Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Hasil Padi

Budi daya padi sawah sering dituduh sebagai penyumbang terhadap perubahan iklim melalui emisi gas CO2, CH4, dan N2O, tetapi budi daya padi itu sendiri akan terkena dampak negatif dari perubahan iklim. Begitu pentingnya peranan padi dalam sistem pangan, maka masalah ini harus dipecahkan, tidak hanya dari sisi dampak intensifikasi produksi padi terhadap emisi CO2, CH4, dan N2O (teknologi irigasi), tetapi juga yaitu antisipasi dampak perubahan iklim terhadap hasil dan produksi padi (teknologi antisipasi).

Perubahan kualitas dan komposisi udara, hujan asam. Dan “awan coklat Asia” akan menghasilkan bioklimat baru bagi sistem produksi pertanian umumnya, dan bagi sistem produksi padi khusunya. Ciri utama bioklimat baru, antara lain adalah: konsentrasi CO2 di udara makin tinggi, suhu makin panas, dan iklim ekstrim (El-Nino/ La-Nina) akan lebih sering terjadi. IRRI mensintesis pengaruh parameter iklim, pada kondisi iklim yang berubah, terhadap hasil dan produksi padi. Secara singkat sintesis itu diuraikan berikut ini:

  • Naiknya konsentrasi CO2 menimbulkan dampak positif terhadap biomassa padi, tetapi pengaruh bersihnya terhadap hasil padi bergantung pada penurunan hasil akibat kenaikan suhu udara. Untuk setiap 75 ppm kenaikan konsentrasi CO2, hasil padi akan naik 0,5 t/ha, tetapi hasil padi akan turun 0,6 t/ha untuk setiap kenaikan suhu 10 C. Hasil penelitian dengan menggunakan FACE (Free-air CO2 enrichment) menunjukan bahwa kenaikan hasil karena naiknya konsentrasi CO2 tidak sebesar dari penelitian yang menggunakan sistem tertutup (enclousure Chambers)
  • Kenaikan suhu dan kejadian cuaca ekstrim adalah salah satu indikator dari perubahan iklim (Mirza 2003). Pada tanaman padi suhu tinggi ekstrem sangat penting pada periode pembungaan. Ekspose tanaman terhadap suhu tinggi ekstrim pada stadia pembungaan dalam beberapa jam mengurangi viabilitas tepungsari, dan menyebabkan kehilangan hasil. Sterilitas gabah naik cepat pada suhu lebih dari 35oC (Osada et al. 1973, Mitsui et al. 1976), dan peningkatan CO2 bersamaan dengan suhu tinggi dapat memperburuk keadaan, karena turunnya pendinginan tanaman melalui transpirasi.
  • Kenaikan suhu malam adalah penyebab utama dari naiknya suhu global sejak pertengahan bada ke-20 (Kukla dan Karl 1933). Hasil padi berkolerasi negatif dengan suhu malam (Peng et al. 2004). Alasan dari korelasi negatif ini adalah variasi radiasi matahari, kehilangan akibat respirasi atau pengaruh pengaruh diferensial dari suhu malam vs. Suhu siang terhadap pertumbuhan anakan, pengembangan luas daun, pemanjangan batang dan pengisian gabah (Peng et al. 2004,Sheehy et al. 2005).
  • Pemanasan akan mengakselerasi banyak proses mikrobiologi dalam sistem tanah-genangan air yang konsekuensinya adalah pada siklus N dan C. Kenaikan suhu tanah dapat juga menaikkan kehilangan CO2 autotrop dari tanah karena akar, eksudat akar dan pergantian akar-akar halus. Tanaman padi yang tumbuh pada suhu tanah tinggi dapat mengubah partisi C dan N-nya dibanding dengan yang tumbuh pada suhu tanah rendah (Lynch and St. Clair 2004)
  • Pengkayaan konsentrasi CO2 dan perubahan suhu dapat juga berpengaruh terhadap evolusi spesies gulma dan kompetisi antara spesies gulma golongan C3 dan C4 (Zinka 2000). Hal yang sama dapat terjadi pada dinamika populasi hama dan penyakit tanaman, juga terhadap konsep PHT pengendalian hama terpadu. Secara rinci IRRI (2004) memperkirakan:

a)      Kenaikan suhu dapat menekan populasi spesies musuh alami hama padi,

b)      Redistribusi dari hama/penyakit, dominasi spesies hama/penyakit tertentu,

c)       Seleksi biotipe hama/patotipe penyakit dengan virulensi yang berbeda,

d)      Pengaruh diferensial pengaruh terhadap keseimbangan antara hama/penyakit,

e)      Perubahan ketersediaan pangan yang menyebabkan pergeseran hama/penyakit, dan

f)       Perubahan interaksi kompetitif antara tanaman dan gulma.

Semua itu dapat menyebabkan menghilangnya beberapa spesies hama/penyakit dan sebarannya, dan potensi penyebaran yang lebih luas dari hama/penyakit sekunder dan spesies yang masih bertahan (menyesuaikan dengan kondisi iklim yang baru).

Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer mempunyai pengaruh positif terhadap produksi biomas, tetapi pengaruhnya terhadap penurunan produksi padi berhubungan dengan peningkatan suhu udara. Setiap kenaikan 75 ppm konsentrasi CO2 produksi padi meningkat 0,5 t/ha, tetapi hasil akan turun 0,6 t/ha setiap kenaikan suhu 1oC (Sheehy et al. 2005). Hasil penelitian (Matthews et al. 1997) menunjukan bahwa berdasarkan simulasi tanaman, kenaikan suhu rata-rata 1oC akan menurunkan produksi 5-7% padi. Penurunan hasil tersebut disebabkan oleh berkurangnya pembentukan sinik, pendeknya periode pertumbuhan, dan meningkatnya respirasi (Matthews and Wassmann 2003).

Konsekuensi yang paling pasti dari perubahan iklim global adalah kenaikan muka air laut antara 10-86 cm pada tahun 2100 (IPCC 2001). Daerah pesisir yang merupakan daerah pertanaman padi paling produktif akan terkena dampak dari kenaikan muka air laut. Salinitas akan menjadi lebih luas dan parah. Perubahan salinitas dari < 3,0 mmhos/cm (lahan dengan kesesuaian tinggi) menjadi 3,1-5,0 mmhos/cm (kesesuaian sedang) sampai 5,1-8,0 mmhos (kesesuaian marginal) akan menurunkan hasil dan produksi padi. Selain itu naiknya suhu muka laut mengakibatkan kerusakan sistem hidrologi yang berpengaruh terhadap pertanman padi di daerah pesisir (Wassmann et al. 2004).

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh &quot;Padi tumbuh subur dilahan suboptimal&quot;
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini366
Hari kemarin687
Minggu ini1053
Bulan ini28125
Jumlah Pengunjung777765
Online sekarang
22

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Hasil Padi

Budi daya padi sawah sering dituduh sebagai penyumbang terhadap perubahan iklim melalui emisi gas CO2, CH4, dan N2O, tetapi budi daya padi itu sendiri akan terkena dampak negatif dari perubahan iklim. Begitu pentingnya peranan padi dalam sistem pangan, maka masalah ini harus dipecahkan, tidak hanya dari sisi dampak intensifikasi produksi padi terhadap emisi CO2, CH4, dan N2O (teknologi irigasi), tetapi juga yaitu antisipasi dampak perubahan iklim terhadap hasil dan produksi padi (teknologi antisipasi).

Perubahan kualitas dan komposisi udara, hujan asam. Dan “awan coklat Asia” akan menghasilkan bioklimat baru bagi sistem produksi pertanian umumnya, dan bagi sistem produksi padi khusunya. Ciri utama bioklimat baru, antara lain adalah: konsentrasi CO2 di udara makin tinggi, suhu makin panas, dan iklim ekstrim (El-Nino/ La-Nina) akan lebih sering terjadi. IRRI mensintesis pengaruh parameter iklim, pada kondisi iklim yang berubah, terhadap hasil dan produksi padi. Secara singkat sintesis itu diuraikan berikut ini:

  • Naiknya konsentrasi CO2 menimbulkan dampak positif terhadap biomassa padi, tetapi pengaruh bersihnya terhadap hasil padi bergantung pada penurunan hasil akibat kenaikan suhu udara. Untuk setiap 75 ppm kenaikan konsentrasi CO2, hasil padi akan naik 0,5 t/ha, tetapi hasil padi akan turun 0,6 t/ha untuk setiap kenaikan suhu 10 C. Hasil penelitian dengan menggunakan FACE (Free-air CO2 enrichment) menunjukan bahwa kenaikan hasil karena naiknya konsentrasi CO2 tidak sebesar dari penelitian yang menggunakan sistem tertutup (enclousure Chambers)
  • Kenaikan suhu dan kejadian cuaca ekstrim adalah salah satu indikator dari perubahan iklim (Mirza 2003). Pada tanaman padi suhu tinggi ekstrem sangat penting pada periode pembungaan. Ekspose tanaman terhadap suhu tinggi ekstrim pada stadia pembungaan dalam beberapa jam mengurangi viabilitas tepungsari, dan menyebabkan kehilangan hasil. Sterilitas gabah naik cepat pada suhu lebih dari 35oC (Osada et al. 1973, Mitsui et al. 1976), dan peningkatan CO2 bersamaan dengan suhu tinggi dapat memperburuk keadaan, karena turunnya pendinginan tanaman melalui transpirasi.
  • Kenaikan suhu malam adalah penyebab utama dari naiknya suhu global sejak pertengahan bada ke-20 (Kukla dan Karl 1933). Hasil padi berkolerasi negatif dengan suhu malam (Peng et al. 2004). Alasan dari korelasi negatif ini adalah variasi radiasi matahari, kehilangan akibat respirasi atau pengaruh pengaruh diferensial dari suhu malam vs. Suhu siang terhadap pertumbuhan anakan, pengembangan luas daun, pemanjangan batang dan pengisian gabah (Peng et al. 2004,Sheehy et al. 2005).
  • Pemanasan akan mengakselerasi banyak proses mikrobiologi dalam sistem tanah-genangan air yang konsekuensinya adalah pada siklus N dan C. Kenaikan suhu tanah dapat juga menaikkan kehilangan CO2 autotrop dari tanah karena akar, eksudat akar dan pergantian akar-akar halus. Tanaman padi yang tumbuh pada suhu tanah tinggi dapat mengubah partisi C dan N-nya dibanding dengan yang tumbuh pada suhu tanah rendah (Lynch and St. Clair 2004)
  • Pengkayaan konsentrasi CO2 dan perubahan suhu dapat juga berpengaruh terhadap evolusi spesies gulma dan kompetisi antara spesies gulma golongan C3 dan C4 (Zinka 2000). Hal yang sama dapat terjadi pada dinamika populasi hama dan penyakit tanaman, juga terhadap konsep PHT pengendalian hama terpadu. Secara rinci IRRI (2004) memperkirakan:

a)      Kenaikan suhu dapat menekan populasi spesies musuh alami hama padi,

b)      Redistribusi dari hama/penyakit, dominasi spesies hama/penyakit tertentu,

c)       Seleksi biotipe hama/patotipe penyakit dengan virulensi yang berbeda,

d)      Pengaruh diferensial pengaruh terhadap keseimbangan antara hama/penyakit,

e)      Perubahan ketersediaan pangan yang menyebabkan pergeseran hama/penyakit, dan

f)       Perubahan interaksi kompetitif antara tanaman dan gulma.

Semua itu dapat menyebabkan menghilangnya beberapa spesies hama/penyakit dan sebarannya, dan potensi penyebaran yang lebih luas dari hama/penyakit sekunder dan spesies yang masih bertahan (menyesuaikan dengan kondisi iklim yang baru).

Peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer mempunyai pengaruh positif terhadap produksi biomas, tetapi pengaruhnya terhadap penurunan produksi padi berhubungan dengan peningkatan suhu udara. Setiap kenaikan 75 ppm konsentrasi CO2 produksi padi meningkat 0,5 t/ha, tetapi hasil akan turun 0,6 t/ha setiap kenaikan suhu 1oC (Sheehy et al. 2005). Hasil penelitian (Matthews et al. 1997) menunjukan bahwa berdasarkan simulasi tanaman, kenaikan suhu rata-rata 1oC akan menurunkan produksi 5-7% padi. Penurunan hasil tersebut disebabkan oleh berkurangnya pembentukan sinik, pendeknya periode pertumbuhan, dan meningkatnya respirasi (Matthews and Wassmann 2003).

Konsekuensi yang paling pasti dari perubahan iklim global adalah kenaikan muka air laut antara 10-86 cm pada tahun 2100 (IPCC 2001). Daerah pesisir yang merupakan daerah pertanaman padi paling produktif akan terkena dampak dari kenaikan muka air laut. Salinitas akan menjadi lebih luas dan parah. Perubahan salinitas dari < 3,0 mmhos/cm (lahan dengan kesesuaian tinggi) menjadi 3,1-5,0 mmhos/cm (kesesuaian sedang) sampai 5,1-8,0 mmhos (kesesuaian marginal) akan menurunkan hasil dan produksi padi. Selain itu naiknya suhu muka laut mengakibatkan kerusakan sistem hidrologi yang berpengaruh terhadap pertanman padi di daerah pesisir (Wassmann et al. 2004).

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:214

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:223

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:861

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi