Perakitan Varietas Tahan Tungro Sebagai Komponen Paling Efektif Pengendalian Tungro

Penggunaan varietas tahan merupakan komponen yang paling efektif dalam usaha pengendalian tungro, penggunaan varietas tahan bahkan efektif pada berbagai ekosistem di Indonesia. Varietas tahan penyakit tungro diklasifikasikan: (a) tahan terhadap wereng hijau sebagai penular (vektor) patogen dan (b) tahan terhadap virus yang merupakan patogen penyebab penyakit tungro. Namun demikian, varietas tahan tidak direkomendasikan ditanam terus-menerus pada areal yang sama karena dapat meningkatkan tekanan seleksi vektor dan memungkinkan berkembangnya wereng hijau biotipe baru. Penggunaan varietas tahan walaupun terserang tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara optimal.

Perakitan variertas tahan memerlukan keragaman gen ketahanan baik terhadap vektor ataupun virusnya itu sendiri.  Keragaman ketahanan genetik varietas akan meningkatkan ketahanan varietas, menurunkan tekanan seleksi wereng hijau dan virus tungro, serta mencegah terjadinya epidemik penyakit tungro.

Pengembangan varietas saat ini lebih ditekankan pada perakitan varietas tahan virus terutama Rice Tungro Spherical Virus (RTSV) karena dapat menghambat penyebaran Rice Tungro Bacilliform Virus(RTBV) oleh wereng hijau, sehingga tidak terjadi infeksi ganda.  Penanaman varietas tahan RTSV yang dipadukan dengan eradikasi sumber inokulum tungro dan penggunaan antifi dan dapat mengeliminasi RTSV. Epidemik tungro dapat dicegah jika perkembangan RTSV terhambat dengan adanya varietas tahan RTSV karena penularan virus tungro bergantung pada keberadaan RTSV di pertanaman. Keberadaan varietas dengan gen ketahanan yang sama di suatu wilayah akan mempercepat tekanan seleksi vektor jika tidak dilakukan pengaturan pola tanam melalui rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup vektor.

Pada saat ini terdapat beberapa varietas tahan tungro yang telah beredar di Indonesia diantaranya yaitu Tukad Petanu, Tukad Balian, Tukad Unda, Bondoyudo, Kalimas, Inpari 7 Lanrang, Inpari 8 serta Inpari 9 Elo.  Dari sekian banyak varietas tahan tungro, tiga varietas terakhir dirilis tahun 2009 merupakan kerjasama Lolittungro dengan BB Padi. Ketiga varietas tahan tungro tersebut selain memiliki keunggulan dari segi ketahanan terhadap penyakit tungro juga memiliki rasa serta tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa diatas 20%.

Pada tahun 2014 Badan Litbang Pertanian melalui Lolittungro dan BB Padi telah melepas varietas baru padi tahan tungro dengan nama Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang.  Selain memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro, kedua varietas juga memiliki ketahanan terhadap penyakti Blas pada beberapa golongan/ras.

Penggunaan varietas-varietas diatas secara efektif dapat mengendalikan penyebaran penyakit tungro dengan mempertimbangkan kesesuaian varietas pada setiap daerah.

Loka Penelitian Penyakit Tungro melaksanakan penelitian ketahanan tanaman terhadap tungro, melaksanakan rangkaian kegiatan dalam perakitan varietas mulai dari pembentukan gen pool sebagai populasi dasar untuk diseleksi ketahananya secara genotipik dan fenotipik. Populasi dasar materi berupa galur-galur introduksi dari IRRI atau lembaga lain seperti BB Padi. Proses seleksi diawali dengan screening, dengan metode pedigree (silsilah) dengan melihat fenotipik padi tahan terhadap serangan tungro serta memiliki performa yang baik secara agronomis.

Proses seleksi screening merupakan hal penting dalam menghasilkan varietas tahan suatu penyakit. Hasil seleksi dilanjutkan dengan proses observasi ketahanan terhadap beberapa isolat virus tungro dan wereng hijau, kemudian evaluasi daya hasil untuk pelepasan varietas yang terdiri dari uji daya hasil pendahuluan (UDHP), uji daya hasil lanjutan (UDHL) dan uji multi lokasi (UML).

Melalui uji daya hasil diharapkan dapat teridentifikasi galur-galur harapan padi tahan tungro yang memiliki daya hasil dan adaptasi terhadap lingkungan tumbuh yang luas maupun lingkungan tumbuh yang spesifik (aspek  iklim, jenis tanah, kondisi cekaman biotik dan abiotik).

Galur-galur yang memiliki potensi hasil tinggi dan memiliki daya adaptasi yang baik selanjutnya akan diajukan sebagai calon varietas.

Sumber: Loka Penelitian Penyakit Tungro

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini103
Hari kemarin658
Minggu ini5644
Bulan ini26635
Jumlah Pengunjung776275
Online sekarang
17

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Perakitan Varietas Tahan Tungro Sebagai Komponen Paling Efektif Pengendalian Tungro

Penggunaan varietas tahan merupakan komponen yang paling efektif dalam usaha pengendalian tungro, penggunaan varietas tahan bahkan efektif pada berbagai ekosistem di Indonesia. Varietas tahan penyakit tungro diklasifikasikan: (a) tahan terhadap wereng hijau sebagai penular (vektor) patogen dan (b) tahan terhadap virus yang merupakan patogen penyebab penyakit tungro. Namun demikian, varietas tahan tidak direkomendasikan ditanam terus-menerus pada areal yang sama karena dapat meningkatkan tekanan seleksi vektor dan memungkinkan berkembangnya wereng hijau biotipe baru. Penggunaan varietas tahan walaupun terserang tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara optimal.

Perakitan variertas tahan memerlukan keragaman gen ketahanan baik terhadap vektor ataupun virusnya itu sendiri.  Keragaman ketahanan genetik varietas akan meningkatkan ketahanan varietas, menurunkan tekanan seleksi wereng hijau dan virus tungro, serta mencegah terjadinya epidemik penyakit tungro.

Pengembangan varietas saat ini lebih ditekankan pada perakitan varietas tahan virus terutama Rice Tungro Spherical Virus (RTSV) karena dapat menghambat penyebaran Rice Tungro Bacilliform Virus(RTBV) oleh wereng hijau, sehingga tidak terjadi infeksi ganda.  Penanaman varietas tahan RTSV yang dipadukan dengan eradikasi sumber inokulum tungro dan penggunaan antifi dan dapat mengeliminasi RTSV. Epidemik tungro dapat dicegah jika perkembangan RTSV terhambat dengan adanya varietas tahan RTSV karena penularan virus tungro bergantung pada keberadaan RTSV di pertanaman. Keberadaan varietas dengan gen ketahanan yang sama di suatu wilayah akan mempercepat tekanan seleksi vektor jika tidak dilakukan pengaturan pola tanam melalui rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup vektor.

Pada saat ini terdapat beberapa varietas tahan tungro yang telah beredar di Indonesia diantaranya yaitu Tukad Petanu, Tukad Balian, Tukad Unda, Bondoyudo, Kalimas, Inpari 7 Lanrang, Inpari 8 serta Inpari 9 Elo.  Dari sekian banyak varietas tahan tungro, tiga varietas terakhir dirilis tahun 2009 merupakan kerjasama Lolittungro dengan BB Padi. Ketiga varietas tahan tungro tersebut selain memiliki keunggulan dari segi ketahanan terhadap penyakit tungro juga memiliki rasa serta tekstur nasi pulen dengan kadar amilosa diatas 20%.

Pada tahun 2014 Badan Litbang Pertanian melalui Lolittungro dan BB Padi telah melepas varietas baru padi tahan tungro dengan nama Inpari 36 Lanrang dan Inpari 37 Lanrang.  Selain memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro, kedua varietas juga memiliki ketahanan terhadap penyakti Blas pada beberapa golongan/ras.

Penggunaan varietas-varietas diatas secara efektif dapat mengendalikan penyebaran penyakit tungro dengan mempertimbangkan kesesuaian varietas pada setiap daerah.

Loka Penelitian Penyakit Tungro melaksanakan penelitian ketahanan tanaman terhadap tungro, melaksanakan rangkaian kegiatan dalam perakitan varietas mulai dari pembentukan gen pool sebagai populasi dasar untuk diseleksi ketahananya secara genotipik dan fenotipik. Populasi dasar materi berupa galur-galur introduksi dari IRRI atau lembaga lain seperti BB Padi. Proses seleksi diawali dengan screening, dengan metode pedigree (silsilah) dengan melihat fenotipik padi tahan terhadap serangan tungro serta memiliki performa yang baik secara agronomis.

Proses seleksi screening merupakan hal penting dalam menghasilkan varietas tahan suatu penyakit. Hasil seleksi dilanjutkan dengan proses observasi ketahanan terhadap beberapa isolat virus tungro dan wereng hijau, kemudian evaluasi daya hasil untuk pelepasan varietas yang terdiri dari uji daya hasil pendahuluan (UDHP), uji daya hasil lanjutan (UDHL) dan uji multi lokasi (UML).

Melalui uji daya hasil diharapkan dapat teridentifikasi galur-galur harapan padi tahan tungro yang memiliki daya hasil dan adaptasi terhadap lingkungan tumbuh yang luas maupun lingkungan tumbuh yang spesifik (aspek  iklim, jenis tanah, kondisi cekaman biotik dan abiotik).

Galur-galur yang memiliki potensi hasil tinggi dan memiliki daya adaptasi yang baik selanjutnya akan diajukan sebagai calon varietas.

Sumber: Loka Penelitian Penyakit Tungro

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:189

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:187

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:846

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi