Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Teknologi Largo Super Mampu Mendongkrak Peningkatan Produksi Padi di Gunung Kidul

Teknologi Largo Super Mampu Mendongkrak Peningkatan Produksi Padi di Gunung Kidul

09.03.2019
Suharna
759

Teknologi Largo Super Mampu Mendongkrak Peningkatan Produksi Padi di Gunung Kidul

09.03.2019
Suharna
759

Potensi Lahan di Kabupaten Gunung Kidul

Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang notabene dikenal masyarakat luas sebagai daerah gersang dan tandus ternyata memiliki potensi lahan tadah hujan yang sangat subur.

Mayoritas masyarakat petani di Gunung Kidul melakukan kegiatan tanam padi, palawija dan sayuran dilakukan sepanjang tahun ketika memasuki musim hujan tiba dan ketika memasuki musim kemarau petani melakukan kegiatan lain seperti mengolah tanah, memelihara ternak, berjualan pakan ternak dan lain lain.

Gunung Kidul yang jaman dulu dikenal sebagai daerah tandus dan tidak produktif karena kurang air, saat ini semakin berkilau dengan kemajuan pertanian-nya. Kinerja, semangat dan dukungan Pemerintah baik Daerah dan Pusat terhadap Pertanian membuahkan hasil yang nyata. Mulai dari hamparan pertanaman berbagai komoditi, lokasi pusat demonstrasi teknologi Pertanian sampai prestasi ekspor, sudah diraih Kabupaten Gunung Kidul.

Menengok Budaya Petani Gunung Kidul

Cara mereka bercocok tanam memiliki budaya bertani yang unik. Tangan-tangan petani untuk bercocok tanam padi jarang tersentuh teknologi dan mereka bertahan dengan budaya kearifan local yang belum banyak orang ketahui. Cara petani mengatur dan mengelola hasil panen terbukti bisa mencukupi kebutuhan pangan sendiri tanpa harus tergantung daerah lain.

Ketika memasuki musim tanam tiba, petani jeli dalam menentukan pemilihan komoditas yang akan ditanam, bahkan cara tanam tumpangsari beberapa komoditas rutin dilakukan petani, seperti tumpangsari dengan jagung, kacang tanah, ubi kayu, kedelai dengan tanaman padi selalu dilakukan dengan alasan bisa memberi cadangan pangan dan bisa bertahan hingga musim tanam berikutnya. Tidak dipungkiri jika keanekaragaman pangan di Gunung Kidul membuat masyarakat tidak hanya tergantung pada beras sebagai makanan pokoknya tetapi pangan local lainnya.

Teknologi Largo Super Mampu Mendongkrak Peningkatan Produksi Padi di Gunung Kidul

Hadirnya Teknologi

Dalam rangka mendukung program pembangunan pertanian wilayah, khususnya di Kabupaten Gunung Kidul, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melakukan model kajian pengembangan budidaya padi largo super dibawah tegakan tanaman perkebunan dalam bentuk kegiatan Demarea Largo Super seluas 100 ha dikawasan Wono Mengger, Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Alasan pemilihan model pengembangan tersebut diterapkan di Gunung Kidul dimaksudkan untuk lebih mengoptimalkan lahan sela diantara tanaman perkebunan/hutan sehingga ada peluang untuk meningkatkan produksi dan luas tambah tanam seperti yang dikatakan Dr. Joko Pramono selaku Kepala BPTP Yogyakarta dalam sambutannya dihadapan 100 peserta temu lapang dan panen di Desa tersebut, Jumat (8/3/2019).

“Adanya rekayasa dan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian diharapkan bisa meningkatkan produksi dan produktivitas di Kabupaten Gunung Kidul”, terangnya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa paket teknologi largo super ini merupakan teknologi budidaya padi khususnya dilahan kering dengan basis pemanfaatan teknologi jajar legowo dan terbukti bisa mendongkrak peningkatan produksi sebesar 2-3 ton/ha dì Kecamatan Nglipar, Gunung Kidul.

“Tadi kita lihat bersama bahwa hasil panen tujuh varietas seperti Inpago 8, Inpago 10, Inpago 12, RIndang 1, Rindang 2, Inpari 42 GSR, dan Inpari 43 GSR terbukti hasilnya lebih tinggi hingga 65% dibanding rata rata produksi padi gogo di Nglipar yang sebelumnya hanya 4-5 t/ha kini bisa mencapai 6-7 t/ha.

Perlu diketahui bahwa Demarea Largo Super di kawasan Wono Mengger, Desa Nglipar, tersebut berada di bawah tegakan tanaman kayu putih dan merupakan satu dari tiga lokasi serupa yang dilaksanakan pada tahun 2018-2019.

Bupati Gunung Kidul Hj. Badingah, S.Sos yang hadir dalam acara panen tersebut menyambut baik kegiatan demarea dengan teknologi largo super diwilayahnya.

“Sekarang masyarakat Gunung Kidul punya semangat dengan para petani piye carane (bagaimana caranya) mengolah tanah kita di Kabupaten Gunung Kidul agar terjadi tanah yang bagus, produktif dan menghasilkan hasil pertanian yang bisa bermanfaat bagi masyarakat", uangkapnya

Ia menegaskan bahwa petani Gunung Kidul yang terkenal dengan jago bertani di tanah tandus punya semangat untuk terus bercocok tanam.

“Semangat para petani walaupun banyak sekali batu-batu tidak menjadi kendala. Semoga pertanian di Gunung Kidul maju, makmur dan sejahtera karena telah difasilitasi kepada masyarakatnya dengan ilmu baru dan dari hasil panen ketujuh varietas tadi ada kenaikan 40-65%. Mudah-mudahan varietas tersebut bisa dikembangkan dikecamatan lain di Gunung Kidul dan hasilnya betul-betul dirasakan masyarakat” pungkasnya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang diwakili oleh Dr. Priatna Sasmita selaku Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dalam sambutanya sangat mengapresiasi kegiatan demfarm penerapan teknologi largo super yang diinisiasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, BPTP Yogyakarta dan dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten dan Provinsi.

“Meskipun belum maksimal, terbukti penerapan paket teknologi largo super mampu meningkatkan produktivitas lahan di bawah naungan tanaman perkebunan. Kami berharap, dengan adanya kegiatan ini, dapat memberikan bukti nyata bahwa lahan potensial seperti lahan kering dibawah tegakan tanaman perkebunan seperti di Kabupaten Gunung Kidul ini dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk integrasi tanaman perkebunan dan tanaman pangan, sehingga berdampak lebih produktifnya.

“Jika kita liat dari kondisi pertanaman dilapangan, varietas-varietas yang ditanam beradaptasi bagus dalam kondisi ekosistem di bawah tegakan, disertai komponen-komponen teknologi untuk memperbaiki kesuburannya dengan menggunakan komponen teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian seperti penggunaan biodekomposer, pupuk hayati, teknologi pemupukan dengan Perangkat Uji Tanah Kering ( PUTK).

Ditambahkan bahwa teknologi yang diterapkan secara manual perlu dikembangkan dengan cara alat mesin tanam yang disebut atabela yang disesuaikan dengan kebutuhan largo di Gunung Kidul.

Diakhir sambutanya Dr. Priatna berharap agar teknologi yang telah diterapkan di Kecamatan Nglipar bisa direplikasi di kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Gunung Kidul

“Harapan kami (Badan Litbang Pertanian) bagaimana komitmen petani, petugas menerapkan teknologi ini seutuhnya bukan setengah-setengah, sehingga setelah berhasil dengan penerapan largo super ini perlu pendekatan atau pendampingan yang intensif baik dari penyuluh dan petugas lapang lainya agar teknologi ini bisa diterapkan atau direplikasi bukan hanya di Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar yang hanya 100 ha tetapi bisa dibawa ke kecamatan-kecamatan lain dalam rangka meningkatan produksi, produktivitas dan barang tentu bisa meningkatkan kesejahteraan petani”, harap Priatna saat mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian yang berhalangan hadir. (Shr)

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini556
Hari Kemarin872
Minggu ini6691
Bulan ini15010
Total Pengunjung2624013
Online saat ini
4

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi