Padi Tadah Hujan dan Berumur Genjah

           Ancaman kekeringan terhadap produksi padi dapat disebabkan oleh frekuensi El Nino yang meningkat akibat pemanasan global, atau permasalahan teknis terkait irigasi. Ekosistem padi yang peka terhadap kekeringan adalah lahan sawah tadah hujan, lahan kering (gogo), lahan rawa lebak (terminal-late drought), dan lahan sawah irigasi dengan teknik pengelolaan irigasi yang kurang baik.

           Lahan sawah tadah hujan dengan luas 1.4 juta ha merupakan lumbung padi kedua setelah lahan irigasi bagi Indonesia. Pengertian lahan sawah tadah hujan adalah lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat diairi dengan ketinggian dan waktu tertentu secara kontinyu. Oleh karena itu pengairan lahan sawah tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga risiko kekeringan sering terjadi pada daerah tersebut pada musim kemarau.

Sejauh ini varietas padi untuk lahan sawah tadah hujan yang memiliki sifat tahan terhadap penyakit blas masih sangat terbatas. Di lain pihak sangat diperlukan diversifikasi varietas tahan penyakit blas untuk menanggulangi penyakit tersebut agar gen ketahanan tidak mudah patah. Oleh karena itu diperlukan sejumlah varietas dengan keragaman gen ketahanan yang luas yang dianjurkan untuk ditanam oleh petani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas varietas padi sawah tadah hujan yang toleran terhadap kekeringan dan tahan penyakit blas, diantaranya yaitu Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, dan Inpari 41 Tadah Hujan.

Inpari 38 Tadah Hujan merupakan hasil persilangan dari IR68886BA/BP68*10/ Selegreng//Guarani/Asahan. Pada tahap pengujiannya, pada saat generasi menengah telah dilakukan pengujian daya hasil selama 3 musim di Taman Bogo Lampung. Galur ini lebih memiliki tinggi tanaman relatif pendek dan telah teruji potensi hasilnya pada kondisi kering di Taman Bogo sehingga kemudian galur ini dilanjutkan untuk diuji multilokasi pada kondisi lahan tadah hujan.

Inpari 38 Tadah Hujan memiliki hasil gabah kering giling 5.71 t/ha, potensi hasil 8.16 t/ha, berumur genjah, dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas Inpari 38 Tadah Hujan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, tahan-agak tahan penyakit blas, tetapi rentan terhadap hama wereng coklat dan penyakit tungro. Mutu beras pecah kulit Inpari 38 cukup tinggi yaitu 78.35 % dan beras kepala 68.79 %.

           Inpari 39 Tadah Hujan memiliki silsilah persilangan BP342B-MR-1-3/Dendang// IR69502-6-Skn-Ubn-1-B1. Seleksi generasi awal hingga pengujian daya hasil di lahan kering Taman Bogo. Pengujian daya hasil menunjukkan bahwa galur tersebut memiliki potensi hasil yang baik di lahan kering sehingga dilanjutkan ke tahap uji multilokasi di sejumlah lahan tadah hujan.

           Inpari 39 Tadah Hujan memiliki hasil gabah kering giling 5.89 t/ha dengan potensi hasil 8.45 t/ha, berumur genjah (115±4 hari setelah sebar), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini memiliki respon agak tahan terhadap penyakit blas. Akan tetapi, varietas ini agak rentan terhadap hama wereng coklat, penyakit hawar daun bakteri, dan tungro. Rendemen beras pecah kulit varietas ini adalah 79.37 % dan beras giling 69.38 %.

           Inpari 41 Tadah Hujan merupakan persilangan antara Limboto/Towuti//Ciherang. Latar belakang genetik persilangan tersebut mengandung sifat-sifat toleran kekeringan, tahan penyakit blas, dan bermutu beras/nasi  baik. Pengujian daya hasil pada saat generasi menengah dilakukan di daerah tadah hujan dengan pengairan terbatas, kemudian dilanjutkan ke tahap uji multilokasi di sejumlah lahan tadah hujan.

           Inpari 41 Tadah Hujan memiliki rata-rata hasil gabah kering giling 5.57 t/ha dengan potensi hasil 7.83 t/ha, berumur genjah (114 hari), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit blas dan agak tahan penyakit hawar daun bakteri strain III, akan tetapi agak rentan terhadap hama wereng coklat dan tungro. Varietas ini juga memiliki mutu beras cukup baik, yaitu rendemen beras pecah kulit 77.8 % dan beras giling 75.60 %.

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini449
Hari kemarin2426
Minggu ini5104
Bulan ini21729
Jumlah Pengunjung1070076
Online sekarang
34

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Padi Tadah Hujan dan Berumur Genjah

           Ancaman kekeringan terhadap produksi padi dapat disebabkan oleh frekuensi El Nino yang meningkat akibat pemanasan global, atau permasalahan teknis terkait irigasi. Ekosistem padi yang peka terhadap kekeringan adalah lahan sawah tadah hujan, lahan kering (gogo), lahan rawa lebak (terminal-late drought), dan lahan sawah irigasi dengan teknik pengelolaan irigasi yang kurang baik.

           Lahan sawah tadah hujan dengan luas 1.4 juta ha merupakan lumbung padi kedua setelah lahan irigasi bagi Indonesia. Pengertian lahan sawah tadah hujan adalah lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat diairi dengan ketinggian dan waktu tertentu secara kontinyu. Oleh karena itu pengairan lahan sawah tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga risiko kekeringan sering terjadi pada daerah tersebut pada musim kemarau.

Sejauh ini varietas padi untuk lahan sawah tadah hujan yang memiliki sifat tahan terhadap penyakit blas masih sangat terbatas. Di lain pihak sangat diperlukan diversifikasi varietas tahan penyakit blas untuk menanggulangi penyakit tersebut agar gen ketahanan tidak mudah patah. Oleh karena itu diperlukan sejumlah varietas dengan keragaman gen ketahanan yang luas yang dianjurkan untuk ditanam oleh petani. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas varietas padi sawah tadah hujan yang toleran terhadap kekeringan dan tahan penyakit blas, diantaranya yaitu Inpari 38 Tadah Hujan, Inpari 39 Tadah Hujan, dan Inpari 41 Tadah Hujan.

Inpari 38 Tadah Hujan merupakan hasil persilangan dari IR68886BA/BP68*10/ Selegreng//Guarani/Asahan. Pada tahap pengujiannya, pada saat generasi menengah telah dilakukan pengujian daya hasil selama 3 musim di Taman Bogo Lampung. Galur ini lebih memiliki tinggi tanaman relatif pendek dan telah teruji potensi hasilnya pada kondisi kering di Taman Bogo sehingga kemudian galur ini dilanjutkan untuk diuji multilokasi pada kondisi lahan tadah hujan.

Inpari 38 Tadah Hujan memiliki hasil gabah kering giling 5.71 t/ha, potensi hasil 8.16 t/ha, berumur genjah, dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas Inpari 38 Tadah Hujan agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, tahan-agak tahan penyakit blas, tetapi rentan terhadap hama wereng coklat dan penyakit tungro. Mutu beras pecah kulit Inpari 38 cukup tinggi yaitu 78.35 % dan beras kepala 68.79 %.

           Inpari 39 Tadah Hujan memiliki silsilah persilangan BP342B-MR-1-3/Dendang// IR69502-6-Skn-Ubn-1-B1. Seleksi generasi awal hingga pengujian daya hasil di lahan kering Taman Bogo. Pengujian daya hasil menunjukkan bahwa galur tersebut memiliki potensi hasil yang baik di lahan kering sehingga dilanjutkan ke tahap uji multilokasi di sejumlah lahan tadah hujan.

           Inpari 39 Tadah Hujan memiliki hasil gabah kering giling 5.89 t/ha dengan potensi hasil 8.45 t/ha, berumur genjah (115±4 hari setelah sebar), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini memiliki respon agak tahan terhadap penyakit blas. Akan tetapi, varietas ini agak rentan terhadap hama wereng coklat, penyakit hawar daun bakteri, dan tungro. Rendemen beras pecah kulit varietas ini adalah 79.37 % dan beras giling 69.38 %.

           Inpari 41 Tadah Hujan merupakan persilangan antara Limboto/Towuti//Ciherang. Latar belakang genetik persilangan tersebut mengandung sifat-sifat toleran kekeringan, tahan penyakit blas, dan bermutu beras/nasi  baik. Pengujian daya hasil pada saat generasi menengah dilakukan di daerah tadah hujan dengan pengairan terbatas, kemudian dilanjutkan ke tahap uji multilokasi di sejumlah lahan tadah hujan.

           Inpari 41 Tadah Hujan memiliki rata-rata hasil gabah kering giling 5.57 t/ha dengan potensi hasil 7.83 t/ha, berumur genjah (114 hari), dan agak toleran terhadap kekeringan. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit blas dan agak tahan penyakit hawar daun bakteri strain III, akan tetapi agak rentan terhadap hama wereng coklat dan tungro. Varietas ini juga memiliki mutu beras cukup baik, yaitu rendemen beras pecah kulit 77.8 % dan beras giling 75.60 %.

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi