Mengurangi Susut Hasil Padi untuk Penguatan Ketahanan Pangan

Karawang - Pada 2016 Indonesia merupakan subjek dari KAPEX ‘Reducing Rice Losses For Strengthening Food Security’ yang dalam penelitian bersama ini mengundang 24 peserta untuk mengadakan workshop [11/08/2016] yang diharapkan dapat memenuhi tujuan utama yaitu  untuk "Penguatan Ketahanan Pangan".

Langkah yang harus ditempuh adalah dengan  mendorong petani kecil dalam dalam mengorganisir penanganan pascapanen mereka. Dalam hal ini Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan KREI, Korea Rural Institute Ekonomi, dalam program KAPEX (Korean Agricultural Policy Experiences for Food Security) yang merupakan program dengan sektor pertanian untuk berbagi pengetahuan bisnis berbagi pengalaman pembangunan pertanian dan teknologi dari Korea dan negara-negara mitra, memberdayakan profesional di bidang terkait, meningkatkan produktivitas pertanian, ketahanan pangan, yang bertujuan untuk memperkuat dan pengurangan kemiskinan.

Populasi global telah melampaui tujuh miliar dan diprediksi mencapai 10 miliar pada tahun 2050, dengan proyeksi peningkatan permintaan makanan dari 50-70%. Oleh karena itu ada beberapa masalah mengenai upaya pemerintah pada penguatan ketahanan pangan. Tentunya ini bukan cara yang mudah untuk mencapai ketahanan pangan tanpa program yang komprehensif dan holistik. Salah satu masalah  pada produksi beras dan stok adalah untuk mengurangi kerugian pascapanen padi, dengan jumlah yang kecil, tetapi bisa mengurangi produksi hingga 10-12% dari produksi nasional.

Kerugian pascapanen terjadi di semua segmen dari rantai pasokan beras, yang berasal dari produksi pertanian awal ke pasar beras akhir. Selama tahap produksi atau panen, kerugian terjadi dalam bentuk gabah yang ditinggalkan karena peralatan panen yang buruk atau dibuang karena gagal  memenuhi standar kualitas atau tidak ekonomis untuk panen. Kerugian beras juga dapat terjadi pada pengeringan, penggilingan dan tahap penyimpanan, dalam bentuk kualitas terdegradasi oleh hama, jamur, dan penyakit serupa di pengolahan dan tahap kemasan. Selama distribusi dan pemasaran dalam bentuk beras kasar serta beras giling dibuang karena tidak sesuai dengan standar kualitas. Ketiga tahapan panen, pengeringan dan penggilingan diambil bersama-sama mencapai lebih dari 9-10% dari seluruh kerugian penanganan pascapanen.

Penyebab pasti dari kerugian pascapanen padi seringnya merupakan hasil dari interaksi yang kompleks dalam aspek teknis, sosial, dan ekonomi. Penyebab ini karena penghasilan rendah yang terhubung dengan keterbatasan keuangan, manajerial dan teknis dalam teknik pemanenan, pengeringan, penggilingan dan fasilitas penyimpanan dalam kondisi sulit iklim, infrastruktur, kemasan dan sistem pemasaran.

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini365
Hari kemarin687
Minggu ini1052
Bulan ini28124
Jumlah Pengunjung777764
Online sekarang
26

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Mengurangi Susut Hasil Padi untuk Penguatan Ketahanan Pangan

Karawang - Pada 2016 Indonesia merupakan subjek dari KAPEX ‘Reducing Rice Losses For Strengthening Food Security’ yang dalam penelitian bersama ini mengundang 24 peserta untuk mengadakan workshop [11/08/2016] yang diharapkan dapat memenuhi tujuan utama yaitu  untuk "Penguatan Ketahanan Pangan".

Langkah yang harus ditempuh adalah dengan  mendorong petani kecil dalam dalam mengorganisir penanganan pascapanen mereka. Dalam hal ini Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan KREI, Korea Rural Institute Ekonomi, dalam program KAPEX (Korean Agricultural Policy Experiences for Food Security) yang merupakan program dengan sektor pertanian untuk berbagi pengetahuan bisnis berbagi pengalaman pembangunan pertanian dan teknologi dari Korea dan negara-negara mitra, memberdayakan profesional di bidang terkait, meningkatkan produktivitas pertanian, ketahanan pangan, yang bertujuan untuk memperkuat dan pengurangan kemiskinan.

Populasi global telah melampaui tujuh miliar dan diprediksi mencapai 10 miliar pada tahun 2050, dengan proyeksi peningkatan permintaan makanan dari 50-70%. Oleh karena itu ada beberapa masalah mengenai upaya pemerintah pada penguatan ketahanan pangan. Tentunya ini bukan cara yang mudah untuk mencapai ketahanan pangan tanpa program yang komprehensif dan holistik. Salah satu masalah  pada produksi beras dan stok adalah untuk mengurangi kerugian pascapanen padi, dengan jumlah yang kecil, tetapi bisa mengurangi produksi hingga 10-12% dari produksi nasional.

Kerugian pascapanen terjadi di semua segmen dari rantai pasokan beras, yang berasal dari produksi pertanian awal ke pasar beras akhir. Selama tahap produksi atau panen, kerugian terjadi dalam bentuk gabah yang ditinggalkan karena peralatan panen yang buruk atau dibuang karena gagal  memenuhi standar kualitas atau tidak ekonomis untuk panen. Kerugian beras juga dapat terjadi pada pengeringan, penggilingan dan tahap penyimpanan, dalam bentuk kualitas terdegradasi oleh hama, jamur, dan penyakit serupa di pengolahan dan tahap kemasan. Selama distribusi dan pemasaran dalam bentuk beras kasar serta beras giling dibuang karena tidak sesuai dengan standar kualitas. Ketiga tahapan panen, pengeringan dan penggilingan diambil bersama-sama mencapai lebih dari 9-10% dari seluruh kerugian penanganan pascapanen.

Penyebab pasti dari kerugian pascapanen padi seringnya merupakan hasil dari interaksi yang kompleks dalam aspek teknis, sosial, dan ekonomi. Penyebab ini karena penghasilan rendah yang terhubung dengan keterbatasan keuangan, manajerial dan teknis dalam teknik pemanenan, pengeringan, penggilingan dan fasilitas penyimpanan dalam kondisi sulit iklim, infrastruktur, kemasan dan sistem pemasaran.

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:214

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:223

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:861

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi