Status Hara dan Pelestarian Kesuburan Lahan Kering

Lahan kering yang digunakan untuk padi gogo umumnya mempunyai kesuburan yang relatif rendah. Lahan yang relatif subur digunakan untuk tanaman sayur-sayuran. Rendahnya kesuburan tanah disebabkan karena tanahnya berasal dari bahan induk yang miskin unsur hara, misalnya batuan beku masam atau batuan vulkanik masam yang miskin hara tanaman. Di samping itu, unsur-unsur hara dalam tanah telah hilang karena pelapukan lanjut di bawah pengaruh curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah hujan tropis. Kandungan unsur hara dalam tanah juga dapat terkuras akibat kegiatan pertanian yang eksploitatif, yaitu penanaman secara terus-menerus tanpa menggunakan pupuk atau pemberian pupuk tidak seimbang (Santoso dan Sofyan 2005)

Hara Makro

Nitrogen. Nitrogen (N) merupakan unsur hara makro yang sangat menentukan keberhasilan usaha tani tanaman. Agar dapat tumbuh dengan baik, tanaman memerlukan N dalam jumlah yang besar. Untuk menghasilkan 1 t gabah, misalnya, N yang diserap tanaman padi sekitar 22.5 kg; 15kg diantaranya terdapat dalam gabah dan 7,5 kg dalam jerami padi. Oleh karena du program pengelolaan hara yang baik diperlukan untuk memenuhi kebutuhan N.

Nitrogen tanah tegalan pada umumnya rendah, kecuali pada tanah dengan kandungan bahan organik tinggi seperti Andisols. Makin tinggi jumlah bahan organik, maka banyak N yang dapat disediakan. Kandungan N dalam bahan organik tanah berkisar antara 5-10%, bergantung pada kualitas bahan organik tersebut.

Selain dari tanaman padi, mikroorganisme tanah juga memerlukan N. Jika N dalam tanah terlalu rendah (rasio C/N > 30), maka mikroba tanah bersaing dengan tanaman untuk mendapatkan N. Hal ini terjadi pada tanah yang diberi bahan organik dengan lignin tinggi, seperti jerami padi yang belum dikomposkan atau pembentukan kompos belum sempurna. Sumber N dapat berupa tanaman legu, sisa tanaman, pupuk kandang, bahan organik tanah, dan pupuk N buatan pabrik seperti urea atau ZA.

Berbagai bakteri di dalam tanah dalam memfiksasi N2 dari udara secara biologis (biological nitrogen fixation, BNF) melalui hubungan simbiotik antara bakteri rhizobium dengan tanaman legu atau tanpa hubungan simbiosis. Bakteri yang berada di dalam bintil akar (nodul) tanaman inang memfiksasi N2 dari udara dan menggunakan energi yang disediakan oleh tanaman inang (legum). Tanaman inang diuntungkan dari N yang dihasilkan dalam nodul. Tanaman padi akan mendapat manfaat dari nitrogen hasil fiksasi apabila padi ditumpangsarikan atau ditumpanggilirkan dengan tanaman legu. Hasil dekomposisi dan mineralisasi tanaman legum yang kaya N akan dapat diserap tanaman padi.

Beberapa jenis bakteri seperti Azotobacter, Azotomonas, Beijirinckia, Derxia, dan Pseudmonas mampu memfiksasi N2 tanpa simbiosis. Azotobacter paspali dan Beijirinckia spp. Adalah bakteri aerobik yang membentuk koloni dipermukaan akar tanaman (Baldani et al. 1997). Azotobacter merupakan bakteri yang selain penambat N2 juga menghasilkan zat pemacu tumbuh giberelin, sitokinin, dan asam Indo asetat, sehingga dapat memacu pertumbuhan akar (Alexander 1997).

Fosfor. Kandungan fosfor (P) dalam tanah tegalan pada umumnya rendah adanya fiksasi dan karena rendahnya kandungan mineral tanah yang dapat melapuk (weatherable minerals). Fiksasi P merupakan masalah, terutama pada tanah-tanah vulkanik (Andisols) karena fiksasi oleh mineral alofan, tanah kering masam dengan tekstur liat yang mengandung banyak oksida Al dan Fe (Oxisols dan Ultisols) dan tanah alkalin karena fiksasi oleh Ca. Untuk tanah dengan tingkat fiksasi tinggi diperlukan pemberian P dalam jumlah besar, sehingga tanah menjadi jenuh P dan sebagian unsur tersebut berada dalam bentuk tersedia.

Bentuk utama pupuk P adalah super fosfat (SP36, TSP) dan fosfat alam (fluor apatit; P-alam). Fosfat alam merupakan bentuk pupuk P yang lebih sesuai untuk tanah kering masam dengan pH < 5,5 karena tanah masam membantu melarutkan P-alam. P dalam P-alam tersedia secara lambat, oleh karena itu dapat diberikan sekaligus dengan jumlah cukup banyak (1 t/ha). Jumlah ini akan bertahan sampai enam musim tanam sebelum pemberian P berikutnya, sehingga meghemat biaya tenaga kerja untuk pemupukan P.

Kalium. Bentuk K dalam tanah ada dua macam yaitu K “tersedia” dan K “cadangan”. Kalium dalam bentuk tersedia adalah K yang dapat segera diserap tanaman dari tanah, sedangkan K cadangan tidak langsung tersedia bagi tanaman. Kedua bentuk K tersebut berada dalam keseimbangan. K cadangan akan berangsur-angsur diubah menjadi bentuk K tersedia jika jumlah K tersedia berkurang. Sebaliknya, jika dalam tanah terlalu banyak K tersedia maka akan diubah menjadi bentuk cadangan. Cadangan K lebih rendah pada tanah yang telah megalami pelapukan lanjut dan tanah berpasir dibandingkan dengan tanah yang belum mengalami pelapukan lanjut dan mempunyai tekstur halus.

K sangat mudah larut sehingga bila diletakkan dekat biji/benih pada waktu tanam dapat merusak kecambah tanaman. Oleh karena itu, pemberian pupuk K sebaiknya berjarak sekitar 10cm dari lubang tanam. K seringkali kurang pada tanah yang telah ditanami selama beberapa musim tanpa menggunakan pupuk K. Namun jika ketersediaan hara K berlebihan bagi tanaman yang mampu menyerap lebih banyak K daripada jumlah yang diperlukan (luxurious consumption). Pada tanaman padi sebagian besar K yang diserap disimpan dalam jerami sehingga kemungkinan terjadinya kekurangan K akan lebih besar bila jerami diangkut atau dibuang dari lahan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam melestarikan unsur hara K adalah mengurangi kehilangan K karena pencucian, mengembalikan sisa panen ke tanah, memberikan pupuk kandang, dan menambahkan pupuk K ke tanah yang kandungan kaliumnya rendah.

Kalsium dan Magnesium. Ca dan Mg tersedia dalam jumlah sedang sampai tinggi pada tanah dengan pH sedang sampai tinggi. Tanah dengan pH rendah (<5,5) mempunyai kandungan Ca dan Mg yang rendah pula.

Untuk tanaman padi gogo yang toleran kejenuhan Al relatif tinggi, pemberian kapur kalsit atau dolomit dalam jumlah rendah (sekitar 500kg/ha), di antara baris tanaman, sekali dalam 3-4 tahun, akan membantu memperbaiki produktivitas padi gogo. Ketersediaan Ca dan Mg juga dapat dipertahankan dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman dan pemberian pupuk kandang ke lahan.

Hara Mikro

Ketersediaan unsur mikro pada tanah tegalan sangat dipengaruhi oleh pH tanah. Unsur mikro seperti Fe, Mn, Zn, dan Cu lebih tersedia pada tanah bereaksi masam. Pada pH di bawah 5,0 ketersediaan unsur-unsur hara hara tersebut sangat tinggi, sedangkan pada pH lebih tinggi dari 5,0 ketersediannya menurun pada pH di atas 7,5 sangat rendah. Sebaliknya Mo, pada pH dibawah 6,5 kurang tersedia dan di atas 6,5 ketersediaannya sangat tinggi. Ketersediaan boron (B) tinggi pada pH 5,0-7,0 dan diluar selang pH tersebut ketersediaannya menurun (Buckman and Brady 1969)

Besi. Kekahatan Fe umumnya terjadi pada lahan kering yang tanahnya mempunyai pH tinggi seperti tanah berkapur, tanah alkalin, dan tanah bertekstur kasar yang berasal dari batuan induk granit. Kahat Fe dapat diatasi antara lain dengan: (1) pemberian bahan organik (pupuk kandang, sisa-sisa tanaman, dan pupuk hijau) dan bahan sisa atau limbah pertambangan/industri yang mengandung Fe; (2) pemberian pupuk yang bereaksi masam seperti amonium sulfat pada tanah per-pH tinggi; dan (3) pemberian pupuk yang mengandung Fe seperti fero sulfat (FeSO4)

Seperti pada lahan sawah, keracunan Fe pada lahan kering terjadi apabila konsentrasi Fe dalam larutan tanah mencapai > 300 ppm, dan konsentrasi ini biasanya dijumpai pada tanah dengan pH < 5,0 yang mengandung Ca. Mg, P, dan K rendah. Keracunan Fe dapat diatasi antara lain dengan menggunakan varietas toleran keracunan besi, pemberian pupuk P, K, dan Mg yang lebih banyak, dan pemberian kapur atau dolomit untuk meningkatkan pH dan mengurangi ketersediaan Fe.

Seng. Kahat Zn umumnya terjadi pada (1) tanah yang per-pH netral dan tanah berkapur yang mengandung bikarbonat dalam jumlah banyak, pada tanah-tanah seperti ini kahat Zn sering terjadi bersamaan dengan kahat sulfur; (2) tanah yang diusahakan secara intensif dengan pemberian pupuk N, P, dan K dalam jumlah banyak tanpa penambahan Zn; (3) tanah sodic dan salin; (4) tanah gambut; (5) tanah berpasir; (6)tanah masam bertekstur kasar yang telah melapuk lanjut seperti tanah yang berasal dari serpentin dan laterit; dan (7) tanah sulfat masam yang telah tercuci dengan konsentrasi Ca, Mg, dan K rendah. Kahat Zn dapat ditanggulangi dengan pemberian pupuk kandang dan pupuk Zn seperti ZnSO4 dan ZnO.

Mangan.Kahat Mn sering terjadi pada padi yang ditanam di lahan kering yang bersifat alkali dan kadar bahan organik rendah, tanah berpasir yang mengalami pencucian, tanah sulfat masam, dan tanah yang telah melapuk lanjut. Kahat Mn dapat diatasi melalui pemberian pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman seperti jerami, pemberian pupuk yang bersifat masam seperti amonium sulfat; dan pemberian pupuk Mn seperti MnSO4 atau MnO.

Tanaman padi tergolong toleran terhadap Mn dengan konsentrasi tinggi. Keracunan Mn mungkin terjadi pada tanah-tanah sangat masam (pH < 5,0), tanah sulfat masam, tanah yang diberi sampah kota atau limbah industri dengan kadar Mn tinggi. Keracunan Mn dapat diatasi dengan pemupukan N, P, K, dan pengapuran untuk mengurangi kemasaman tanah dan menurunkan konsentrasi Mn, dan pemberian silika (Si) baik yang berasal dari jerami, abu hasil pembakaran, atau terak baja.

Tembaga. Tanah gambut, tanah abu volkan dengan kandungan bahan organik tinggi, tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut seperti Ultisols dan Oxisol, tanah-tanah yang berasal dari sedimen laut, tanah berkapur dan tanah-tanah bertekstur kasar kering mengalami kahat Cu. Masalah ini dapat diatasi dengan pemberian terusi (CuSO4) dalam bentuk padatan atau cairan. Pemberian 1-5 kg CuSO4/ha sudah mencukupi. Pemupukan Cu harus hati-hati, jangan sampai berlebihan karena batas kahat dan keracunan Cu sangat dekat/ sempit (Dobermann and Fairhurst 2000)

Boron. Kahat B dapat terjadi pada tanah yang telah melapuk lanjut seperti Ultisol dan Oxisol serta tanah-tanah masam yang berasal dari batuan beku. Kahat B di Indonesia dilaporkan terjadi pada tanaman kelapa sawit yang ditanam pada tanah di Ultisol dan Oxisol. Kahat B pada tanaman padi dapat diatasi dengan pupuk B (Mn2B4O2.10H2O) dengan takaran 0,5-3,0 kg B/ha, disebar dan dicapur dengan tanah sebelum tanam, atau disemprotkan melalui daun.

Keracunan B dapat terjadi pada tanah didaerah beriklim kering (arid dan seminaris) yang berbahan induk kaya dengan kandungan B seperti tanah yang berbahan induk endapan laut (main), bantuan plutonium, dan tufa vulkanik. Keracunan B juga bisa terjadi pada tanah salin atau tanah yang dipupuk borax berlebihan. Kompos dari sampah kota juga bisa mengandung B tinggi dan berpotensi menyebabkan keracunan B. Penanggulangan keracunan B dapat dilakukan dengan cara pencucian dengan air irigasi yang mengandung B sangat rendah atau penggunaan varietas toleran seperti IR42, IR46, IR48, dan IR54 (Dobermann and Fairhurst 2000)

 

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini202
Hari kemarin2156
Minggu ini7013
Bulan ini23638
Jumlah Pengunjung1071985
Online sekarang
24

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Status Hara dan Pelestarian Kesuburan Lahan Kering

Lahan kering yang digunakan untuk padi gogo umumnya mempunyai kesuburan yang relatif rendah. Lahan yang relatif subur digunakan untuk tanaman sayur-sayuran. Rendahnya kesuburan tanah disebabkan karena tanahnya berasal dari bahan induk yang miskin unsur hara, misalnya batuan beku masam atau batuan vulkanik masam yang miskin hara tanaman. Di samping itu, unsur-unsur hara dalam tanah telah hilang karena pelapukan lanjut di bawah pengaruh curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah hujan tropis. Kandungan unsur hara dalam tanah juga dapat terkuras akibat kegiatan pertanian yang eksploitatif, yaitu penanaman secara terus-menerus tanpa menggunakan pupuk atau pemberian pupuk tidak seimbang (Santoso dan Sofyan 2005)

Hara Makro

Nitrogen. Nitrogen (N) merupakan unsur hara makro yang sangat menentukan keberhasilan usaha tani tanaman. Agar dapat tumbuh dengan baik, tanaman memerlukan N dalam jumlah yang besar. Untuk menghasilkan 1 t gabah, misalnya, N yang diserap tanaman padi sekitar 22.5 kg; 15kg diantaranya terdapat dalam gabah dan 7,5 kg dalam jerami padi. Oleh karena du program pengelolaan hara yang baik diperlukan untuk memenuhi kebutuhan N.

Nitrogen tanah tegalan pada umumnya rendah, kecuali pada tanah dengan kandungan bahan organik tinggi seperti Andisols. Makin tinggi jumlah bahan organik, maka banyak N yang dapat disediakan. Kandungan N dalam bahan organik tanah berkisar antara 5-10%, bergantung pada kualitas bahan organik tersebut.

Selain dari tanaman padi, mikroorganisme tanah juga memerlukan N. Jika N dalam tanah terlalu rendah (rasio C/N > 30), maka mikroba tanah bersaing dengan tanaman untuk mendapatkan N. Hal ini terjadi pada tanah yang diberi bahan organik dengan lignin tinggi, seperti jerami padi yang belum dikomposkan atau pembentukan kompos belum sempurna. Sumber N dapat berupa tanaman legu, sisa tanaman, pupuk kandang, bahan organik tanah, dan pupuk N buatan pabrik seperti urea atau ZA.

Berbagai bakteri di dalam tanah dalam memfiksasi N2 dari udara secara biologis (biological nitrogen fixation, BNF) melalui hubungan simbiotik antara bakteri rhizobium dengan tanaman legu atau tanpa hubungan simbiosis. Bakteri yang berada di dalam bintil akar (nodul) tanaman inang memfiksasi N2 dari udara dan menggunakan energi yang disediakan oleh tanaman inang (legum). Tanaman inang diuntungkan dari N yang dihasilkan dalam nodul. Tanaman padi akan mendapat manfaat dari nitrogen hasil fiksasi apabila padi ditumpangsarikan atau ditumpanggilirkan dengan tanaman legu. Hasil dekomposisi dan mineralisasi tanaman legum yang kaya N akan dapat diserap tanaman padi.

Beberapa jenis bakteri seperti Azotobacter, Azotomonas, Beijirinckia, Derxia, dan Pseudmonas mampu memfiksasi N2 tanpa simbiosis. Azotobacter paspali dan Beijirinckia spp. Adalah bakteri aerobik yang membentuk koloni dipermukaan akar tanaman (Baldani et al. 1997). Azotobacter merupakan bakteri yang selain penambat N2 juga menghasilkan zat pemacu tumbuh giberelin, sitokinin, dan asam Indo asetat, sehingga dapat memacu pertumbuhan akar (Alexander 1997).

Fosfor. Kandungan fosfor (P) dalam tanah tegalan pada umumnya rendah adanya fiksasi dan karena rendahnya kandungan mineral tanah yang dapat melapuk (weatherable minerals). Fiksasi P merupakan masalah, terutama pada tanah-tanah vulkanik (Andisols) karena fiksasi oleh mineral alofan, tanah kering masam dengan tekstur liat yang mengandung banyak oksida Al dan Fe (Oxisols dan Ultisols) dan tanah alkalin karena fiksasi oleh Ca. Untuk tanah dengan tingkat fiksasi tinggi diperlukan pemberian P dalam jumlah besar, sehingga tanah menjadi jenuh P dan sebagian unsur tersebut berada dalam bentuk tersedia.

Bentuk utama pupuk P adalah super fosfat (SP36, TSP) dan fosfat alam (fluor apatit; P-alam). Fosfat alam merupakan bentuk pupuk P yang lebih sesuai untuk tanah kering masam dengan pH < 5,5 karena tanah masam membantu melarutkan P-alam. P dalam P-alam tersedia secara lambat, oleh karena itu dapat diberikan sekaligus dengan jumlah cukup banyak (1 t/ha). Jumlah ini akan bertahan sampai enam musim tanam sebelum pemberian P berikutnya, sehingga meghemat biaya tenaga kerja untuk pemupukan P.

Kalium. Bentuk K dalam tanah ada dua macam yaitu K “tersedia” dan K “cadangan”. Kalium dalam bentuk tersedia adalah K yang dapat segera diserap tanaman dari tanah, sedangkan K cadangan tidak langsung tersedia bagi tanaman. Kedua bentuk K tersebut berada dalam keseimbangan. K cadangan akan berangsur-angsur diubah menjadi bentuk K tersedia jika jumlah K tersedia berkurang. Sebaliknya, jika dalam tanah terlalu banyak K tersedia maka akan diubah menjadi bentuk cadangan. Cadangan K lebih rendah pada tanah yang telah megalami pelapukan lanjut dan tanah berpasir dibandingkan dengan tanah yang belum mengalami pelapukan lanjut dan mempunyai tekstur halus.

K sangat mudah larut sehingga bila diletakkan dekat biji/benih pada waktu tanam dapat merusak kecambah tanaman. Oleh karena itu, pemberian pupuk K sebaiknya berjarak sekitar 10cm dari lubang tanam. K seringkali kurang pada tanah yang telah ditanami selama beberapa musim tanpa menggunakan pupuk K. Namun jika ketersediaan hara K berlebihan bagi tanaman yang mampu menyerap lebih banyak K daripada jumlah yang diperlukan (luxurious consumption). Pada tanaman padi sebagian besar K yang diserap disimpan dalam jerami sehingga kemungkinan terjadinya kekurangan K akan lebih besar bila jerami diangkut atau dibuang dari lahan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam melestarikan unsur hara K adalah mengurangi kehilangan K karena pencucian, mengembalikan sisa panen ke tanah, memberikan pupuk kandang, dan menambahkan pupuk K ke tanah yang kandungan kaliumnya rendah.

Kalsium dan Magnesium. Ca dan Mg tersedia dalam jumlah sedang sampai tinggi pada tanah dengan pH sedang sampai tinggi. Tanah dengan pH rendah (<5,5) mempunyai kandungan Ca dan Mg yang rendah pula.

Untuk tanaman padi gogo yang toleran kejenuhan Al relatif tinggi, pemberian kapur kalsit atau dolomit dalam jumlah rendah (sekitar 500kg/ha), di antara baris tanaman, sekali dalam 3-4 tahun, akan membantu memperbaiki produktivitas padi gogo. Ketersediaan Ca dan Mg juga dapat dipertahankan dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman dan pemberian pupuk kandang ke lahan.

Hara Mikro

Ketersediaan unsur mikro pada tanah tegalan sangat dipengaruhi oleh pH tanah. Unsur mikro seperti Fe, Mn, Zn, dan Cu lebih tersedia pada tanah bereaksi masam. Pada pH di bawah 5,0 ketersediaan unsur-unsur hara hara tersebut sangat tinggi, sedangkan pada pH lebih tinggi dari 5,0 ketersediannya menurun pada pH di atas 7,5 sangat rendah. Sebaliknya Mo, pada pH dibawah 6,5 kurang tersedia dan di atas 6,5 ketersediaannya sangat tinggi. Ketersediaan boron (B) tinggi pada pH 5,0-7,0 dan diluar selang pH tersebut ketersediaannya menurun (Buckman and Brady 1969)

Besi. Kekahatan Fe umumnya terjadi pada lahan kering yang tanahnya mempunyai pH tinggi seperti tanah berkapur, tanah alkalin, dan tanah bertekstur kasar yang berasal dari batuan induk granit. Kahat Fe dapat diatasi antara lain dengan: (1) pemberian bahan organik (pupuk kandang, sisa-sisa tanaman, dan pupuk hijau) dan bahan sisa atau limbah pertambangan/industri yang mengandung Fe; (2) pemberian pupuk yang bereaksi masam seperti amonium sulfat pada tanah per-pH tinggi; dan (3) pemberian pupuk yang mengandung Fe seperti fero sulfat (FeSO4)

Seperti pada lahan sawah, keracunan Fe pada lahan kering terjadi apabila konsentrasi Fe dalam larutan tanah mencapai > 300 ppm, dan konsentrasi ini biasanya dijumpai pada tanah dengan pH < 5,0 yang mengandung Ca. Mg, P, dan K rendah. Keracunan Fe dapat diatasi antara lain dengan menggunakan varietas toleran keracunan besi, pemberian pupuk P, K, dan Mg yang lebih banyak, dan pemberian kapur atau dolomit untuk meningkatkan pH dan mengurangi ketersediaan Fe.

Seng. Kahat Zn umumnya terjadi pada (1) tanah yang per-pH netral dan tanah berkapur yang mengandung bikarbonat dalam jumlah banyak, pada tanah-tanah seperti ini kahat Zn sering terjadi bersamaan dengan kahat sulfur; (2) tanah yang diusahakan secara intensif dengan pemberian pupuk N, P, dan K dalam jumlah banyak tanpa penambahan Zn; (3) tanah sodic dan salin; (4) tanah gambut; (5) tanah berpasir; (6)tanah masam bertekstur kasar yang telah melapuk lanjut seperti tanah yang berasal dari serpentin dan laterit; dan (7) tanah sulfat masam yang telah tercuci dengan konsentrasi Ca, Mg, dan K rendah. Kahat Zn dapat ditanggulangi dengan pemberian pupuk kandang dan pupuk Zn seperti ZnSO4 dan ZnO.

Mangan.Kahat Mn sering terjadi pada padi yang ditanam di lahan kering yang bersifat alkali dan kadar bahan organik rendah, tanah berpasir yang mengalami pencucian, tanah sulfat masam, dan tanah yang telah melapuk lanjut. Kahat Mn dapat diatasi melalui pemberian pupuk kandang dan sisa-sisa tanaman seperti jerami, pemberian pupuk yang bersifat masam seperti amonium sulfat; dan pemberian pupuk Mn seperti MnSO4 atau MnO.

Tanaman padi tergolong toleran terhadap Mn dengan konsentrasi tinggi. Keracunan Mn mungkin terjadi pada tanah-tanah sangat masam (pH < 5,0), tanah sulfat masam, tanah yang diberi sampah kota atau limbah industri dengan kadar Mn tinggi. Keracunan Mn dapat diatasi dengan pemupukan N, P, K, dan pengapuran untuk mengurangi kemasaman tanah dan menurunkan konsentrasi Mn, dan pemberian silika (Si) baik yang berasal dari jerami, abu hasil pembakaran, atau terak baja.

Tembaga. Tanah gambut, tanah abu volkan dengan kandungan bahan organik tinggi, tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut seperti Ultisols dan Oxisol, tanah-tanah yang berasal dari sedimen laut, tanah berkapur dan tanah-tanah bertekstur kasar kering mengalami kahat Cu. Masalah ini dapat diatasi dengan pemberian terusi (CuSO4) dalam bentuk padatan atau cairan. Pemberian 1-5 kg CuSO4/ha sudah mencukupi. Pemupukan Cu harus hati-hati, jangan sampai berlebihan karena batas kahat dan keracunan Cu sangat dekat/ sempit (Dobermann and Fairhurst 2000)

Boron. Kahat B dapat terjadi pada tanah yang telah melapuk lanjut seperti Ultisol dan Oxisol serta tanah-tanah masam yang berasal dari batuan beku. Kahat B di Indonesia dilaporkan terjadi pada tanaman kelapa sawit yang ditanam pada tanah di Ultisol dan Oxisol. Kahat B pada tanaman padi dapat diatasi dengan pupuk B (Mn2B4O2.10H2O) dengan takaran 0,5-3,0 kg B/ha, disebar dan dicapur dengan tanah sebelum tanam, atau disemprotkan melalui daun.

Keracunan B dapat terjadi pada tanah didaerah beriklim kering (arid dan seminaris) yang berbahan induk kaya dengan kandungan B seperti tanah yang berbahan induk endapan laut (main), bantuan plutonium, dan tufa vulkanik. Keracunan B juga bisa terjadi pada tanah salin atau tanah yang dipupuk borax berlebihan. Kompos dari sampah kota juga bisa mengandung B tinggi dan berpotensi menyebabkan keracunan B. Penanggulangan keracunan B dapat dilakukan dengan cara pencucian dengan air irigasi yang mengandung B sangat rendah atau penggunaan varietas toleran seperti IR42, IR46, IR48, dan IR54 (Dobermann and Fairhurst 2000)

 

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi