INOKULUM POTENSIAL PENYAKIT HAWAR PELEPAH PADI (Rhizoctonia solani Kühn)

Penyakit hawar pelepah padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani Kühn AG-1, merupakan salah satu penyakit penting padi di daerah tropik. Pengendalian penyakit ini sulit dilakukan karena patogennya memiliki inang yang beragam. Patogen selalu tersedia di tanah dan dapat bertahan hidup dalam bentuk aktif maupun dorman. Keparahan penyakit hawar pelepah terus meningkat akhir-akhir ini di Indonesia, terutama di daerah pertanian padi yang intensif. Penanaman padi varietas unggul tipe pendek dan beranakan banyak makin tersebar luas; di samping itu, ada kecenderungan pemberian pupuk nitrogen dengan dosis tinggi di lapang. Praktik budidaya semacam ini membuat tanaman padi tumbuh dengan daun lebat, sehingga menyebabkan lingkungan di sekitar tanaman cocok untuk perkembangan penyakit hawar pelepah. Tanaman padi yang terkena gangguan hawar pelepah batangnya menjadi lemah dan mudah mengalami kerebahan (Gambar 1).

Gambar 1. Gejala hawar pelepah (a), tanaman padi yang terkena gangguan hawar pelepah mudah rebah (b)

Inokulum penyakit hawar pelepah telah diketahui berupa sklerotium yang terdapat di sawah. Dilaporkan bahwa keparahan penyakit hawar pelepah tergantung pada jumlah inokulum awal, kondisi lingkungandan manajemen budidaya. Di negara beriklim sedang, sumber infeksi berupa sklerotium, miselium pada seresah tanaman (Gambar 2), dan basidiospora. Pada musim dingin miselium dalam seresah tanaman dapat hilang kemampuan menginfeksi karena pengaruh suhu rendah, sedangkan sklerotium lebih mampu bertahan hidup dalam suhu rendah.

Inokulum penyakit hawar pelepah telah diketahui berupa sklerotium yang tersebar di sawah. Di negara beriklim sedang, sumber infeksi berupa sklerotium, miselium pada seresah tanaman (Gambar 2), dan basidiospora. Pada musim dingin miselium dalam seresah tanaman dapat hilang kemampuan menginfeksi karena pengaruh suhu rendah, sedangkan sklerotium lebih mampu bertahan hidup dalam suhu rendah. Dilaporkan bahwa keparahan penyakit hawar pelepah tergantung pada jumlah inokulum awal, kondisi lingkungan, dan manajemen budidaya.

Gambar 2. Sklerotium dan miselium sebagai inokulum penyakit hawar pelepah

Di daerah tropik, peranan basidiospora belum banyak diketahui, sedangkan miselium dalam seresah tanaman kemungkinan mempunyai peranan penting sebagai inokulum awal penyakit hawar pelepah. Informasi  tentang peranan miselium dalam sisa tanaman sangat bermanfaat sebagai dasar usaha pengendalian penyakit hawar pelepah yang berorientasi pada penekanan jumlah dan potensi inokulum awal.  Oleh karena itu perlu dikaji arti penting miselium dalam seresah jerami dan sklerotium jamur R. solani sebagai inokulum awal penyakit hawar pelepah padi di sawah.

Jamur R. solani berhasil diisolasi dari seresah jerami sisa panen. Hal ini membuktikan bahwa seresah jerami yang tersebar di sawah banyak mengandung miselium sebahai sumber inokulum aktif.  Jamur R. solani ditumbuhkan pada agar kentang (PDA) dalam cawan petri berdiameter 9 cm. Sklerotium yang dihasilkan dapat dipanen dari biakan murni jamur R. solani berumur 8-10 hari. Sklerotium dan miselium dalam seresah jerami diinokulasikan/ditempelkan pada tanaman untuk mengetahui peranannya sebagai inokulum awal penyakit pada pertanaman baru.

Satu minggu setelah inokulasi, penyakit hwar pelepah berkembang dengan baik yang dicirikan dengan gejala khas hawar di bagian pelepah dekat daerah inokulasi. Penyakit hawar pelepah berkembang pesat karena didukung oleh suhu lingkungan di bawah kanopi tanaman berkisar 28-30oC dan kelembaban 95-97% pada pukul 10.00 WIB. Gejala hawar terus berkembang pada tanaman yang diinokulasi, hal ini membuktikan bahwa sklerotium maupun miselium dalam seresah jerami mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan penyakit hawar pelepah. Kecepatan munculnya gejala hawar dipengaruhi oleh jumlah dan jenis inokulum yang diinokulasikan.

Pada percobaan inokulasi tanaman  padi di pot dengan jumlah dan jenis inokulum penyakit, gejala hawar mulai muncul pada 6, 7 dan 9 hari,  berturut-turut untuk perlakuan dengan 10, 8, dan 6 sklerotium per pot. Data ini menunjukkan bahwa semakin banyak inokulum awal yang kontak dengan tanaman semakin pendek waktu yang dibutuhkan patogen untuk melaklukan proses infeksi. Keefektifan miselium pada seresah jerami sebagai inokulum awal penyakit dapat diketahui dengan munculnya gejala hawar pada 10 hari setelah inokulasi. Hal ini membuktikan bahwa seresah jerami yang terinfeksi mempunyai peranan penting sebagai inokulum awal penyakit hawar pelepah.

Sklerotium merupkan bentuk pertahanan hidup jamur R. solani pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan juga sebagai alat penyebaran. Sklerotium dibentuk dari kumpulan sel-sel hifa yang memadat dan mengering di lapisan luar, tetapi sel-sel di lapisan dalam masih hidup. Populasi sklerotium makin tinggi berarti makin banyak sel hidup yang berfungsi sebagai inokulum awal penyakit. Di samping itu  jamur R. solani dapat diisolasi dari seresah jerami yang terapung di air sawah, ini berarti seresah jerami menjadi sumber inokulum penyakit hawar pelepah. Pada seresah jerami terdapat miselium aktif  yang dapat menginfeksi tanaman.

Perlakuan inokulasi dengan menggunakan 5 g seresah jerami dan 6 sklerotium mengakibatkan keparahan penyakit hawar pelepah  yang sebanding. Keadaan ini membuktikan bahwa tekanan penyakit akibat perlakuan inokulasi menggunakan 5 g seresah jerami terinfeksi dan 6 sklerotium mempunyai pengaruh yang tidak berbeda. Pemberian bahan organik berupa seresah jerami terinfeksi segar ke pertanaman berarti menambah inokulum penyakit, sehingga dapat meningkatkan keparahan dan kerusakan tanaman.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini364
Hari kemarin687
Minggu ini1051
Bulan ini28123
Jumlah Pengunjung777763
Online sekarang
22

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

INOKULUM POTENSIAL PENYAKIT HAWAR PELEPAH PADI (Rhizoctonia solani Kühn)

Penyakit hawar pelepah padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani Kühn AG-1, merupakan salah satu penyakit penting padi di daerah tropik. Pengendalian penyakit ini sulit dilakukan karena patogennya memiliki inang yang beragam. Patogen selalu tersedia di tanah dan dapat bertahan hidup dalam bentuk aktif maupun dorman. Keparahan penyakit hawar pelepah terus meningkat akhir-akhir ini di Indonesia, terutama di daerah pertanian padi yang intensif. Penanaman padi varietas unggul tipe pendek dan beranakan banyak makin tersebar luas; di samping itu, ada kecenderungan pemberian pupuk nitrogen dengan dosis tinggi di lapang. Praktik budidaya semacam ini membuat tanaman padi tumbuh dengan daun lebat, sehingga menyebabkan lingkungan di sekitar tanaman cocok untuk perkembangan penyakit hawar pelepah. Tanaman padi yang terkena gangguan hawar pelepah batangnya menjadi lemah dan mudah mengalami kerebahan (Gambar 1).

Gambar 1. Gejala hawar pelepah (a), tanaman padi yang terkena gangguan hawar pelepah mudah rebah (b)

Inokulum penyakit hawar pelepah telah diketahui berupa sklerotium yang terdapat di sawah. Dilaporkan bahwa keparahan penyakit hawar pelepah tergantung pada jumlah inokulum awal, kondisi lingkungandan manajemen budidaya. Di negara beriklim sedang, sumber infeksi berupa sklerotium, miselium pada seresah tanaman (Gambar 2), dan basidiospora. Pada musim dingin miselium dalam seresah tanaman dapat hilang kemampuan menginfeksi karena pengaruh suhu rendah, sedangkan sklerotium lebih mampu bertahan hidup dalam suhu rendah.

Inokulum penyakit hawar pelepah telah diketahui berupa sklerotium yang tersebar di sawah. Di negara beriklim sedang, sumber infeksi berupa sklerotium, miselium pada seresah tanaman (Gambar 2), dan basidiospora. Pada musim dingin miselium dalam seresah tanaman dapat hilang kemampuan menginfeksi karena pengaruh suhu rendah, sedangkan sklerotium lebih mampu bertahan hidup dalam suhu rendah. Dilaporkan bahwa keparahan penyakit hawar pelepah tergantung pada jumlah inokulum awal, kondisi lingkungan, dan manajemen budidaya.

Gambar 2. Sklerotium dan miselium sebagai inokulum penyakit hawar pelepah

Di daerah tropik, peranan basidiospora belum banyak diketahui, sedangkan miselium dalam seresah tanaman kemungkinan mempunyai peranan penting sebagai inokulum awal penyakit hawar pelepah. Informasi  tentang peranan miselium dalam sisa tanaman sangat bermanfaat sebagai dasar usaha pengendalian penyakit hawar pelepah yang berorientasi pada penekanan jumlah dan potensi inokulum awal.  Oleh karena itu perlu dikaji arti penting miselium dalam seresah jerami dan sklerotium jamur R. solani sebagai inokulum awal penyakit hawar pelepah padi di sawah.

Jamur R. solani berhasil diisolasi dari seresah jerami sisa panen. Hal ini membuktikan bahwa seresah jerami yang tersebar di sawah banyak mengandung miselium sebahai sumber inokulum aktif.  Jamur R. solani ditumbuhkan pada agar kentang (PDA) dalam cawan petri berdiameter 9 cm. Sklerotium yang dihasilkan dapat dipanen dari biakan murni jamur R. solani berumur 8-10 hari. Sklerotium dan miselium dalam seresah jerami diinokulasikan/ditempelkan pada tanaman untuk mengetahui peranannya sebagai inokulum awal penyakit pada pertanaman baru.

Satu minggu setelah inokulasi, penyakit hwar pelepah berkembang dengan baik yang dicirikan dengan gejala khas hawar di bagian pelepah dekat daerah inokulasi. Penyakit hawar pelepah berkembang pesat karena didukung oleh suhu lingkungan di bawah kanopi tanaman berkisar 28-30oC dan kelembaban 95-97% pada pukul 10.00 WIB. Gejala hawar terus berkembang pada tanaman yang diinokulasi, hal ini membuktikan bahwa sklerotium maupun miselium dalam seresah jerami mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan penyakit hawar pelepah. Kecepatan munculnya gejala hawar dipengaruhi oleh jumlah dan jenis inokulum yang diinokulasikan.

Pada percobaan inokulasi tanaman  padi di pot dengan jumlah dan jenis inokulum penyakit, gejala hawar mulai muncul pada 6, 7 dan 9 hari,  berturut-turut untuk perlakuan dengan 10, 8, dan 6 sklerotium per pot. Data ini menunjukkan bahwa semakin banyak inokulum awal yang kontak dengan tanaman semakin pendek waktu yang dibutuhkan patogen untuk melaklukan proses infeksi. Keefektifan miselium pada seresah jerami sebagai inokulum awal penyakit dapat diketahui dengan munculnya gejala hawar pada 10 hari setelah inokulasi. Hal ini membuktikan bahwa seresah jerami yang terinfeksi mempunyai peranan penting sebagai inokulum awal penyakit hawar pelepah.

Sklerotium merupkan bentuk pertahanan hidup jamur R. solani pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan juga sebagai alat penyebaran. Sklerotium dibentuk dari kumpulan sel-sel hifa yang memadat dan mengering di lapisan luar, tetapi sel-sel di lapisan dalam masih hidup. Populasi sklerotium makin tinggi berarti makin banyak sel hidup yang berfungsi sebagai inokulum awal penyakit. Di samping itu  jamur R. solani dapat diisolasi dari seresah jerami yang terapung di air sawah, ini berarti seresah jerami menjadi sumber inokulum penyakit hawar pelepah. Pada seresah jerami terdapat miselium aktif  yang dapat menginfeksi tanaman.

Perlakuan inokulasi dengan menggunakan 5 g seresah jerami dan 6 sklerotium mengakibatkan keparahan penyakit hawar pelepah  yang sebanding. Keadaan ini membuktikan bahwa tekanan penyakit akibat perlakuan inokulasi menggunakan 5 g seresah jerami terinfeksi dan 6 sklerotium mempunyai pengaruh yang tidak berbeda. Pemberian bahan organik berupa seresah jerami terinfeksi segar ke pertanaman berarti menambah inokulum penyakit, sehingga dapat meningkatkan keparahan dan kerusakan tanaman.

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:214

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:223

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:861

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi