Harapan Besar Produksi Benih F1 Hibrida di Kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing

Seperti Merapi-Merbabu, Sindoro-Sumbing adalah dua gunung yang bersebelahan. Disinilah saat ini tengah dilakukan kegiatan produksi benih F1 hibrida dengan target akan mampu menembus angka 2 t/ha dibawah kondisi tropis. 

Produksi benih padi hibrida dapat dianalogikan seperti membuat masakan tertentu yang memerlukan bahan, resep, koki, dan dapur termasuk peralatannya.  Jika kita memasak menu suatu masakan maka yang diperlukan adalah bahan seperti daging, singkong, beras atau bahan lainnya. Pada produksi benih hibrida bahan yang dimaksud adalah tetua betina (CMS) dan tetua jantan (restorer) sebagai bahan utama yang wajib  disiapkan. Logikanya bahan yang baik akan menghasilkan masakan yang baik.

Masakan memerlukan resep, dalam produksi benih hibrida resepnya adalah petunjuk  teknis (juknis) seperti perbandingan baris tetua betina dan jantan, jarak tanam, air, pupuk dan lain-lain. Seperti halnya resep, juknis ini bukan harga mati tetapi dapat dimodifikasi. Jika resep membolehkan untuk menambah garam, mengurangi air, dan lain-lain maka dalam juknis juga boleh mengubah perbandingan baris, jarak tanam dan lain lain.

Koki yang pandai akan bisa meracik bumbu dan akan menghasilkan masakan yang sedap dengan catatan bahannya baik dan resepnya benar. Dalam produksi benih hibrida koki adalah para penangkar benih yang berpengalaman dan mempunyai  jam terbang tinggi untuk dapat melakukan improvisasi.

Selain bahan, resep, dan koki, dapur maupun peralatan lain juga menentukan kualitas sebuah masakan. Dapur pada produksi benih hibrida adalah lokasi atau daerah tempat dilakukannnya proses produksi benih. Dan kali ini dapur untuk melakukan kegiatan produksi benih F1 hibrida Hipa 18 dan Hipa19 berlokasi di kaki gunung Sindoro-Sumbing atau tepatnya di Kebun Benih Sri Makarti milik Dinas Pertanian Provinsi Jateng. Disinilah dilakukan sebuah penelitian mengenai produksi benih F1 hibrida yang konon sangat sulit dilakukan di daerah tropis seperti di Indonesia.

Berawal dari kegalauan karena banyaknya laporan tentang kegagalan produksi benih F1 hibrida baik oleh swasta maupun oleh balai-balai benih induk di beberapa provinsi telah menimbulkan niat untuk membuktikan kebenaranya. Di bawah program Kerja sama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S) tahun 2017, BB Padi merancang sebuah penelitian “Peningkatan Produksi Benih F1 Hibrida (2 ton ha-1) dan Bermutu Tinggi Mendukung Pengembangan Padi Hibrida”.

Sebuah kegiatan melalui jalur KP4S dirancang untuk menjawab kegalauan tersebut. Kegiatan ini dimulai di tahun 2016 yang telah mendapatkan perbandingan barisan antara tetua betina dan tetua jantan 14 : 2 sebagai perbandingan yang terbaik, jarak tanam 20 x 20 cm sebagai jarak tanam terbaik, dan konsentrasi GA3 320 ppm sebagai konsentrasi GA3 terbaik berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di tiga lokasi yaitu Sukamandi, Ungaran, dan Malang.

Kesimpulan sementara tersebut kemudian dikombinasikan dengan dosis pemupukan yang kemudian dikonfirmasi di tahun 2017 di tiga lokasi lagi yaitu Sukamandi, Narmada-Lombok, dan Paberasan-Cilacap-Jateng. Percobaan di Sukamandi telah selesai dan mampu membuktikan bahwa di Sukamandi yang notabene sebetulnya bukan lokasi yang baik untuk produksi benih produksi benih Hipa18  tetapi mampu menghasilkan benih F1 di atas 2 t/ha.

Pada dua lokasi yang lain fase pertanaman masih pada stadia berbunga atau stadia yang paling tepat untuk melakukan pemberian larutan GA3  dengan  tujuan membantu keserempakan berbunga dan meningkatkan eksersi malai sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil benih F1  dari varietas yang benihnya diproduksi.

Minggu (22/10/2017) bertepatan dengan hari Santri Nasional, cuaca dilokasi pertanaman terlihat cerah, tim telah melakukan monitoring sekaligus pengaplikasian GA3 pada pertanaman produksi benih Hipa 18 dan Hipa 19.  Aplikasi ini sangat penting untuk membantu sinkronisasi pembungaan untuk kedua tetua, sehingga mendukung pencapaian hasil gabah yang optimal juga seleksi tanaman campuran sehingga benih yang dipanen diharapkan mempunyai kemurnian yang tinggi.

Melalui teknologi budidaya yang optimal, optimis di kaki Gunung Sindoro-Sumbing ini akan menjadi saksi tercapainya hasil 2 ton/ha dari produksi benih padi hibrida.  Dari kegiatan pemuliaan, bahan yang baik seperti CMS dengan tingkat persilangan alami yang tinggi telah ddapatkan, dan dari kegiatan ini diharapkan akan didapat resep yang baik dan juga koki yang handal serta sebuah dapur yang baik sehingga bisa menyajikan menu-menu yang enak dan sebuah rumah makan yang megah yaitu Industri Benih Padi Hibrida Nasional diharapkan akan segera dapat dibangun. Semoga……. (Sto/YW/BPW/Shr)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1480
Hari kemarin1567
Minggu ini3047
Bulan ini42663
Jumlah Pengunjung1028873
Online sekarang
30

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Harapan Besar Produksi Benih F1 Hibrida di Kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing

Seperti Merapi-Merbabu, Sindoro-Sumbing adalah dua gunung yang bersebelahan. Disinilah saat ini tengah dilakukan kegiatan produksi benih F1 hibrida dengan target akan mampu menembus angka 2 t/ha dibawah kondisi tropis. 

Produksi benih padi hibrida dapat dianalogikan seperti membuat masakan tertentu yang memerlukan bahan, resep, koki, dan dapur termasuk peralatannya.  Jika kita memasak menu suatu masakan maka yang diperlukan adalah bahan seperti daging, singkong, beras atau bahan lainnya. Pada produksi benih hibrida bahan yang dimaksud adalah tetua betina (CMS) dan tetua jantan (restorer) sebagai bahan utama yang wajib  disiapkan. Logikanya bahan yang baik akan menghasilkan masakan yang baik.

Masakan memerlukan resep, dalam produksi benih hibrida resepnya adalah petunjuk  teknis (juknis) seperti perbandingan baris tetua betina dan jantan, jarak tanam, air, pupuk dan lain-lain. Seperti halnya resep, juknis ini bukan harga mati tetapi dapat dimodifikasi. Jika resep membolehkan untuk menambah garam, mengurangi air, dan lain-lain maka dalam juknis juga boleh mengubah perbandingan baris, jarak tanam dan lain lain.

Koki yang pandai akan bisa meracik bumbu dan akan menghasilkan masakan yang sedap dengan catatan bahannya baik dan resepnya benar. Dalam produksi benih hibrida koki adalah para penangkar benih yang berpengalaman dan mempunyai  jam terbang tinggi untuk dapat melakukan improvisasi.

Selain bahan, resep, dan koki, dapur maupun peralatan lain juga menentukan kualitas sebuah masakan. Dapur pada produksi benih hibrida adalah lokasi atau daerah tempat dilakukannnya proses produksi benih. Dan kali ini dapur untuk melakukan kegiatan produksi benih F1 hibrida Hipa 18 dan Hipa19 berlokasi di kaki gunung Sindoro-Sumbing atau tepatnya di Kebun Benih Sri Makarti milik Dinas Pertanian Provinsi Jateng. Disinilah dilakukan sebuah penelitian mengenai produksi benih F1 hibrida yang konon sangat sulit dilakukan di daerah tropis seperti di Indonesia.

Berawal dari kegalauan karena banyaknya laporan tentang kegagalan produksi benih F1 hibrida baik oleh swasta maupun oleh balai-balai benih induk di beberapa provinsi telah menimbulkan niat untuk membuktikan kebenaranya. Di bawah program Kerja sama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S) tahun 2017, BB Padi merancang sebuah penelitian “Peningkatan Produksi Benih F1 Hibrida (2 ton ha-1) dan Bermutu Tinggi Mendukung Pengembangan Padi Hibrida”.

Sebuah kegiatan melalui jalur KP4S dirancang untuk menjawab kegalauan tersebut. Kegiatan ini dimulai di tahun 2016 yang telah mendapatkan perbandingan barisan antara tetua betina dan tetua jantan 14 : 2 sebagai perbandingan yang terbaik, jarak tanam 20 x 20 cm sebagai jarak tanam terbaik, dan konsentrasi GA3 320 ppm sebagai konsentrasi GA3 terbaik berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di tiga lokasi yaitu Sukamandi, Ungaran, dan Malang.

Kesimpulan sementara tersebut kemudian dikombinasikan dengan dosis pemupukan yang kemudian dikonfirmasi di tahun 2017 di tiga lokasi lagi yaitu Sukamandi, Narmada-Lombok, dan Paberasan-Cilacap-Jateng. Percobaan di Sukamandi telah selesai dan mampu membuktikan bahwa di Sukamandi yang notabene sebetulnya bukan lokasi yang baik untuk produksi benih produksi benih Hipa18  tetapi mampu menghasilkan benih F1 di atas 2 t/ha.

Pada dua lokasi yang lain fase pertanaman masih pada stadia berbunga atau stadia yang paling tepat untuk melakukan pemberian larutan GA3  dengan  tujuan membantu keserempakan berbunga dan meningkatkan eksersi malai sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil benih F1  dari varietas yang benihnya diproduksi.

Minggu (22/10/2017) bertepatan dengan hari Santri Nasional, cuaca dilokasi pertanaman terlihat cerah, tim telah melakukan monitoring sekaligus pengaplikasian GA3 pada pertanaman produksi benih Hipa 18 dan Hipa 19.  Aplikasi ini sangat penting untuk membantu sinkronisasi pembungaan untuk kedua tetua, sehingga mendukung pencapaian hasil gabah yang optimal juga seleksi tanaman campuran sehingga benih yang dipanen diharapkan mempunyai kemurnian yang tinggi.

Melalui teknologi budidaya yang optimal, optimis di kaki Gunung Sindoro-Sumbing ini akan menjadi saksi tercapainya hasil 2 ton/ha dari produksi benih padi hibrida.  Dari kegiatan pemuliaan, bahan yang baik seperti CMS dengan tingkat persilangan alami yang tinggi telah ddapatkan, dan dari kegiatan ini diharapkan akan didapat resep yang baik dan juga koki yang handal serta sebuah dapur yang baik sehingga bisa menyajikan menu-menu yang enak dan sebuah rumah makan yang megah yaitu Industri Benih Padi Hibrida Nasional diharapkan akan segera dapat dibangun. Semoga……. (Sto/YW/BPW/Shr)

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi