Padi Amfibi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.  Strategi yang dilakukan bersifat langsung (berupa kekeringan dan banjir) maupun yang bersifat tidak langsung berupa meningkatnya populasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Kekeringan dapat memberikan dampak negatif pada semua stadia tumbuh tanaman padi mulai saat vegetatif awal hingga reproduktif. Kekeringan yang terjadi pada fase vegetatif dapat menngganggu proses fotosintesis tanaman padi dan menurunkan laju pertumbuhannya. Apabila kekeringan hanya terjadi sementara maka pengaruhnya dapat dipulihkan. Berbeda halnya jika kekeringan terjadi pada fase reproduktif, seperti ketika pembungaan dan pengisian gabah, pengaruh stress kekeringan pada fase ini sulit dipulihkan dan dapat berakibat puso atau gagal panen.

DEFINISI AMFIBI

Secara bahasa, amphibia diturunkan dari kata Amphi berarti rangkap, dan bios yang berarti kehidupan. Amphibia merupakan jenis hewan bertulang belakan (vertebrata) yang hidup dengan dua bentuk kehidupan, pada fase awal di air tawar kemudian pada fase lanjut di darat (Wikipedia contributors, 2015). Amphibia bertelur di air atau menyimpan telurnya ditempat yang lembab dan basah. Setelah larva amphibi menetas (disebut berudu), hewan ini hidup di air atau tempat basah dan bernafas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa dan umumnya hidup di daratan atau di tempat-tempat yang lebih kering dan bernapas dengan paru-paru.

Terminologi amfibi ini kemudian digunakan juga untuk menunjukkan kemampuan tumbuh beberapa varietas padi yang dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lahan kering (gogo) maupun lahan basah (sawah). Varietas padi yang memiliki kemampuan tumbuh di dua kondisi tersebut kemudian disebut sebagai padi amfibi.

Air merupakan salah satu input yang sangat penting bagi sistem produksi padi sawah yang mengkonsumsi air lebih banyak dibandingkan bila ditanam di luar lahan sawah yang tidak selalu digenang. Ketersediaan air tidak hanya mempengaruhi produktivitas tanaman, luas areal tanam dan intensitas pertanaman, melainkan juga berengaruh terhadap potensi perluasan areal baru, bahkan menentukan kualitas produksi gabah.

Belakangan ini ketersediaan air irigasi untuk budidaya padi sawah makin terbatas karena: (1) bertambahnya penggunaan air untuk sektor industri dan rumah tangga, (2) durasi curah hujan makin pendek akibat perubahan iklim, (3) cadangan sumber air lokal juga berkurang, dan (4) terjadinya pendangkalan penampungan kelebihan air run off seperti waduk.

Fenomena kekeringan pada pertanaman padi dapat terjadi akibat intensitas dan atau frekuensi curah hujan yang rendah atau terjadinya hujan yang tidak merata (menyimpang dari pola curah hujan normal), sehingga pasokan air pada stadia vegetatif dan generatif tidak terpenuhi.  Kekeringan pada fase pertumbuhan generatif padi dapat menurunkan hasil 30-90%. Upaya antisipasi dampak buruk tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan varietas adaptif kekeringan.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan air dari berbagai sektor dan semakin menipisnya persediaan air tanah, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengefisienkan penggunaan air. Artinya air yang ada harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai kebutuhan tanaman.

Selama pertanaman padi terdapat tiga fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif (0-60 hari), fase generatif (60-90 hari), dan fase pemasakan (90-120 hari). Kebutuhan air pada ketiga fase tersebut bervariasi, yang tertinggi diantaranya ketika pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, inisiasi pembentukan malai, bunting dan pembungaan.

Varietas Unggul Baru Sebagai Komponen Utama

Perlu diingat bahwa varietas unggul merupakan salah satu komponen utama dalam budidaya padi. Sejak terjadinya revolusi hijau peranan varietas telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan hasil dan keberlanjutan produksi padi dunia dalam menghadapi berbagai kendala lingkungan yang terus mengancam termasuk kekeringan. Oleh sebab itu, pengunaan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan menjadi salah satu teknologi penting dalam mengantisipasi penurunan produksi padi yang diakibatkan oleh keterbatasan air.

Dukungan teknik budidaya padi yang tepat selain kecocokan varietas diharapkan dapat mengurangi pengaruh negatif kekeringan terhadap produksi padi nasional.

Varietas unggul padi tahan kekeringan dan rendaman

No.

Varietas

Umur

(HSS)

Potensi

Hasil (t/ha)

 Tekstur Nasi

1.

 Limboto

125

6,0

Sedang

2.

 Batutegi

120

6,0

Pulen

3.

 Towuti

115

7,0

Pulen

4.

 Situ Patenggang

120

6,0

Sedang

5.

 Situ Bagendit

120

6,0

Sedang

6.

 Inpari 10 Laeya

112

7,0

Pulen

7.

 Inpago 4

124

6,1

Pulen

8.

 Inpago 5

118

6,2

Sangat pulen

9.

 Inpago 6

118

6,2

Sangat pulen

10.

 Inpago 7

111

7,4

Pulen

11.

 Inpago 8

119

8,1

Pulen

12.

 Inpago 9

109

8,4

Sedang

13.

 Inpari 38 Agritan

115

8,2

Pulen

14.

 Inpari 39 Agritan

115

8,5

Pulen

Fenomena banjir sering terjadi di musim hujan pada bulan Oktober-Maret, yang dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Strategi antisipasi untuk mengurangi kerusakan tanaman akibat banjir adalah dengan menanam varietas padi yang memiliki gen Sub1, yaitu gen yang mengendalikan toleransi tanaman padi terhadap rendaman terutama pada fase vegetatif. Varietas yang dapat bertahan hidup pada kondisi rendaman selama >10 -15 hari.

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini940
Hari kemarin1625
Minggu ini13359
Bulan ini29984
Jumlah Pengunjung1078331
Online sekarang
25

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Padi Amfibi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

Strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.  Strategi yang dilakukan bersifat langsung (berupa kekeringan dan banjir) maupun yang bersifat tidak langsung berupa meningkatnya populasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Kekeringan dapat memberikan dampak negatif pada semua stadia tumbuh tanaman padi mulai saat vegetatif awal hingga reproduktif. Kekeringan yang terjadi pada fase vegetatif dapat menngganggu proses fotosintesis tanaman padi dan menurunkan laju pertumbuhannya. Apabila kekeringan hanya terjadi sementara maka pengaruhnya dapat dipulihkan. Berbeda halnya jika kekeringan terjadi pada fase reproduktif, seperti ketika pembungaan dan pengisian gabah, pengaruh stress kekeringan pada fase ini sulit dipulihkan dan dapat berakibat puso atau gagal panen.

DEFINISI AMFIBI

Secara bahasa, amphibia diturunkan dari kata Amphi berarti rangkap, dan bios yang berarti kehidupan. Amphibia merupakan jenis hewan bertulang belakan (vertebrata) yang hidup dengan dua bentuk kehidupan, pada fase awal di air tawar kemudian pada fase lanjut di darat (Wikipedia contributors, 2015). Amphibia bertelur di air atau menyimpan telurnya ditempat yang lembab dan basah. Setelah larva amphibi menetas (disebut berudu), hewan ini hidup di air atau tempat basah dan bernafas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa dan umumnya hidup di daratan atau di tempat-tempat yang lebih kering dan bernapas dengan paru-paru.

Terminologi amfibi ini kemudian digunakan juga untuk menunjukkan kemampuan tumbuh beberapa varietas padi yang dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lahan kering (gogo) maupun lahan basah (sawah). Varietas padi yang memiliki kemampuan tumbuh di dua kondisi tersebut kemudian disebut sebagai padi amfibi.

Air merupakan salah satu input yang sangat penting bagi sistem produksi padi sawah yang mengkonsumsi air lebih banyak dibandingkan bila ditanam di luar lahan sawah yang tidak selalu digenang. Ketersediaan air tidak hanya mempengaruhi produktivitas tanaman, luas areal tanam dan intensitas pertanaman, melainkan juga berengaruh terhadap potensi perluasan areal baru, bahkan menentukan kualitas produksi gabah.

Belakangan ini ketersediaan air irigasi untuk budidaya padi sawah makin terbatas karena: (1) bertambahnya penggunaan air untuk sektor industri dan rumah tangga, (2) durasi curah hujan makin pendek akibat perubahan iklim, (3) cadangan sumber air lokal juga berkurang, dan (4) terjadinya pendangkalan penampungan kelebihan air run off seperti waduk.

Fenomena kekeringan pada pertanaman padi dapat terjadi akibat intensitas dan atau frekuensi curah hujan yang rendah atau terjadinya hujan yang tidak merata (menyimpang dari pola curah hujan normal), sehingga pasokan air pada stadia vegetatif dan generatif tidak terpenuhi.  Kekeringan pada fase pertumbuhan generatif padi dapat menurunkan hasil 30-90%. Upaya antisipasi dampak buruk tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan varietas adaptif kekeringan.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan air dari berbagai sektor dan semakin menipisnya persediaan air tanah, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengefisienkan penggunaan air. Artinya air yang ada harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai kebutuhan tanaman.

Selama pertanaman padi terdapat tiga fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif (0-60 hari), fase generatif (60-90 hari), dan fase pemasakan (90-120 hari). Kebutuhan air pada ketiga fase tersebut bervariasi, yang tertinggi diantaranya ketika pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, inisiasi pembentukan malai, bunting dan pembungaan.

Varietas Unggul Baru Sebagai Komponen Utama

Perlu diingat bahwa varietas unggul merupakan salah satu komponen utama dalam budidaya padi. Sejak terjadinya revolusi hijau peranan varietas telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan hasil dan keberlanjutan produksi padi dunia dalam menghadapi berbagai kendala lingkungan yang terus mengancam termasuk kekeringan. Oleh sebab itu, pengunaan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan menjadi salah satu teknologi penting dalam mengantisipasi penurunan produksi padi yang diakibatkan oleh keterbatasan air.

Dukungan teknik budidaya padi yang tepat selain kecocokan varietas diharapkan dapat mengurangi pengaruh negatif kekeringan terhadap produksi padi nasional.

Varietas unggul padi tahan kekeringan dan rendaman

No.

Varietas

Umur

(HSS)

Potensi

Hasil (t/ha)

 Tekstur Nasi

1.

 Limboto

125

6,0

Sedang

2.

 Batutegi

120

6,0

Pulen

3.

 Towuti

115

7,0

Pulen

4.

 Situ Patenggang

120

6,0

Sedang

5.

 Situ Bagendit

120

6,0

Sedang

6.

 Inpari 10 Laeya

112

7,0

Pulen

7.

 Inpago 4

124

6,1

Pulen

8.

 Inpago 5

118

6,2

Sangat pulen

9.

 Inpago 6

118

6,2

Sangat pulen

10.

 Inpago 7

111

7,4

Pulen

11.

 Inpago 8

119

8,1

Pulen

12.

 Inpago 9

109

8,4

Sedang

13.

 Inpari 38 Agritan

115

8,2

Pulen

14.

 Inpari 39 Agritan

115

8,5

Pulen

Fenomena banjir sering terjadi di musim hujan pada bulan Oktober-Maret, yang dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Strategi antisipasi untuk mengurangi kerusakan tanaman akibat banjir adalah dengan menanam varietas padi yang memiliki gen Sub1, yaitu gen yang mengendalikan toleransi tanaman padi terhadap rendaman terutama pada fase vegetatif. Varietas yang dapat bertahan hidup pada kondisi rendaman selama >10 -15 hari.

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi