Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Pada Tahun 2017, Jarwo Super akan dikembangkan di 10 Provinsi

Pada Tahun 2017, Jarwo Super akan dikembangkan di 10 Provinsi

29.11.2016
BBPadi
16717

Pada Tahun 2017, Jarwo Super akan dikembangkan di 10 Provinsi

29.11.2016
BBPadi
16717

Temu lapang inovasi teknologi budidaya padi jarwo super dalam rangka meningkatkan ketersediaan benih padi mendukung UPSUS di Jawa Barat telah dilaksanakan di Desa Sukasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang (22/11/16). Kabupaten Subang merupakan penyumbang kedaulatan pangan dan pemenuhan kebutuhan pangan agar tidak tergantung pada pasokan impor yang merupakan impian besar bangsa Indonesia.

Kabupaten subang mendukung itu dan sudah dilaksanakan di beberapa daerah sentra produksi padi. Peningkatan produksi padi khusunya padi perlu terus ditingkatkan dan diupayakan antara lain dengan upaya khusus padi jagung kedelai. Respon petani dengan adanya teknologi adalah dengan menggabungkan berbagai teknologi antara lain penggunaan benih varietas unggul, pemupukan hara spesifik lokasi, sistem tanam  jajar legowo, pengaturan air berdasarkan kebutuhan tanaman pengelolaan hama dan penyakit terpadu (PHT), penggunaan pupuk hayati,  panen dan pasca panen secara baik dan benar.

Kementrian pertanian sudah dua tahun ini kosentrasi untuk meningkatkan produktivitas dan tentunya peningkatan produktivitas ini harus bermuara terhadap peningkatan pendapatan petani oleh karena itu kementrian pertanian merencanakan menganut modernisasi pertanian mulai dari penanganan, penanaman, penggunaan varietas, teknologi budidaya sampai pasca panen harus masuk kedalam bingkai pertanian modern.

Pada tahun 2017, Kementerian Pertanian akan mengembangkan Jarwo Super 10 ribu hektar di 10 provinsi di Indonesia sentra prosuksi padi. Melalui koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Balitbangtan sudah menyiapkan 250 ton benih unggul yang akan dibagikan kepada petani secara gratis. Tentunya benih yang akan dibagikan tersebut disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing provinsi. 

Dalam sambutanya Kepala Balitbangtan Dr. M. Syakir mengatakan bahwa Produktivitas Jarwo Super termasuk lahan sawah irigasi dan semi irigasi yaitu 9-13 t/ha, namun target kita produksi tahun depan 9-10 t/ha. Kalau secara nasional direplikasi 10 persen saja, maka akan menghasilkan 75juta ton. Dari hasil produktivitas pengembanganya, setiap hektar di targetkan 5 ton untuk benih sumber, sehingga dari 10 provinsi menghasilkan 50 ton benih cukup untuk penanaman 2 juta hektar, tegas Kepala Badan.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dr. Herman Khaeron dalam sambutanya sangat mengapresiasi reaksi cepat Balitbangtan dalam menyebarkan inovasi teknologi yang telah dihasilkan kepada petani. Herman Khaeron juga mengatakan ada lima elemen pokok yang menjadi kunci dalam keberhasilan menuju kedaulatan, kemandirian, tatanan, dan keamanan pangan. Yang pertama adalah tanah yang semakin sempit, ini kenyataan sesuatu yang tidak dapat dicegah. Kedua harus ada air, ketiga adalah benih karena benih yang baik akan berkontribusi 18 % terhadap produktivitas. Keempat adalah pupuk, dan pupuk yang baik akan berkontribusi 17% terhadap produktivitas. Dan yang kelima adalah pengelolaan cara mekanisasi dan cara tanam yang kini dikembangkan harus mengikuti kemajuan teknologi seperti pemakaian alat dan mesin pertanian (Alsintan) untuk antisipasi semakin berkurangnya lahan dan tenaga kerja.

Dukungannya dan sinergi dalam melaksanakan kegiatan bisa berjalan dengan baik berkat  dukungan Pemerintah pusat, DPR RI, Provinsi, dan semua pihak yang terlibat dalam mensukseskan program ketahanan pangan Indonesia.

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini679
Hari Kemarin943
Minggu ini7209
Bulan ini22593
Total Pengunjung2631596
Online saat ini
12

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi