Olah Tanah dan Tanam Padi Gogo

Melalui sistim tumpangsari, masyarakat sekitar hutan dapat menarik manfaat untuk malakukan budidaya tanaman pangan sekaligus meningkatkan produksi dan penghasilannya. Pada pihak kehutanan juga terbantu dalam persiapan lahan untuk penanaman ulang dan mengurangi pengembalaan ternak liar serta kebakaran hutan.

Berdasarkan batas naungan tanaman pokok 50%, sistim tumpangsari dapat dilakukan sampai tahun ketiga untuk peremajaan tanaman karet dan tahun keempat untuk kelapa sawit. Bila peremajaan perkebunan karet atau kelapa sawit dilakukan tiap 25 tahun sekali, maka potensi pelaksanaan sistim tumpangsari dapat mencapai sekitar 15% dari luas tanaman perkebunan.Pengolahan tanah sebaiknya di-lakukan 2 kali, pengolahan tanah pertama dilakukan pada musim kemarau atau setelah terjadi hujan pertama yang dapat melembabkan tanah dan yang kedua saat menjelang tanam. Cara pengolahan tanah dapat dengan dicangkul atau menggunakan ternak secara disingkal. Selanjutnya lahan dibiarkan atau dikelantang. Bila curah hujan sudah turun kontinyu dan memungkinkan untuk tanam, lahan segera diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan tanah sambil meratakan sampai siap tanam.

Bila kondisi lahan berlereng sampai bergelombang, setelah pengolahan tanah pertama perlu dilakukan pembuatan teras gulud untuk mengurangi terjadinya erosi tanah yang berlebihan. Pada guludan dapat juga untuk menumpuk bebatuan bila ada, tetapi sebaiknya diusahakan untuk menanam tanaman penguat teras berupa rumput unggul yang secara periodik dapat dipangkas untuk pakan ternak. Penanaman rumput pakan di guludan, bisa dikombinasikan dengan tanaman legum pohon yang juga dapat dipangkas secara periodik untuk menambah kualitas pakan ternak.

Pada lahan yang terbuka yang relatif datar perlu dibuat bedengan, dengan lebar bedengan sekitar 6 meter. Antar bedengan dibuat saluran sedalam 20 cm yang dapat berfungsi sebagai saluran drainase. Pembuatan saluran drainase sangat perlu, karena bila terjadi hujan berkepanjangan pada beberapa tempat akan terjadi genangan dan akan meningkatkan kelembaban tanah. Kelembaban tanah yang tinggi dapat merangsang munculnya jamur upas yang dapat menyerang perakaran  tanaman padi gogo.

Sebaiknya petani menanam lebih dari 3 (tiga) varietas padi gogo dan setiap varietas ditanam pada bedengan atau calon lorong yang berbeda. Bila akan menggunakan 3 varietas padi gogo, lorong pertama ditanam varietas A, lorong kedua varietas B dan lorong ketiga varietas C.

Selanjutnya untuk lorong ke empat kembali menanam varietas A, lorong ke lima varietas B dan lorong ke enam varietas C. Begitu seterusnya akan  terjadi pengaturan varietas yang berbeda untuk setiap lorongnya. Pertanaman padi gogo dengan sistim mozaik varietas akan mengurangi terjadinya serangan hama dan penyakit terutama penyakit blas.

Kegiatan tanam baru dapat dilakukan, bila curah hujan sudah cukup stabil atau mencapai sekitar 60 mm tiap 10 hari (dekade). Keadaan ini dicapai pada sekitar akhir bulan Oktober sampai akhir Nopember (kasus Pulau Jawa dan Lampung). Pertanda lain yang biasanya menjadi patokan awal tanam padi gogo adalah: bila sudah ada penerbangan binatang laron (siraru atau imago rayap), pohon bambu sudah mulai bertunas, tumbuhan gadung sudah mulai keluar bunga pada sulurnya, atau tanda-tanda lain yang biasa digunakan petani sebagai patokan awal tanam.

Pada beberapa lokasi juga ada petani yang menanam padi gogo dengan sistim awu-awu, dimana benih padi gogo ditanam pada kondisi tanah masih kering. Cara tanamnya menggunakan alat bantu tugal. Benih ditanam sekitar 5 cm (cukup dalam untuk menghindari gangguan binatang semut, burung, dll), kemudian ditutup dengan tanah dan dibiarkan seperti menyimpan benih didalam tanah. Bila curah hujan turun kontinyu benih padi akan tumbuh dan tumbuhnya benih lebih dahulu dibanding benih gulma atau relatif bersamaan. Keuntungan cara tanam ini, adalah persaingan dengan gulma lebih ringan dibanding cara tanam biasa yang baru tanam setelah hujan turun kontinyu dimana benih gulma sudah tumbuh duluan dari benih padi yang tanam belakangan tumbuh belakangan. Kelebihan lain cara tanam awu-awu areal tanam relatif bisa lebih luas, karena kegiatan tanam seperti dicicil dan tidak diburu waktu (cukup menggunakan tenaga keluarga).

Penanaman sebaiknya menggunakan sistem tanam jajar legowo dengan jarak {(20 x 10) x 30} cm, 4-5 butir/rumpun. Berdasarkan cara tanam ini, populasi tanaman akan mencapai sekitar 400 000 rumpun/ha. Pelaksanaan dibantu dengan alat semacam caplakan untuk padi sawah. Alat tersebut mempunyai 4 (empat) titik/mata yang berjarak 20 cm dan 30 cm dan ditambah 2 titik paku yang berjarak 15 cm dari titik/mata caplakan paling pinggir. Ketinggian titik/mata caplakan sekitar 6-7 cm, dengan ketinggian tersebut pada saat operasional pengunaan alat  akan membentuk 4 (empat) larikan dengan kedalaman sekitar 4-5 cm dan 2 garis paling pinggir sebagai panduan untuk operasional alat selanjutnya.

Setelah terbentuk larikan dengan jarak antar larikan 20 dan 30 cm dengan kedalaman sekitar 4-5 cm, selanjutnya benih ditanam pada larikan tersebut dengan jarak antar titik 10 cm sebanyak 4-5 butir/titik. Selesai tanam benih, larikan yang sudah berisi benih ditutup lagi dengan tanah yang terkuak pada saat dilarik. Bila pada saat menjelang tanam kondisi tanah dalam keadaan kering, alat larikan tersebut tidak dapat membuat larikan yang cukup dalam, maka perlu dibantu dengan alat tugal pada larikan  tersebut selanjutnya lubang yang telah diisi benih 4-5 butir ditutup dengan tanah. Setelah tumbuh, cara tanam tersebut akan membentuk jajar legowo {(20 x 10) x 30} cm, atau populasi mencapai sekitar 400 000 rumpun/ha. Bila keadaan lahan tidak datar atau sedikit berlereng, sebaiknya pengaturan barisan tanaman harus memotong lereng, agar bila ada hujan yang relatif tinggi dapat mengurangi terjadinya aliran permukaan atau mengurangi erosi. Keuntungan cara tanam jajar legowo adalah lebih mudah dalam pemeliharaan tanaman terutama untuk kegiatan penyiangan dan pemupukan secara larikan (pupuk dasar dan pupuk susulan pertama).

Pada umumnya petani tradisional menanam padi gogo tanpa menggunakan jarak tanam yang teratur. Setelah tumbuh akan menyulitkan dalam pengendalian gulma dan pemupukan menjadi tidak efisien karena hanya dapat dilakukan dengan cara disebar.

Alat caplakan sederhana yang dibuat sedemikian rupa bila dioperasionalkan akan membuat garis atau larikan dengan lebar antar garis atau larikan 30 cm dan 20 cm (Gambar 6 dan Gambar 7). Pada garisan yang terbentuk dapat dijadikan panduan untuk penugalan benih dengan antar titik tugal 10-15 cm yang penting akan terbentuk barisan lurus dengan antar barisan 20 dan 30 cm.

Cara tanam  padi gogo yang aman adalah dengan sistem tugal, karena benih dapat berada pada kedalaman 2-3 cm dan pada kelembaban tanah yang cukup setelah lubang tugalan ditimbun.  Tanam tugal dilakukan untuk mengantisipasi curah hujan yang tidak menentu.  Pada daerah-daerah yang curah hujannya dapat diramalkan tetap, maka tanam padi gogo dapat dilakukan dengan sistim larikan.  Kedalaman larikan hanya 2-3 cm saja, namun benih yang ditanamkan akan cepat tumbuh karena hujannya relatif tetap dan hari hujan merata.

Pengaturanjarak tanam yang penting dapat membentuk barisan tanaman yang lurus untuk mempermudah pemeliharaan (penyiangan, penyemprotan dan pemupukan). Sistim tanam sebaiknya menggunakan sistim tanam jajar legowo 2 : 1 atau dengan jarak tanam {(20 x 10) x 30} cm, 4-5 butir/lubang. Cara pengaturan jarak tanam demikian dapat dengan bantuan alat tanam seperti garu  atau caplakan yang akan membentuk larikan yang berjarak antar larikan 20 cm dan 30 cm secara berselang (Gambar 6). Bila lubang larikan sudah terbentuk (dengan kedalaman 2 – 3 cm) benih segera ditanam dengan jarak antar titik 10 – 15 cm, selanjutnya lubang larikan ditutup dengan tanah atau pupuk kandang yang sudah matang. Bila lahan dalam kondisi kering (sulit untuk dilarik) atau tidak gembur (cara TOT),  alat bantu sebaiknya dengan caplakan/garu dengan titik paku yang cukup besar yang dapat membentuk garis lurus pada permukaan tanah. Sama seperti alat caplakan, alat ini hanya menbuat garis pada permukaan tanah dengan jarak 20 cm dan 30 cm secara berselang seling. Selanjutnya dapat dilakukan penugalan pada garis yang sudah terbentuk dari alat bantu tersebut dengan jarak antar lubang atau antar titik 10-15 cm.

 

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1372
Hari kemarin2644
Minggu ini6334
Bulan ini39153
Jumlah Pengunjung957146
Online sekarang
32

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Olah Tanah dan Tanam Padi Gogo

Melalui sistim tumpangsari, masyarakat sekitar hutan dapat menarik manfaat untuk malakukan budidaya tanaman pangan sekaligus meningkatkan produksi dan penghasilannya. Pada pihak kehutanan juga terbantu dalam persiapan lahan untuk penanaman ulang dan mengurangi pengembalaan ternak liar serta kebakaran hutan.

Berdasarkan batas naungan tanaman pokok 50%, sistim tumpangsari dapat dilakukan sampai tahun ketiga untuk peremajaan tanaman karet dan tahun keempat untuk kelapa sawit. Bila peremajaan perkebunan karet atau kelapa sawit dilakukan tiap 25 tahun sekali, maka potensi pelaksanaan sistim tumpangsari dapat mencapai sekitar 15% dari luas tanaman perkebunan.Pengolahan tanah sebaiknya di-lakukan 2 kali, pengolahan tanah pertama dilakukan pada musim kemarau atau setelah terjadi hujan pertama yang dapat melembabkan tanah dan yang kedua saat menjelang tanam. Cara pengolahan tanah dapat dengan dicangkul atau menggunakan ternak secara disingkal. Selanjutnya lahan dibiarkan atau dikelantang. Bila curah hujan sudah turun kontinyu dan memungkinkan untuk tanam, lahan segera diolah lagi untuk menghaluskan bongkahan tanah sambil meratakan sampai siap tanam.

Bila kondisi lahan berlereng sampai bergelombang, setelah pengolahan tanah pertama perlu dilakukan pembuatan teras gulud untuk mengurangi terjadinya erosi tanah yang berlebihan. Pada guludan dapat juga untuk menumpuk bebatuan bila ada, tetapi sebaiknya diusahakan untuk menanam tanaman penguat teras berupa rumput unggul yang secara periodik dapat dipangkas untuk pakan ternak. Penanaman rumput pakan di guludan, bisa dikombinasikan dengan tanaman legum pohon yang juga dapat dipangkas secara periodik untuk menambah kualitas pakan ternak.

Pada lahan yang terbuka yang relatif datar perlu dibuat bedengan, dengan lebar bedengan sekitar 6 meter. Antar bedengan dibuat saluran sedalam 20 cm yang dapat berfungsi sebagai saluran drainase. Pembuatan saluran drainase sangat perlu, karena bila terjadi hujan berkepanjangan pada beberapa tempat akan terjadi genangan dan akan meningkatkan kelembaban tanah. Kelembaban tanah yang tinggi dapat merangsang munculnya jamur upas yang dapat menyerang perakaran  tanaman padi gogo.

Sebaiknya petani menanam lebih dari 3 (tiga) varietas padi gogo dan setiap varietas ditanam pada bedengan atau calon lorong yang berbeda. Bila akan menggunakan 3 varietas padi gogo, lorong pertama ditanam varietas A, lorong kedua varietas B dan lorong ketiga varietas C.

Selanjutnya untuk lorong ke empat kembali menanam varietas A, lorong ke lima varietas B dan lorong ke enam varietas C. Begitu seterusnya akan  terjadi pengaturan varietas yang berbeda untuk setiap lorongnya. Pertanaman padi gogo dengan sistim mozaik varietas akan mengurangi terjadinya serangan hama dan penyakit terutama penyakit blas.

Kegiatan tanam baru dapat dilakukan, bila curah hujan sudah cukup stabil atau mencapai sekitar 60 mm tiap 10 hari (dekade). Keadaan ini dicapai pada sekitar akhir bulan Oktober sampai akhir Nopember (kasus Pulau Jawa dan Lampung). Pertanda lain yang biasanya menjadi patokan awal tanam padi gogo adalah: bila sudah ada penerbangan binatang laron (siraru atau imago rayap), pohon bambu sudah mulai bertunas, tumbuhan gadung sudah mulai keluar bunga pada sulurnya, atau tanda-tanda lain yang biasa digunakan petani sebagai patokan awal tanam.

Pada beberapa lokasi juga ada petani yang menanam padi gogo dengan sistim awu-awu, dimana benih padi gogo ditanam pada kondisi tanah masih kering. Cara tanamnya menggunakan alat bantu tugal. Benih ditanam sekitar 5 cm (cukup dalam untuk menghindari gangguan binatang semut, burung, dll), kemudian ditutup dengan tanah dan dibiarkan seperti menyimpan benih didalam tanah. Bila curah hujan turun kontinyu benih padi akan tumbuh dan tumbuhnya benih lebih dahulu dibanding benih gulma atau relatif bersamaan. Keuntungan cara tanam ini, adalah persaingan dengan gulma lebih ringan dibanding cara tanam biasa yang baru tanam setelah hujan turun kontinyu dimana benih gulma sudah tumbuh duluan dari benih padi yang tanam belakangan tumbuh belakangan. Kelebihan lain cara tanam awu-awu areal tanam relatif bisa lebih luas, karena kegiatan tanam seperti dicicil dan tidak diburu waktu (cukup menggunakan tenaga keluarga).

Penanaman sebaiknya menggunakan sistem tanam jajar legowo dengan jarak {(20 x 10) x 30} cm, 4-5 butir/rumpun. Berdasarkan cara tanam ini, populasi tanaman akan mencapai sekitar 400 000 rumpun/ha. Pelaksanaan dibantu dengan alat semacam caplakan untuk padi sawah. Alat tersebut mempunyai 4 (empat) titik/mata yang berjarak 20 cm dan 30 cm dan ditambah 2 titik paku yang berjarak 15 cm dari titik/mata caplakan paling pinggir. Ketinggian titik/mata caplakan sekitar 6-7 cm, dengan ketinggian tersebut pada saat operasional pengunaan alat  akan membentuk 4 (empat) larikan dengan kedalaman sekitar 4-5 cm dan 2 garis paling pinggir sebagai panduan untuk operasional alat selanjutnya.

Setelah terbentuk larikan dengan jarak antar larikan 20 dan 30 cm dengan kedalaman sekitar 4-5 cm, selanjutnya benih ditanam pada larikan tersebut dengan jarak antar titik 10 cm sebanyak 4-5 butir/titik. Selesai tanam benih, larikan yang sudah berisi benih ditutup lagi dengan tanah yang terkuak pada saat dilarik. Bila pada saat menjelang tanam kondisi tanah dalam keadaan kering, alat larikan tersebut tidak dapat membuat larikan yang cukup dalam, maka perlu dibantu dengan alat tugal pada larikan  tersebut selanjutnya lubang yang telah diisi benih 4-5 butir ditutup dengan tanah. Setelah tumbuh, cara tanam tersebut akan membentuk jajar legowo {(20 x 10) x 30} cm, atau populasi mencapai sekitar 400 000 rumpun/ha. Bila keadaan lahan tidak datar atau sedikit berlereng, sebaiknya pengaturan barisan tanaman harus memotong lereng, agar bila ada hujan yang relatif tinggi dapat mengurangi terjadinya aliran permukaan atau mengurangi erosi. Keuntungan cara tanam jajar legowo adalah lebih mudah dalam pemeliharaan tanaman terutama untuk kegiatan penyiangan dan pemupukan secara larikan (pupuk dasar dan pupuk susulan pertama).

Pada umumnya petani tradisional menanam padi gogo tanpa menggunakan jarak tanam yang teratur. Setelah tumbuh akan menyulitkan dalam pengendalian gulma dan pemupukan menjadi tidak efisien karena hanya dapat dilakukan dengan cara disebar.

Alat caplakan sederhana yang dibuat sedemikian rupa bila dioperasionalkan akan membuat garis atau larikan dengan lebar antar garis atau larikan 30 cm dan 20 cm (Gambar 6 dan Gambar 7). Pada garisan yang terbentuk dapat dijadikan panduan untuk penugalan benih dengan antar titik tugal 10-15 cm yang penting akan terbentuk barisan lurus dengan antar barisan 20 dan 30 cm.

Cara tanam  padi gogo yang aman adalah dengan sistem tugal, karena benih dapat berada pada kedalaman 2-3 cm dan pada kelembaban tanah yang cukup setelah lubang tugalan ditimbun.  Tanam tugal dilakukan untuk mengantisipasi curah hujan yang tidak menentu.  Pada daerah-daerah yang curah hujannya dapat diramalkan tetap, maka tanam padi gogo dapat dilakukan dengan sistim larikan.  Kedalaman larikan hanya 2-3 cm saja, namun benih yang ditanamkan akan cepat tumbuh karena hujannya relatif tetap dan hari hujan merata.

Pengaturanjarak tanam yang penting dapat membentuk barisan tanaman yang lurus untuk mempermudah pemeliharaan (penyiangan, penyemprotan dan pemupukan). Sistim tanam sebaiknya menggunakan sistim tanam jajar legowo 2 : 1 atau dengan jarak tanam {(20 x 10) x 30} cm, 4-5 butir/lubang. Cara pengaturan jarak tanam demikian dapat dengan bantuan alat tanam seperti garu  atau caplakan yang akan membentuk larikan yang berjarak antar larikan 20 cm dan 30 cm secara berselang (Gambar 6). Bila lubang larikan sudah terbentuk (dengan kedalaman 2 – 3 cm) benih segera ditanam dengan jarak antar titik 10 – 15 cm, selanjutnya lubang larikan ditutup dengan tanah atau pupuk kandang yang sudah matang. Bila lahan dalam kondisi kering (sulit untuk dilarik) atau tidak gembur (cara TOT),  alat bantu sebaiknya dengan caplakan/garu dengan titik paku yang cukup besar yang dapat membentuk garis lurus pada permukaan tanah. Sama seperti alat caplakan, alat ini hanya menbuat garis pada permukaan tanah dengan jarak 20 cm dan 30 cm secara berselang seling. Selanjutnya dapat dilakukan penugalan pada garis yang sudah terbentuk dari alat bantu tersebut dengan jarak antar lubang atau antar titik 10-15 cm.

 

 

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi