Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Info Teknologi»Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

21.06.2017
BBPadi
1714

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

21.06.2017
BBPadi
1714

Sehubungan pertanaman padi gogo sangat terkait dengan pola hujan dan secara umum areal pertanaman banyak yang tidak rata bahkan bengelombang atau berbukit, maka untuk pengembangan jangka panjang sangat terkait dengan konservasi tanah. Konservasi tanah dapat dimulai dengan membangun teras gulud dan atau strip rumput, tanaman pagar yang dalam jangka panjang seiring dengan berjalannya waktu akan terbentuk teras bangku dengan sendirinya.

Pembentukan teras bangku secara bertahap, pada awal dimulai dengan pembuatan guludan yang memotong lereng  antar guludan sebaiknya dengan beda ketinggian sekitar 1,5 m atau setinggi pinggang orang dewasa. Setelah guludan awal terbentuk lalu dipertinggi dengan mengambil lapisan tanah dari bagian bawah guludan awal yang terbentuk sekaligus untuk membuat salurana air pada bagian bawah guludan.

Setelah pembuatan guludan selesai perlu dilengkapi dengan pembuatan saluran pembuangan air (SPA) yang sejajar dengan lereng. Pada bagian-bangian yang berpotongan dengan guludan perlu dilengkapi dengan bangunan-bangunan terjunan air (bisa dengan tumpukan batu atau susunan bambu yang penting aliran air akan terhambat dan akan mengurangi derasnya aliran permukaan. Bila kondisi tanah sudah lembab pada guludan harus ditanami rumput sebagai penguat teras. Sebaiknya dengan rumput unggul yang secara periodik dapat dipangkas untuk pakan ternak.

Selain tanaman rumput dapat juga diganti dengan tanaman legum seperti Lamtoro atau Plemengia SP yang selanjutnya menjadi tanaman pagar (Alley Cropping) atau lebih dikenal sebagai budidaya lorong. Pada waktu-waktu tertentu pertumbuhan atau bagian atas tanaman pagar dapat dipangkas dan dijadikan sumber mulsa yang dapat dihamparkan pada bidang olah, sementara tanaman pagar tumbuh terus dan akan memperkuat bangunan teras (guludan). Selanjutnya seiring dengan jalannya waktu akan terbentuk teras bangku dengan sendirinya.

Adapun untuk pemeliharaan teras gulud harus dilaksanakan setiap musim tanam utamanya pada awal musim hujan. Setelah curah hujan cukup untuk melembabkan tanah sebagai tahap awal pengolahan tanah adalah usaha perbaikan teras gulud. Pada bagian-bagian yang longsor perlu diperbaiki guludannya. Untuk memperbaiki guludan sumber  tanahnya diambil dari bagian bawah teras gulud sambil memperbaiki saluran air. Selanjutnya apabila ada rumput yang mati perlu diadakan penyulaman. Selesai perbaikan guludan baru dilakukan pengolahan tanah pada bidang olah. Sambil pengolahan tanah perlu juga dilakukan perbaikan saluran pembuangan air (SPA) utamanya adalah bangunan terjunan air.

Untuk pemeliharaan teras gulud yang sudah stabil (kasus Desa Banyusoca, Wonosari) pada awal musim hujan bila tanah sudah lembab bisa dilakukan pengolahan tanah dibidang olah lebih dahulu. Sambil meratakan permukaan tanah perlu diikuti dengan perbaikan teras gulud utamanya adalah perbaikan saluran air apakah pada bagian bawah teras atau atas teras. Bila ada rumput yang mati perlu diadakan penyulaman secepatnya.

Untuk menambah volume serapan air pada bidang olah perlu dibuat bedengan-bedengan baik yang sejajar dengan  lereng atau memotomg lereng dengan lebar bedengan sekitar 5 meter. Pada pihak lain saluran yang ada di bawah bedengan perlu diperdalam tujuannya untuk mengurangi terjadinya aliran permukaan air yang berlebihan dan menambah resapan air kedalam tanah.

Salah satu faktor yang tidak boleh dilupakan adalah kandungan bahan organik tanah harus terpelihara terus bahkan bila perlu selalu ditingkatkan. Kunci keberhasilan pengelolaan lahan kering dalam jangka panjang adalah bagaimana kandungan bahan organik tanah selalu dapat dipertahankan bahkan perlu ditingkatkan.

Sisa tanaman sebaiknya dikembalikan lagi sebagai mulsa atau dikomposkan dulu baru diaplikasikan lagi. Pada pihak lain bila curah hujan masih memungkinkan setelah tanaman padi gogo panen diikuti lagi dengan pertanaman kacang-kacangan yang lebih tahan kering. Tindakan penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun juga merupakan tindakan konservasi tanah secara vegetatif yang sangat baik.

Kontak langsung air hujan ke permukaan tanah dapat dikurangi dan daya infiltrasi air hujan ke dalam tanah akan meningkat melalui media akar dan batang tanaman serta aliran permukaan yang banyak menyebabkan erosi akan berkurang. Pada pihak lain, jerami padi dan tanaman palawija lainnya akan meningkat dan setelah lapuk akan menambah kandungan bahan organik tanah.

Bagikan Konten

Hashtag

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini298
Hari Kemarin2958
Minggu ini17635
Bulan ini45854
Online saat ini
14

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi