Cendawan Entomopatogen dari Tubuh Wereng Hijau

Sekarang ini usaha yang dilakukan oleh petani dalam mengendalikan hama wereng hijau sebagai vektor penyakit tungro masih tetap setia pada penggunaan insektisida. Padahal, penggunaan insektisida bukanlah solusi yang tepat karena lambat laun justru akan menimbulkan masalah baru seperti terjadinya resistensi dan resurgensi wereng hijau, terbunuhnya musuh alami, serta terjadinya pencemaran lingkungan.

Dengan demikian, diperlukan alternatif pengendalian wereng hijau secara terpadu dan ramah lingkungan. Selain penggunaan varietas tahan, pemanfaatan cendawan entomopatogen juga merupakan salah satu komponen pengendalian terpadu yang mempunyai prospek cukup baik dalam mengendalikan wereng hijau.

Cendawan entomopatogen merupakan cendawan yang sifatnya patogenik (penyebab penyakit) pada serangga/hama. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan cendawan yang patogenik serangga (entomopatogen) berpotensi untuk dikembangkan dalam menekan populasi wereng hijau sehingga secara otomatis juga dapat menekan intensitas penyakit tungro. Selain itu penggunaan cendawan entomopatogen yang terdapat secara alami merupakan hal yang utama dalam program PHT.

Cendawan entomopatogen dapat diperoleh dengan mengambil sampel serangga wereng hijau yang terserang patogen dengan mengamati semua rumpun tanaman padi kemudian melakukan isolasi serta identifikasi patogen (cendawan) tersebut dari tubuh wereng hijau yang terinfeksi. Untuk pengambilan sampel di hamparan padi yang luas digunakan net jaring dengan menyapukan net pada hamparan padi sebanyak sepuluh kali ayunan ganda per unit contoh, kemudian serangga hama wereng hijau yang tertangkap diperiksa untuk mendapatkan wereng hijau yang terinfeksi cendawan.

Jika ditemukan adanya miselium cendawan yang tumbuh menyelimuti tubuh wereng hijau maka besar kemungkinan wereng hijau tersebut terinfeksi cendawan entomopatogen. Untuk membuktikan jenis cendawan apa yang menyerang wereng hijau maka dilakukan isolasi, inokulasi, reisolasi dan identifikasi wereng hijau (sesuai sistem Postulat Cock).

Isolasi dilakukan pada media PDA, namun sebelum dilakukan isolasi wereng hijau yang mati didesinfeksi dengan alkohol 70% dan NaOCl masing-masing selama 3 menit kemudian dengan air steril 3 kali dan dikeringkan dengan kertas absorben steril kemudian ditanam ke media PDA. Cendawan yang tumbuh di media PDA tersebut kemudian dimurnikan dan diperbanyak lalu diidentifikasi di bawah mikroskop.

Cendawan murni (tanpa kontaminan) tersebut kemudian diinokulasikan pada wereng hijau sehat yang telah disiapkan sebelumnya, sekitar 10 nimfa instar ke empat dan 10 imago wereng hijau yang berumur sama dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berukuran besar, kemudian di tetesi suspensi spora cendawan 2 cc selama 15 menit. Selanjutnya nimfa dan imago wereng hijau tersebut dilepaskan pada tanaman padi yang berada dalam kurungan kasa. Kemudian dilakukan pengamatan wereng hijau yang mati (dihitung persentase mortalitas wereng hijau) setiap 24 jam dimulai dari saat inokulasi sampai 2 minggu.

Wereng hijau yang mati diperiksa di bawah mikroskop, apakah kematiannya disebabkan oleh isolat cendawan patogen atau penyebab lain. Jika bangkai wereng hijau tersebut ditumbuhi miselium cendawan maka kemungkinan besar penyebab kematiannya adalah cendawan entomopatogen. Untuk membuktikannya lebih lanjut maka wereng hijau yang mati  tersebut kemudian direisolasi (diletakkan kembali) pada media PDA.

Cendawan yang tumbuh pada media PDA tersebut kemudian dimurnikan dan diperbanyak lalu diidentifikasi untuk membuktikan apakah morfologi cendawan  sama pada hasil isolasi sebelumnya. Jika sama, maka bisa dipastikan bahwa cendawan tersebut bersifat patogenik terhadap wereng hijau yang kemudian bisa diuji lebih lanjut dalam skala besar untuk menekan populasi wereng hijau.

Sumber : Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini137
Hari kemarin2143
Minggu ini4153
Bulan ini40347
Jumlah Pengunjung909624
Online sekarang
19

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Cendawan Entomopatogen dari Tubuh Wereng Hijau

Sekarang ini usaha yang dilakukan oleh petani dalam mengendalikan hama wereng hijau sebagai vektor penyakit tungro masih tetap setia pada penggunaan insektisida. Padahal, penggunaan insektisida bukanlah solusi yang tepat karena lambat laun justru akan menimbulkan masalah baru seperti terjadinya resistensi dan resurgensi wereng hijau, terbunuhnya musuh alami, serta terjadinya pencemaran lingkungan.

Dengan demikian, diperlukan alternatif pengendalian wereng hijau secara terpadu dan ramah lingkungan. Selain penggunaan varietas tahan, pemanfaatan cendawan entomopatogen juga merupakan salah satu komponen pengendalian terpadu yang mempunyai prospek cukup baik dalam mengendalikan wereng hijau.

Cendawan entomopatogen merupakan cendawan yang sifatnya patogenik (penyebab penyakit) pada serangga/hama. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan cendawan yang patogenik serangga (entomopatogen) berpotensi untuk dikembangkan dalam menekan populasi wereng hijau sehingga secara otomatis juga dapat menekan intensitas penyakit tungro. Selain itu penggunaan cendawan entomopatogen yang terdapat secara alami merupakan hal yang utama dalam program PHT.

Cendawan entomopatogen dapat diperoleh dengan mengambil sampel serangga wereng hijau yang terserang patogen dengan mengamati semua rumpun tanaman padi kemudian melakukan isolasi serta identifikasi patogen (cendawan) tersebut dari tubuh wereng hijau yang terinfeksi. Untuk pengambilan sampel di hamparan padi yang luas digunakan net jaring dengan menyapukan net pada hamparan padi sebanyak sepuluh kali ayunan ganda per unit contoh, kemudian serangga hama wereng hijau yang tertangkap diperiksa untuk mendapatkan wereng hijau yang terinfeksi cendawan.

Jika ditemukan adanya miselium cendawan yang tumbuh menyelimuti tubuh wereng hijau maka besar kemungkinan wereng hijau tersebut terinfeksi cendawan entomopatogen. Untuk membuktikan jenis cendawan apa yang menyerang wereng hijau maka dilakukan isolasi, inokulasi, reisolasi dan identifikasi wereng hijau (sesuai sistem Postulat Cock).

Isolasi dilakukan pada media PDA, namun sebelum dilakukan isolasi wereng hijau yang mati didesinfeksi dengan alkohol 70% dan NaOCl masing-masing selama 3 menit kemudian dengan air steril 3 kali dan dikeringkan dengan kertas absorben steril kemudian ditanam ke media PDA. Cendawan yang tumbuh di media PDA tersebut kemudian dimurnikan dan diperbanyak lalu diidentifikasi di bawah mikroskop.

Cendawan murni (tanpa kontaminan) tersebut kemudian diinokulasikan pada wereng hijau sehat yang telah disiapkan sebelumnya, sekitar 10 nimfa instar ke empat dan 10 imago wereng hijau yang berumur sama dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berukuran besar, kemudian di tetesi suspensi spora cendawan 2 cc selama 15 menit. Selanjutnya nimfa dan imago wereng hijau tersebut dilepaskan pada tanaman padi yang berada dalam kurungan kasa. Kemudian dilakukan pengamatan wereng hijau yang mati (dihitung persentase mortalitas wereng hijau) setiap 24 jam dimulai dari saat inokulasi sampai 2 minggu.

Wereng hijau yang mati diperiksa di bawah mikroskop, apakah kematiannya disebabkan oleh isolat cendawan patogen atau penyebab lain. Jika bangkai wereng hijau tersebut ditumbuhi miselium cendawan maka kemungkinan besar penyebab kematiannya adalah cendawan entomopatogen. Untuk membuktikannya lebih lanjut maka wereng hijau yang mati  tersebut kemudian direisolasi (diletakkan kembali) pada media PDA.

Cendawan yang tumbuh pada media PDA tersebut kemudian dimurnikan dan diperbanyak lalu diidentifikasi untuk membuktikan apakah morfologi cendawan  sama pada hasil isolasi sebelumnya. Jika sama, maka bisa dipastikan bahwa cendawan tersebut bersifat patogenik terhadap wereng hijau yang kemudian bisa diuji lebih lanjut dalam skala besar untuk menekan populasi wereng hijau.

Sumber : Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan

Berita Terbaru

Field Trip JIRCAS di Kebun Percobaan Muara Bogor

Berita Utama | 22-09-2017 | Hits:160

Field Trip JIRCAS di Kebun Percobaan Muara Bogor

Pompanisasi di Kebun Percobaan Pusakanagara

Berita Utama | 20-09-2017 | Hits:194

Pompanisasi di Kebun Percobaan Pusakanagara

Kebun Percobaan Muara Bogor Full Mekanisasi

Berita Utama | 18-09-2017 | Hits:200

Kebun Percobaan Muara Bogor Full Mekanisasi

Jerami Sebagai Bahan Organik

Info Teknologi | 12-09-2017 | Hits:772

Jerami Sebagai Bahan Organik

Jarak Tanam Menentukan Jumlah Populasi

Info Teknologi | 08-09-2017 | Hits:1147

Jarak Tanam Menentukan Jumlah Populasi

Tarabas, Beras Tipe Japonica Pertama Di Indonesia

Info Aktual | 07-09-2017 | Hits:566

Tarabas, Beras Tipe Japonica Pertama Di Indonesia

Tanam Padi Dengan Mempertimbangkan Ketersediaan Air

Info Teknologi | 06-09-2017 | Hits:360

Tanam Padi Dengan Mempertimbangkan Ketersediaan Air

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi