Sebelum Tanam, Kenali Varietas Padi yang Adaptif

Musim tanam padi mulai tiba di beberapa sentra pangan Indonesia. Namun dengan makin sulit ditebaknya kondisi iklim, petani harus terlebih dahulu mengenal varietas padi yang adaptif terhadap perubahan iklim sebelum mulai beraktifitas turun ke sawah

Seperti diketahui, upaya peningkatan produksi beras menghadapi kendala seperti makin terbatasnya ketersediaan air pengairan dan sumber air, perubahan iklim akibat pemanasan global, kecenderungan peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman. Strategi yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan produksi padi adalah penyesuaian pola tanam, penerapan teknologi adaptif, terutama varietas adaptif dan tahan perubahan iklim, teknologi antisipasi dan pengendalian OPT, teknologi panen dan pasca panen serta pengelolaan sumberdaya, terutama lahan dan air.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah melakukan perbaikan teknik budidaya padi sawah dan varietas unggul. Selain berdaya hasil tinggi sekitar 5-8 ton/ha, beberapa varietas tersebut berumur pendek, tahan terhadap OPT tertentu, toleran terhadap banjir maupun kekeringan, responsif terhadap pemupukan, serta rasa nasi yang sesuai dengan preferensi masyarakat. Upaya tersebut akan lebih optimal melalui pendekatan operasional dengan memperhatikan informasi antar musim dan waktu tanam yang tepat.

Variabilitas iklim antar musim tanam semakin meningkat dalam dasawarsa terakhir, baik pada Musim Tanam (MT) I, MT II maupun MT III. Kondisi demikian akan berdampak kepada tingkat kerawanan bencana baik banjir, kekeringan, maupun perkembangan OPT tertentu. Dengan demikian informasi penggunaan varietas dan kebutuhan benih dengan memperhatikan musim tanam sangat diperlukan.

Pengintegrasian informasi sifat musim, baik tahun kering, tahun normal maupun tahun basah pada setiap musim baik pada MT I, MT II maupun MT III dalam pengembangan Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu) merupakan salah satu langkah operasional dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengambil kebijakan dalam memutuskan waktu dan pola tanam ideal serta kebutuhan benih/varietas yang harus disiapkan untuk meminimalisir kerugian akibat anomali maupun reabilitas iklim antar musim. Rekomendasi varietas dan kebutuhan benih yang tepat pada suatu wilayah berdasarkan informasi tingkat kerawanan banjir, kekeringan, maupun OPT tertentu sangat diperlukan agar dapat memberikan hasil yang optimal.

SI Katam Terpadu telah menyediakan informasi tersebut secara komprehensif untuk padi pada skala nasional, pulau, provinsi, kabupaten, maupun kecamatan. Informasi sebaran varietas maupun kebutuhan benih serta rekomendasinya diharapkan mampu memberikan gambaran yang mudah dan cepat tentang varietas yang harus disiapkan baik pada tingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan seluruh Indonesia.

Varietas Unggul

Serangan hama/penyakit, banjir dan kekeringan hampir selalu terjadi setiap tahun. Intensitas dan frekuensi serangannya semakin meningkat. Salah satu penyebabnya dipicu intensitas dan frekuensi perubahan iklim yang makin meningkat dalam dasawarsa terakhir.

Ancaman banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi pada lahan sawah menyebabkan berkurangnya luas areal panen dan produksi padi. Peningkatan intensitas banjir secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi karena meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.

Terdapat indikasi bahwa lahan sawah yang terkena banjir pada musim sebelumnya berpeluang lebih besar mengalami ledakan serangan hama wereng coklat. Di lain pihak, kekeringan juga akan menurunkan hasil tanaman. Salah satu upaya antisipasi menghadapi permasalahan tersebut adalah melalui penggunaan varietas unggul.

Menurut Susanto (2003) varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka.

Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Komponen teknologi baru dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB) lebih cepat diadopsi petani dibanding komponen teknologi lainnya. Peningkatan produksi yang dihasilkan melalui penggunaan VUB lebih cepat dirasakan petani, dan meningkatkan produksi lebih tinggi. Introduksi VUB dapat meningkatkan produksi sekitar 15-35%.

Pada periode 1943-2007 Balitbangtan telah melepas varietas unggul padi sawah sebanyak 190 varietas. Sampai kini, varietas padi aktual di hampir seluruh wilayah Indonesia masih didominasi oleh varietas Ciherang. Kecuali di Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dan Papua. Varietas dominan berikutnya adalah Mekongga dan Cigeulis yang pada umumnya tersebar di Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Rekomendasi VUB seperti Inpari 1, Inpari 10, dan Inpari 13 serta Mekongga banyak disarankan di wilayah Sumatera kecuali di Sumatera Barat  yang direkomendasikan varietas lokal seperti Batang Piaman dan Batang Lembang. Untuk wilayah Jawa, Bali, NTT dan NTB, banyak direkomendasi  Inpari 10, Inpari 13, serta Mekongga.

Untuk wilayah Kalimantan, pada lahan beririgasi Mekongga dan pada lahan rawa Inpara 1, Inpara 2, dan Inpara 4. Untuk wilayah Indonesia Timur seperti di Sulawesi, Maluku, dan Papua direkomendasikan Inpari 10, serta varietas lokal seperti Tukad Unda, Tukad Balian dan Way Apo Buru.

Rekomendasi varietas untuk mengantisipasi perubahan iklim sangat tergantung dari informasi tingkat kerawanan terhadap bencana baik banjir, kekeringan, maupun OPT. Pada wilayah dengan sifat hujan normal varietas yang direkomendasikan adalah padi spesifik lokasi baik VUB maupun lokal dengan memperhatikan kondisi agroekologis (Iahan sawah, lahan kering, lahan rawa maupun preferensi masyarakat atau konsumen masing-masing wilayah). Agus Sutarman (Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementan)/Yul

Rekomendasi Varietas Unggul

Beberapa varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang banjir ringan sampai sedang, adalah Inpari 13, Inpari 29, Inpari 30, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5. Untuk wilayah rawan sampai sangat rawan banjir yaitu: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Kapuas, Batanghari, Banyuasin dan Tapus.

Di wilayah terindikasi kekeringan ringan sampai sedang direkomendasikan varietas Inpari 1, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Silugonggo dan Inpago 5. Rekomendasi varietas untuk wilayah rawan sampai sangat rawan kekeringan adalah Inpari 10, Inpari 12, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Silugonggo dan Inpago 5.

Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang tungro ringan sampai sedang yaitu Inpari 4, Inpari 5, Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, Tukad Unda, Bondoyudo, Tukad Petanu dan Tukad Balian. Varietas Tukad Unda, Bondoyudo, Tukad Petanu dan Tukad Balian direkomendasikan juga untuk wilayah yang terserang rawan sampai sangat rawan.

Pada wilayah yang terindikasi terserang wereng batang coklat (WBC) ringan sampai sedang direkomendasikan varietas Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 5, Inpari 6, Inpari 10, Inpari 18, Inpari 19, Widas, Cisantana, Konawe dan Mekongga. Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang WBC rawan sampai sangat rawan yaitu Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19 dan Mekongga.

Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang Blast ringan sampai sedang yaitu Inpari 14, Inpari 15, Inpari 20, Situ Bagendit, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 16, Inpari 11, Inpari 17, Batang Piaman, Situ Patenggang, Limboto, Danau Gaung dan Batutugik. Varietas Inpari 11, Inpari 17, Batang Piaman, Situ Patenggang, Limboto, Danau gaung, Batutugik direkomendasikan untuk wilayah yang terserang rawan sampai sangat rawan. Agus Sutarman (Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementan)/Yul

Tabel. Teknologi Tanaman Padi Adaptif Perubahan Iklim

Jenis/Kelompok Teknologi

Varietas

Varietas unggul adaptif rendah emisi gas rumah kaca

Ciherang, Cisantana, Tukad Balian, Mamberamo, IR 36, Way Apoburu dan Dodokan

Varietas toleran salinitas

Way Apoburu, Margasari, Lambur, Bayuasin, Indragiri, Siak Raya, Pakali, Dendang, Selalan, IR 42, Mendawai dan TS-1

Varietas tahan kekeringan

Dodokan, Inpago 5, Inpari 1, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Towuti, Gajah Mungkur, Silugonggo, Kelimutu, Jatiluhur, Way Rarem

Umur genjah

Dodokan, Silunggonggo, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Situbagendit dan Mekongga

Tahan rendaman/genangan

Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Ciherang Sub 1, IR 64 Sub 1, berbagai varietas padi rawa

Tahan OPT wereng batang coklat

Inpar 2, Inpari 3, Inpari 6 dan Inpari 13

Sumber : Sinar Tani

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini9
Hari kemarin2473
Minggu ini2482
Bulan ini50662
Jumlah Pengunjung968655
Online sekarang
18

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Sebelum Tanam, Kenali Varietas Padi yang Adaptif

Musim tanam padi mulai tiba di beberapa sentra pangan Indonesia. Namun dengan makin sulit ditebaknya kondisi iklim, petani harus terlebih dahulu mengenal varietas padi yang adaptif terhadap perubahan iklim sebelum mulai beraktifitas turun ke sawah

Seperti diketahui, upaya peningkatan produksi beras menghadapi kendala seperti makin terbatasnya ketersediaan air pengairan dan sumber air, perubahan iklim akibat pemanasan global, kecenderungan peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman. Strategi yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan produksi padi adalah penyesuaian pola tanam, penerapan teknologi adaptif, terutama varietas adaptif dan tahan perubahan iklim, teknologi antisipasi dan pengendalian OPT, teknologi panen dan pasca panen serta pengelolaan sumberdaya, terutama lahan dan air.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah melakukan perbaikan teknik budidaya padi sawah dan varietas unggul. Selain berdaya hasil tinggi sekitar 5-8 ton/ha, beberapa varietas tersebut berumur pendek, tahan terhadap OPT tertentu, toleran terhadap banjir maupun kekeringan, responsif terhadap pemupukan, serta rasa nasi yang sesuai dengan preferensi masyarakat. Upaya tersebut akan lebih optimal melalui pendekatan operasional dengan memperhatikan informasi antar musim dan waktu tanam yang tepat.

Variabilitas iklim antar musim tanam semakin meningkat dalam dasawarsa terakhir, baik pada Musim Tanam (MT) I, MT II maupun MT III. Kondisi demikian akan berdampak kepada tingkat kerawanan bencana baik banjir, kekeringan, maupun perkembangan OPT tertentu. Dengan demikian informasi penggunaan varietas dan kebutuhan benih dengan memperhatikan musim tanam sangat diperlukan.

Pengintegrasian informasi sifat musim, baik tahun kering, tahun normal maupun tahun basah pada setiap musim baik pada MT I, MT II maupun MT III dalam pengembangan Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu) merupakan salah satu langkah operasional dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengambil kebijakan dalam memutuskan waktu dan pola tanam ideal serta kebutuhan benih/varietas yang harus disiapkan untuk meminimalisir kerugian akibat anomali maupun reabilitas iklim antar musim. Rekomendasi varietas dan kebutuhan benih yang tepat pada suatu wilayah berdasarkan informasi tingkat kerawanan banjir, kekeringan, maupun OPT tertentu sangat diperlukan agar dapat memberikan hasil yang optimal.

SI Katam Terpadu telah menyediakan informasi tersebut secara komprehensif untuk padi pada skala nasional, pulau, provinsi, kabupaten, maupun kecamatan. Informasi sebaran varietas maupun kebutuhan benih serta rekomendasinya diharapkan mampu memberikan gambaran yang mudah dan cepat tentang varietas yang harus disiapkan baik pada tingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan seluruh Indonesia.

Varietas Unggul

Serangan hama/penyakit, banjir dan kekeringan hampir selalu terjadi setiap tahun. Intensitas dan frekuensi serangannya semakin meningkat. Salah satu penyebabnya dipicu intensitas dan frekuensi perubahan iklim yang makin meningkat dalam dasawarsa terakhir.

Ancaman banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi pada lahan sawah menyebabkan berkurangnya luas areal panen dan produksi padi. Peningkatan intensitas banjir secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi karena meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.

Terdapat indikasi bahwa lahan sawah yang terkena banjir pada musim sebelumnya berpeluang lebih besar mengalami ledakan serangan hama wereng coklat. Di lain pihak, kekeringan juga akan menurunkan hasil tanaman. Salah satu upaya antisipasi menghadapi permasalahan tersebut adalah melalui penggunaan varietas unggul.

Menurut Susanto (2003) varietas unggul merupakan teknologi yang mudah, murah dan aman dalam penerapan, serta efektif meningkatkan hasil. Teknologi tersebut mudah, karena petani tinggal menanam, murah karena varietas unggul yang tahan hama misalnya, memerlukan insektisida jauh lebih sedikit daripada varietas yang peka.

Varietas unggul relatif aman, karena tidak menimbulkan polusi dan perusakan lingkungan. Komponen teknologi baru dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB) lebih cepat diadopsi petani dibanding komponen teknologi lainnya. Peningkatan produksi yang dihasilkan melalui penggunaan VUB lebih cepat dirasakan petani, dan meningkatkan produksi lebih tinggi. Introduksi VUB dapat meningkatkan produksi sekitar 15-35%.

Pada periode 1943-2007 Balitbangtan telah melepas varietas unggul padi sawah sebanyak 190 varietas. Sampai kini, varietas padi aktual di hampir seluruh wilayah Indonesia masih didominasi oleh varietas Ciherang. Kecuali di Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dan Papua. Varietas dominan berikutnya adalah Mekongga dan Cigeulis yang pada umumnya tersebar di Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Rekomendasi VUB seperti Inpari 1, Inpari 10, dan Inpari 13 serta Mekongga banyak disarankan di wilayah Sumatera kecuali di Sumatera Barat  yang direkomendasikan varietas lokal seperti Batang Piaman dan Batang Lembang. Untuk wilayah Jawa, Bali, NTT dan NTB, banyak direkomendasi  Inpari 10, Inpari 13, serta Mekongga.

Untuk wilayah Kalimantan, pada lahan beririgasi Mekongga dan pada lahan rawa Inpara 1, Inpara 2, dan Inpara 4. Untuk wilayah Indonesia Timur seperti di Sulawesi, Maluku, dan Papua direkomendasikan Inpari 10, serta varietas lokal seperti Tukad Unda, Tukad Balian dan Way Apo Buru.

Rekomendasi varietas untuk mengantisipasi perubahan iklim sangat tergantung dari informasi tingkat kerawanan terhadap bencana baik banjir, kekeringan, maupun OPT. Pada wilayah dengan sifat hujan normal varietas yang direkomendasikan adalah padi spesifik lokasi baik VUB maupun lokal dengan memperhatikan kondisi agroekologis (Iahan sawah, lahan kering, lahan rawa maupun preferensi masyarakat atau konsumen masing-masing wilayah). Agus Sutarman (Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementan)/Yul

Rekomendasi Varietas Unggul

Beberapa varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang banjir ringan sampai sedang, adalah Inpari 13, Inpari 29, Inpari 30, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5. Untuk wilayah rawan sampai sangat rawan banjir yaitu: Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Kapuas, Batanghari, Banyuasin dan Tapus.

Di wilayah terindikasi kekeringan ringan sampai sedang direkomendasikan varietas Inpari 1, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Silugonggo dan Inpago 5. Rekomendasi varietas untuk wilayah rawan sampai sangat rawan kekeringan adalah Inpari 10, Inpari 12, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Situ Bagendit, Silugonggo dan Inpago 5.

Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang tungro ringan sampai sedang yaitu Inpari 4, Inpari 5, Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, Tukad Unda, Bondoyudo, Tukad Petanu dan Tukad Balian. Varietas Tukad Unda, Bondoyudo, Tukad Petanu dan Tukad Balian direkomendasikan juga untuk wilayah yang terserang rawan sampai sangat rawan.

Pada wilayah yang terindikasi terserang wereng batang coklat (WBC) ringan sampai sedang direkomendasikan varietas Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 5, Inpari 6, Inpari 10, Inpari 18, Inpari 19, Widas, Cisantana, Konawe dan Mekongga. Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang WBC rawan sampai sangat rawan yaitu Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19 dan Mekongga.

Varietas yang direkomendasikan untuk wilayah yang terserang Blast ringan sampai sedang yaitu Inpari 14, Inpari 15, Inpari 20, Situ Bagendit, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 16, Inpari 11, Inpari 17, Batang Piaman, Situ Patenggang, Limboto, Danau Gaung dan Batutugik. Varietas Inpari 11, Inpari 17, Batang Piaman, Situ Patenggang, Limboto, Danau gaung, Batutugik direkomendasikan untuk wilayah yang terserang rawan sampai sangat rawan. Agus Sutarman (Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementan)/Yul

Tabel. Teknologi Tanaman Padi Adaptif Perubahan Iklim

Jenis/Kelompok Teknologi

Varietas

Varietas unggul adaptif rendah emisi gas rumah kaca

Ciherang, Cisantana, Tukad Balian, Mamberamo, IR 36, Way Apoburu dan Dodokan

Varietas toleran salinitas

Way Apoburu, Margasari, Lambur, Bayuasin, Indragiri, Siak Raya, Pakali, Dendang, Selalan, IR 42, Mendawai dan TS-1

Varietas tahan kekeringan

Dodokan, Inpago 5, Inpari 1, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Situ Bagendit, Situ Patenggang, Towuti, Gajah Mungkur, Silugonggo, Kelimutu, Jatiluhur, Way Rarem

Umur genjah

Dodokan, Silunggonggo, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Situbagendit dan Mekongga

Tahan rendaman/genangan

Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Ciherang Sub 1, IR 64 Sub 1, berbagai varietas padi rawa

Tahan OPT wereng batang coklat

Inpar 2, Inpari 3, Inpari 6 dan Inpari 13

Sumber : Sinar Tani

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi