Padi Hibrida, Pembawa Harapan untuk Bahagia

Padi hibrida di Indonesia masih dipandang sebelah mata, karena tingkat heterosisnya yang tidak sebesar hibrida-hibrida tanaman menyerbuk sendiri, seperti jagung. Tidak seperti di negara asalnya, Tiongkok, yang terus menjadi primadona dan permata di lahan petani. Namun, para pemulia tidak pernah ‘gantung sepatu lapang’ untuk terus berkarya. Peluh dan debu bertahun-tahun justru mengasah dan memacu semangat mereka.

Hibrida, layaknya tipe padi lainnya, tetaplah memiliki keunggulan maupun kelemahan yang tidak dapat dihindari. Keunggulan utama padi hibrida tentu saja produktivitasnya, diharapkan pemanfaatan padi hibrida akan meningkatkan produktivitas padi di tingkat petani, bahkan mimpi kita dimasa yang akan datang, hibrida akan turut berkontribusi pada peningkatan produksi padi nasional.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi yang berpusat di Sukamandi, Subang, Jabar memiliki pemulia yang telah berhasil merakit varietas padi hibrida dengan berbagai keunggulan spesifik. Salah satunya HIPA 18, varietas hibrida ini selain potensi produktivitasnya yang mencapai 10,3 t/Ha, juga bereaksi agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, agak tahan terhadap terhadap 3 patotipe hawar daun bakteri (kresek) dan tahan terhadap blast. Rasa nasinya yang enak turut menjadi daya tarik dari varietas ini. Kemudahan dalam produksi benihnya juga menjadi keunggukan dari sisi bisnis. Out crossing rate yang tinggi dari galur mandul jantan, tetua HIPA 18 membuat potensi produksi benih hibrida ini menjadi tinggi. Pelisensi menyebutkan bahwa mereka berhasil memperoleh rata-rata benih 1,5 – 2,0 t/Ha.

Varietas ini ditargetkan untuk lahan-lahan irigasi, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk digunakan di lahan-lahan subotimal potensial, seperti lahan pasang surut dan lahan gogo potensial. Padi hibrida menyukai tanah-tanah bertekstur ringan. Padi hibrida HIPA 8 ternyata mampu beradaptasi di lahan kering Kebumen, Jawa Tengah, sedangkan HIPA 18 mampu beradaptasi di lahan pasang surut potensial di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Diharapkan di masa yang akan datang, perakitan padi hibrida dapat ditargetkan juga di lahan-lahan suboptimal untuk membantu peningkatan produktivitas lahan sub-optimal yang masih dibawah rata-rata nasional, dengan melibatkan tetua-tetua yang mempunyai latar belakang genetik toleran pada lahan sub-optimal.

Pengembangan padi hibrida tidak hanya ditentukan oleh performa tanaman itu sendiri, namun justru lebih ditentukan oleh dukungan sekitar, baik kebijakan pemerintah, swasta maupun masyarakat tani di Indonesia.

Kebijakan pemerintah untuk terus mendukung research dan proses diseminasi hibrida membuat gairah proses pemuliaan meningkat terus. Galur mandul jantan yang tinggi outcrossing rate-nya dan tahan hama/penyakit dan galur pemulih kesuburan yang merupakan bahan utama dalam perakitan varietas padi hibrida telah banyak dihasilkan oleh para pemulia. Namun demikian, penelitian budidaya yang diharapkan dapat menghasilkan paket budidaya spesifik padi hibrida masih harus mendapatkan porsi dukungan yang baik, karena akan menentukan mulusnya product delivery dari varietas. Paket teknologi yang tepat sangat diperlukan, untuk mendongkrak potensi hasil dari varietas ini.

Padi hibrida dapat dianalogikan sebagai gelas dengan ukuran yang lebih besar sehingga daya tampungnya pun lebih banyak. Itulah yang menyebabkan hibrida sangat responsif terhadap berbagai input teknologi yang diberikan, seperti pupuk dan hormon atau ZPT lainnya. Optimaliasi daya tampung untuk memaksimalkan produktivitas sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, dukungan riset teknologi budidaya spesifik padi hibrida sangat diperlukan. Berkaca pada pengalaman negara Tiongkok yang sukses dengan padi hibridanya. Teknologi ini didukung ribuan peneliti dan pemulia yang merakit varietas, paket teknologi budidaya, paket teknologi produksi benih, mekanisasi dan lain sebagainya, sehingga padi hibrida betul-betul mampu menyangga kebutuhan negara tersebut akan beras. Diharapkan dukungan pemerintah maupun swasta mampu membuat Indonesia mengejar ketertinggalan akan teknologi padi hibrida.

Perusahan swasta/pelisensi dianalogikan sbg asisten chef yang diberikan kewenangan oleh kepala chef untuk mendapatkan copy resep original dan diperbolehkan untuk melakukan improvisasi agar masakan bisa tersaji dalam jumlah banyak, cepat, proses murah namun tidak meninggalkan kualitas yang telah ditetapkan oleh chef utama. Pelisensi diharapkan dapat melakukan produksi benih hibrida dengan proses yang murah dan efisiensi baik dengan modifikasi teknik budidaya, teknik produksi, penggunaan input-input spesifik, sehingga dapat meningkatkan jumlah dan efektivitas produksi benih F1. Pelisensi tidak hanya sebagai asisten chef, namun juga marketing yang diberikan hak untuk mempromosikan, mengenalkan dan meningkatkan penjualan benih hibrida. Keharmonisan antara pelisensi, pemulia, petani dan pembeli sangat menentukan tingkat adopsi suatu varietas, selain produktivitas dan performa varietas itu sendiri.

PT Petrokimia Gresik, sebagai salah satu pelisensi teknologi Badan Litbang Pertanian, yaitu HIPA 18 telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi koki sekaligus marketing yang baik sehingga varietas ini mulai diterima oleh petani Indonesia. HIPA 18 terbukti layak untuk masuk ke dunia industri benih nasional dengan tingginya permintaan, sehingga perusahaan pelisensinya dapat memperoleh profit, bahkan memberikan royalty kepada inventor dan pemilik invensi, dalam hal ini pemulia dan institusinya. Ke depan, diharapkan semakin banyak teknologi badan litbang pertanian, baik varietas, paket budidaya, bio pestisida, pupuk hayati dan produk lainnya yang well perform sehingga dapat diterima masyarakat.

Bagi inventor, adopsi masyarakat terhadap produk yang mereka hasilkan jauh bernilai tinggi, dibandingkan besaran rupiah royalty itu sendiri. Suatu kabahagian dan kebanggaan luar biasa ketika melihat para petani membawa karung-karung gabahnya dengan wajah bahagia karena income tinggi terbayang di depan mata. (IAR/STO)

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2018
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 1
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 2

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Keunggulan Varietas Tarabas
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini688
Hari kemarin2387
Minggu ini5368
Bulan ini37140
Jumlah Pengunjung1747143
Online sekarang
40

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Padi Hibrida, Pembawa Harapan untuk Bahagia

Padi hibrida di Indonesia masih dipandang sebelah mata, karena tingkat heterosisnya yang tidak sebesar hibrida-hibrida tanaman menyerbuk sendiri, seperti jagung. Tidak seperti di negara asalnya, Tiongkok, yang terus menjadi primadona dan permata di lahan petani. Namun, para pemulia tidak pernah ‘gantung sepatu lapang’ untuk terus berkarya. Peluh dan debu bertahun-tahun justru mengasah dan memacu semangat mereka.

Hibrida, layaknya tipe padi lainnya, tetaplah memiliki keunggulan maupun kelemahan yang tidak dapat dihindari. Keunggulan utama padi hibrida tentu saja produktivitasnya, diharapkan pemanfaatan padi hibrida akan meningkatkan produktivitas padi di tingkat petani, bahkan mimpi kita dimasa yang akan datang, hibrida akan turut berkontribusi pada peningkatan produksi padi nasional.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi yang berpusat di Sukamandi, Subang, Jabar memiliki pemulia yang telah berhasil merakit varietas padi hibrida dengan berbagai keunggulan spesifik. Salah satunya HIPA 18, varietas hibrida ini selain potensi produktivitasnya yang mencapai 10,3 t/Ha, juga bereaksi agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, agak tahan terhadap terhadap 3 patotipe hawar daun bakteri (kresek) dan tahan terhadap blast. Rasa nasinya yang enak turut menjadi daya tarik dari varietas ini. Kemudahan dalam produksi benihnya juga menjadi keunggukan dari sisi bisnis. Out crossing rate yang tinggi dari galur mandul jantan, tetua HIPA 18 membuat potensi produksi benih hibrida ini menjadi tinggi. Pelisensi menyebutkan bahwa mereka berhasil memperoleh rata-rata benih 1,5 – 2,0 t/Ha.

Varietas ini ditargetkan untuk lahan-lahan irigasi, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk digunakan di lahan-lahan subotimal potensial, seperti lahan pasang surut dan lahan gogo potensial. Padi hibrida menyukai tanah-tanah bertekstur ringan. Padi hibrida HIPA 8 ternyata mampu beradaptasi di lahan kering Kebumen, Jawa Tengah, sedangkan HIPA 18 mampu beradaptasi di lahan pasang surut potensial di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Diharapkan di masa yang akan datang, perakitan padi hibrida dapat ditargetkan juga di lahan-lahan suboptimal untuk membantu peningkatan produktivitas lahan sub-optimal yang masih dibawah rata-rata nasional, dengan melibatkan tetua-tetua yang mempunyai latar belakang genetik toleran pada lahan sub-optimal.

Pengembangan padi hibrida tidak hanya ditentukan oleh performa tanaman itu sendiri, namun justru lebih ditentukan oleh dukungan sekitar, baik kebijakan pemerintah, swasta maupun masyarakat tani di Indonesia.

Kebijakan pemerintah untuk terus mendukung research dan proses diseminasi hibrida membuat gairah proses pemuliaan meningkat terus. Galur mandul jantan yang tinggi outcrossing rate-nya dan tahan hama/penyakit dan galur pemulih kesuburan yang merupakan bahan utama dalam perakitan varietas padi hibrida telah banyak dihasilkan oleh para pemulia. Namun demikian, penelitian budidaya yang diharapkan dapat menghasilkan paket budidaya spesifik padi hibrida masih harus mendapatkan porsi dukungan yang baik, karena akan menentukan mulusnya product delivery dari varietas. Paket teknologi yang tepat sangat diperlukan, untuk mendongkrak potensi hasil dari varietas ini.

Padi hibrida dapat dianalogikan sebagai gelas dengan ukuran yang lebih besar sehingga daya tampungnya pun lebih banyak. Itulah yang menyebabkan hibrida sangat responsif terhadap berbagai input teknologi yang diberikan, seperti pupuk dan hormon atau ZPT lainnya. Optimaliasi daya tampung untuk memaksimalkan produktivitas sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, dukungan riset teknologi budidaya spesifik padi hibrida sangat diperlukan. Berkaca pada pengalaman negara Tiongkok yang sukses dengan padi hibridanya. Teknologi ini didukung ribuan peneliti dan pemulia yang merakit varietas, paket teknologi budidaya, paket teknologi produksi benih, mekanisasi dan lain sebagainya, sehingga padi hibrida betul-betul mampu menyangga kebutuhan negara tersebut akan beras. Diharapkan dukungan pemerintah maupun swasta mampu membuat Indonesia mengejar ketertinggalan akan teknologi padi hibrida.

Perusahan swasta/pelisensi dianalogikan sbg asisten chef yang diberikan kewenangan oleh kepala chef untuk mendapatkan copy resep original dan diperbolehkan untuk melakukan improvisasi agar masakan bisa tersaji dalam jumlah banyak, cepat, proses murah namun tidak meninggalkan kualitas yang telah ditetapkan oleh chef utama. Pelisensi diharapkan dapat melakukan produksi benih hibrida dengan proses yang murah dan efisiensi baik dengan modifikasi teknik budidaya, teknik produksi, penggunaan input-input spesifik, sehingga dapat meningkatkan jumlah dan efektivitas produksi benih F1. Pelisensi tidak hanya sebagai asisten chef, namun juga marketing yang diberikan hak untuk mempromosikan, mengenalkan dan meningkatkan penjualan benih hibrida. Keharmonisan antara pelisensi, pemulia, petani dan pembeli sangat menentukan tingkat adopsi suatu varietas, selain produktivitas dan performa varietas itu sendiri.

PT Petrokimia Gresik, sebagai salah satu pelisensi teknologi Badan Litbang Pertanian, yaitu HIPA 18 telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi koki sekaligus marketing yang baik sehingga varietas ini mulai diterima oleh petani Indonesia. HIPA 18 terbukti layak untuk masuk ke dunia industri benih nasional dengan tingginya permintaan, sehingga perusahaan pelisensinya dapat memperoleh profit, bahkan memberikan royalty kepada inventor dan pemilik invensi, dalam hal ini pemulia dan institusinya. Ke depan, diharapkan semakin banyak teknologi badan litbang pertanian, baik varietas, paket budidaya, bio pestisida, pupuk hayati dan produk lainnya yang well perform sehingga dapat diterima masyarakat.

Bagi inventor, adopsi masyarakat terhadap produk yang mereka hasilkan jauh bernilai tinggi, dibandingkan besaran rupiah royalty itu sendiri. Suatu kabahagian dan kebanggaan luar biasa ketika melihat para petani membawa karung-karung gabahnya dengan wajah bahagia karena income tinggi terbayang di depan mata. (IAR/STO)

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi