Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Balitbangtan Kementerian Pertanian

 
bbpadi

Science

Innovation

Network

 
Anda berada disini:Beranda»Info & Berita»Berita»Barito Koala Bangkit dari Jejangkit dan Bertekad Tidak Akan Berhenti di HPS

Barito Koala Bangkit dari Jejangkit dan Bertekad Tidak Akan Berhenti di HPS

22.10.2018
BBPADI
1329

Barito Koala Bangkit dari Jejangkit dan Bertekad Tidak Akan Berhenti di HPS

22.10.2018
BBPADI
1329

Puncak peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 tahun 2018 di Desa Jejangkit, Kabupaten Batola, Provinsi Kalimantan Selatan telah usai, Minggu (21/10/2018).

Kemeriahan acara dan keramaian warga yang memadati pameran dihalaman Kantor Gubernuran Kalsel dan kawasan gelar teknologi padi rawa dan hortikultura kini sudah sepi dari lalu lalang pengunjung.

Jejangkit Batola orang menyebutnya, akhir2 ini memang  ramai diperbincangkan dibeberapa media nasional dan daerah. Telinga terasa familiar jika mendegar nama desa tersebut karena desa itu menjadi saksi sejarah momentum  perhelatan HPS yg ke 38 untuk optimalkan lahan rawa.

Untuk menuju lokasi desa tersebut bisa ditempuh selama 2 jam dari kota Banjarmasin. Jika ditelisik lebih jauh, penduduk desa ini sebagian besar bukan warga pendatang.

Kondisi geografis yang panas dan jalan yang sedikit terjal dan bergelombang tidak menyurutkan para pengunjung untuk datang ke lokasi gelar teknologi padi rawa seluas 750 ha. Rata-rata lahan didaerah ini adalah lahan tidur yang  susah dan jarang diolah sebagai lahan pertanian.

Sepanjang perjalanan memasuki desa Jejangkit, penulis disuguhi pemandangan alam rawa yang beragam. Ada lahan yang masih tidur dan ditumbuhi alang-alang tinggi, ada yang telah dimanfaatkan sebegai lahan sawah oleh petani sekitar, ada yang sedang dibuka sebagi lahan bukaan baru dan beberapa pemukiman warga. Dan yang paling menarik adalah ada hamparan padi tumbuh subur dilahan seluas  100 hektar dan siap dipanen diluar musim.

Pada tanggal 18 Oktober 2018, ribuan orang tumplek blek di desa yang terkenal dengan sebutan lahan raksasa tidur.

Untuk mencapai lokasi gelar teknologi di Desa jejangkit ditempuh dengan jalan kaki sejauh 3 KM dari lokasi parkir, bukan pekerjaan yang mudah, makin siang suhu udara semakin naik dan panas bisa mencapai suhu >35 derajat celcius.

Napi salah seorang penduduk asli Batola menuturkan "Baru kali ini desa kami ramai lalu lalang kendaraan, kalau sebelumnya ga pernah ada orang-orang dari luar daerah pada datang ke wilayah sini, tutur Napi denngan logat aslinya.

Ada lagi warga yang menuturkan “Berkat HPS jalan sini jadi diaspal”, cetus ibu yang tidak mau menyebutkan namanya.

Sesampai dilokasi gelar teknologi, terik matahari mulai terasa panas, sebagian pengunjung dan petani berjalan dipinggir pematang menuju lokasi pembukaan sambil melihat-lihat hamparan tanaman padi siap panen.

Menurut salah satu petani pengunjung yang sempat menghampiri penulis, menceritakan “Saya ga nyangka tanaman bisa tumbuh bagus dilahan seperti ini, rasanya mustahil tanaman padi disini bisa tumbuh bagus seperti ditanah jawa,  puluhan tahun saya menanam padi hanya bisa panen sekali dalam setahun itupun hasilnya rendah", tuturnya.

Banyak petani-petani lain yang menceritakan bahwa pada awal pembukaan lahan rawa masyarakat meragukan program ini. Keraguan  itu kini tinggal cerita dan Kementerian Pertanian terbukti bisa menjawab tantangan alam dengan inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.  Memang salah satu peneliti pernah mengatakan bahwa lahan rawa di Kabupaten Batola punya keunikan tersendiri, karena selain lahan bukaan baru, juga kandungan pH yang sangat rendah dan pirit tinggi.

Kendati demikian, para peneliti Badan Litbang Pertanian kerja all out untuk membuktikan pada dunia bahwa lahan rawa di Indonesia bisa menghasilkan pangan.

Seluruh peneliti sebagai kekuatan dengan formasi lengkap diturunkan ke lapangan, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Balai Besar Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Balai Besar Mekanisasi Pertanian, Balai Penelitian Lahan Rawa, Balai Penelitian Tanah, Balai Penelitian Ternak, dan Balai Pengkajian Teknolgi Pertanian Kalimantan Selatan bahu-membahu turun kesawah bekerjasama sesuai bidang keahlian masing-masing. 

Di lahan gelar teknologi padi rawa tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, juga memperkenalkan berbagai teknologi tumpangsari berbagai komoditas padi dan hortikultura kepada petani kalimantan Selatan.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Priatna Sasmita dalam wawancaranya mengatakan bahwa "Disela-sela petakan sawah, teman-teman dari Puslithorti dibantu temen-temen BPTP Kalsel dan Balitra menanam sayuran seperti terong, timun, bayam, cabai, juga buah-buahan yang merupakan varietas unggul hasil Badan Litbang Pertanian agar semua lahan termanfaatkan dengan baik, selain itu Ia mengatakan, “disela-sela petak sawah banyak tanaman tumpangsari yang ditanam disela-sela petakan/pematang dampaknya sangat bagus untuk pengendalian hama sekaligus penyakit tanaman sekitar karena tanaman tersebut bisa berfungsi sebagai tanaman refugia”, kata Kepala BB Padi

"Kita ketahui bersama bahwa  refugia akan menarik musuh-musuh alami hama padi untuk berkembang biak, sehingga membantu pengendalian hama padi secara alami,  hal ini tentu akan meminimalisir serangan hama pada varietas varietas padi yg kami tanam seperti inpara 2, 3, 8, 9 serta beberapa serial inpari lainya", ungkap Priatna di Sela-sela acara pembukaan HPS di Kabupaten Barito Koala, Rabu (18/10/2018).

Teknologi lokal yang didukung dengan budidaya modern juga sangat baik untuk dikembangkan dan dikenalkan kepada para petani.  Sebagai contoh budidaya ikan lokal di saluran sekunder dan tersier yang dilengkapi jaring apung. Ikan-ikan lokal yang sedang dikembangkan dilahan tersebut meliputi ikan papuyu (betok), ikan haruan (gabus), ikan kapar dan ikan lele dumbo yang diyakini toleran pH rendah. 

Itik Alabio moncong orange yang menjadi idola para peternak di Kalimantan Selatan juga disiapkan diareal HPS.

Diharapkan dengan budidaya tumpangsari semacam ini dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani lahan rawa pada umumnya. 

Menteri Pertanian Andri Amran Sulaeman optimis bahwa pemanfaatan lahan rawa Lebak dan lahan rawa pasang surut sebagai lahan pertanian yang tetap menghasilkan pangan.

Menteri Pertanian menyampaikan bahwa keberhasilan pemanfaatan lahan rawa di lokasi HPS merupakan pembuktian dan sekaligus harapan masa depan pangan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045.

“Jika dikelola dengan baik, potensi lahan rawa seluas 10 juta hektar nilainya bisa 1.000 hingga 2.000 triliun untuk pendapatan petani," kata Mentan

Sementara itu saat awancara dengan beberapa media mentan menambahkan  "Optimalisasi pertanian lahan rawa akan menjadi solusi permanen saat musim kemarau karena memiliki ketersediaan air sepanjang tahun. Ketika di daerah lain mengalami musim kemarau atau kekeringan dan gagal panen, di lahan rawa justru tetap bisa panen dan berproduksi secara optimal." tambah Mentan.

Potensi besar dari lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut merupakan tantangan dalam pengelolaan yang perlu dilakukan dengan inovasi yang tepat untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan. 

Jangan terlelap tidur lagi lahanku dan segeralah bangun dari kesunyian yang telah lama. Jangan ada pihak manapun yang menina bobokan lahan yang sudah susah payah dibangun dengan biaya yang tidak sedikit.

Tekad Kementerian Pertanian untuk membangunkan raksasa tidur, terbukti dengan gelar teknologi berbagai komoditas pangan dan hortikultura tumbuh subur dan siap panen bertepatan dengan momentum HPS ke 38. Berawal dari HPS ini diharapkan peningkatan produksi di Kalimantan Selatan bisa terus ditingkatkan dan Kalimantan Selatan bisa menopang kebutuhan beras nasional.(Shr)

Bagikan Konten

Kontak Informasi

  • Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang, Jawa Barat 41256
  • Phone (0260) 520157
  • Fax (0260) 521104
Map Direction BBPADI.
Scan menggunakan
QR Code Reader
 

Statistik Website

Hari ini780
Hari Kemarin943
Minggu ini7310
Bulan ini22694
Total Pengunjung2631697
Online saat ini
7

© 2008-2019. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi