Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Pengembangan Lahan Rawa Perlu Strategi Tepat

Pengembangan Lahan Rawa Perlu Strategi Tepat

05.09.2018
BBPADI
1515

Pengembangan Lahan Rawa Perlu Strategi Tepat

05.09.2018
BBPADI
1515

Padahal jika lahan rawa yang dikelola secara tepat, maka dapat menjadi salah satu sumberdaya yang berpotensi besar meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani. Catatan Kementerian Pertanian, dari 25 juta hektar (ha) luas lahan rawa lebak di Indonesia, baru sebagian kecil yang dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutnya sebagai raksasa yang tengah tertidur. Lahan rawa lebak yang diolah dengan baik bisa menjadi lahan pertanian produktif yang menambah pasokan pangan nasional.

Lahan rawa lebak yang sedang digencarkan Kementerian Pertanian diantaranya ada di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Dengan bantuan ekskavator dan pompa gratis, lahan tersebut terbukti produktif, bahkan indeks pertanamannya bisa tiga kali dalam setahun.

Memaksimalkan rawa lebak memang perlu strategi dan penerapan teknologi yang tepat guna. Konsep mini polder diyakini dapat mengatasi kendala utama pengembangan usaha tani lahan rawa lebak, seperti banjir pada musim hujan saat fluktuasi air sangat sulit diperkirakan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertainian, Dedi Nursyamsi saat melakukan temu lapang dengan kelompok tani Desa Habuku Raya, Kabupaten Hulu Sungai Utara, beberapa waktu lalu mengungkapkan, konsep mini polder terbukti meningkatkan indeks pertanaman lahan sawah di rawa lebak dari tanam sekali menjadi dua kali dalam setahun.

Konsep mini polder merupakan pembagian polder besar (di atas 1000 ha) menjadi polder yang lebih kecil (50-100 ha). Tujuannya agar pengelolaan air lebih mudah dan biaya perawatan lebih murah. Kendala kelebihan air di musim hujan yang biasanya menggenangi lahan sawah bisa dipompa keluar sehingga lahan bisa ditanami.

Tata Air dan Kesuburan Lahan

Peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Yanti Rina menjelaskan, masalah utama dalam pemanfaatan lahan rawa lebak adalah tata air dan kesuburan lahan. Karena itu, fokus Kementerian Pertanian pada kegiatan agronomi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan, selain pengendalian tata air adalah pola tanam dan penggunaan varietas unggul yang adaptif.

“Varietas Mekongga dan Ciherang apabila diikuti dengan ketepatan waktu tanam mampu akan menghasilkan 4,9-5,5 ton gabah kering giling/ha dengan nilai keuntungan mencapai Rp 14 juta/ha,“ kata Rina.

Rina mengatakan, hasil kajiannya pada lahan rawa lebak di tiga desa Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan menunjukkan petani di lahan rawa lebak umumnya memiliki beberapa pola usaha tani yang menguntungkan. “Pola usaha tani yang dilakukan di rawa lebak tidak hanya produksi padi sawah, tetapi juga semakin menguntungkan dengan memelihara ikan dan beternak itik,” ungkapnya.

Rina yakin tiga usaha tani bepotensi memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani. Dari usaha tani ternak itik dan pemeliharaan ikan, petani mampu mengantongi keuntungan antara Rp 2-6 juta/bulan. Itik yang diternak biasanya merupakan itik jenis alabio yang merupakan itik lokal dengan keunggulan sebagai itik petelur.

Sementara itu Peneliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Indrastuti A. Rumanti menyebutkan, kendala lain dalam pengembangan lahan rawa adalah ancaman penyakit blast. “Varietas unggul padi yang toleran terhadap genangan, serta toleran terhadap penyakit blast dapat menjadi salah satu komponen teknologi penting dan murah untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa,” ungkap Indras.

Indras menjelaskan, ada beberapa varietas unggul baru yang dapat mengatasi penyakit blast dan tahan terhadap genangan. Varietas yang adaptif terhadap genangan memiliki produktivitas 6-9,5 ton/ha. Bahkan ada petani di Cilacap yang produktivitasnya mencapai 10 ton/ha di lahan lebakan.

Varietas tersebut toleran terhadap rendaman selama 6-14 hari pada fase vegetatif. Bahkan dapat bertahan hidup dalam kondisi tenggelam hingga 14 hari berturut-turut. Inpara 3 dan Inpara 8 Agritan misalnya memiliki sifat istimewa, yakni mampu memanjangkan tinggi tanamannya mengikuti tinggi muka air, sehingga dapat bertahan pada kondisi genangan (stagnant flooding) antara 60-80 cm hingga fase generatif.

Indras mengaku telah memperkenalkan berbagai varietas diatas melalui demontration plot (demplot) yang bertujuan untuk mengetahui preferensi petani, pedagang benih/beras dan pengusaha penggilingan. Demplot juga berfungsi sebagai upaya seleksi varietas.

“Melalui demplot, pemulia padi akan mendapatkan umpan balik guna memperbaiki kekurangan varietas yang dikenalkan, varietas yang terpilih diharapkan dapat diterima dan diadopsi oleh petani lebak, sekaligus dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di lahan lebak,” kata tutup Indras. Yul/Ditjen PSP

Sumber: Tabloid Sinartani.com

Bagikan Konten

Hashtag

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini780
Hari Kemarin943
Minggu ini7310
Bulan ini22694
Total Pengunjung2631697
Online saat ini
9

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi