Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Info Teknologi»Pengendalian Penyakit Tungro dengan Bioinsektisida

Pengendalian Penyakit Tungro dengan Bioinsektisida

06.09.2016
BBPadi
3100

Pengendalian Penyakit Tungro dengan Bioinsektisida

06.09.2016
BBPadi
3100

Bioinsektisida adalah mikroorganisme yang dapat digunakan sebagai agen pengendalian serangga hama. Pemanfaatan bioinsektisida sebagai agen hayati pada pengendalian hama merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT).

Terdapat enam kelompok mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida, yaitu cendawan/jamur, bakteri, virus, nematoda, protozoa, dan rickettsia.

Penggunaan insektisida nabati/bioinsektisida dalam pengendalian hama tanaman merupakan salah satu alternative penggalakan penggunaan bahan alami ramah lingkungan.  Selama ini menggunakan insektisida kimia  tidak mampu memecahkan masalah bahkan dapat menimbulkan masalah baru seperti terjadi resurgensi hama, terbunuhnya musuh alami, dan pencemaran lingkungan.

Oleh karena itu pengendalian hama secara terpadu mutlak dilakukan.  Salah satu komponen pengendalian hama secara terpadu yang mempunyai prospek yang cukup baik adalah pemanfaatan cendawan entomopatogen.

Salah satu Biointsektisida yang telah digunakan dalam pengendalian penyakit tungro yaitu Cendawan Entromopatogen Metarizhium anisopliaeBeauveria bassiana dan Verticillium lecanii. Cendawan entomopatogen merupakan cendawan yang sifatnya patogenik (penyebab penyakit) pada serangga/hama.

Pengendalian hayati dengan memanfaatkan cendawan yang patogenik serangga (entomopatogen) berpotensi untuk dikembangkan dalam menekan populasi wereng hijau sehingga secara otomatis juga dapat menekan intensitas penyakit tungro.

Metarizium anisopliae adalah salah satu cendawan entomopatogen yang termasuk dalam divisi Deuteromycotina: Hyphomycetes.  M. anisopliae telah lama digunakan sebagai agen hayati dan dapat menginfeksi beberapa jenis serangga.

Keefektifan cendawan entomopatogen ditentukan oleh kondisi lingkungan, seperti curah hujan dan sinar matahari khususnya sinar ultra violet yang dapat merusak konidia cendawan (Tanada dan Kaya 1993; Wahyunendo 2002; Prayogo 2004; Suharsono dan Prayogo 2005).

Konidia merupakan salah satu organ infektif (propagule) cendawan yang menyebabkan infeksi pada integumen serangga yang diakhiri dengan kematian. Oleh karena itu, konidia cendawan tersebut perlu dilindungi waktu diaplikasikan, baik dengan bahan perekat maupun bahan pembawa sehingga pengaruh buruk tersebut dapat dieliminir.

Sumber: Loka Penelitian Penyakit Tungro

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini524
Hari Kemarin1214
Minggu ini1738
Bulan ini17064
Total Pengunjung2515933
Online saat ini
6

© 2018. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi