Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Padi Inpara Berjaya di Rawa

Padi Inpara Berjaya di Rawa

27.04.2018
BBPadi
1063

Padi Inpara Berjaya di Rawa

27.04.2018
BBPadi
1063

Petani rawa sebagian besar masih menanam varietas lokal seperti siam unus karena pemeliharaanya mudah dan tidak perlu input tinggi. Namun demikian produktivitas padi lokal relatif rendah, hanya sekitar 2 ton/ha dan umurnya dalam sekitar 7-9 bulan sehingga petani hanya bisa tanam sekali dalam setahun. Sementara itu, varietas favorit, seperti: Ciherang, Mekongga, dan Inpari meskipun produktivitasnya tinggi di sawah irigasi tapi hasilnya rendah bila ditanam di lahan rawa.

Saat ini petani rawa mulai beralih ke varietas Inpara (inbrida padi rawa) karena mereka yakin bahwa varietas ini produktivitas tinggi dan umurnya genjah sehingga dalam satu tahun bisa menanamnya dua kali. Sebut saja Basran, anggota poktan Cinta Maju di rawa lebak di Desa Hamayung, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan mampu menghasilkan 6,3 t/ha GKG. Dengan tanam Inpara kantong saya semakin tebal ujar Basran bersukacita.

Hal ini diamini oleh Darsono, anggota poktan Sido Muncul di rawa pasang surut, di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala yang menyatakan bahwa menanam Inpara membawa berkah kehidupan untuk keluarganya. Ia mampu menghasilkan padi Inpara sekitar 4.5 ton/ha dan dapat menanamnya dua kali dalam setahun.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa pembatas utama budidaya padi di lahan rawa adalah kemasaman tinggi yang menyebabkan konsentrasi besi sangat tinggi sehingga tanaman keracunan. Selain itu genangan air juga sering tinggi dan lama sehingga tanaman busuk dan mati. Padi Inpara sudah terbukti tahan masam, tahan keracunan besi, dan tahan genangan ujar Dedi menambahkan.

Peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Ir Koesrini MS mengatakan bahwa terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan setelah petani tanam Inpara. Varietas lokal dengan produktivitas 2 ton/ha dan IP 100 hanya menghasilkan Rp 16 juta pada harga GKG Rp 8.000/kg. Sementara itu, Inpara dengan produktivitas 6,3 ton/ha dan IP 200 mampu menghasilkan sekitar Rp 57 jt bila harga GKG Rp 4.500/kg ujar Koesrini menambahkan.

Ir Yantirina MS peneliti Balittra menambahkan bahwa petani rawa saat ini sudah banyak mengadopsi sistem surjan yang memadukan budidaya sawah (padi) dan darat (jeruk). Dari lahan daratnya yang ditanami jeruk, petani dapat penghasilan sekitar Rp 50 jt/ha/tahun, sedangkan lahan sawahnya (Inpara) petani mendapatkan Rp 57 jt/ha/tahun. Dengan demikian maka pendapatan total petani di lahan rawa lebak sekitar Rp 107 jt/ha/tahun.

Lebih lanjut Yantirina mengatakan bahwa kepemilikan lahan sawah petani rawa berkisar antara 1.25-5.00 ha atau rata-rata sekitar 2.0 ha.  Dengan demikian dalam satu tahun petani bisa mencapai pendapatan sekitar Rp 214 jt atau Rp 18 jt/bulan. Pendapatan tersebut melampaui penghasilan seorang PNS ujar Yantirina menambahkan.

Saat ini Inpara berkembang pesat di Kabupaten Batola, Propinsi Kalimantan Selatan. Koesrini mengatakan bahwa permintaan benih Inpara dari petani Batola sangat tinggi. Ternyata ini terkait dengan jumlah transmigran asal Jawa sangat banyak di Batola. Warga transmigran menyukai beras pulen dari Inpara sedangkan penduduk asli yang kebanyakan suku Banjar menyukai beras pera dari padi lokal ujar Koesrini menambahkan. (Koesrini/Balitbangtan).

Bagikan Konten

Hashtag

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini679
Hari Kemarin943
Minggu ini7209
Bulan ini22593
Total Pengunjung2631596
Online saat ini
12

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi