Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Fase Kritis Terjadinya Infeksi Virus Tungro

Fase Kritis Terjadinya Infeksi Virus Tungro

14.03.2014
BBPadi
2437

Fase Kritis Terjadinya Infeksi Virus Tungro

14.03.2014
BBPadi
2437

Keberadaan populasi awal wereng hijau (vektor virus tungro) akan menentukan kepadatan populasi generasi selanjutnya jika tersedia cukup makanan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Wereng hijau masih dapat bertahan hidup pada singgang (ratun tanaman padi) dan gulma di sekitar pertanaman. Di suatu daerah dengan pola tanam yang tidak serempak, akan selalu tersedia makanan dan tempat berkembang bagi wereng hijau. Ketersediaan sumber inokulum (tanaman terinfeksi atau tanaman bergejala tungro; gulma terinfeksi) merupakan faktor utama terjadinya infeksi tungro jika terdapat populasi wereng hijau.

Infeksi tungro sudah dapat terjadi di persemaian, khususnya pada persemaian terbuka atau persemaian yang dibuat di lahan sekitar atau dalam pertanaman yang sebelumnya terinfeksi tungro. Di wilayah endemis tungro dengan pola tanam tidak serempak, persemaian terbuka yang dibuat sebelum pengolahan lahan akan menjadi sasaran utama infeksi tungro. Keberadaan wereng hijau dan sumber inokulum awal menjadi penyebab terjadinya infeksi di persemaian. Gejala tungro di persemaian belum dapat dilihat secara visual. Gejala tungro akan terlihat setelah 15 - 20 hari setelah tanam (HST) atau 2 - 3 minggu setalah tanam (MST).

Tanaman terinfeksi pada 2 - 3 MST menjadi sumber inokulum primer untuk infeksi ke tanaman lain yang didukung oleh keberadaan populasi wereng hijau generasi pertama atau wereng hijau migran dari pertanamn lain khususnya di wilayah dengan pola tanam tidak serempak. Eradikasi sumber inokulum primer sejak dini merupakan tindakan pengendalian yang utama harus dilakukan untuk mencegah dan menekan terjadinya penularan sekunder di pertanaman. Perkembangan populasi wereng hijau akan meningkat hingga 4 MST dan akan menurun memasuki 6 MST.

Infeksi virus tungro masih dapat terjadi pada 6 MST (30 - 35 HST) sebelum tanaman memasuki fase generatif jika masih terdapat sumber inokulum dan populasi vektor di pertanaman atau terjadi migrasi wereng hijau dari pertanaman terinfeksi di sekitarnya. Gejala tungro hasil infeksi pada 6 MST umumnya tidak terlihat, karena masa inkubasi gejala bertepatan dengan pertanaman masuk fase generatif. Namun demikian, sering terlihat adanya kekerdilan pada rumpun tanaman jika terjadi intensitas infeksi yang tinggi. Gejala tungro akan muncul saat tumbuh ratun, jika tidak segera dilakukan pengolahan lahan setelah panen dan akan menjadi sumber inokulum bagi musim tanam berikutnya. 

Sumber: Dr. Heru Praptana (Loka Penelitian Penyakit Tungro)

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini194
Hari Kemarin1629
Minggu ini1823
Bulan ini36228
Total Pengunjung2708036
Online saat ini
4

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi