Pengembangan Lahan Rawa Perlu Strategi Tepat

Lahan rawa kini menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk perluasan areal tanam. Harus diakui, selama ini lahan rawa belum mendapat perhatian serius untuk mendukung peningkatan produksi pangan.

Padahal jika lahan rawa yang dikelola secara tepat, maka dapat menjadi salah satu sumberdaya yang berpotensi besar meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani. Catatan Kementerian Pertanian, dari 25 juta hektar (ha) luas lahan rawa lebak di Indonesia, baru sebagian kecil yang dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutnya sebagai raksasa yang tengah tertidur. Lahan rawa lebak yang diolah dengan baik bisa menjadi lahan pertanian produktif yang menambah pasokan pangan nasional.

Lahan rawa lebak yang sedang digencarkan Kementerian Pertanian diantaranya ada di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Dengan bantuan ekskavator dan pompa gratis, lahan tersebut terbukti produktif, bahkan indeks pertanamannya bisa tiga kali dalam setahun.

Memaksimalkan rawa lebak memang perlu strategi dan penerapan teknologi yang tepat guna. Konsep mini polder diyakini dapat mengatasi kendala utama pengembangan usaha tani lahan rawa lebak, seperti banjir pada musim hujan saat fluktuasi air sangat sulit diperkirakan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertainian, Dedi Nursyamsi saat melakukan temu lapang dengan kelompok tani Desa Habuku Raya, Kabupaten Hulu Sungai Utara, beberapa waktu lalu mengungkapkan, konsep mini polder terbukti meningkatkan indeks pertanaman lahan sawah di rawa lebak dari tanam sekali menjadi dua kali dalam setahun.

Konsep mini polder merupakan pembagian polder besar (di atas 1000 ha) menjadi polder yang lebih kecil (50-100 ha). Tujuannya agar pengelolaan air lebih mudah dan biaya perawatan lebih murah. Kendala kelebihan air di musim hujan yang biasanya menggenangi lahan sawah bisa dipompa keluar sehingga lahan bisa ditanami.

Tata Air dan Kesuburan Lahan

Peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Yanti Rina menjelaskan, masalah utama dalam pemanfaatan lahan rawa lebak adalah tata air dan kesuburan lahan. Karena itu, fokus Kementerian Pertanian pada kegiatan agronomi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan, selain pengendalian tata air adalah pola tanam dan penggunaan varietas unggul yang adaptif.

“Varietas Mekongga dan Ciherang apabila diikuti dengan ketepatan waktu tanam mampu akan menghasilkan 4,9-5,5 ton gabah kering giling/ha dengan nilai keuntungan mencapai Rp 14 juta/ha,“ kata Rina.

Rina mengatakan, hasil kajiannya pada lahan rawa lebak di tiga desa Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan menunjukkan petani di lahan rawa lebak umumnya memiliki beberapa pola usaha tani yang menguntungkan. “Pola usaha tani yang dilakukan di rawa lebak tidak hanya produksi padi sawah, tetapi juga semakin menguntungkan dengan memelihara ikan dan beternak itik,” ungkapnya.

Rina yakin tiga usaha tani bepotensi memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani. Dari usaha tani ternak itik dan pemeliharaan ikan, petani mampu mengantongi keuntungan antara Rp 2-6 juta/bulan. Itik yang diternak biasanya merupakan itik jenis alabio yang merupakan itik lokal dengan keunggulan sebagai itik petelur.

Sementara itu Peneliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Indrastuti A. Rumanti menyebutkan, kendala lain dalam pengembangan lahan rawa adalah ancaman penyakit blast. “Varietas unggul padi yang toleran terhadap genangan, serta toleran terhadap penyakit blast dapat menjadi salah satu komponen teknologi penting dan murah untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa,” ungkap Indras.

Indras menjelaskan, ada beberapa varietas unggul baru yang dapat mengatasi penyakit blast dan tahan terhadap genangan. Varietas yang adaptif terhadap genangan memiliki produktivitas 6-9,5 ton/ha. Bahkan ada petani di Cilacap yang produktivitasnya mencapai 10 ton/ha di lahan lebakan.

Varietas tersebut toleran terhadap rendaman selama 6-14 hari pada fase vegetatif. Bahkan dapat bertahan hidup dalam kondisi tenggelam hingga 14 hari berturut-turut. Inpara 3 dan Inpara 8 Agritan misalnya memiliki sifat istimewa, yakni mampu memanjangkan tinggi tanamannya mengikuti tinggi muka air, sehingga dapat bertahan pada kondisi genangan (stagnant flooding) antara 60-80 cm hingga fase generatif.

Indras mengaku telah memperkenalkan berbagai varietas diatas melalui demontration plot (demplot) yang bertujuan untuk mengetahui preferensi petani, pedagang benih/beras dan pengusaha penggilingan. Demplot juga berfungsi sebagai upaya seleksi varietas.

“Melalui demplot, pemulia padi akan mendapatkan umpan balik guna memperbaiki kekurangan varietas yang dikenalkan, varietas yang terpilih diharapkan dapat diterima dan diadopsi oleh petani lebak, sekaligus dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di lahan lebak,” kata tutup Indras. Yul/Ditjen PSP

Sumber: Tabloid Sinartani.com

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2018
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 1
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 2

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Keunggulan Varietas Tarabas
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini688
Hari kemarin2387
Minggu ini5368
Bulan ini37140
Jumlah Pengunjung1747143
Online sekarang
39

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Pengembangan Lahan Rawa Perlu Strategi Tepat

Lahan rawa kini menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk perluasan areal tanam. Harus diakui, selama ini lahan rawa belum mendapat perhatian serius untuk mendukung peningkatan produksi pangan.

Padahal jika lahan rawa yang dikelola secara tepat, maka dapat menjadi salah satu sumberdaya yang berpotensi besar meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani. Catatan Kementerian Pertanian, dari 25 juta hektar (ha) luas lahan rawa lebak di Indonesia, baru sebagian kecil yang dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutnya sebagai raksasa yang tengah tertidur. Lahan rawa lebak yang diolah dengan baik bisa menjadi lahan pertanian produktif yang menambah pasokan pangan nasional.

Lahan rawa lebak yang sedang digencarkan Kementerian Pertanian diantaranya ada di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Dengan bantuan ekskavator dan pompa gratis, lahan tersebut terbukti produktif, bahkan indeks pertanamannya bisa tiga kali dalam setahun.

Memaksimalkan rawa lebak memang perlu strategi dan penerapan teknologi yang tepat guna. Konsep mini polder diyakini dapat mengatasi kendala utama pengembangan usaha tani lahan rawa lebak, seperti banjir pada musim hujan saat fluktuasi air sangat sulit diperkirakan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertainian, Dedi Nursyamsi saat melakukan temu lapang dengan kelompok tani Desa Habuku Raya, Kabupaten Hulu Sungai Utara, beberapa waktu lalu mengungkapkan, konsep mini polder terbukti meningkatkan indeks pertanaman lahan sawah di rawa lebak dari tanam sekali menjadi dua kali dalam setahun.

Konsep mini polder merupakan pembagian polder besar (di atas 1000 ha) menjadi polder yang lebih kecil (50-100 ha). Tujuannya agar pengelolaan air lebih mudah dan biaya perawatan lebih murah. Kendala kelebihan air di musim hujan yang biasanya menggenangi lahan sawah bisa dipompa keluar sehingga lahan bisa ditanami.

Tata Air dan Kesuburan Lahan

Peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Yanti Rina menjelaskan, masalah utama dalam pemanfaatan lahan rawa lebak adalah tata air dan kesuburan lahan. Karena itu, fokus Kementerian Pertanian pada kegiatan agronomi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan, selain pengendalian tata air adalah pola tanam dan penggunaan varietas unggul yang adaptif.

“Varietas Mekongga dan Ciherang apabila diikuti dengan ketepatan waktu tanam mampu akan menghasilkan 4,9-5,5 ton gabah kering giling/ha dengan nilai keuntungan mencapai Rp 14 juta/ha,“ kata Rina.

Rina mengatakan, hasil kajiannya pada lahan rawa lebak di tiga desa Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan menunjukkan petani di lahan rawa lebak umumnya memiliki beberapa pola usaha tani yang menguntungkan. “Pola usaha tani yang dilakukan di rawa lebak tidak hanya produksi padi sawah, tetapi juga semakin menguntungkan dengan memelihara ikan dan beternak itik,” ungkapnya.

Rina yakin tiga usaha tani bepotensi memberikan keuntungan yang cukup besar bagi petani. Dari usaha tani ternak itik dan pemeliharaan ikan, petani mampu mengantongi keuntungan antara Rp 2-6 juta/bulan. Itik yang diternak biasanya merupakan itik jenis alabio yang merupakan itik lokal dengan keunggulan sebagai itik petelur.

Sementara itu Peneliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Indrastuti A. Rumanti menyebutkan, kendala lain dalam pengembangan lahan rawa adalah ancaman penyakit blast. “Varietas unggul padi yang toleran terhadap genangan, serta toleran terhadap penyakit blast dapat menjadi salah satu komponen teknologi penting dan murah untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa,” ungkap Indras.

Indras menjelaskan, ada beberapa varietas unggul baru yang dapat mengatasi penyakit blast dan tahan terhadap genangan. Varietas yang adaptif terhadap genangan memiliki produktivitas 6-9,5 ton/ha. Bahkan ada petani di Cilacap yang produktivitasnya mencapai 10 ton/ha di lahan lebakan.

Varietas tersebut toleran terhadap rendaman selama 6-14 hari pada fase vegetatif. Bahkan dapat bertahan hidup dalam kondisi tenggelam hingga 14 hari berturut-turut. Inpara 3 dan Inpara 8 Agritan misalnya memiliki sifat istimewa, yakni mampu memanjangkan tinggi tanamannya mengikuti tinggi muka air, sehingga dapat bertahan pada kondisi genangan (stagnant flooding) antara 60-80 cm hingga fase generatif.

Indras mengaku telah memperkenalkan berbagai varietas diatas melalui demontration plot (demplot) yang bertujuan untuk mengetahui preferensi petani, pedagang benih/beras dan pengusaha penggilingan. Demplot juga berfungsi sebagai upaya seleksi varietas.

“Melalui demplot, pemulia padi akan mendapatkan umpan balik guna memperbaiki kekurangan varietas yang dikenalkan, varietas yang terpilih diharapkan dapat diterima dan diadopsi oleh petani lebak, sekaligus dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di lahan lebak,” kata tutup Indras. Yul/Ditjen PSP

Sumber: Tabloid Sinartani.com

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi