Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Beras yang beredar dipasaran paada umumnya berupa beras sosoh sempurna (100%) atau beras regular dengan variasi derajat sosoh (pengupasaan kulit ari hingga 80-95%), bentuk dan penampilan beras merupakan karakteristik pertama yang diamati oleh konsumen ketika memilih dan membeli beras. Kenampakan beras lebih banyak dipengarui oleh operasional proses penggilingan yang merupakaan gabungan antara jenis/varietas dan kemampuan mesin, keahlian operator dan mutu gabah kering yang digiling. 

Ketika padi di panen kemudian masuk ketahap perontokan, dihasilkan gabah kering panen (GKP). Setelah menjadi gabah kering giling (GKG), proses penggilingan pertama menghasilkan beras pecah kulit (BPK ) dan sekam. Beras Pecah Kulit mengandung energi 335 Kkal, protein 7,4 gr, karbohidrat 76,2 gr, lemak 1,9 gr, kalsium 12 mgr, fosfor 290 mgr dan zat besi 2 mgr. Selain itu didalam Beras Pecah Kulit terkandung vitamin B1 0,32 mgr.

SNI 6128-2015 mensyaratkan kelas mutu beras medium I mengandung beras kepala minimal 78% dan beras patah maksimal 20% dengan derajat sosoh 95% dan kadar air beras maksimal 14%. Semakin turun kelas mutu beras ke medium II dan medium III, maka semkin turun pula pesyaratan persentasi beras kepala dan derajat sosoh. Beras mutu terbaik menurut SNI ditentukan oleh kandungan beras kepala sebesar minimal 95% dan beras patah maksial 5% dengan derajat sosoh 100% dan kadar air maksimal 14%.

Beras premium dipasaran harganya mahal dengan kandungan gizi lebih rendah dari beras medium. Beras medium dengan rendemen bisa mencapai 63% dan kaya gizi terutama serat, juga makin tinggi derajat sosoh, makin rendah kadar mineral dan vitamin pada beras. Beras sosoh sempurna mungkin hanya cocok untuk beras putih seperti Ciherang, Mekongga dan Inpari 30 dan varietas lainnya, kecuali beras berpigmen seperti beras merah Aek Sibundong, Inpari 24, Inpago 7 dan Inpara 7 serta beras hitam, lebih baik dikonsumsi dalam bentuk beras pecah kulit (BPK) degan waktu proses penyosohan singkat sekitar (30-60 detik), karena semakin lama penyosohan semakin pudar warna merah beras, padahal kadar pigmen antosianin/antioksidan secara kasar bisa dilihat dari warna merah butir berasnya.

            Dicermati dari karakternya sebetulnya beras medium yang lebih murah dari premium  ini, lebih bergizi dan seyogyanya menjadi pilihan cerdas bagi konsumen yang menghendaki beras ekonomis dan bergizi tinggi untuk kesehatan. Dengan mengenal lebih baik karakter beras, konsumen dapat memilih beras dipasar yang terpaku pada kualitas premium yang terbatas dan relatif mahal, tetapi mulai melirik beras medium bahkan beras pecah kulit untuk tipe beras fungsional berpigmen (beras merah, beras hitam) dan beras  berindeks  glikemik rendah dengan sebaran pasar saat ini masih terbatas. Produksi beras medium lebih terbuka untuk dilakukan diberbagai tingkat penggilingan padi mulai dari penggilingan padi kecil (PPK) yang ada ditingkat petani atau kelompok tani hingga penggilingan besar (PPB), sehingga mayoritas penggilingan padi yang ada di Indonesia (85-90%) adalah PPK dapat berperan lebih besar sebagai produsen beras medium dan langsung memasarkan produknya  tanpa harus melalui rantai yang lebih panjang dan hal ini akan berdampak pada meningkatnya semangat petani/kelompok untuk mengelola langsung hasil panenya menjadi beras medium.(RR)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1485
Hari kemarin1567
Minggu ini3052
Bulan ini42668
Jumlah Pengunjung1028878
Online sekarang
33

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Beras yang beredar dipasaran paada umumnya berupa beras sosoh sempurna (100%) atau beras regular dengan variasi derajat sosoh (pengupasaan kulit ari hingga 80-95%), bentuk dan penampilan beras merupakan karakteristik pertama yang diamati oleh konsumen ketika memilih dan membeli beras. Kenampakan beras lebih banyak dipengarui oleh operasional proses penggilingan yang merupakaan gabungan antara jenis/varietas dan kemampuan mesin, keahlian operator dan mutu gabah kering yang digiling. 

Ketika padi di panen kemudian masuk ketahap perontokan, dihasilkan gabah kering panen (GKP). Setelah menjadi gabah kering giling (GKG), proses penggilingan pertama menghasilkan beras pecah kulit (BPK ) dan sekam. Beras Pecah Kulit mengandung energi 335 Kkal, protein 7,4 gr, karbohidrat 76,2 gr, lemak 1,9 gr, kalsium 12 mgr, fosfor 290 mgr dan zat besi 2 mgr. Selain itu didalam Beras Pecah Kulit terkandung vitamin B1 0,32 mgr.

SNI 6128-2015 mensyaratkan kelas mutu beras medium I mengandung beras kepala minimal 78% dan beras patah maksimal 20% dengan derajat sosoh 95% dan kadar air beras maksimal 14%. Semakin turun kelas mutu beras ke medium II dan medium III, maka semkin turun pula pesyaratan persentasi beras kepala dan derajat sosoh. Beras mutu terbaik menurut SNI ditentukan oleh kandungan beras kepala sebesar minimal 95% dan beras patah maksial 5% dengan derajat sosoh 100% dan kadar air maksimal 14%.

Beras premium dipasaran harganya mahal dengan kandungan gizi lebih rendah dari beras medium. Beras medium dengan rendemen bisa mencapai 63% dan kaya gizi terutama serat, juga makin tinggi derajat sosoh, makin rendah kadar mineral dan vitamin pada beras. Beras sosoh sempurna mungkin hanya cocok untuk beras putih seperti Ciherang, Mekongga dan Inpari 30 dan varietas lainnya, kecuali beras berpigmen seperti beras merah Aek Sibundong, Inpari 24, Inpago 7 dan Inpara 7 serta beras hitam, lebih baik dikonsumsi dalam bentuk beras pecah kulit (BPK) degan waktu proses penyosohan singkat sekitar (30-60 detik), karena semakin lama penyosohan semakin pudar warna merah beras, padahal kadar pigmen antosianin/antioksidan secara kasar bisa dilihat dari warna merah butir berasnya.

            Dicermati dari karakternya sebetulnya beras medium yang lebih murah dari premium  ini, lebih bergizi dan seyogyanya menjadi pilihan cerdas bagi konsumen yang menghendaki beras ekonomis dan bergizi tinggi untuk kesehatan. Dengan mengenal lebih baik karakter beras, konsumen dapat memilih beras dipasar yang terpaku pada kualitas premium yang terbatas dan relatif mahal, tetapi mulai melirik beras medium bahkan beras pecah kulit untuk tipe beras fungsional berpigmen (beras merah, beras hitam) dan beras  berindeks  glikemik rendah dengan sebaran pasar saat ini masih terbatas. Produksi beras medium lebih terbuka untuk dilakukan diberbagai tingkat penggilingan padi mulai dari penggilingan padi kecil (PPK) yang ada ditingkat petani atau kelompok tani hingga penggilingan besar (PPB), sehingga mayoritas penggilingan padi yang ada di Indonesia (85-90%) adalah PPK dapat berperan lebih besar sebagai produsen beras medium dan langsung memasarkan produknya  tanpa harus melalui rantai yang lebih panjang dan hal ini akan berdampak pada meningkatnya semangat petani/kelompok untuk mengelola langsung hasil panenya menjadi beras medium.(RR)

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi