Sumber Inokulum Serta Vector Pembawa Penyakit Tungro

Kejadian penyakit tungro di suatu daerah / wilayah tidak serta merta terjadi secara tiba-tiba, kejadian penyakit tungro biasanya terjadi dikarenakan adanya factor pendukung kejadian penyakit tungro di suatu wilayah. 

Keberadaan penyakit tungro pada tanaman padi tidak terlepas dari adanya sumber inokulum serta vector pembawa penyakit tungro yaitu wereng hijau, kondisi lapangan menunjang perkembangan kedua factor tersebut dapat menyebabkan penyebaran penyakit tungro.  Menurut  Baehaki dan Hendarsih, 1995 kondisi lingkungan seperti penggunaan varietas yang rentan wereng hijau atau rentan tungro, tersedianya tanaman padi yang terus menerus, demikian juga factor iklim seperti curah hujan dan kecepatan angin akan mempercepat penyebaran peyakit tungro.

Inokulum penyakit tungro dapat berasal singgang atau rumput inang yang sakit, selain itu keberadaan gulma di pertanaman / pematang dapat menjadi inang alternative virus tungro. Perpindahan virus ketanaman inang dapat dilakukan dengan serangga vector secara semi persisten. Wereng hijau dan wereng loreng merupakan vector utama virus penyebab penyakit tungro. Di antara spesies wereng hijau dan wereng loreng terdapat perbedaan efisiensi menularkan virus. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35 % -83%, sedangkan oleh N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7% (Hasanuddin, 2002).

Rice Tungro Virus terdiri dari virus berbentuk Batang (RTBV) dan berbentuk Spiral (RTSV) tidak berkembang pada tubuh wereng hijau, virus tersebut tidak menular pada telur dari vector  virus dan hilang pada saat vector ganti kulit. Virus hanya tinggal sementara pada vektor. Wereng hijau yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkan virus secara terus menerus (Ling, 1987).

Penyakit tungro tidak dapat ditularkan melalui biji atau pun secara mekanik, tetapi harus ada serangga penular (vektor) yaitu wereng hijau (Nephotettixspp.) atau wereng loreng (Reciliadorsalis). Sifat penularan virus oleh vektornya bersifat semi persisten artinya periode akuisisi minimum 5-30 menit dan periode inokulasi minimum 7-30 menit. Masa inkubasi virus pada tanaman 6-10 hari, virus dapat ditularkan melalui semua stadia serangga, yaitu nimfa dan imagonya, jantan dan betina, tapi tidak melalui telur. Virus tidak menular melalui tanah, air atau biji padi (Tantera, 1982).

Tidak ada periode laten yang jelas, sehingga serangga dapat menularkan virus segera setelah menghisap tanaman sakit. Secara bertahap serangga akan kehilangan infektivitasnya, sehingga 50% dari serangga menjadi tidak infektif 24 jam setelah waktu akuisisi. Retensi virus dalam tubuh serangga berkisar dari 3-6 hari. Virus tidak diturunkan melalui telur, jadi nimfa dari wereng yang infektif tidak menjadi infektif, demikian juga pergantian kulit menyebabkan hilangnya keefektifan dari wereng tersebut  (tidak transtadial). Diantara beberapa jenis wereng hijau dan wereng loreng, N. virescens merupakan serangga yang paling efektif sebagai vektor. Oleh karena itu menyebarnya virus tungro ini sangat bergantung kepada besarnya populasi, jenis wereng hijau dan stadia vector itu sendiri.

Jarak penyebaran oleh wereng hijau dari sumber inokulum diperkirakan sejauh  250 meter tetapi bila ada angin maka penyebaran tersebut menjadi lebih luas lagi (Ling, 1987). (AG)

Sumber : http://lolittungro.litbang.pertanian.go.id

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini2463
Hari kemarin1841
Minggu ini2463
Bulan ini50643
Jumlah Pengunjung968636
Online sekarang
24

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Sumber Inokulum Serta Vector Pembawa Penyakit Tungro

Kejadian penyakit tungro di suatu daerah / wilayah tidak serta merta terjadi secara tiba-tiba, kejadian penyakit tungro biasanya terjadi dikarenakan adanya factor pendukung kejadian penyakit tungro di suatu wilayah. 

Keberadaan penyakit tungro pada tanaman padi tidak terlepas dari adanya sumber inokulum serta vector pembawa penyakit tungro yaitu wereng hijau, kondisi lapangan menunjang perkembangan kedua factor tersebut dapat menyebabkan penyebaran penyakit tungro.  Menurut  Baehaki dan Hendarsih, 1995 kondisi lingkungan seperti penggunaan varietas yang rentan wereng hijau atau rentan tungro, tersedianya tanaman padi yang terus menerus, demikian juga factor iklim seperti curah hujan dan kecepatan angin akan mempercepat penyebaran peyakit tungro.

Inokulum penyakit tungro dapat berasal singgang atau rumput inang yang sakit, selain itu keberadaan gulma di pertanaman / pematang dapat menjadi inang alternative virus tungro. Perpindahan virus ketanaman inang dapat dilakukan dengan serangga vector secara semi persisten. Wereng hijau dan wereng loreng merupakan vector utama virus penyebab penyakit tungro. Di antara spesies wereng hijau dan wereng loreng terdapat perbedaan efisiensi menularkan virus. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35 % -83%, sedangkan oleh N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7% (Hasanuddin, 2002).

Rice Tungro Virus terdiri dari virus berbentuk Batang (RTBV) dan berbentuk Spiral (RTSV) tidak berkembang pada tubuh wereng hijau, virus tersebut tidak menular pada telur dari vector  virus dan hilang pada saat vector ganti kulit. Virus hanya tinggal sementara pada vektor. Wereng hijau yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkan virus secara terus menerus (Ling, 1987).

Penyakit tungro tidak dapat ditularkan melalui biji atau pun secara mekanik, tetapi harus ada serangga penular (vektor) yaitu wereng hijau (Nephotettixspp.) atau wereng loreng (Reciliadorsalis). Sifat penularan virus oleh vektornya bersifat semi persisten artinya periode akuisisi minimum 5-30 menit dan periode inokulasi minimum 7-30 menit. Masa inkubasi virus pada tanaman 6-10 hari, virus dapat ditularkan melalui semua stadia serangga, yaitu nimfa dan imagonya, jantan dan betina, tapi tidak melalui telur. Virus tidak menular melalui tanah, air atau biji padi (Tantera, 1982).

Tidak ada periode laten yang jelas, sehingga serangga dapat menularkan virus segera setelah menghisap tanaman sakit. Secara bertahap serangga akan kehilangan infektivitasnya, sehingga 50% dari serangga menjadi tidak infektif 24 jam setelah waktu akuisisi. Retensi virus dalam tubuh serangga berkisar dari 3-6 hari. Virus tidak diturunkan melalui telur, jadi nimfa dari wereng yang infektif tidak menjadi infektif, demikian juga pergantian kulit menyebabkan hilangnya keefektifan dari wereng tersebut  (tidak transtadial). Diantara beberapa jenis wereng hijau dan wereng loreng, N. virescens merupakan serangga yang paling efektif sebagai vektor. Oleh karena itu menyebarnya virus tungro ini sangat bergantung kepada besarnya populasi, jenis wereng hijau dan stadia vector itu sendiri.

Jarak penyebaran oleh wereng hijau dari sumber inokulum diperkirakan sejauh  250 meter tetapi bila ada angin maka penyebaran tersebut menjadi lebih luas lagi (Ling, 1987). (AG)

Sumber : http://lolittungro.litbang.pertanian.go.id

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi