Padi Gogo Sebagai Tanaman Tumpangsari Perkebunan dan HTI Muda

Secara tradisional, petani umumnya menanam padi gogo secara tumpangsari, baik dengan sesama tanaman semusim (intercropping) maupun dengan tanaman keras (interculture). Pola tanam tumpangsari tanaman semusim walaupun mengakibatkan produksi padi gogo tidak maksimal, tetapi ada keuntungan lain berupa hasil dari tanaman selain padi dan secara keseluruhan akan lebih menguntungkan dan lebih menjamin stabilitas hasil usahatani yang diperoleh. Berbeda dengan tumpangsari sesama tanaman semusim, tumpangsari dengan tanaman keras hanya dilakukan pada saat fase pertumbuhan awal tanaman keras yaitu, pada saat tanaman pokok belum menghasilkan atau sampai batas naungan maksimum mencapai 50 %. Bilamana tanaman pangan masih diperlukan untuk pertanaman selanjutnya, maka perlu ada seleksi komoditas atau varietas yang tahan naungan (Sopandie et al., 2003)

Pertanaman padi gogo sebagai tanaman tumpangsari perkebunan karet muda dapat diusahakan sampai tahun ke tiga. Sedangkan untuk perkebunan kelapa sawit sampai tahun ke empat. Bila siklus peremajaan tanaman perkebunan karet dan kelapa sawit dilakukan setiap 25 tahun sekali, maka potensi pengusahaan padi gogo sebagai  tanaman tumpangsari di kedua jenis perkebunan tersebut dapat mencapai luasan 12 % (Tabel 3). Pada pertanaman kelapa dalam, padi gogo sebagai tanaman tumpangsari dapat diusahakan sampai tahun ke tiga, dan setelah kelapa berumur  lebih dari 25 tahun baru dapat diusahakan lagi penanaman padi gogo karena mahkota tanaman kelapa sudah mengecil, sehingga penetrasi cahaya yang masuk kepermukaan tanah lebih dari 75 %.

Berdasarkan data BPS (2005), pada tahun 2004 luas perkebunan karet dan kelapa sawit lebih dari 8,5 juta ha, sedangkan pertanaman kelapa dalam mencapai lebih 3,8 juta ha (Tabel 4). BPS (2005) melaporkan bahwa saat ini ada sekitar 3 752 000 ha hutan tanaman industri (HTI), dengan luas peremajaan sekitar 200 000 ha/tahun. Bila usaha pertanaman tumpangsari padi gogo pada pertanaman HTI muda dapat dilakukan sampai tahun ketiga, maka luasan tersebut dapat mencapai > 0,5 juta ha/tahun. Secara total bila semua potensi pertanaman tumpangsari tersebut digabung, maka potensi wilayah untuk penanaman padi gogo sistim tumpangsari akan mencapai lebih dari 2 juta hektar.

Hasil padi gogo sebagai tanaman tumpangsari dengan tanaman perkebunan karet muda di Provinsi Bengkulu dan Kalimantan Selatan masing-masing mencapai 3,86 dan 3,36 t/ha GKP (Anonimous, 1995). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di Kebun Cikumpay PTP VIII (Jawa Barat), hasil panen varietas Jatiluhur mencapai 4,14 dan varietas Cirata mencapai 3,66 t/ha GKG. Berdasarkan data di atas, dengan asumsi hasil rata-rata padi gogo di lahan perkebunan muda sebesar 3 t/ha GKG, maka dari rencana target “tanaman tumpangsari padi gogo” seluas 1 juta ha, akan dapat tambahan hasil padi sebanyak sebanyak 3 juta ton GKG/tahun (Toha et al., 1997). Apabila target pengembangan padi gogo lebih jauh disesuaikan dengan data BPS 2005, dengan potensi tanaman tumpangsari mencapai lebih dari 2 juta ha, maka potensi peningkatan hasil padi dari tanaman tumpangsari dapat mencapai lebih dari 6 juta ton. Selanjtnya bila setelah panen padi gogo diikuti dengan penanaman komoditas palawija seperti; kacang tanah, kedelai atau kacang hijau, maka akan ada tambahan hasil yang cukup besar dan pendapatan petani juga akan meningkat.

Keuntungan Tanaman Tumpangsari Perkebunan dan HTI Muda

Tanaman tumpangsari padi gogo dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar perkebunan/hutan, karena petani mendapat hasil padi sebelum tanaman pokok menghasilkan. Bila setelah panen padi gogo diikuti oleh  tanaman palawija yang lebih tahan kering, maka produktivitas lahan lebih meningkat dan pendapatan petani juga meningkat.  Pola tanam yang dianjurkan adalah padi gogo diikuti kacang tanah atau kedelai atau kacang hijau dan selanjutnya bila masih ada hujan dapat diiikuti oleh penanaman kacang tunggak atau kacang uci. Penerapan pola tanam berbasis padi gogo yang intensif seperti tersebut, dapat berfungsi sebagai  tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Kontak langsung air hujan secara fisik dengan permukaan tanah akan berkurang karena tertahan oleh daun dan ranting tanaman. Selanjutnya penyerapan air secara perkolasi melalui akar tanaman akan meningkat, sehingga aliran permukaan berkurang dan erosi tanah dapat diminimalkan.

Keuntungan lain dari tanaman tumpangsari adalah; a) tenaga kerja untuk persiapan tanam dan pemeliharaan tanaman pokok menjadi berkurang, b) residu pupuk yang diberikan pada tanaman pangan  yang diusahakan dapat dimanfaatkan oleh tanaman pokok, c) terjadi penambahan bahan organik dari sisa atau limbah tanaman pangan, d) tegakan tanaman pokok lebih baik, e) mengurangi penjarahan, f). pengembalaan ternak bebas dapat dikurangi (ternak perlu dikandangkan agar tidak merusak tanaman pangan yang diusahakan dan pemeliharaan ternak menjadi lebih intensif), serta g) pupuk organik atau pupuk kandang dapat digunakan sebagai substitusi pupuk anorganik atau sebagai sumber pendapat lain bilamana dijual.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini78
Hari kemarin1058
Minggu ini7360
Bulan ini26961
Jumlah Pengunjung850859
Online sekarang
22

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Padi Gogo Sebagai Tanaman Tumpangsari Perkebunan dan HTI Muda

Secara tradisional, petani umumnya menanam padi gogo secara tumpangsari, baik dengan sesama tanaman semusim (intercropping) maupun dengan tanaman keras (interculture). Pola tanam tumpangsari tanaman semusim walaupun mengakibatkan produksi padi gogo tidak maksimal, tetapi ada keuntungan lain berupa hasil dari tanaman selain padi dan secara keseluruhan akan lebih menguntungkan dan lebih menjamin stabilitas hasil usahatani yang diperoleh. Berbeda dengan tumpangsari sesama tanaman semusim, tumpangsari dengan tanaman keras hanya dilakukan pada saat fase pertumbuhan awal tanaman keras yaitu, pada saat tanaman pokok belum menghasilkan atau sampai batas naungan maksimum mencapai 50 %. Bilamana tanaman pangan masih diperlukan untuk pertanaman selanjutnya, maka perlu ada seleksi komoditas atau varietas yang tahan naungan (Sopandie et al., 2003)

Pertanaman padi gogo sebagai tanaman tumpangsari perkebunan karet muda dapat diusahakan sampai tahun ke tiga. Sedangkan untuk perkebunan kelapa sawit sampai tahun ke empat. Bila siklus peremajaan tanaman perkebunan karet dan kelapa sawit dilakukan setiap 25 tahun sekali, maka potensi pengusahaan padi gogo sebagai  tanaman tumpangsari di kedua jenis perkebunan tersebut dapat mencapai luasan 12 % (Tabel 3). Pada pertanaman kelapa dalam, padi gogo sebagai tanaman tumpangsari dapat diusahakan sampai tahun ke tiga, dan setelah kelapa berumur  lebih dari 25 tahun baru dapat diusahakan lagi penanaman padi gogo karena mahkota tanaman kelapa sudah mengecil, sehingga penetrasi cahaya yang masuk kepermukaan tanah lebih dari 75 %.

Berdasarkan data BPS (2005), pada tahun 2004 luas perkebunan karet dan kelapa sawit lebih dari 8,5 juta ha, sedangkan pertanaman kelapa dalam mencapai lebih 3,8 juta ha (Tabel 4). BPS (2005) melaporkan bahwa saat ini ada sekitar 3 752 000 ha hutan tanaman industri (HTI), dengan luas peremajaan sekitar 200 000 ha/tahun. Bila usaha pertanaman tumpangsari padi gogo pada pertanaman HTI muda dapat dilakukan sampai tahun ketiga, maka luasan tersebut dapat mencapai > 0,5 juta ha/tahun. Secara total bila semua potensi pertanaman tumpangsari tersebut digabung, maka potensi wilayah untuk penanaman padi gogo sistim tumpangsari akan mencapai lebih dari 2 juta hektar.

Hasil padi gogo sebagai tanaman tumpangsari dengan tanaman perkebunan karet muda di Provinsi Bengkulu dan Kalimantan Selatan masing-masing mencapai 3,86 dan 3,36 t/ha GKP (Anonimous, 1995). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di Kebun Cikumpay PTP VIII (Jawa Barat), hasil panen varietas Jatiluhur mencapai 4,14 dan varietas Cirata mencapai 3,66 t/ha GKG. Berdasarkan data di atas, dengan asumsi hasil rata-rata padi gogo di lahan perkebunan muda sebesar 3 t/ha GKG, maka dari rencana target “tanaman tumpangsari padi gogo” seluas 1 juta ha, akan dapat tambahan hasil padi sebanyak sebanyak 3 juta ton GKG/tahun (Toha et al., 1997). Apabila target pengembangan padi gogo lebih jauh disesuaikan dengan data BPS 2005, dengan potensi tanaman tumpangsari mencapai lebih dari 2 juta ha, maka potensi peningkatan hasil padi dari tanaman tumpangsari dapat mencapai lebih dari 6 juta ton. Selanjtnya bila setelah panen padi gogo diikuti dengan penanaman komoditas palawija seperti; kacang tanah, kedelai atau kacang hijau, maka akan ada tambahan hasil yang cukup besar dan pendapatan petani juga akan meningkat.

Keuntungan Tanaman Tumpangsari Perkebunan dan HTI Muda

Tanaman tumpangsari padi gogo dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar perkebunan/hutan, karena petani mendapat hasil padi sebelum tanaman pokok menghasilkan. Bila setelah panen padi gogo diikuti oleh  tanaman palawija yang lebih tahan kering, maka produktivitas lahan lebih meningkat dan pendapatan petani juga meningkat.  Pola tanam yang dianjurkan adalah padi gogo diikuti kacang tanah atau kedelai atau kacang hijau dan selanjutnya bila masih ada hujan dapat diiikuti oleh penanaman kacang tunggak atau kacang uci. Penerapan pola tanam berbasis padi gogo yang intensif seperti tersebut, dapat berfungsi sebagai  tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Kontak langsung air hujan secara fisik dengan permukaan tanah akan berkurang karena tertahan oleh daun dan ranting tanaman. Selanjutnya penyerapan air secara perkolasi melalui akar tanaman akan meningkat, sehingga aliran permukaan berkurang dan erosi tanah dapat diminimalkan.

Keuntungan lain dari tanaman tumpangsari adalah; a) tenaga kerja untuk persiapan tanam dan pemeliharaan tanaman pokok menjadi berkurang, b) residu pupuk yang diberikan pada tanaman pangan  yang diusahakan dapat dimanfaatkan oleh tanaman pokok, c) terjadi penambahan bahan organik dari sisa atau limbah tanaman pangan, d) tegakan tanaman pokok lebih baik, e) mengurangi penjarahan, f). pengembalaan ternak bebas dapat dikurangi (ternak perlu dikandangkan agar tidak merusak tanaman pangan yang diusahakan dan pemeliharaan ternak menjadi lebih intensif), serta g) pupuk organik atau pupuk kandang dapat digunakan sebagai substitusi pupuk anorganik atau sebagai sumber pendapat lain bilamana dijual.

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:179

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1044

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:471

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi