Teknik Produksi Benih Padi

Perencanaan Produksi

Perencanaan produksi benih sumber disusun berdasarkan atas informasi permintaan pelanggan (penjualan benih sumber tahun tahun sebelumnya), persediaan produk, ketersediaan benih SN dan ketersediaan dana. Rencana produksi disusun per musim tanam dengan menetapkan jenis varietas, kelas benih dan luas pertanaman. produksi jenis penjenis tidak hanya untuk varietas yang baru dilepas, varietas yang sudah komersial tetapi juga varietas yang bersifat spesifik lokasi atau varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit utama.

Penentuan Lokasi

Untuk menghasilkan benih yang memiliki mutu genetik dan fisiologis yang tinggi, faktor kondisi lingkungan tumbuh akan sangat menentukan. Selain hal tesebut, perlu dipertimbangkan pula aspek kemudahan akses kelokasi pertanaman, karena proses produksi benih baik kelas BD, BP maupun BR akan memerlukan penanganan dan pengawasan yang intensif.

            Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi adalah lahan untuk produksi benih merupakan lahan subur dengan irigasi teknis, serta merupakan lahan bera atau lahan bekas pertanaman dari varietas yang sama, atau varietas lain yang karakteristik pertumbuhannya berbeda

            Apabila dalam satu hamparan terdapat 2 atau lebih varietas yang berbeda, maka perlu diberi isolasi, baik isolasi waktu atau isolasi jarak. Isolasi jarak minimal antar 2 angka varietas yang berbeda adalah 2 meter (Dir. Perbenihan, 2009) atau isolasi waktu sekitar 30 hari. Isolasi waktu dihitung berdasarkan perbedaan waktu berbunga antara varietas yang berbeda tersebut.

Penyiapan Benih Sumber

Untuk menjamin keaslian genetik dari benih yang akan dihasilkan, keaslian, asal usul benih yang akan digunakan dalam produksi benih sangat penting untuk di perhatikan. Benih sumber ditanam minimal harus satu kelas lebih tinggi dibandingkan kelas benih yang akan diproduksi. Misalkan: untuk memproduksi benih kelas BD benih sumbernya harus benih pada kelas BS (benih penjenis), sedangkan untuk memproduksi benih kelas BP minimal benih yang di tanam haruslah benih kelas BD. Pemeriksaan benih sumber harus dilakukan sebelum benih disebar/disemai yang mencakup sartifikat/label benih yang berisi informasi mengenai asal benih, nama produsen, varietas, tanggal selesai uji dan tanggal kadaluarsa, dan mutu benih (daya berkecambah, kadar air dan kemurnian fisik benih). Kebutuhan benih untuk 1 hektar areal pertanaman beragam antara 10-20 kg.

Penyiapan Lahan

Lahan terbaik untuk produksi benih baik BD, BP atau BR adalah lahan yang pada musim sebelumnya tidak ditanami padi (bera) atau lahan yang ditanami dengan varietas yang sama pada musim sebelumnya. Apabila produksi benih terpaksa di lakukan pada lahan bekas pertanaman padi varietas lain, maka perlu dilakukan tindakan sanitasi pada saat lahan diolah, untuk memastikan tidak ada tanaman voluntir yang dapat menjadi sumber kontaminasi, dengan cara berikut:

  • Tanah dibajak pertama, lalu digenangi air selama 2-3 hari, setelah itu lahan dikeringkan (air dikeluarkan dari petakan), dan diberikan selama 7-10 hari.
  • Pada saat fase pengeringan 5-7 hari setelah drainase, lalukan aplikasi herbisida pasca tumbuh.
  • Setelah selesai fase pengeringan pertama, lakukan pengolahan tanah kedua (bajak II), lalu digenangi air selama 2-3 hari, setelah itu lahan dikeringkan (air dikeluarkan dari petakan), dan dibiarkan selama 7-10 hari.
  • Lakukan pengolahan tanah ketiga (garu), ratakan, dan bersihkan sisa-sisa tanaman (senggang, gulma).
  • Bila dirasa perlu, untuk menekan pertumbuhan gulma dapat dilakukan aplikasi herbisida pera-tumbuh minimal 5 hari sebelum tanam atau sesuai dengan ajuran pemakaian herbisida tersebut.

Persemaian

Kualitas lahan untuk persemaian sama pentingnya dengan kualitas lahan untuk produksi benih. Oleh sebab itu tata cara penyiapan lahan untuk persemaian sama persis dengan tata cara penyiapan untuk pertanaman produksi benih.

            Selanjutnya, setelah di capai kondisi lahan seperti tersebut diatas maka 110 cm dengan panjang sesuai kebutuhan. Pada umumnya luas lahan untuk persemaian adalah 4% dari luas areal pertanaman (Las et al. 2002) atau sekitar 400 m² per hektar pertanaman.

            Benih sebelum ditebar sebaiknya direndam dulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam. Benih yang telah mulai berkecambah kemudian ditabur dipersemaian dengan kerapatan antara 0,5-1,0 kg per20 m². Pupuk yang digunakan untuk persemaian adalah Urea, SP 36, dan KCI masing-masing dengan takaran 15 g/m².

Tanam

Bibit dipindahkan ke pertanaman pada saat berumur 10-15 hari setelah semai (bila lokasi tanam tidak ada gangguan keong emas) atau antara umur 15-21 hari setelah semai. Bibit yang ditanam sebaiknya mempunyai umur fisiologi bibit yang sama. Jarak tanam 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm, tergantung varietas yang ditanam, dengan 1 bibit/lubang. Setelah tanam pertanaman diairi sekitar 2-3 cm selama 3 hari untuk mendorong pertumbuhan anakan baru, kemudian air pada petakan dibuang sampai kondisi macak-macak dan dipertahankan selama 10 hari. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam dengan menggunakan bibit dari varietas dan umur yang sama.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman yang baik akan dimenjamin diperolehnya tanaman yang trima dab benih yang murni secara genetik. Pemeliharaan pertanaman untuk tujuan produksi benih sebenernya tidak berbeda dengan pemeliharaan untuk pertanaman dengan tujuan produksi gabah konsumsi. Pengaturan irigasi, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta pengendalilan gulma harus dilakukan sebaik mungkin sesuai dengan anjuran untuk mendapatkan pertanaman yang optimal.

            Pemupukan sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Untuk maksud tersebut takaran pupuk dan waktu pemupukan dapat didasarkan atas kebutuhan tanaman (Pupuk N berdasarkan pada metode Bagan Warna Daun (BWD), sedangkan pupuk P dan K berdasarkan hasil analisis tanah.

            Pada pemupukan N dengan BWD, bila nilai pengamatan kurang dari 4 maka tanaman perlu dipupuk dengan Urea sebanyak : (i) 50-75 kg/ha pada musim hasil rendah atau (ii) 75-100 kg/ha pada musim hasil tinggi atau (iii) 100 kg/ha pada padi hibrida dan padi tipe baru baik pada musin hasil rendah maupun tinggi atau (iv) 50kg/ha pada padi hibrida dan padi tipe baru bila saat malai keluar 10%.

            Bila hal tersebut diatas belum dapat dilakukan, maka pemupukan dapat dilakukan sebagai berikut: (i) aplikasi bahan organik sebanyak 2-4 ton/ha, (ii) 1 MST (Minggu Setelah Tanam) lakukan pemupukan 80 kg Urea/ha, 100 kg SP 36 /ha, dan 100 kg KCI/ha, (iii) MST dilakukan pemupukan Urea susulan pertama dengan 90 kg/ha dan (iv) 7 MST dilakukan pemupukan dengan dosis 80 kg Urea/ha dan 50 kg KCI/ha.

            Pengelolaan air sebaiknya dilakukan secara intermiten dengan aturan sebagai berikut:

  • Selesai tanam-3 hari, ketinggian air dipertahankan sekitar 3 cm
  • Antara 3-10 hari, air pada petakan pertanaman dipertahankan macak-macak.
  • Fase pembentukan anakan sampai primordia bunga, lahan di genangi dengan ketinggian air 3 cm
  • Menjelang pemupukan pertama dilakukan drainase dan penyiangan
  • Fase primordia bunga sampai bunting, lahan digenangi air setinggi 5 cm
  • Fase bunting sampai berbunga, lahan pertanaman diairi dan dikeringkan secara periodik yaitu: petakan diari 5 cm – didiarkan sampai kondisi sawah mengering selama 2 hari – kemudian diairi kembali setinggi 5 cm dan seterusnya.

Rouging

Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik dan fisik yang tinggi, oleh karena itu rouging perlu dilakukan dengan benar dan perlu dilakukan seawal mungkin sampai akhir pertanaman. Rouging pada dasarnya dilakukan untuk membuang rumpung-rumpung tanamanan yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang produksi benihnya.

            Untuk tujuan tersebut, bila memungkinkan penanaman ‘check plot’ dengan menggunakan benih outentik sangat disarankan. Pertanaman ‘check plot’ digunakan sebagai referensi / acuan di dalam melakukan rouging dengan cara memperhatikan karakteristik tanaman dalam berbagai fase pertumbuhan.

Panen

Sebelum panen dimulai, beberapa alat/perlengkapan panen seperti sabit/pisau, alat perontok (thresher), keranjang atau karung, tempat/alat pengeringan (lantai jemur, tikar, mesin pengering) perlu dipersiapkan dan di periksa kebersihannya, sehingga tidak menjadi sumber kontaniasi benih. Jumlah peralatan yang akan dipersiapkan disesuaikan dengan jenis varietas dan luas pertanaman yang akan dipanen.

            Selain itu perlu diperhatikan bahwa sebelum panen dimulai harus dipastikan diareal yang akan dipanen tidak ada sisa / malai yang tertinggal dari pertanaman yang dibuang selama proses rouging; terutama saat rouging terakhir (satu minggu sebelum panen).

            Pada produksi benih, dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (1) potong tengah batang padi dan kemudian dirontok dengan menggunakan thresher atau (2) memotong pangkal batang tanaman dengan sabit dan kemudian dirontok dengan cara digebot atau diiles. Benih hasil panen di masukan kedalam karung dengan diberi label (nama varietas, tanggal panen, blok pertanaman dari mana benih tersebut berasal).

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1080
Hari kemarin1782
Minggu ini2862
Bulan ini30882
Jumlah Pengunjung854780
Online sekarang
41

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Teknik Produksi Benih Padi

Perencanaan Produksi

Perencanaan produksi benih sumber disusun berdasarkan atas informasi permintaan pelanggan (penjualan benih sumber tahun tahun sebelumnya), persediaan produk, ketersediaan benih SN dan ketersediaan dana. Rencana produksi disusun per musim tanam dengan menetapkan jenis varietas, kelas benih dan luas pertanaman. produksi jenis penjenis tidak hanya untuk varietas yang baru dilepas, varietas yang sudah komersial tetapi juga varietas yang bersifat spesifik lokasi atau varietas yang mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit utama.

Penentuan Lokasi

Untuk menghasilkan benih yang memiliki mutu genetik dan fisiologis yang tinggi, faktor kondisi lingkungan tumbuh akan sangat menentukan. Selain hal tesebut, perlu dipertimbangkan pula aspek kemudahan akses kelokasi pertanaman, karena proses produksi benih baik kelas BD, BP maupun BR akan memerlukan penanganan dan pengawasan yang intensif.

            Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi adalah lahan untuk produksi benih merupakan lahan subur dengan irigasi teknis, serta merupakan lahan bera atau lahan bekas pertanaman dari varietas yang sama, atau varietas lain yang karakteristik pertumbuhannya berbeda

            Apabila dalam satu hamparan terdapat 2 atau lebih varietas yang berbeda, maka perlu diberi isolasi, baik isolasi waktu atau isolasi jarak. Isolasi jarak minimal antar 2 angka varietas yang berbeda adalah 2 meter (Dir. Perbenihan, 2009) atau isolasi waktu sekitar 30 hari. Isolasi waktu dihitung berdasarkan perbedaan waktu berbunga antara varietas yang berbeda tersebut.

Penyiapan Benih Sumber

Untuk menjamin keaslian genetik dari benih yang akan dihasilkan, keaslian, asal usul benih yang akan digunakan dalam produksi benih sangat penting untuk di perhatikan. Benih sumber ditanam minimal harus satu kelas lebih tinggi dibandingkan kelas benih yang akan diproduksi. Misalkan: untuk memproduksi benih kelas BD benih sumbernya harus benih pada kelas BS (benih penjenis), sedangkan untuk memproduksi benih kelas BP minimal benih yang di tanam haruslah benih kelas BD. Pemeriksaan benih sumber harus dilakukan sebelum benih disebar/disemai yang mencakup sartifikat/label benih yang berisi informasi mengenai asal benih, nama produsen, varietas, tanggal selesai uji dan tanggal kadaluarsa, dan mutu benih (daya berkecambah, kadar air dan kemurnian fisik benih). Kebutuhan benih untuk 1 hektar areal pertanaman beragam antara 10-20 kg.

Penyiapan Lahan

Lahan terbaik untuk produksi benih baik BD, BP atau BR adalah lahan yang pada musim sebelumnya tidak ditanami padi (bera) atau lahan yang ditanami dengan varietas yang sama pada musim sebelumnya. Apabila produksi benih terpaksa di lakukan pada lahan bekas pertanaman padi varietas lain, maka perlu dilakukan tindakan sanitasi pada saat lahan diolah, untuk memastikan tidak ada tanaman voluntir yang dapat menjadi sumber kontaminasi, dengan cara berikut:

  • Tanah dibajak pertama, lalu digenangi air selama 2-3 hari, setelah itu lahan dikeringkan (air dikeluarkan dari petakan), dan diberikan selama 7-10 hari.
  • Pada saat fase pengeringan 5-7 hari setelah drainase, lalukan aplikasi herbisida pasca tumbuh.
  • Setelah selesai fase pengeringan pertama, lakukan pengolahan tanah kedua (bajak II), lalu digenangi air selama 2-3 hari, setelah itu lahan dikeringkan (air dikeluarkan dari petakan), dan dibiarkan selama 7-10 hari.
  • Lakukan pengolahan tanah ketiga (garu), ratakan, dan bersihkan sisa-sisa tanaman (senggang, gulma).
  • Bila dirasa perlu, untuk menekan pertumbuhan gulma dapat dilakukan aplikasi herbisida pera-tumbuh minimal 5 hari sebelum tanam atau sesuai dengan ajuran pemakaian herbisida tersebut.

Persemaian

Kualitas lahan untuk persemaian sama pentingnya dengan kualitas lahan untuk produksi benih. Oleh sebab itu tata cara penyiapan lahan untuk persemaian sama persis dengan tata cara penyiapan untuk pertanaman produksi benih.

            Selanjutnya, setelah di capai kondisi lahan seperti tersebut diatas maka 110 cm dengan panjang sesuai kebutuhan. Pada umumnya luas lahan untuk persemaian adalah 4% dari luas areal pertanaman (Las et al. 2002) atau sekitar 400 m² per hektar pertanaman.

            Benih sebelum ditebar sebaiknya direndam dulu selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam. Benih yang telah mulai berkecambah kemudian ditabur dipersemaian dengan kerapatan antara 0,5-1,0 kg per20 m². Pupuk yang digunakan untuk persemaian adalah Urea, SP 36, dan KCI masing-masing dengan takaran 15 g/m².

Tanam

Bibit dipindahkan ke pertanaman pada saat berumur 10-15 hari setelah semai (bila lokasi tanam tidak ada gangguan keong emas) atau antara umur 15-21 hari setelah semai. Bibit yang ditanam sebaiknya mempunyai umur fisiologi bibit yang sama. Jarak tanam 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm, tergantung varietas yang ditanam, dengan 1 bibit/lubang. Setelah tanam pertanaman diairi sekitar 2-3 cm selama 3 hari untuk mendorong pertumbuhan anakan baru, kemudian air pada petakan dibuang sampai kondisi macak-macak dan dipertahankan selama 10 hari. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam dengan menggunakan bibit dari varietas dan umur yang sama.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman yang baik akan dimenjamin diperolehnya tanaman yang trima dab benih yang murni secara genetik. Pemeliharaan pertanaman untuk tujuan produksi benih sebenernya tidak berbeda dengan pemeliharaan untuk pertanaman dengan tujuan produksi gabah konsumsi. Pengaturan irigasi, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta pengendalilan gulma harus dilakukan sebaik mungkin sesuai dengan anjuran untuk mendapatkan pertanaman yang optimal.

            Pemupukan sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Untuk maksud tersebut takaran pupuk dan waktu pemupukan dapat didasarkan atas kebutuhan tanaman (Pupuk N berdasarkan pada metode Bagan Warna Daun (BWD), sedangkan pupuk P dan K berdasarkan hasil analisis tanah.

            Pada pemupukan N dengan BWD, bila nilai pengamatan kurang dari 4 maka tanaman perlu dipupuk dengan Urea sebanyak : (i) 50-75 kg/ha pada musim hasil rendah atau (ii) 75-100 kg/ha pada musim hasil tinggi atau (iii) 100 kg/ha pada padi hibrida dan padi tipe baru baik pada musin hasil rendah maupun tinggi atau (iv) 50kg/ha pada padi hibrida dan padi tipe baru bila saat malai keluar 10%.

            Bila hal tersebut diatas belum dapat dilakukan, maka pemupukan dapat dilakukan sebagai berikut: (i) aplikasi bahan organik sebanyak 2-4 ton/ha, (ii) 1 MST (Minggu Setelah Tanam) lakukan pemupukan 80 kg Urea/ha, 100 kg SP 36 /ha, dan 100 kg KCI/ha, (iii) MST dilakukan pemupukan Urea susulan pertama dengan 90 kg/ha dan (iv) 7 MST dilakukan pemupukan dengan dosis 80 kg Urea/ha dan 50 kg KCI/ha.

            Pengelolaan air sebaiknya dilakukan secara intermiten dengan aturan sebagai berikut:

  • Selesai tanam-3 hari, ketinggian air dipertahankan sekitar 3 cm
  • Antara 3-10 hari, air pada petakan pertanaman dipertahankan macak-macak.
  • Fase pembentukan anakan sampai primordia bunga, lahan di genangi dengan ketinggian air 3 cm
  • Menjelang pemupukan pertama dilakukan drainase dan penyiangan
  • Fase primordia bunga sampai bunting, lahan digenangi air setinggi 5 cm
  • Fase bunting sampai berbunga, lahan pertanaman diairi dan dikeringkan secara periodik yaitu: petakan diari 5 cm – didiarkan sampai kondisi sawah mengering selama 2 hari – kemudian diairi kembali setinggi 5 cm dan seterusnya.

Rouging

Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik dan fisik yang tinggi, oleh karena itu rouging perlu dilakukan dengan benar dan perlu dilakukan seawal mungkin sampai akhir pertanaman. Rouging pada dasarnya dilakukan untuk membuang rumpung-rumpung tanamanan yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang produksi benihnya.

            Untuk tujuan tersebut, bila memungkinkan penanaman ‘check plot’ dengan menggunakan benih outentik sangat disarankan. Pertanaman ‘check plot’ digunakan sebagai referensi / acuan di dalam melakukan rouging dengan cara memperhatikan karakteristik tanaman dalam berbagai fase pertumbuhan.

Panen

Sebelum panen dimulai, beberapa alat/perlengkapan panen seperti sabit/pisau, alat perontok (thresher), keranjang atau karung, tempat/alat pengeringan (lantai jemur, tikar, mesin pengering) perlu dipersiapkan dan di periksa kebersihannya, sehingga tidak menjadi sumber kontaniasi benih. Jumlah peralatan yang akan dipersiapkan disesuaikan dengan jenis varietas dan luas pertanaman yang akan dipanen.

            Selain itu perlu diperhatikan bahwa sebelum panen dimulai harus dipastikan diareal yang akan dipanen tidak ada sisa / malai yang tertinggal dari pertanaman yang dibuang selama proses rouging; terutama saat rouging terakhir (satu minggu sebelum panen).

            Pada produksi benih, dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (1) potong tengah batang padi dan kemudian dirontok dengan menggunakan thresher atau (2) memotong pangkal batang tanaman dengan sabit dan kemudian dirontok dengan cara digebot atau diiles. Benih hasil panen di masukan kedalam karung dengan diberi label (nama varietas, tanggal panen, blok pertanaman dari mana benih tersebut berasal).

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi