Kenapa Kita Tidak Bersyukur?

Penggerebekan padi oleh Satgas Pangan di Bekasi perlu kita lihat dari perspektif lain. Harga jual beras dengan kualitas premium di beberapa pasar tertentu mencapai 20 ribuan per kg. Konsumen yang biasa membeli beras tersebut selama ini tidak sadar bahwa beras yang dibelinya termasuk kategori mahal. Padahal semua gabah yang diproses menjadi beras, baik yang berasal dari varietas IR 64, Ciherang, Mekongga, Inpari, varietas lokal, dan varietas lainnya mempunyai kandungan gizi utama yang relatif sama yakni lemak 0-0,6%; protein 6-9% dan karbohidrat 70-85%. Saat kita memakan beras medium dan premiun sejatinya kita memakan nasi dengan kandungan gizi utama yang sama.

Perbedan utama kedua kelas beras tersebut hanyalah pada kualitas tampilan beras (utuh dan patah), keberadaan pencemar seperti butir merah, butir kuning, dan benda asing lainnya serta derajat sosoh.

Beras dengan persentase beras kepala (butir hampir utuh hingga utuh) >95% dan derajat sosoh 100% kita sebut beras premium, sedangkan beras dengan persentase beras kepala <95% kita sebut beras medium.

Beras premium dan medium setelah dimasak akan menjadi nasi dengan tampilan yang tidak jauh berbeda karena beras kepala sudah tercampur dengan beras patah. Yang akan terlihat berbeda adalah tampilan nasi akibat perbedaan derajat sosoh serta keberadaan butir merah/kuning/rusak yang biasanya terdapat dalam jumlah yang sangat kecil.

Beras dengan derajat sosoh kurang dari 100% akan berwarna lebih gelap. Generasi terdahulu lebih menyukai nasi dari beras dengan derajat sosoh kurang dari 100%, karena pada beras tersebut masih terdapat lapisan aleuron yang banyak mengandung vitamin B.

Pada umumnya, sebagian besar konsumen menilai enak/tidaknya nasi berdasarkan pada rasa dan teksturnya. Tekstur nasi sangat dipengaruhi oleh kadar amilosa. Secara sederhana, semua varietas padi yang ditanam oleh petani, dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan tekstur dan kadar amilosanya, yaitu beras pulen (soft) dan beras pera (hard). Disebut beras pulen bila kadar amilosanya 17-25% dan beras pera bila kadar amilosanya >25%.

Hingga saat ini Kementerian Pertanian telah melepas lebih dari 200 varietas padi. Beberapa varietas unggul baru (VUB) Kementerian Pertanian ditanam hampir di 90% areal tanam padi. Beberapa varietas yang dominan adalah varietas Ciherang, Mekongga, IR64, dan INPARI. Semua VUB dominan yang ditanam petani tersebut berkategori beras pulen dengan kadar amilosa sebesar 20-25%. Jadi bisa disampaikan disini bahwa semua beras yang dihasilkan petani, 90%nya memberikan tekstur nasi yang hampir sama.

Nah..disinilah biasanya pengusaha beras berimprovisasi untuk menghasilkan beras dengan rasa dan tekstur spesial, yang berdampak pada harga yang lebih mahal..
Improvisasi pengusaha beras biasanya dilakukan dengan "blending", mencampur beberapa jenis beras yang pulen dengan yang lebih pulen sehingga diperoleh beras dengan tingkat kepulenan yang tepat.

Kenapa beras "racikan" jadi mahal? Karena proses pencampuran berasnya dengan posisi ketersedian beras yang tidak sama. Beras yang lebih pulen seperti varietas Sintanur, Cimelati, Gilirang dengan kadar amilosa 18-19% tidak banyak ditanam petani sehingga produksinya terbatas dan harga gabahnya berbeda dengan harga gabah padi VUB yang umum ditanam petani. Akan tetapi disparitas harga kedua jenis gabah padi tersebut tidak terlalu besar sekitar Rp.500.- - Rp. 1.000 per kg GKP. Selain itu teknik untuk meracik beras tersebut tidak membutuhkan teknologi yang canggih, hanya butuh keterampilan yang memadai. Beras hasil racikan memang rasa nasinya lebih baik, tapi harganya tidak harus jauh melampui harga beras "monovalen" (beras non racikan).o

Bagaimana agar dapat beras yang enak tanpa "blending" sehingga harga lebih murah? Kita harus mendapatkan beras dengan kadar amilosa seperti kadar amilosa beras "racikan". Kementerian Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru dengan kadar amilosa sebesar 18-20% yaitu varietas Inpari 2 (18.6%); Inpari 6, 18, 19 dan 24 (18%); Inpari 23 (17%); Hipa 10 (19.7 %); Hipa Jatim 1 (17%); Inpago 5 (18%); Gilirang (18,9%); Cimelati (19 %); dan Sintanur (18%).

Penggrebekan gudang beras tersebut mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu membeli beras yang sedemikian mahal agar kita bisa makan nasi yang enak. (MIW)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh &quot;Padi tumbuh subur dilahan suboptimal&quot;

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini136
Hari kemarin2143
Minggu ini4152
Bulan ini40346
Jumlah Pengunjung909623
Online sekarang
17

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Kenapa Kita Tidak Bersyukur?

Penggerebekan padi oleh Satgas Pangan di Bekasi perlu kita lihat dari perspektif lain. Harga jual beras dengan kualitas premium di beberapa pasar tertentu mencapai 20 ribuan per kg. Konsumen yang biasa membeli beras tersebut selama ini tidak sadar bahwa beras yang dibelinya termasuk kategori mahal. Padahal semua gabah yang diproses menjadi beras, baik yang berasal dari varietas IR 64, Ciherang, Mekongga, Inpari, varietas lokal, dan varietas lainnya mempunyai kandungan gizi utama yang relatif sama yakni lemak 0-0,6%; protein 6-9% dan karbohidrat 70-85%. Saat kita memakan beras medium dan premiun sejatinya kita memakan nasi dengan kandungan gizi utama yang sama.

Perbedan utama kedua kelas beras tersebut hanyalah pada kualitas tampilan beras (utuh dan patah), keberadaan pencemar seperti butir merah, butir kuning, dan benda asing lainnya serta derajat sosoh.

Beras dengan persentase beras kepala (butir hampir utuh hingga utuh) >95% dan derajat sosoh 100% kita sebut beras premium, sedangkan beras dengan persentase beras kepala <95% kita sebut beras medium.

Beras premium dan medium setelah dimasak akan menjadi nasi dengan tampilan yang tidak jauh berbeda karena beras kepala sudah tercampur dengan beras patah. Yang akan terlihat berbeda adalah tampilan nasi akibat perbedaan derajat sosoh serta keberadaan butir merah/kuning/rusak yang biasanya terdapat dalam jumlah yang sangat kecil.

Beras dengan derajat sosoh kurang dari 100% akan berwarna lebih gelap. Generasi terdahulu lebih menyukai nasi dari beras dengan derajat sosoh kurang dari 100%, karena pada beras tersebut masih terdapat lapisan aleuron yang banyak mengandung vitamin B.

Pada umumnya, sebagian besar konsumen menilai enak/tidaknya nasi berdasarkan pada rasa dan teksturnya. Tekstur nasi sangat dipengaruhi oleh kadar amilosa. Secara sederhana, semua varietas padi yang ditanam oleh petani, dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan tekstur dan kadar amilosanya, yaitu beras pulen (soft) dan beras pera (hard). Disebut beras pulen bila kadar amilosanya 17-25% dan beras pera bila kadar amilosanya >25%.

Hingga saat ini Kementerian Pertanian telah melepas lebih dari 200 varietas padi. Beberapa varietas unggul baru (VUB) Kementerian Pertanian ditanam hampir di 90% areal tanam padi. Beberapa varietas yang dominan adalah varietas Ciherang, Mekongga, IR64, dan INPARI. Semua VUB dominan yang ditanam petani tersebut berkategori beras pulen dengan kadar amilosa sebesar 20-25%. Jadi bisa disampaikan disini bahwa semua beras yang dihasilkan petani, 90%nya memberikan tekstur nasi yang hampir sama.

Nah..disinilah biasanya pengusaha beras berimprovisasi untuk menghasilkan beras dengan rasa dan tekstur spesial, yang berdampak pada harga yang lebih mahal..
Improvisasi pengusaha beras biasanya dilakukan dengan "blending", mencampur beberapa jenis beras yang pulen dengan yang lebih pulen sehingga diperoleh beras dengan tingkat kepulenan yang tepat.

Kenapa beras "racikan" jadi mahal? Karena proses pencampuran berasnya dengan posisi ketersedian beras yang tidak sama. Beras yang lebih pulen seperti varietas Sintanur, Cimelati, Gilirang dengan kadar amilosa 18-19% tidak banyak ditanam petani sehingga produksinya terbatas dan harga gabahnya berbeda dengan harga gabah padi VUB yang umum ditanam petani. Akan tetapi disparitas harga kedua jenis gabah padi tersebut tidak terlalu besar sekitar Rp.500.- - Rp. 1.000 per kg GKP. Selain itu teknik untuk meracik beras tersebut tidak membutuhkan teknologi yang canggih, hanya butuh keterampilan yang memadai. Beras hasil racikan memang rasa nasinya lebih baik, tapi harganya tidak harus jauh melampui harga beras "monovalen" (beras non racikan).o

Bagaimana agar dapat beras yang enak tanpa "blending" sehingga harga lebih murah? Kita harus mendapatkan beras dengan kadar amilosa seperti kadar amilosa beras "racikan". Kementerian Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru dengan kadar amilosa sebesar 18-20% yaitu varietas Inpari 2 (18.6%); Inpari 6, 18, 19 dan 24 (18%); Inpari 23 (17%); Hipa 10 (19.7 %); Hipa Jatim 1 (17%); Inpago 5 (18%); Gilirang (18,9%); Cimelati (19 %); dan Sintanur (18%).

Penggrebekan gudang beras tersebut mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu membeli beras yang sedemikian mahal agar kita bisa makan nasi yang enak. (MIW)

Berita Terbaru

Field Trip JIRCAS di Kebun Percobaan Muara Bogor

Berita Utama | 22-09-2017 | Hits:160

Field Trip JIRCAS di Kebun Percobaan Muara Bogor

Pompanisasi di Kebun Percobaan Pusakanagara

Berita Utama | 20-09-2017 | Hits:194

Pompanisasi di Kebun Percobaan Pusakanagara

Kebun Percobaan Muara Bogor Full Mekanisasi

Berita Utama | 18-09-2017 | Hits:200

Kebun Percobaan Muara Bogor Full Mekanisasi

Jerami Sebagai Bahan Organik

Info Teknologi | 12-09-2017 | Hits:772

Jerami Sebagai Bahan Organik

Jarak Tanam Menentukan Jumlah Populasi

Info Teknologi | 08-09-2017 | Hits:1147

Jarak Tanam Menentukan Jumlah Populasi

Tarabas, Beras Tipe Japonica Pertama Di Indonesia

Info Aktual | 07-09-2017 | Hits:566

Tarabas, Beras Tipe Japonica Pertama Di Indonesia

Tanam Padi Dengan Mempertimbangkan Ketersediaan Air

Info Teknologi | 06-09-2017 | Hits:360

Tanam Padi Dengan Mempertimbangkan Ketersediaan Air

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi