Pernyataan Pakar IPB Terkait Padi Hibrida Mengandung Bakteri Keliru

Kementerian Pertanian (Kementan) dengan tegas membantah pernyataan Ketua Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Dr. Suryo Wiyono, Senin (19/12) bahwa padi Hibrida yang dimasukkan oleh Pemerintah melalui Kementan mengandung bakteri Burkholderia Glumae. Berbakteri ini sudah menyebar hampir di seluruh persawahan di Pulau Jawa. Menurut Suryo, bakteri tersebut membuat padi tidak berisi dan membusuk.

Akan tetapi, Kepala Biro Humas dan Informasi Kementan, Agung Hendriadi mengatakan pernyataan di atas sangat keliru. Alasannya karena yakni pertama, penelitian yang dilakukan pakar IPB, Dr. Suryo Wiyono hanya dilakukan di 2 lokasi yakni Kabupaten Tegal dan Blitar. 

"Artinya hasil penelitiannya Dr. Suryo Wiyono tidak mewakili karena padi hibrida ditanam dibanyak tempat, ada Kalimantan, Sumatera, Jawa, NTB dan Sulawesi yang mempunyai produktivitas tinggi hingga 13 ton/ha ," katanya saat membuka konferensi pers di Kantor Pusat Kementan, Senin (19/12).

Hadir pada konferensi pers ini yakni Direktur Perbenihan Kementan, Ibrahim Saragih, Kepala Balai Besar Penelitian Padi, Dr. M. Ismail Wahab, dan Kepala Pusat Karantina Pertumbuhan, Antarjo Dikin. Hadir pula peneliti dari Balai Besar Penelitian Padi, Badan Penelitan dan Pengembangan Kementan yaitu Dr. Buang, Dr. Satoto, Dr. Bambang, dan Prof. Suwarno.

Kedua, lanjut Agung, Total pertanaman hibrida kita hanya 0 komaan % total pertanaman padi Indonesia. "Jadi, pernyataan Dr. Suryo Wiyono bahwa bakteri itu menyebat seluruh pulau Jawa sangat tidak tepat sehingga meresahkan masyarakat," ujarnya.

Ketiga, dalam buku juknis organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bahwa bakteri Burkholderia Glumae bukan merupakan Major Desease padi di Indonesia, sehingga belum pernah ada puso akibat bakteri tersebut.

Kepala Balai Besar Penelitian Padi, Dr. M. Ismail Wahab mengakui bakteri Burkholderia Glumae memang sudah lama ada di Indonesia sejak tahun 1987 dan merupakan bakteri tupe A2 yg dapat dikendalikan. Sudah 30 th dan tidak berpengaruh terhadap produktivitas. Sehingga bukan baru ditemukan berdasarkan hasil penelitian Dr. Suryo Wiyono.

Selama rentang waktu tersebut, keberadaan bakteri Burkholderia Glumae belum pernah ada kejadian yang mengakibatkan gagal panen (puso). "Walau ada serangan tapi, tidak ganggu produksi," cetusnya.

Selanjutnya Peneliti padi hibrida Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Satoto menyampaikan bahwa hibrida di Indonedia juga ada yang merupakan hasil dari rakitan Balitbangtan Hibrida Padi (Hipa) dan dilisensikan oleh Petrokimia Gresik (Hipa 18) dan juga yang terakhir oleh Saprotan Utama (Hipa 12 dan 14).

Ditjentan - Ditlintan, menyatakan bahwa bakteri Burkholderia Glumae tidak termasuk hama penyakit major, kemudian dari Peneliti hama penyakit tanaman Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Bambang Nuryanto juga menyatakan bahwa bakteri bisa saja menyebabkan penyebaran namun bisa di treatment dengan air panas dan garam secara sederhana.

Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Ibrahim Saragih menegaskan pengembangan benih padi hibrida di Indonesia telah memberikan hasil yang bagus yakni 14 ton/ha. Kebijakan ke depan sesuai arahan Dirjen Tanaman Pangan, impor benih padi hibrida sementara distop. 

"Ini untuk dorong produksi dan pemanfaatan benih hibrida nasional seperti HIPA dan benih asal impor yang sudah diprodiksi di dalam Negeri," tegasnya.

Untuk diketahui, sesuai ketentuan Tim Penilai Pelepasan Varietas (TP2V), impor benih hibrida untuk satu varietas hanya diijinkan 3 tahun, selebihnya harus sudah diproduksi dalam negeri. Contoh benih hibrida yang sudah diproduksi dalam negeri adalah Sembada B9, Sembada 189 dan Mapan B02 yg mempunyai provitas 12-13 ton/ha dan disukai petani pada beberapa lokasi.

Sumber: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini643
Hari kemarin2229
Minggu ini2872
Bulan ini19497
Jumlah Pengunjung1067844
Online sekarang
38

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Pernyataan Pakar IPB Terkait Padi Hibrida Mengandung Bakteri Keliru

Kementerian Pertanian (Kementan) dengan tegas membantah pernyataan Ketua Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Dr. Suryo Wiyono, Senin (19/12) bahwa padi Hibrida yang dimasukkan oleh Pemerintah melalui Kementan mengandung bakteri Burkholderia Glumae. Berbakteri ini sudah menyebar hampir di seluruh persawahan di Pulau Jawa. Menurut Suryo, bakteri tersebut membuat padi tidak berisi dan membusuk.

Akan tetapi, Kepala Biro Humas dan Informasi Kementan, Agung Hendriadi mengatakan pernyataan di atas sangat keliru. Alasannya karena yakni pertama, penelitian yang dilakukan pakar IPB, Dr. Suryo Wiyono hanya dilakukan di 2 lokasi yakni Kabupaten Tegal dan Blitar. 

"Artinya hasil penelitiannya Dr. Suryo Wiyono tidak mewakili karena padi hibrida ditanam dibanyak tempat, ada Kalimantan, Sumatera, Jawa, NTB dan Sulawesi yang mempunyai produktivitas tinggi hingga 13 ton/ha ," katanya saat membuka konferensi pers di Kantor Pusat Kementan, Senin (19/12).

Hadir pada konferensi pers ini yakni Direktur Perbenihan Kementan, Ibrahim Saragih, Kepala Balai Besar Penelitian Padi, Dr. M. Ismail Wahab, dan Kepala Pusat Karantina Pertumbuhan, Antarjo Dikin. Hadir pula peneliti dari Balai Besar Penelitian Padi, Badan Penelitan dan Pengembangan Kementan yaitu Dr. Buang, Dr. Satoto, Dr. Bambang, dan Prof. Suwarno.

Kedua, lanjut Agung, Total pertanaman hibrida kita hanya 0 komaan % total pertanaman padi Indonesia. "Jadi, pernyataan Dr. Suryo Wiyono bahwa bakteri itu menyebat seluruh pulau Jawa sangat tidak tepat sehingga meresahkan masyarakat," ujarnya.

Ketiga, dalam buku juknis organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bahwa bakteri Burkholderia Glumae bukan merupakan Major Desease padi di Indonesia, sehingga belum pernah ada puso akibat bakteri tersebut.

Kepala Balai Besar Penelitian Padi, Dr. M. Ismail Wahab mengakui bakteri Burkholderia Glumae memang sudah lama ada di Indonesia sejak tahun 1987 dan merupakan bakteri tupe A2 yg dapat dikendalikan. Sudah 30 th dan tidak berpengaruh terhadap produktivitas. Sehingga bukan baru ditemukan berdasarkan hasil penelitian Dr. Suryo Wiyono.

Selama rentang waktu tersebut, keberadaan bakteri Burkholderia Glumae belum pernah ada kejadian yang mengakibatkan gagal panen (puso). "Walau ada serangan tapi, tidak ganggu produksi," cetusnya.

Selanjutnya Peneliti padi hibrida Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Satoto menyampaikan bahwa hibrida di Indonedia juga ada yang merupakan hasil dari rakitan Balitbangtan Hibrida Padi (Hipa) dan dilisensikan oleh Petrokimia Gresik (Hipa 18) dan juga yang terakhir oleh Saprotan Utama (Hipa 12 dan 14).

Ditjentan - Ditlintan, menyatakan bahwa bakteri Burkholderia Glumae tidak termasuk hama penyakit major, kemudian dari Peneliti hama penyakit tanaman Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Dr. Bambang Nuryanto juga menyatakan bahwa bakteri bisa saja menyebabkan penyebaran namun bisa di treatment dengan air panas dan garam secara sederhana.

Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Ibrahim Saragih menegaskan pengembangan benih padi hibrida di Indonesia telah memberikan hasil yang bagus yakni 14 ton/ha. Kebijakan ke depan sesuai arahan Dirjen Tanaman Pangan, impor benih padi hibrida sementara distop. 

"Ini untuk dorong produksi dan pemanfaatan benih hibrida nasional seperti HIPA dan benih asal impor yang sudah diprodiksi di dalam Negeri," tegasnya.

Untuk diketahui, sesuai ketentuan Tim Penilai Pelepasan Varietas (TP2V), impor benih hibrida untuk satu varietas hanya diijinkan 3 tahun, selebihnya harus sudah diproduksi dalam negeri. Contoh benih hibrida yang sudah diproduksi dalam negeri adalah Sembada B9, Sembada 189 dan Mapan B02 yg mempunyai provitas 12-13 ton/ha dan disukai petani pada beberapa lokasi.

Sumber: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi