Impian Memenuhi Kebutuhan Pangan di Lahan Bekas Tambang

features

Masyarakat  Belitung Timur tidak tinggal diam dalam memanfaatkan lahan bekas tambang untuk memenuhi kebutuhan pangan khususnya beras.  Hal ini terbukti saat penulis melakukan kunjungan ke Desa Gantong, KecamatanGantong, Belitung Timur.

Perjalanan kurang lebih 2 jam menuju dari Kota TanjungPandan, Belitung Timur dari Kota Belitung tak terasa karena mulusnya infrastruktur  di wilayah ini. Ini adalah pertama kali penulis menginjakkan kaki yang terkenal dengan sebutan Kota LaskarPelangi.

Gantung yang merupakan nama Desa dan Kecamatan ini telah memanfaatkan lahan tidur bekas tambang seluas  400 ha dengan 900 petani. Lahan yang cukup luas untuk mengawali langkah awal buka lahan sebagai lahan sawah baru. Merubah kebiasaan masyarakat dari pekerja tambang beralih menjadi petani memang sulit, hal ini diungkapkan Kepala Desa Gantung Usman., Rabu (16/2).

Salah  satu alasan yang banyak dijumpai adalah minimnya masyarakat  yang kurang faham tentang ilmu pertanian khususnya bercocok tanam padi.Selain itu, masyarakat Gantong masih banyak  yang beranggapan bahwa bertani  di lahan bekas tambang kurang menjanjikan.

Seiring berjalannya waktu dan adanya program KementerianPertanian (Kementan) untuk ketahanan pangan, akhirnya masyarakat mulai mencoba memanfaatkan lahan bekas tambang sebagai mata pencaharian utama selain sebagai buruh tambang.

Banyak petani penggarap yang telah mengawali tanam padi dengan memanfaatkan lahan tersebut, salah satunya adalah Jamhuri,warga transmigrasi tahun 1998  dari Daerah Serang, Banten. Tekad transmigrasi ke Gantung bukan untuk menjadi buruh tambang tetapi ingin memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai keahlianya, yaitu sebagai petani.

Jamhuri tidak sendiri, sejak 2001 mereka bersama-sama teman-teman pendatang lainya tekun bercocok tanam dengan komoditas  yang seadanya. Mereka tanam padi dan tanam berbagai jenis palawija seperti kacang, sayuran,dan jagung. Hasil panen yang didapat bukan untuk dijual tetapi untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Hampir 15 tahun masyarakat pendatang di daerah tersebut memanfaatkan lahan pekarangan sendiri dengan menanam padi varietas  Way Apo Buru dan Cisadane  dengan system tanam tugal. Dengan menanam varietas tersebut hasil panen yang didapat setiap musim tidak lebih dari 1 ton/ha.  Sejak 2016 sesuai anjuran Kementan, masyarakat mulai tertarik untuk menggarap lahan danau. Lahan danau adalah sebutan lahan bekas tambang di daerah Gantong.

Kekawatiran masyarakat tentang kandungan residu logam berat awalnya menjadi masalah tersendiri. Kementerian Pertanian akhirnya mengkaji dan meyakinkan bahwa lahan aman untuk ditanami karena telah diberi kapur, pupuk kandang masing-masing  1 ton dan pupuk NPK sebanyak 300 kg. Hal ini yang menjadi rekomendasi bahwa petani yakin padi yang mereka tanam aman untuk dikonsumsi.

Untuk meningkatkan hasil panen dengan produksi hasil lebih tinggi, selama 2 musim tanam 2016, petani diperkenalkan dengan inovasi teknologi baru dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan.

Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Mufakat adalah gapoktan yang pertama kali belajar untuk menggunakan inovasi  yang diperkenalkan tersebut. Satu persatu anggota kelompok tani mulai mengadopsi dengan menggunakan varietas unggul baru dan teknologi budi daya jarwo  super.

Tanpa ragu akhirnya petani Gantong menanam beberapa jenis varietas unggul baru Padi (VUB)  yaitu varietas Mekongga, Inpara 3, Inpari 30 dengan rata-rata hasil 5-6 t/ha. Tanam padi tidak semulus yang mereka bayangkan, pada tahap awal musim, berbagai kendala dilapangan mereka hadapi.  Kendala-kendala tersebut adalah adanya serangan hama penyakit padi, seperti serangan penggerek batang padi dan burung.

Pada musim taman berikutnya petani mulai pandai untuk melakukan budidaya padi dilahan bekas tambang dan  yang  mulai membuahkan hasil  yang menggembirakan. Dari  sinilah, petani mulai berhitung kebutuhan konsumsi dan kebutuhan benih untuk memenuhi benih Belitung Timur yang memiliki lahan bekas tambang seluas 2.400 ha. Padi adalah kehidupan dan sumber kesejahteraan bangsa.(Shr)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini530
Hari kemarin1089
Minggu ini5917
Bulan ini25518
Jumlah Pengunjung849416
Online sekarang
27

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Impian Memenuhi Kebutuhan Pangan di Lahan Bekas Tambang

features

Masyarakat  Belitung Timur tidak tinggal diam dalam memanfaatkan lahan bekas tambang untuk memenuhi kebutuhan pangan khususnya beras.  Hal ini terbukti saat penulis melakukan kunjungan ke Desa Gantong, KecamatanGantong, Belitung Timur.

Perjalanan kurang lebih 2 jam menuju dari Kota TanjungPandan, Belitung Timur dari Kota Belitung tak terasa karena mulusnya infrastruktur  di wilayah ini. Ini adalah pertama kali penulis menginjakkan kaki yang terkenal dengan sebutan Kota LaskarPelangi.

Gantung yang merupakan nama Desa dan Kecamatan ini telah memanfaatkan lahan tidur bekas tambang seluas  400 ha dengan 900 petani. Lahan yang cukup luas untuk mengawali langkah awal buka lahan sebagai lahan sawah baru. Merubah kebiasaan masyarakat dari pekerja tambang beralih menjadi petani memang sulit, hal ini diungkapkan Kepala Desa Gantung Usman., Rabu (16/2).

Salah  satu alasan yang banyak dijumpai adalah minimnya masyarakat  yang kurang faham tentang ilmu pertanian khususnya bercocok tanam padi.Selain itu, masyarakat Gantong masih banyak  yang beranggapan bahwa bertani  di lahan bekas tambang kurang menjanjikan.

Seiring berjalannya waktu dan adanya program KementerianPertanian (Kementan) untuk ketahanan pangan, akhirnya masyarakat mulai mencoba memanfaatkan lahan bekas tambang sebagai mata pencaharian utama selain sebagai buruh tambang.

Banyak petani penggarap yang telah mengawali tanam padi dengan memanfaatkan lahan tersebut, salah satunya adalah Jamhuri,warga transmigrasi tahun 1998  dari Daerah Serang, Banten. Tekad transmigrasi ke Gantung bukan untuk menjadi buruh tambang tetapi ingin memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai keahlianya, yaitu sebagai petani.

Jamhuri tidak sendiri, sejak 2001 mereka bersama-sama teman-teman pendatang lainya tekun bercocok tanam dengan komoditas  yang seadanya. Mereka tanam padi dan tanam berbagai jenis palawija seperti kacang, sayuran,dan jagung. Hasil panen yang didapat bukan untuk dijual tetapi untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Hampir 15 tahun masyarakat pendatang di daerah tersebut memanfaatkan lahan pekarangan sendiri dengan menanam padi varietas  Way Apo Buru dan Cisadane  dengan system tanam tugal. Dengan menanam varietas tersebut hasil panen yang didapat setiap musim tidak lebih dari 1 ton/ha.  Sejak 2016 sesuai anjuran Kementan, masyarakat mulai tertarik untuk menggarap lahan danau. Lahan danau adalah sebutan lahan bekas tambang di daerah Gantong.

Kekawatiran masyarakat tentang kandungan residu logam berat awalnya menjadi masalah tersendiri. Kementerian Pertanian akhirnya mengkaji dan meyakinkan bahwa lahan aman untuk ditanami karena telah diberi kapur, pupuk kandang masing-masing  1 ton dan pupuk NPK sebanyak 300 kg. Hal ini yang menjadi rekomendasi bahwa petani yakin padi yang mereka tanam aman untuk dikonsumsi.

Untuk meningkatkan hasil panen dengan produksi hasil lebih tinggi, selama 2 musim tanam 2016, petani diperkenalkan dengan inovasi teknologi baru dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan.

Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Mufakat adalah gapoktan yang pertama kali belajar untuk menggunakan inovasi  yang diperkenalkan tersebut. Satu persatu anggota kelompok tani mulai mengadopsi dengan menggunakan varietas unggul baru dan teknologi budi daya jarwo  super.

Tanpa ragu akhirnya petani Gantong menanam beberapa jenis varietas unggul baru Padi (VUB)  yaitu varietas Mekongga, Inpara 3, Inpari 30 dengan rata-rata hasil 5-6 t/ha. Tanam padi tidak semulus yang mereka bayangkan, pada tahap awal musim, berbagai kendala dilapangan mereka hadapi.  Kendala-kendala tersebut adalah adanya serangan hama penyakit padi, seperti serangan penggerek batang padi dan burung.

Pada musim taman berikutnya petani mulai pandai untuk melakukan budidaya padi dilahan bekas tambang dan  yang  mulai membuahkan hasil  yang menggembirakan. Dari  sinilah, petani mulai berhitung kebutuhan konsumsi dan kebutuhan benih untuk memenuhi benih Belitung Timur yang memiliki lahan bekas tambang seluas 2.400 ha. Padi adalah kehidupan dan sumber kesejahteraan bangsa.(Shr)

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:173

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1025

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:463

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi