Teknologi Pengendalian Penyakit secara Kimiawi

Feromon

Serangga betina dewasa berkomunikasi dengan jantan dewasa menggunakan ekskresi bahan kimia dari tubuh yang disebut feromon. Feromon sangat spesifik, hanya untuk spesies yang sama. Serangga betina mengekresikan feromon untuk menarik serangga jantan. Feromon akan menuntun jantan untuk menemukan betina, karena sifatnya yang dapat menarik serangga jantan, feromon dapat digunakan untuk menangkap massal serangga jantan atau untuk mengacaukan proses perkawinan. Penggunaan feromon buatan mengecoh serangga jantan sehingga mengacaukan perkawinan. Karena itu kopulasi alami tidak terjadi atau terganggu (mating disruption). Feromon hama padi yang telah teridentifikasi adalah untuk tiga spesies penggerek batang (Hendarsih et al.2000)

Pestisida Nabati

Ekstrak tanaman tembakau dan akar tuba dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah nimba dan sambilata (Mariappan et al. 1983 Widiarta et al. 1997). Bahan nabati yang dapat digunakan untuk mengendalikan keong (molukisida nabati) adalah rerak, ekstrak biji teh.

Fungisida

Fungisida digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penggunaan fungisida untuk mengendalikan penyakit tanaman padi lebih berkembang dibandingkan dengan bakterisida untuk mengendalikan penyakit padi yang disebabkan oleh bakteri (Sudir dan Suparyono 1999)

Pestisida Sintesis

Insektisida sintesis paling dikenal dan digunakan secara luas untuk mengendalikan hama serangga. Insektisida diandalkan untuk menekan populasi dalam waktu yang relatif singkat, petani sangat menyukainya sehingga penggunaan pestisida tidak rasional.

Penggunaan insektisida yang tidak rasional dapat menyebabkan hama lebih tahan (resisten) terhadap insektisida, bahkan populasinya bertambah setelah aplikasi (resurjen) (Chelliah et al. 1980). Untuk membunuh serangga yang telah tahan, diperlukan dosis yang lebih tinggi. Resurjen terjadi karena perubahan fisiologis serangga sehingga keperidiannya meningkat, atau secara ekologis karena musuh alaminya berkurang.

Rodentisida

Rodentisida digunakan untuk meracuni tikus, diformulasi dalam bentuk yang telah dicampur dengan umpan atau terpisah (Sudarmaji 2007). Daya racun rodentisida ada yang dapat mematikan tikus (racun akut) pada saat memakan dan ada yang perlu waktu beberapa hari untuk mematikan tikus (antikuagulan).

Fumigan

Bahan kimia dalam bentuk uap atau asap digunakan untuk membunuh hama atau serangga di gudang penyimpanan atau tikus dalam lubang. Untuk menghembuskan asap ke dalam lubang tikus digunakan alat yang disebut emposan (Sudarmaji 2007)

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini447
Hari kemarin2426
Minggu ini5102
Bulan ini21727
Jumlah Pengunjung1070074
Online sekarang
31

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Teknologi Pengendalian Penyakit secara Kimiawi

Feromon

Serangga betina dewasa berkomunikasi dengan jantan dewasa menggunakan ekskresi bahan kimia dari tubuh yang disebut feromon. Feromon sangat spesifik, hanya untuk spesies yang sama. Serangga betina mengekresikan feromon untuk menarik serangga jantan. Feromon akan menuntun jantan untuk menemukan betina, karena sifatnya yang dapat menarik serangga jantan, feromon dapat digunakan untuk menangkap massal serangga jantan atau untuk mengacaukan proses perkawinan. Penggunaan feromon buatan mengecoh serangga jantan sehingga mengacaukan perkawinan. Karena itu kopulasi alami tidak terjadi atau terganggu (mating disruption). Feromon hama padi yang telah teridentifikasi adalah untuk tiga spesies penggerek batang (Hendarsih et al.2000)

Pestisida Nabati

Ekstrak tanaman tembakau dan akar tuba dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah nimba dan sambilata (Mariappan et al. 1983 Widiarta et al. 1997). Bahan nabati yang dapat digunakan untuk mengendalikan keong (molukisida nabati) adalah rerak, ekstrak biji teh.

Fungisida

Fungisida digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Penggunaan fungisida untuk mengendalikan penyakit tanaman padi lebih berkembang dibandingkan dengan bakterisida untuk mengendalikan penyakit padi yang disebabkan oleh bakteri (Sudir dan Suparyono 1999)

Pestisida Sintesis

Insektisida sintesis paling dikenal dan digunakan secara luas untuk mengendalikan hama serangga. Insektisida diandalkan untuk menekan populasi dalam waktu yang relatif singkat, petani sangat menyukainya sehingga penggunaan pestisida tidak rasional.

Penggunaan insektisida yang tidak rasional dapat menyebabkan hama lebih tahan (resisten) terhadap insektisida, bahkan populasinya bertambah setelah aplikasi (resurjen) (Chelliah et al. 1980). Untuk membunuh serangga yang telah tahan, diperlukan dosis yang lebih tinggi. Resurjen terjadi karena perubahan fisiologis serangga sehingga keperidiannya meningkat, atau secara ekologis karena musuh alaminya berkurang.

Rodentisida

Rodentisida digunakan untuk meracuni tikus, diformulasi dalam bentuk yang telah dicampur dengan umpan atau terpisah (Sudarmaji 2007). Daya racun rodentisida ada yang dapat mematikan tikus (racun akut) pada saat memakan dan ada yang perlu waktu beberapa hari untuk mematikan tikus (antikuagulan).

Fumigan

Bahan kimia dalam bentuk uap atau asap digunakan untuk membunuh hama atau serangga di gudang penyimpanan atau tikus dalam lubang. Untuk menghembuskan asap ke dalam lubang tikus digunakan alat yang disebut emposan (Sudarmaji 2007)

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi