Bermula Ahli Mekanik Mesin, Kini Gigih Bertani

ACEH JAYA. Pada akhir tahun 2008 Cuncun yang kini ganti nama menjadi Muhammad Afdal atau yang lebih akrab dipanggil Afdal memutuskan untuk berhenti menggeluti dunia mekanik dan beralih ke bidang pertanian,  khususnya ke bidang usahatani  padi. Tekad ini diawali dengan membuka lahan sawah baru di daerah  Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten  Aceh Timur.

Tidak tangung-tangung keinginannya untuk belajar bertani khususnya menanam padi Afdal lalukan sampai di Negeri Taiwan, tepatnya di Tai Chung hingga Chiayi. Di Negara tersebut hamparan padi  masih tersedia sangat luas dan dikerjakan dengan pertanian modern (full mekanisasi). Kesan yang pertama muncul dibenaknya adalah ternyata tanam padi itu indah, tenang dan menyenangkan. Moh. Afdal belajar sekitar 2 musim di Taiwan, selanjutnya Afdal pulang ke Indonesia dan mencoba membuka lahan dengan mencetak sawah baru di provinsi Nangro Aceh Darusalam, secara bertahap dari luasan 50 ha  hingga 200 Ha.

Setelah membuka lahan baru, terbersit dalam pikirannya bahwa ternyata menanam padi itu tidak semudah yang dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi, seperti teknik budidaya yang belum dipahami secara benar, pemupukan,  serangan hama penyakit padi yang beragam, penanganan gulma yang sulit, kondisi iklim tidak menentu, termasuk tenaga kerja yang langka sehingga berdampak pada biaya tenaga yang mahal dan faktor lain.

Dari pengalaman awalnya dalam usaha tani padi, Afdal menceritakan hampir setiap musim mengalami kerugian, biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panen yang didapat. Saat itu setiap panen hasilnya tidak lebih dari kisaran 4-5 ton/ha GKP.  Afdal tidak menyerah untuk belajar, dan pada musim tanam tahun 2016 mulailah belajar untuk menggunakan hasil inovasi dengan  pendampingan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian.

Berdasarkan anjuran dari Kementan, pelan-pelan Afdal mengawali tanam padi  dengan menanam varietas unggul baru  Inpari 22, Inpari 30 CIherang Sub 1, Inpari 32 HDB dan teknik budidaya yang benar. Kesulitan tenaga kerja di daerah tempat menanam padi menjadi masalah berikutnya, akan tetapi Afdal tidak kehilangan cara untuk menggarap sawahnya, pagi-pagi dia berangkat ke lahan sawah bukaan barunya dengan mengendarai traktor roda empat dan sampai dilokasi traktor mulai melumpur untuk meratakan tanahnya. Setelah lahan siap untuk ditanami padi, mulailah tanam dengan alat tanam transplanter dia lakukan sendiri hingga pemeliharaan tanaman pada setiap fase pertumbuhan pun dia jalani dengan penuh ketlatenan. Ketekukan tersebut akhirnya membuahkan hasil panen yang sungguh menggembirakan, hasil panen yang awalnya hanya berkisar 4-5 ton, kini bisa mencapai 8-10 ton/ha.  

Diakuinya hasil yang tinggi tersebut berkat kesungguhanannya menerapkan teknik budidaya yang benar, seperti yang direkomendasi oleh Badan Litbang Pertanian sbg Teknologi Jajar Legowo Super  dengan komponen2  teknologi sebagai berikut:  a) Pengguaan Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi (b) Biodekomposer, diberikan sebelum pengolahan tanah, k(c) Pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), (d) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali,
dan (e) Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester).

Kendala OPT utama yang dihadapi Afdal dan tenaga kerja yang membantu kesehariannya adalah serangan hama tikus. Namun demikian hama ini perlahan lahan berhasil juga dikendalikan. Pengendalian hama tikus dulakukannya dengan pemagaran plastik dan pemasangan perangkap tikus menggunakan bubu perangkap di beberapa titik. Teknik ini dirasakan Afdal cukup berhasil, terbukti selama satu musim hampir 3000 lebih tikus dapat tertangkap.

 Penerapan teknologi budidaya padi "Jajar Legowo Super"  pada demfarm di lahan bukaan baru milik Afdal tersebut terbukti berhasul yang ditunjukkan dengan hasil ubinan rata-rata 9.3 t/ha GKP utk varietas Inpari 30, dan 8.3 t/ha GKP utk varietas Inpari 22. Hasil ini lebih tinggi dari hasil rata2 varietas pembanding Situpatenggang (6 t/ha) yg biasa telah ditanam di lokasi ini.

Berkat dukungan teknologi tersebut, kini Afdal mulai punya mimpi besar untuk menjadi produsen pangan (padi) dan produsen benih padi di Kabupaten Aceh Jaya, umumnya di Provinsi Aceh. "Harapan lain,  tanam padi dengan teknologi yang terbaik tanpa mengambil resiko yang tidak perlu, artinya jika bisa dilakukan dengan mesin tidak perlu tergantung tenaga kerja yang terlalu banyak sehingga bisa menghemat biaya produksi" ungkap Afdal.
Semangat yang tinggi, tekad yang kuat untuk selalu belajar, seorang Afdal patut ditiru petani lain, dengan  motto hidup yang selalu terucap dari pria yang kini berusia 40 tahun ini adalah “Mau belajar dan Mau tanam Insha Allah ada Harapan” cetusnya. (Suharna)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini103
Hari kemarin658
Minggu ini5644
Bulan ini26635
Jumlah Pengunjung776275
Online sekarang
20

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Bermula Ahli Mekanik Mesin, Kini Gigih Bertani

ACEH JAYA. Pada akhir tahun 2008 Cuncun yang kini ganti nama menjadi Muhammad Afdal atau yang lebih akrab dipanggil Afdal memutuskan untuk berhenti menggeluti dunia mekanik dan beralih ke bidang pertanian,  khususnya ke bidang usahatani  padi. Tekad ini diawali dengan membuka lahan sawah baru di daerah  Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten  Aceh Timur.

Tidak tangung-tangung keinginannya untuk belajar bertani khususnya menanam padi Afdal lalukan sampai di Negeri Taiwan, tepatnya di Tai Chung hingga Chiayi. Di Negara tersebut hamparan padi  masih tersedia sangat luas dan dikerjakan dengan pertanian modern (full mekanisasi). Kesan yang pertama muncul dibenaknya adalah ternyata tanam padi itu indah, tenang dan menyenangkan. Moh. Afdal belajar sekitar 2 musim di Taiwan, selanjutnya Afdal pulang ke Indonesia dan mencoba membuka lahan dengan mencetak sawah baru di provinsi Nangro Aceh Darusalam, secara bertahap dari luasan 50 ha  hingga 200 Ha.

Setelah membuka lahan baru, terbersit dalam pikirannya bahwa ternyata menanam padi itu tidak semudah yang dibayangkan, banyak kendala yang harus dihadapi, seperti teknik budidaya yang belum dipahami secara benar, pemupukan,  serangan hama penyakit padi yang beragam, penanganan gulma yang sulit, kondisi iklim tidak menentu, termasuk tenaga kerja yang langka sehingga berdampak pada biaya tenaga yang mahal dan faktor lain.

Dari pengalaman awalnya dalam usaha tani padi, Afdal menceritakan hampir setiap musim mengalami kerugian, biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panen yang didapat. Saat itu setiap panen hasilnya tidak lebih dari kisaran 4-5 ton/ha GKP.  Afdal tidak menyerah untuk belajar, dan pada musim tanam tahun 2016 mulailah belajar untuk menggunakan hasil inovasi dengan  pendampingan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian.

Berdasarkan anjuran dari Kementan, pelan-pelan Afdal mengawali tanam padi  dengan menanam varietas unggul baru  Inpari 22, Inpari 30 CIherang Sub 1, Inpari 32 HDB dan teknik budidaya yang benar. Kesulitan tenaga kerja di daerah tempat menanam padi menjadi masalah berikutnya, akan tetapi Afdal tidak kehilangan cara untuk menggarap sawahnya, pagi-pagi dia berangkat ke lahan sawah bukaan barunya dengan mengendarai traktor roda empat dan sampai dilokasi traktor mulai melumpur untuk meratakan tanahnya. Setelah lahan siap untuk ditanami padi, mulailah tanam dengan alat tanam transplanter dia lakukan sendiri hingga pemeliharaan tanaman pada setiap fase pertumbuhan pun dia jalani dengan penuh ketlatenan. Ketekukan tersebut akhirnya membuahkan hasil panen yang sungguh menggembirakan, hasil panen yang awalnya hanya berkisar 4-5 ton, kini bisa mencapai 8-10 ton/ha.  

Diakuinya hasil yang tinggi tersebut berkat kesungguhanannya menerapkan teknik budidaya yang benar, seperti yang direkomendasi oleh Badan Litbang Pertanian sbg Teknologi Jajar Legowo Super  dengan komponen2  teknologi sebagai berikut:  a) Pengguaan Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi (b) Biodekomposer, diberikan sebelum pengolahan tanah, k(c) Pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), (d) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali,
dan (e) Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (jarwo transplanter) dan panen (combine harvester).

Kendala OPT utama yang dihadapi Afdal dan tenaga kerja yang membantu kesehariannya adalah serangan hama tikus. Namun demikian hama ini perlahan lahan berhasil juga dikendalikan. Pengendalian hama tikus dulakukannya dengan pemagaran plastik dan pemasangan perangkap tikus menggunakan bubu perangkap di beberapa titik. Teknik ini dirasakan Afdal cukup berhasil, terbukti selama satu musim hampir 3000 lebih tikus dapat tertangkap.

 Penerapan teknologi budidaya padi "Jajar Legowo Super"  pada demfarm di lahan bukaan baru milik Afdal tersebut terbukti berhasul yang ditunjukkan dengan hasil ubinan rata-rata 9.3 t/ha GKP utk varietas Inpari 30, dan 8.3 t/ha GKP utk varietas Inpari 22. Hasil ini lebih tinggi dari hasil rata2 varietas pembanding Situpatenggang (6 t/ha) yg biasa telah ditanam di lokasi ini.

Berkat dukungan teknologi tersebut, kini Afdal mulai punya mimpi besar untuk menjadi produsen pangan (padi) dan produsen benih padi di Kabupaten Aceh Jaya, umumnya di Provinsi Aceh. "Harapan lain,  tanam padi dengan teknologi yang terbaik tanpa mengambil resiko yang tidak perlu, artinya jika bisa dilakukan dengan mesin tidak perlu tergantung tenaga kerja yang terlalu banyak sehingga bisa menghemat biaya produksi" ungkap Afdal.
Semangat yang tinggi, tekad yang kuat untuk selalu belajar, seorang Afdal patut ditiru petani lain, dengan  motto hidup yang selalu terucap dari pria yang kini berusia 40 tahun ini adalah “Mau belajar dan Mau tanam Insha Allah ada Harapan” cetusnya. (Suharna)

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:189

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:187

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:846

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi