Tahun ini Balitbangtan Mengembangkan Jarwo Super pada Kawasan 10.000 ha di 11 Provinsi

Sesuai Nawa Cita poin 7 khususnya terkait dengan upaya membangun kedaulatan pangan, pada saat ini pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius. Tiga komoditas tanaman pangan utama; padi, jagung, dan kedelai, sejak 2015 secara khusus dikawal dalam program Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai yang setiap tahunnya ditargetkan meningkat.

Total luas lahan sawah saat ini 8,1 juta ha (BPS, 2013) termasuk 4,8 juta ha lahan sawah irigasi teknis, namun memiliki tingkat kadar karbon organik rendah (< 2%).  Agar dapat mendorong tercapainya potensi produktivitas dari varietas unggul padi, maka perlu upaya peningkatan kesuburan hara tanah khususnya kadar bahan organik.

Pemerintah tiada henti melakukan terobosan-terobosan inovasi khususnya oleh Kementerian Pertanian sebagai pengejawantahan program Upaya Khusus terutama untuk peningkatan produksi padi yang diharapkan dapat diimplementasikan ditingkat petani secara luas. Saat ini telah dihasilkan teknologi Badan Litbang yaitu teknologi Jarwo Super yang merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Teknologi ini telah melalui penelitian dan pengkajian pada berbagai lokasi di Indonesia untuk menjawab 5 permasalahan utama dalam usaha peningkatan produksi padi yaitu: 1) Kebutuhan beras nasional 72 juta ton dan produktivitas rata-rata nasional sebesar 53,39 ku/ha (BPS, 2016); 2) Terjadi degradasi lahan sawah (sebagian besar pd lahan sawah intensif) &  kadar C-organik rendah (<2%); 3) Pemupukan sesuai kebutuhan tanaman; 4) Pengendalian OPT ramah lingkungan; dan 5) Kelangkaan tenaga kerja & kehilangan hasil (gebot/manual 18%; combine harvester 2%)

Selain menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis penerapan di lapangan, bagian penting dari teknologi Jajar Legowo Super adalah: 1) Varietas Unggul Baru potensi hasil tinggi yang untuk lahan sawah irigasi direkomendasikan Varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB, dan Inpari 33; 2) Biodekomposer yang diberikan bersamaan pada saat pengolahan tanah (pembajakan ke dua); 3) Pupuk hayati diaplikasikan melalui seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS); 4) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali; serta 5) Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester).

Keunggulan cara tanam jajar legowo super diantaranya adalah: 1) pemberian biodekomposer pada saat pengolahan tanah ke dua mampu mempercepat pengomposan jerami; 2) pemberian pupuk hayati sebagai seed treatment dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan pelarut fosfat serta peningkatan kesuburan dan kesehatan tanah; 3) pestisida nabati efektif dalam pengendalian hama tanaman padi seperti wereng batang cokelat; dan 4) penggunaan alat mesin pertanian untuk penghematan biaya tenaga kerja serta pengurangan kehilangan hasil panen.

Keberhasilan demarea Jarwo Super di Kabupaten Indramayu seluas 50 ha pada MT 2015-2016 dengan diperoleh provitas >10 ton/ha GKP, Balitbangtan melaksanakan demarea pengembangan budidaya padi dengan Teknologi Jarwo Super secara serentak di 13 provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Papua, dengan luasan masing-masing 10-20 ha dan secara khusus dikembangakan seluas 100 ha di Kabupaten Boyolali pada acara Hari Pangan Sedunia ke 36 pada MT 2016 (periode April-September). Demarea di setiap provinsi dilaksanakan bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dan disupervisi oleh Balitbangtan melalui Tim Pendamping Teknis Implementasi Teknologi Jarwo Super sebagai langkah harmonisasi dan singkronisasi kegiatan Balitbangtan dengan Pemda dalam program pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan.

Hingga saat ini telah dilakukan panen raya di lokasi demarea pengembangan tersebut dengan provitas mencapai 10 - 11,3 ton/ha GKP dengan tiga varietas unggul baru (VUB) yaitu Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 32 HDB dan Inpari 33. Panen raya perdana di Boyolali disaksikan langsung oleh Presisden RI Ir. Joko Widodo yang memberikan apresiasi sangat tinggi terhadap keberhasilan pengembangan budidaya padi melalui Teknologi Jarwo Super sekaligus memberikan tantangan untuk pengembangan pertanaman dalam sekala 200 ha di lahan yang sama pada musim tanam berikutnya. Respon masyarakat terhadap pengembangan budidaya padi dengan Teknologi Jarwo Super sangat tinggi, bahkan logistik (komponen/input Teknologi Jarwo Super) untuk pengembangan selanjutnya sudah dipersiapkan ketersediannya untuk musim tanam berikutnya sudah tersedia. Oleh karena itu, sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, bahwa penerapan Teknologi Jarwo Super perlu dikembangakan secara massive pada MT 2017 pada luasan minimal 1000 ha per provinsi di 10 provinsi sentra produksi padi nasional untuk percepatan pencapaian peningkatan produksi padi nasional.

Hasil analisis usahatani padi dengan penerapan Teknologi Jarwo Super mencapai Rp 42.487.222 per ha. Dari sisi kelayakan usahatani, Teknologi Jajar Legowo Super memberikan nilai B/C ratio yang layak sebesar 2,66, lebih tinggi dibanding cara petani dengan B/C ratio 1,48. Sehingga dapat dinyatakan bahwa Teknologi Jarwo Super layak secara finansial dan dapat disarankan untuk dikembangkan dalam skala luas oleh petani untuk mendongkrak produksi padi nasional menuju swasembada dan swasembada berkelanjutan.

Menindaklanjuti arahan Menteri Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian mengembangkan Jarwo Super pada kawasan 10.000 ha di 11 Provinsi sentra produksi padi, yaitu Jabar, Jateng, Jatim, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, NTB pada tahun 2017. Kebutuhan benih untuk pengembangan Jarwo Super 10.000 ha tersebut adalah 250 ton yang disediakan oleh Badan Litbang Pertanian. Jarwo Super 10.000 ha tersebut diharapkan dapat menghasilkan benih varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB, dan Inpari 33 siap salur sebanyak 50.000 ton produktivitas benih 5.0 ton/ha). Benih VUB sebesar50.000 ton tersebut dapat memenuhi kebutuhan benih dengan penanaman seluas 2 juta ha. Dengan demikian benih hasil pengembangan Jarwo Super dapat memenuhi 50% kebutuhan subsidi benih Nasional yang jumlahnya seluas 4 juta ha.

“Teknologi Jajar Legowo Super” sebagai Pendongkrak Produktivitas Padi, jika diimplementasikan secara full paket oleh petani, maka petani bisa mendapatkan selisih penambahan produksi sekitar 4 ton GKP/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo di sawah irigasi sebesar 6 ton GKP/ha permusim. Bilamana teknologi jajar legowo super ini diimplementasikan oleh petani terhadap 20% saja dari luas lahan sawah irigasi yg ada di Indonesia sekitar 4,8 juta ha (BPS, 2013) yaitu 960.000 ha, maka produksi nasional akan bertambah sekitar 3,84 juta ton GKG per musim tanam atau bertambah sekitar 7,68 juta ton GKG pertahun dua kali musim tanam setara dengan 4,76 juta ton beras (rendemen 62%).

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh &quot;Padi tumbuh subur dilahan suboptimal&quot;

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini171
Hari kemarin2459
Minggu ini7592
Bulan ini40411
Jumlah Pengunjung958404
Online sekarang
21

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Tahun ini Balitbangtan Mengembangkan Jarwo Super pada Kawasan 10.000 ha di 11 Provinsi

Sesuai Nawa Cita poin 7 khususnya terkait dengan upaya membangun kedaulatan pangan, pada saat ini pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius. Tiga komoditas tanaman pangan utama; padi, jagung, dan kedelai, sejak 2015 secara khusus dikawal dalam program Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai yang setiap tahunnya ditargetkan meningkat.

Total luas lahan sawah saat ini 8,1 juta ha (BPS, 2013) termasuk 4,8 juta ha lahan sawah irigasi teknis, namun memiliki tingkat kadar karbon organik rendah (< 2%).  Agar dapat mendorong tercapainya potensi produktivitas dari varietas unggul padi, maka perlu upaya peningkatan kesuburan hara tanah khususnya kadar bahan organik.

Pemerintah tiada henti melakukan terobosan-terobosan inovasi khususnya oleh Kementerian Pertanian sebagai pengejawantahan program Upaya Khusus terutama untuk peningkatan produksi padi yang diharapkan dapat diimplementasikan ditingkat petani secara luas. Saat ini telah dihasilkan teknologi Badan Litbang yaitu teknologi Jarwo Super yang merupakan teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Teknologi ini telah melalui penelitian dan pengkajian pada berbagai lokasi di Indonesia untuk menjawab 5 permasalahan utama dalam usaha peningkatan produksi padi yaitu: 1) Kebutuhan beras nasional 72 juta ton dan produktivitas rata-rata nasional sebesar 53,39 ku/ha (BPS, 2016); 2) Terjadi degradasi lahan sawah (sebagian besar pd lahan sawah intensif) &  kadar C-organik rendah (<2%); 3) Pemupukan sesuai kebutuhan tanaman; 4) Pengendalian OPT ramah lingkungan; dan 5) Kelangkaan tenaga kerja & kehilangan hasil (gebot/manual 18%; combine harvester 2%)

Selain menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis penerapan di lapangan, bagian penting dari teknologi Jajar Legowo Super adalah: 1) Varietas Unggul Baru potensi hasil tinggi yang untuk lahan sawah irigasi direkomendasikan Varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB, dan Inpari 33; 2) Biodekomposer yang diberikan bersamaan pada saat pengolahan tanah (pembajakan ke dua); 3) Pupuk hayati diaplikasikan melalui seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS); 4) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali; serta 5) Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester).

Keunggulan cara tanam jajar legowo super diantaranya adalah: 1) pemberian biodekomposer pada saat pengolahan tanah ke dua mampu mempercepat pengomposan jerami; 2) pemberian pupuk hayati sebagai seed treatment dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan pelarut fosfat serta peningkatan kesuburan dan kesehatan tanah; 3) pestisida nabati efektif dalam pengendalian hama tanaman padi seperti wereng batang cokelat; dan 4) penggunaan alat mesin pertanian untuk penghematan biaya tenaga kerja serta pengurangan kehilangan hasil panen.

Keberhasilan demarea Jarwo Super di Kabupaten Indramayu seluas 50 ha pada MT 2015-2016 dengan diperoleh provitas >10 ton/ha GKP, Balitbangtan melaksanakan demarea pengembangan budidaya padi dengan Teknologi Jarwo Super secara serentak di 13 provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Papua, dengan luasan masing-masing 10-20 ha dan secara khusus dikembangakan seluas 100 ha di Kabupaten Boyolali pada acara Hari Pangan Sedunia ke 36 pada MT 2016 (periode April-September). Demarea di setiap provinsi dilaksanakan bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dan disupervisi oleh Balitbangtan melalui Tim Pendamping Teknis Implementasi Teknologi Jarwo Super sebagai langkah harmonisasi dan singkronisasi kegiatan Balitbangtan dengan Pemda dalam program pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan.

Hingga saat ini telah dilakukan panen raya di lokasi demarea pengembangan tersebut dengan provitas mencapai 10 - 11,3 ton/ha GKP dengan tiga varietas unggul baru (VUB) yaitu Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 32 HDB dan Inpari 33. Panen raya perdana di Boyolali disaksikan langsung oleh Presisden RI Ir. Joko Widodo yang memberikan apresiasi sangat tinggi terhadap keberhasilan pengembangan budidaya padi melalui Teknologi Jarwo Super sekaligus memberikan tantangan untuk pengembangan pertanaman dalam sekala 200 ha di lahan yang sama pada musim tanam berikutnya. Respon masyarakat terhadap pengembangan budidaya padi dengan Teknologi Jarwo Super sangat tinggi, bahkan logistik (komponen/input Teknologi Jarwo Super) untuk pengembangan selanjutnya sudah dipersiapkan ketersediannya untuk musim tanam berikutnya sudah tersedia. Oleh karena itu, sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, bahwa penerapan Teknologi Jarwo Super perlu dikembangakan secara massive pada MT 2017 pada luasan minimal 1000 ha per provinsi di 10 provinsi sentra produksi padi nasional untuk percepatan pencapaian peningkatan produksi padi nasional.

Hasil analisis usahatani padi dengan penerapan Teknologi Jarwo Super mencapai Rp 42.487.222 per ha. Dari sisi kelayakan usahatani, Teknologi Jajar Legowo Super memberikan nilai B/C ratio yang layak sebesar 2,66, lebih tinggi dibanding cara petani dengan B/C ratio 1,48. Sehingga dapat dinyatakan bahwa Teknologi Jarwo Super layak secara finansial dan dapat disarankan untuk dikembangkan dalam skala luas oleh petani untuk mendongkrak produksi padi nasional menuju swasembada dan swasembada berkelanjutan.

Menindaklanjuti arahan Menteri Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian mengembangkan Jarwo Super pada kawasan 10.000 ha di 11 Provinsi sentra produksi padi, yaitu Jabar, Jateng, Jatim, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, NTB pada tahun 2017. Kebutuhan benih untuk pengembangan Jarwo Super 10.000 ha tersebut adalah 250 ton yang disediakan oleh Badan Litbang Pertanian. Jarwo Super 10.000 ha tersebut diharapkan dapat menghasilkan benih varietas Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB, dan Inpari 33 siap salur sebanyak 50.000 ton produktivitas benih 5.0 ton/ha). Benih VUB sebesar50.000 ton tersebut dapat memenuhi kebutuhan benih dengan penanaman seluas 2 juta ha. Dengan demikian benih hasil pengembangan Jarwo Super dapat memenuhi 50% kebutuhan subsidi benih Nasional yang jumlahnya seluas 4 juta ha.

“Teknologi Jajar Legowo Super” sebagai Pendongkrak Produktivitas Padi, jika diimplementasikan secara full paket oleh petani, maka petani bisa mendapatkan selisih penambahan produksi sekitar 4 ton GKP/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo di sawah irigasi sebesar 6 ton GKP/ha permusim. Bilamana teknologi jajar legowo super ini diimplementasikan oleh petani terhadap 20% saja dari luas lahan sawah irigasi yg ada di Indonesia sekitar 4,8 juta ha (BPS, 2013) yaitu 960.000 ha, maka produksi nasional akan bertambah sekitar 3,84 juta ton GKG per musim tanam atau bertambah sekitar 7,68 juta ton GKG pertahun dua kali musim tanam setara dengan 4,76 juta ton beras (rendemen 62%).

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi