Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Panen Perdana Padi Varietas Inpara di Lokasi Demfarm Serasi di Batola, Kalimantan Selatan

Panen Perdana Padi Varietas Inpara di Lokasi Demfarm Serasi di Batola, Kalimantan Selatan

07.11.2019
BBPadi Media
332

Panen Perdana Padi Varietas Inpara di Lokasi Demfarm Serasi di Batola, Kalimantan Selatan

07.11.2019
BBPadi Media
332

Pemerintah bertekad menjadikan lahan rawa sebagai tempat untuk merealisasikan ketersediaan pangan dimasa depan dan merubah lahan rawa menjadi lahan produktif melaui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi).

Program Serasi yang digalakkan pemerintah melalui optimalisasi pemanfaatan lahan rawa kini mulai membuahkan hasil. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dr. Fadjry Djufry yang mewakili Menteri Pertanian bersama Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy, dan seluruh jajaran eselon 1 dan 2 Kementan serta Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kalsel, melakukan panen raya padi  di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Rabu (6/11).

Pertanaman padi yang dipanen saat ini merupakan pertanaman yang dimulai sejak Juli 2019, menggunakan 4 varietas pilihan yaitu : Inpara 2, 8, 9 dan Inpari 43. Masih pada hamparan demfarm, dilakukan pula display varietas Inpara 1 – 10 dengan harapan mengetahui spesifik varietas yang cocok di lokasi Jejangkit, Batola serta mendapatkan umpan balik varietas yang memenuhi preferensi petani setempat.

Beberapa varietas unggu baru padi Inpara yang ditanam seperti Inpara 2, Inpara 8, Inpara 9 dan Inpara 10 hasilnya terbukti bagus dan bisa menyesuikan/adaptif untuk lahan rawa. Dari hasil panen ubinan BPS, Inpara 10 terbukti bisa menghasilkan 5,97 t/ha GKP atau ada peningkatan tiga kali lipat jika disbanding dengan varietas lokal. Dengan demikian, varietas Inpara 10 menjadi salah satu calon primadona varietas unggul baru yang diduga relative sesuai dan adaptif dengan berbagai cekaman yang ada di lokasi ini.

Menurut Sarwo Edhy dalam sambutanya didepan 2.000 petani yang hadir mengatakan, lahan rawa di Indonesia cukup besar dan bisa dioptimalkan sesuai dengan harapan Presiden RI Joko Widodo, bahwa menurutnya Indonesia memiliki raksasa tidur yang perlu dibangunkan, diperkirakan sekitar 34  juta hektar yang merupakan masa depan kita.  Dan untuk tahun 2019, pemerintah melalui program Serasi akan mengoptimalkan lahan rawa seluas 500 ribu hektar. Realisasi hingga saat ini, Provinsi Kalimantan terealisasi 120 ribu hektar dan Provinsi Sumsel seluas 200 ribu hektar.

Dari jumlah 500 ribu itu kata Edhy, belum bisa direalisasikan sekaligus mengingat banyaknya rintangan di lapangan. Menurut Edhy, hadirnya Balitbangtan dengan sentuhan-sentuhan teknologi melalui mekanisasi pertanian seperti motor perahu untuk olah tanah rawa, drone penyebar benih dan drone untuk pemupukan dan teknologi lainya sangat membantu dalam percepatan optimaliasi lahan rawa.

Selain itu, Edhy dalam sambutanya menyampaikan tujuan optimalisasi lahan rawa, yang pertama adalah meningkatkan indeks pertanaman dari sekali tanam dalam satu tahun bisa dua kali bahkan bisa tiga kali tanam dalam setahun dan tujuan kedua adalah meningkatkan provitas tiga kali lipat dengan penggunaan varietas unggul baru hasil Balitbangtan.

Panen kali ini dinilai sangat istimewa karena berlokasi di areal lahan rawa pusat kegiatan peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 tahun 2018 lalu. Hasil panen di lahan rawa yang dikenal memiliki tingkat keasaman tinggi ini juga cukup baik. Fadjry mengucapkan syukur atas keberhasilan panen yang dilakukan kali ini karena Balitbangtan, Kementan telah memberikan contoh melaui demfarm bahwa lahan rawa yang ada di Kalimantan Selatan dan di beberapa provinsi bisa dimanfaatkan.

Selain itu, berkat dukungan berbagai pihak, dan dukungan inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, saat ini petani  Barito Kuala bisa panen dua kali dalam satu tahun. Areal Demfarm Serasi di Desa Jejangkit Muara ini merupakan implementasi seluruh paket teknologi terpadu hasil Balitbangtan, terutama terkait dengan teknologi budidaya padi yang dipadukan dengan budidaya hortikultura, budidaya itik, dan budidaya ikan, serta sistem kelembagaannya.

Budidaya padi menggunakan Teknologi Panca Kelola Lahan Rawa yang dikemas dalam paket Teknologi Raisa (Rawa Intensif, Super, dan Aktual), meliputi teknologi pengelolaan air, penyiapan dan penataan lahan, ameliorasi dan pemupukan, varietas unggul, pengendalian organisme pengganggu tanaman terpadu, dan ditunjang penggunaan alat dan mesin pertanian.

Menurut Nur Wulan Agustiani, MP selaku penanggung jawab teknologi Raisa mengungkapkan bahwa demonstrasi farm (Demfarm) budidaya padi tidak lepas dari 8 komponen teknologi utama keberhasilan pertanaman, yaitu pemberian kapur untuk menurunkan pH tanah, aplikasi pupuk hayati sebagai dekomposer (Biotara) dan seed treatment (Agrimeth), tanam dengan sistem tanam legowo 2:1 untuk meningkatkan populasi dan hasil gabah, penggunaan varietas unggul baru spesifik lokasi (Inpara) yang sengaja dirakit dengan toleransi terhadap cekaman Fe dan ketahanan terhadap penyakit blas sebagai tantangan utama di lahan rawa, pemupukan sesuai rekomendasi perangkat uji tanah rawa (PUTR), pengendalian hama penyakit terpadu, dan pendekatan mekanisasi.

Delapan komponen teknologi ini disatukan sebagai rangkai komponen teknologi yang pada prinsipnya mengambil dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi pasang surut. Namun demikian komponennya menjadi aktual, karena menggunakan hasil inovasi Balitbangtan terkini untuk pengelolaan dan sistem produksi padi di lahan rawa pasang surut. Dikatakan intensif karena teknologi ini mendorong peningkatan hasil dan peluang peningkatan indeks pertanaman dari 1 menjadi 2 atau 3 kali dalam satu tahun, dengan nama RAISA (Rawa pasang surut intensif, super dan aktual).

Diakhir acara dilakukan juga bimbingan teknis mengenai pengenalan berbagai macam varietas INPARA (Inbrida Padi Rawa) dengan nara sumber Dr. Indrastuti A. Rumanti. Tujuan bimbingan teknisi tersebut adalah untuk mengenalkan lebih detail tentang varietas Inpara serta keunggulan, kelemahan, disertai uji preferensi petani terhadap bentuk gabah dan rasa nasinya. Harapannya petani dapat dengan mudah menentukan pilihan varietas-varietas baru hasil inovasi Balitbangtan yang mampu mendukung peningkatan hasil gabah petani Kalimantan Selatan.

Inpara 9 dan 10 disukai petani batola karena bentuk gabah dan rasa nasinya yang menurut mereka sangat mirip dg padi lokal Siam. Selain itu berasnya juga putih kata salah satu petani peserta bintek. (Shr/NWA/IAR/AMY)

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini914
Hari Kemarin1089
Minggu ini9078
Bulan ini18887
Online saat ini
15

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi