Varietas Inpari 34 dan 35 Salin Agritan Toleran Salinitas

Salinitas merupakan masalah utama di daerah sentra produksi padi daerah pesisir pantai, terutama lahan sawah yang mendapat pengaruh pasang surut air laut atau mendapat pengaruh intrusi air laut. Cekaman salinitas sering terjadi pada akhir musim kemarau awal musim hujan, dimana air hujan belum mencukupi untuk mencuci pengaruh akumulasi garam. Pada lahan cekaman, biasanya petani menanam bibit dengan umur yang lebih tua (>30hss) dan melakukan beberapa kali tanam ulang. Alasan menggunakan bibit bibit dengan umur lebih tua dikarenakan bibit tua relatif lebih toleran terhadap cekaman salinitas.

Pada tahun 2014 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melepas varieats toleran salinitas yaitu varietas Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan.. Rata-rata hasil kedua varietas ini pada uji multilokasi sekitar 5,1 t/ha dan 5,3 t/ha, dan potensi hasil mencapai 8,1 t/ha dan 8,3 t/ha, dengan umur panen sekitar 105-110 hss. Selain toleran salinitas, varietas Inpari 34 juga agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, sedangkan Inpari 35 agak tahan terhadap WBC biotipe 1.

Kedua varietas ini memiliki rendeman beras giling tinggi yaitu sekitar 70% dan 71%, dan rendemen beras kepala sekitar 89 dan 91%. Bentuk gabah ramping, warna beras sosoh masing-masing bening dan putih  dengan tekstur nasi agak pera, kandungan amylose sekitar 23% dan 24%.

Inpari 34 dan 35 Salin Agritan  diintroduksi dari IRRI dengan nama galur IR78788-B-B-10-1-2-4-AJY1 sementara itu untuk  Inpari 35  dengan nama galur  CSR90-IR-2. Varietas tersebut toleran salinitas sampai tingkat cekaman 12 dsm-1  sampai 10-14 hari masa cekaman, artinya walaupun merupakan varietas toleran, pencucian garam di sekitar perakaran atau pengairan dengan air tawar harus tetap dilakukan agar tanaman dapat tetap memberikan hasil panen yang tinggi. Penanaman varietas toleran harus dipadukan dengan pengelolaan lahan yang tepat agar memberikan hasil yang optimal. Saat ini petani mengatasi masalah cekamanan salinitas menggunakan kedua varietas tersebut. (Nfs/Shr)

(Pemulia: Nafisah, Aris Hairmansis, Priatna Sasmita dan Cucu Gunarsih)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini246
Hari kemarin1841
Minggu ini246
Bulan ini48426
Jumlah Pengunjung966419
Online sekarang
22

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Varietas Inpari 34 dan 35 Salin Agritan Toleran Salinitas

Salinitas merupakan masalah utama di daerah sentra produksi padi daerah pesisir pantai, terutama lahan sawah yang mendapat pengaruh pasang surut air laut atau mendapat pengaruh intrusi air laut. Cekaman salinitas sering terjadi pada akhir musim kemarau awal musim hujan, dimana air hujan belum mencukupi untuk mencuci pengaruh akumulasi garam. Pada lahan cekaman, biasanya petani menanam bibit dengan umur yang lebih tua (>30hss) dan melakukan beberapa kali tanam ulang. Alasan menggunakan bibit bibit dengan umur lebih tua dikarenakan bibit tua relatif lebih toleran terhadap cekaman salinitas.

Pada tahun 2014 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melepas varieats toleran salinitas yaitu varietas Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan.. Rata-rata hasil kedua varietas ini pada uji multilokasi sekitar 5,1 t/ha dan 5,3 t/ha, dan potensi hasil mencapai 8,1 t/ha dan 8,3 t/ha, dengan umur panen sekitar 105-110 hss. Selain toleran salinitas, varietas Inpari 34 juga agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, sedangkan Inpari 35 agak tahan terhadap WBC biotipe 1.

Kedua varietas ini memiliki rendeman beras giling tinggi yaitu sekitar 70% dan 71%, dan rendemen beras kepala sekitar 89 dan 91%. Bentuk gabah ramping, warna beras sosoh masing-masing bening dan putih  dengan tekstur nasi agak pera, kandungan amylose sekitar 23% dan 24%.

Inpari 34 dan 35 Salin Agritan  diintroduksi dari IRRI dengan nama galur IR78788-B-B-10-1-2-4-AJY1 sementara itu untuk  Inpari 35  dengan nama galur  CSR90-IR-2. Varietas tersebut toleran salinitas sampai tingkat cekaman 12 dsm-1  sampai 10-14 hari masa cekaman, artinya walaupun merupakan varietas toleran, pencucian garam di sekitar perakaran atau pengairan dengan air tawar harus tetap dilakukan agar tanaman dapat tetap memberikan hasil panen yang tinggi. Penanaman varietas toleran harus dipadukan dengan pengelolaan lahan yang tepat agar memberikan hasil yang optimal. Saat ini petani mengatasi masalah cekamanan salinitas menggunakan kedua varietas tersebut. (Nfs/Shr)

(Pemulia: Nafisah, Aris Hairmansis, Priatna Sasmita dan Cucu Gunarsih)

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi