Konsumsi dan Effisiensi Penggunaan Air

Rata-rata konsumsi air lebih rendah pada kondisi intermitten (8.397 m3/ha/musim) dibandingkan yang digenang terus (10.019 m3/ha/musim). Namun demikian, penghematan konsumsi air dengan cara intermitten ini belum diikuti dengan peningkatan secara nyata efisiensi penggunaan air, karena efisiensinya dari sekitar 0,78 kg/m3 pada kondisi digenang baru sedikit naik pada kondisi intermitten, yaitu menjadi 0,91 kg/m3. Peningkatan efisiensi yang masih relatif kecil ini diduga lebih disebabkan karena rendahnya produktivitas pada kondisi inttermiten akibat investasi gulma yang lebih padat, bukan oleh faktor yang lain.

Efisiensi penggunaan air berkorelasi positif dengan kandungan air relatif di daun. Efisiensi penggunaan air menurun diikuti oleh pengurangan kandungan air relatif maupun berat daun spesifik. Pada varietas yang efisien penggunaan airnya seperti IR5178 dicirikan oleh kandungan air relatif yang lebih tinggi dan berat daun spesifik yang tinggi. Laju transpirasi meningkat bilamana kandungan air relatif daun cukup tinggi dan varietas yang mempunyai berat daun spesifik rendah seperti UPLR 5 mempunyai efisiensi penggunaan air yang rendah karena hasil gabahnya lebih rendah meskipun kandungan air relatif di daun cukup tinggi.

Efisiensi penggunaan air bervariasi menurut varietas berkisar antara 2,35 mg jaringan/g H2O dan 4,01 mg jaringan/g H2O. Tingkat keragaman efisiensi penggunaan air ini ditentukan oleh variabel berat daun spesifik (specific leaf weight) dan kandungan air relatif (relative water content) di daun. Berat daun spesifik berkisar antara 32 g/m2 dan 44 g/m2 sedangkan kandungan air relatif bervariasi antara 84,9% sampai 90,7%. Apabila sifat-sifat yang dimiliki tanaman padi seperti ini dikombinasikan dengan cara pengeloaan air intermitten diharapkan dapat berdampak lebih besar terhadap penghematan konsumsi air.

Penghematan kebutuhan air melalui sistem intermitten tersebut menjadi penting sehubungan kelangkaan air global telah menjadi isu dan keprihatinan dunia belakangan ini. Para ilmuwan air International Rice Research Institute (IRRI) memperkirakan pada tahun 2025 dua pertiga dataran bumi akan mengalami kekurangan air baik secara fisik maupun ekonomis. Dua pertiga bagian itu merupakan kawasan tropis dan subtropis yang juga menjadi lahan-lahan utama sentra budidaya padi dunia.

 

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 1
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Keunggulan Varietas Tarabas
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini2259
Hari kemarin2519
Minggu ini15890
Bulan ini57333
Jumlah Pengunjung1223936
Online sekarang
38

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Konsumsi dan Effisiensi Penggunaan Air

Rata-rata konsumsi air lebih rendah pada kondisi intermitten (8.397 m3/ha/musim) dibandingkan yang digenang terus (10.019 m3/ha/musim). Namun demikian, penghematan konsumsi air dengan cara intermitten ini belum diikuti dengan peningkatan secara nyata efisiensi penggunaan air, karena efisiensinya dari sekitar 0,78 kg/m3 pada kondisi digenang baru sedikit naik pada kondisi intermitten, yaitu menjadi 0,91 kg/m3. Peningkatan efisiensi yang masih relatif kecil ini diduga lebih disebabkan karena rendahnya produktivitas pada kondisi inttermiten akibat investasi gulma yang lebih padat, bukan oleh faktor yang lain.

Efisiensi penggunaan air berkorelasi positif dengan kandungan air relatif di daun. Efisiensi penggunaan air menurun diikuti oleh pengurangan kandungan air relatif maupun berat daun spesifik. Pada varietas yang efisien penggunaan airnya seperti IR5178 dicirikan oleh kandungan air relatif yang lebih tinggi dan berat daun spesifik yang tinggi. Laju transpirasi meningkat bilamana kandungan air relatif daun cukup tinggi dan varietas yang mempunyai berat daun spesifik rendah seperti UPLR 5 mempunyai efisiensi penggunaan air yang rendah karena hasil gabahnya lebih rendah meskipun kandungan air relatif di daun cukup tinggi.

Efisiensi penggunaan air bervariasi menurut varietas berkisar antara 2,35 mg jaringan/g H2O dan 4,01 mg jaringan/g H2O. Tingkat keragaman efisiensi penggunaan air ini ditentukan oleh variabel berat daun spesifik (specific leaf weight) dan kandungan air relatif (relative water content) di daun. Berat daun spesifik berkisar antara 32 g/m2 dan 44 g/m2 sedangkan kandungan air relatif bervariasi antara 84,9% sampai 90,7%. Apabila sifat-sifat yang dimiliki tanaman padi seperti ini dikombinasikan dengan cara pengeloaan air intermitten diharapkan dapat berdampak lebih besar terhadap penghematan konsumsi air.

Penghematan kebutuhan air melalui sistem intermitten tersebut menjadi penting sehubungan kelangkaan air global telah menjadi isu dan keprihatinan dunia belakangan ini. Para ilmuwan air International Rice Research Institute (IRRI) memperkirakan pada tahun 2025 dua pertiga dataran bumi akan mengalami kekurangan air baik secara fisik maupun ekonomis. Dua pertiga bagian itu merupakan kawasan tropis dan subtropis yang juga menjadi lahan-lahan utama sentra budidaya padi dunia.

 

Berita Terbaru

Dengan Inovasi, Lahan Kering Mampu Berproduksi Tinggi

Info Aktual | 01-02-2018 | Hits:983

Dengan Inovasi, Lahan Kering Mampu Berproduksi Tinggi

Padi Gogo Potensi Hasil Tinggi

Info Teknologi | 18-01-2018 | Hits:1515

Padi Gogo Potensi Hasil Tinggi

Padi  Lahan Kering Dataran Tinggi

Info Teknologi | 11-01-2018 | Hits:1520

Padi Lahan Kering Dataran Tinggi

Panen di Musim Paceklik

Berita Utama | 10-01-2018 | Hits:531

Panen di Musim Paceklik

Luas Panen Padi di Beberapa Wilayah

Berita Utama | 03-01-2018 | Hits:563

Luas Panen Padi di Beberapa Wilayah

Karakteristik Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan

Info Teknologi | 02-01-2018 | Hits:611

Karakteristik Inpara 8 Agritan dan Inpara 9 Agritan

Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

Info Teknologi | 21-12-2017 | Hits:1116

Inpara 8 dan Inpara 9, Dua Varietas Adaptif Rawa

Menteri Pertanian Meluncurkan Varietas Unggul Baru

Info Aktual | 21-12-2017 | Hits:1452

Menteri Pertanian Meluncurkan Varietas Unggul Baru

Budidaya Organik dan Non-Organik Padi Terhadap Mutu

Info Teknologi | 16-12-2017 | Hits:1046

Budidaya Organik dan Non-Organik Padi Terhadap Mutu

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi