Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Info Teknologi»Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

21.12.2017
BBPadi
2951

Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

21.12.2017
BBPadi
2951

Penyediaan pangan nasional dalam jangka panjang perlu ketersediaan lahan untuk produksi pangan. Di sisi lain alih fungsi lahan sawah yang mencapai 96.500 ha/tahun menyebabkan produksi padi di lahan irigasi mengalami penururnan. Oleh karena itu untuk mendukung peningkatan produksi beras pada tahun 2018, Kementan melakukan terobosan baru dengan ekstensifikasi penanaman padi melalui program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) di lahan lahan rawa seluas 1 juta ha.

Potensi lahan rawa di Indonesia mencapai 33,4 juta ha; yang terdiri atas 20,1 juta ha lahan pasang surut dan 13,3 juta ha lahan non pasang surut atau lebak.tersebar di empat pulau besar, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Potensi lahan rawa yang besar dihadapkan pada berbagai masalah fisiko-kimia lahan, dinamika kondisi tanah dan air serta beragamnya kesuburan alami tanah, sehingga baru sekitar 14,2 juta hektar yang dinyatakan berpotensi untuk dikembangkan untuk lahan sawah. Luasan tersebut diharapkan akan terus bertambah jika perbaikan dan pembangunan infrastruktur terkait dengan pengelolaan tanah dan air terus dilakukan.

Permasalahan utama yang menghambat peningkatan produksi padi di lahan rawa antara lain terjadinya dinamika luapan air pasang maupun sungai besar, kemasaman tanah, keracunan Fe, Aluminium, defisiensi hara Ca, Mg, dan P. Tingkatan kendala-kendala tersebut beragam antar tipologi lahan. Selain itu, cekaman biotik berupa serangan hama dan penyakit juga menjadi factor pembatas produksi padi di area ini.

Beberapa hama penting di lahan rawa antara laintikus,penggerek batang, kepinding tanah, ulat, orong-orong, wereng batang coklat, wereng hijau, belalang dan walang sangit. Sedangkan penyakit utama antara lain blas daun dan blas leher, tungro, hawar daun bakteri atau yang dikenal sebagai kresek oleh petani, serta hawar pelepah. Berbagai cekaman ini berfluktuasi pada musim yang berbeda dan berefek negative terhadap pertumbuhan padi dan produktivitasnya di lahan ini. Oleh karena itu dibutuhkan effort yang terpadu untuk mengembangkan lahan rawa, baik varietas, teknik budidaya dan pengendalian hama penyakit.

Varietas unggul padi yang adaptif dengan lingkungan rawa menjadi salah satu komponen teknologi penting dan murah untuk mengatasi permasalahan yang terjadi baik di lahan pasang surut maupun lebak. Perbaikan varietas padi rawa ditujukan untuk mendapatkan varietas unggul baru yang memiliki potensi hasil tinggi dan dapat beradaptasi dengan baik di lahan pasang surut dan lebak.

Sifat-sifat penting yang menjadi sasaran utama perbaikan adalah potensi hasil, toleransi terhadap cekaman abiotik seperti keracunan Fe, Al, rendaman dan salinitas; ketahanan terhadap hama penyakit utama seperti wereng batang coklat, blas, hawar daun bakteri dan tungro; serta perbaikan mutu beras. Dua varietas terbaru yang adaptif padi rawa telah berhasil dilepas secara nasional dengan nama Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan yang diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas padi di tingkat petani lahan rawa.

Bagikan Konten

Hashtag

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini419
Hari Kemarin1261
Minggu ini2894
Bulan ini18220
Total Pengunjung2517089
Online saat ini
16

© 2018. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi