Teknik Produksi Benih Padi Hibrida

Padi hibrida yang merupakan tanaman F1 hasil persilangan antara GMJ (A) dengan galur pemulih kesuburan (R) hanya dapat ditanam satu kali, karena bila hasil panen hibrida ditanam lagi akan mengalami perubahan yang signifikan sebagai akibat adanya segregasi pada generasi F2 sehingga pertanaman tidak seragam dan tidak baik. Oleh karena itu benih F1 harus diproduksi dan  petani juga harus selalu menggunakan benih F1.

Produksi benih padi hibrida mencakup dua kegiatan utama yaitu : produksi benih galur tetua dan produksi benih hibrida.  Galur tetua meliputi GMJ, B dan R. GMJ bersifat mandul jantan, produksi benihnya dilakukan melalui persilangan GMJ x B.  Galur B dan R bersifat normal (fertil), produksi benihnya dilakukan seperti pada varietas padi konvensional (inbrida). Benih hibrida diproduksi melalui persilangan GMJ dan R.

Beberapa faktor yang mutlak harus diperhatikan dalam produksi benih padi hibrida adalah :

1. Pemilihan lokasi yang tepat, yaitu bersih dari benih-benih tanaman lain, bukan daerah endemik hama dan penyakit utama, tanah subur, cukup air, mempunyai sistem irigasi dan drainasi yang baik, dan tingkat keseragaman (homogenitas) tanah yang tinggi.

2. Kondisi cuaca yang optimum, yaitu :

  1. Suhu harian 20-30 °C
  2. Kelembaban relatif  ± 80%
  3. Sinar matahari cukup (cerah) dan kecepatan angin sedang
  4. Tidak ada hujan selama masa berbunga (penyerbukan)

3. Isolasi dari pertanaman padi lainnya.

Untuk menghindari terjadinya kontaminasi penyerbukan dari polen yang tidak diinginkan, areal pertanaman produksi benih harus diisolasi dari pertanaman padi lainnya.  Ada tiga macam isolasi yaitu: isolasi jarak, isolasi waktu, dan isolasi penghalang fisik.

  1. Isolasi jarak. Pada produksi benih F1 hibrida, isolasi jarak dengan pertanaman padi lainnya minimal 100 m, sedangkan pada produksi benih galur A minimal 500 m.
  2. Isolasi waktu. Pada isolasi ini perbedaan waktu berbunga antara pertanaman produksi benih dengan tanaman padi disekitarnya minimal 21 hari.
  3. Isolasi penghalang fisik. Pada isolasi ini dapat digunakan plastik sebagai penghalang dengan ketinggian ± 3 m.

4. Perbandingan jumlah baris antara tanaman A dan B pada perbanyakan galur A dan antara tanaman A dan R pada produksi benih F1.

  1. Benih A, digunakan perbandingan baris tanaman 2B :    4-6A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanam antar baris tanaman A terluar dengan baris tanaman B terluar adalah 30 cm. Jarak tanam di dalam baris B adalah 20 cm.
  2. Pada produksi benih F1 hibrida, digunakan perbandingan baris tanaman 2R : 8-12A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanaman A terluar dengan baris tanaman R terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris R adalah 20 cm.

5. Arah barisan tanaman. Untuk meningkatkan penyebaran polen, arah barisan tanaman galur A dan B atau R dibuat tegak lurus arah angin pada waktu pembungaan

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini2473
Hari kemarin1841
Minggu ini2473
Bulan ini50653
Jumlah Pengunjung968646
Online sekarang
18

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Teknik Produksi Benih Padi Hibrida

Padi hibrida yang merupakan tanaman F1 hasil persilangan antara GMJ (A) dengan galur pemulih kesuburan (R) hanya dapat ditanam satu kali, karena bila hasil panen hibrida ditanam lagi akan mengalami perubahan yang signifikan sebagai akibat adanya segregasi pada generasi F2 sehingga pertanaman tidak seragam dan tidak baik. Oleh karena itu benih F1 harus diproduksi dan  petani juga harus selalu menggunakan benih F1.

Produksi benih padi hibrida mencakup dua kegiatan utama yaitu : produksi benih galur tetua dan produksi benih hibrida.  Galur tetua meliputi GMJ, B dan R. GMJ bersifat mandul jantan, produksi benihnya dilakukan melalui persilangan GMJ x B.  Galur B dan R bersifat normal (fertil), produksi benihnya dilakukan seperti pada varietas padi konvensional (inbrida). Benih hibrida diproduksi melalui persilangan GMJ dan R.

Beberapa faktor yang mutlak harus diperhatikan dalam produksi benih padi hibrida adalah :

1. Pemilihan lokasi yang tepat, yaitu bersih dari benih-benih tanaman lain, bukan daerah endemik hama dan penyakit utama, tanah subur, cukup air, mempunyai sistem irigasi dan drainasi yang baik, dan tingkat keseragaman (homogenitas) tanah yang tinggi.

2. Kondisi cuaca yang optimum, yaitu :

  1. Suhu harian 20-30 °C
  2. Kelembaban relatif  ± 80%
  3. Sinar matahari cukup (cerah) dan kecepatan angin sedang
  4. Tidak ada hujan selama masa berbunga (penyerbukan)

3. Isolasi dari pertanaman padi lainnya.

Untuk menghindari terjadinya kontaminasi penyerbukan dari polen yang tidak diinginkan, areal pertanaman produksi benih harus diisolasi dari pertanaman padi lainnya.  Ada tiga macam isolasi yaitu: isolasi jarak, isolasi waktu, dan isolasi penghalang fisik.

  1. Isolasi jarak. Pada produksi benih F1 hibrida, isolasi jarak dengan pertanaman padi lainnya minimal 100 m, sedangkan pada produksi benih galur A minimal 500 m.
  2. Isolasi waktu. Pada isolasi ini perbedaan waktu berbunga antara pertanaman produksi benih dengan tanaman padi disekitarnya minimal 21 hari.
  3. Isolasi penghalang fisik. Pada isolasi ini dapat digunakan plastik sebagai penghalang dengan ketinggian ± 3 m.

4. Perbandingan jumlah baris antara tanaman A dan B pada perbanyakan galur A dan antara tanaman A dan R pada produksi benih F1.

  1. Benih A, digunakan perbandingan baris tanaman 2B :    4-6A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanam antar baris tanaman A terluar dengan baris tanaman B terluar adalah 30 cm. Jarak tanam di dalam baris B adalah 20 cm.
  2. Pada produksi benih F1 hibrida, digunakan perbandingan baris tanaman 2R : 8-12A, dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Jarak tanaman A terluar dengan baris tanaman R terluar adalah 30 cm. Jarak tanam didalam baris R adalah 20 cm.

5. Arah barisan tanaman. Untuk meningkatkan penyebaran polen, arah barisan tanaman galur A dan B atau R dibuat tegak lurus arah angin pada waktu pembungaan

 

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi