas.
27.07.2015
BBPadi
20392

Alternatif komponen teknologi yang dapat diintroduksikan dalam pengembangan model PTT terdiri atas:

  • varietas unggul baru yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan dan keinginan petani setempat
  • benih bermutu (kemurnian dan daya kecambah tinggi)
  • bibit muda (< 21 HSS)
  • jumlah bibit 1-3 batang per lubang
  • sistem tanam jajar legowo 2:1, 4:1 dan lainnya
  • pemupukan N berdasarkan bagan warna daun (BWD)
  • pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah, Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) atau petak omisi serta pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi
  • bahan organik (kompos jerami 5 t/ha atau pupuk kandang 2 t/ha)
  • pengairan berselang (intermittent irrigation)
  • pengendalian gulma secara terpadu
  • pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT)
  • panen beregu dan pascapanen menggunakan alat perontok

Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi ini dipilah menjadi dua bagian: Pertama, teknologi untuk pemecahan masalah setempat atau spesifik lokasi. Kedua, teknologi untuk perbaikan cara budi daya yang lebih efisien dan efektif. Dalam pelaksanaannya tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang memiliki masalah spesifik. Namun ada enam komponen teknologi yang dapat diterapkan bersamaan (compulsory) sebagai penciri model PTT, yaitu:

(1) varietas unggul baru yang sesuai lokasi

(2) benih bermutu (bersertifikat dan vigor tinggi)

(3) bibit muda (<21 HSS) apabila kondisi lingkungan memungkinkan

(4) jumlah bibit 1-3 per lubang dan sistem tanam (populasi)

(5) pemupukan N berdasarkan bagan warna daun (BWD)

(6) pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah (PUTS) serta pemecahan masalah kesuburan tanah apabila terjadi dan penggunaan bahan organik

Jika diterapkan secara bersamaan, sumbangan keenam komponen teknologi ini terhadap peningkatan produktivitas padi dan efisiensi produksi besar.

27.07.2015
BBPadi
3095

1)Pemaikaian pupuk N yang kurang dari kebutuhan tanaman akan memberikan hasil panen padi yang rendah (tidak optimal), sebaliknya pemberian pupuk N berlebihan menyebabkan tanaman rentan terhadap infeksi penyakit dan mudah rebah, 2)BWD membantu mengetahui apakah tanaman perlu segera diberi pupuk N atau tidak dan berapa takaran N yang perlu diberikan, 3)Penggunaan BWD dapat menghemat biaya pemakaian pupuk N sebanyak 15-20% dari takaran yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil.

17.06.2015
BBPadi
3596

BWD berbentuk persegi panjang (6x13 cm) dengan 4 kotak skala warna, mulai dari hijau muda (skala 2) hingga hijau tua (skala 5). Alat ini digunakan untuk menentukan kebutuhan hara N tanaman padi. Cara penggunaannya adalah dengan membandingkan warna daun padi dengan warna pada panel, dan pada skala berapa (2, 3, 4, 5) warna daun padi tersebut paling sesuai dengan warna pada panel.

17.06.2015
BBPadi
7102

Bahan Organik dalam bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar bermanfaat untuk (1)Meningkatkan kadar bahan organik tanah; (2)Memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah; (3)Meningkatkan keragaman, populasi dan aktivitas mikroba dan memudahkan penyediaan hara dalam tanah; (4)Menyediakan hara makro dan mikro.

29.05.2015
BBPadi
2764

Tanaman memerlukan 16 unsur hara yaitu: C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Bo, Mo, Cl, Fe, dan Mn. Hara N, P, K, C, H, O, Ca, Mg, dan S disebut hara makro, karena untuk pertumbuhan tanaman dibutuhkan dalam jumlah banyak. Unsur lainnya disebut hara mikro, karena dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit.

29.05.2015
BBPadi
3890

Pembuatan kompos kotoran ternak diantaranya sebagai berikut: (1)Kotoran ternak (yang tercampur dengan alas kandang) dikumpulkan melalui sistem penampungan dari kandang, kemudian dipindahkan ke tempat pembuatan pupuk organik; (2)Tempat pemrosesan pembuatan pupuk organik harus dijaga agar tidak mendapatkan panas langsung dari sinar matahari dan juga harus terlindung dari air hujan; (3)Kotoran ternak dicampur dengan probiotik (probion) sebagai pemacu degradasi komponen serat. Selain probion, dekomposer lain dapat pula digunakan seperti pada pengomposan jerami; (4)Perbandingan bahan yang digunakan untuk setiap ton bahan pupuk adalah 2,5 kg probion, 2,5 kg urea, dan 2,5 kg TSP. Bahan pupuk ditumpuk pada tempat yang telah disiapkan sampai ketinggian 1 meter; (5)Suhu kompos diperiksa secara berkala (seminggu sekali) dan pertahankan pada kisaran 40-50(derajat)C. Jika suhu tinggi, lakukan pembalikan/pengadukan. Lama pengomposan kurang lebih 3 minggu; (6)Selama proses pengomposan terjadi peningkatan suhu sampai mencapai 70(derajat)C, kemudian suhu menurun dan akhirnya mencapai titik konstan, yang menunjukan akhir dari proses dekomposisi.

29.05.2015
BBPadi
2308
Halaman 8 dari 9

Populer

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini466
Hari Kemarin1606
Minggu ini2072
Bulan ini11881
Online saat ini
13

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi