TANAMAN PADI SAWAH DI JALUR PANTURA SUBANG TERENDAM BANJIR : Jangan Separuh Hati Tanam Padi INPARA

Terjadinya anomali iklim yang berakibat meningkatnya curah hujan dan distribusi curah hujan saat ini khususnya di Jawa Barat Pantai Utara (Karawang, Subang dan Indramayu) telah mengakibatkan banjir dan rendaman yang berdampak serius terhadap kelangsungan pertumbuhan tanaman padi khususnya pada fase pembibitan dan pertumbuhan awal hingga 15 Hari Setelah Tanam (HST). Meningkatnya curah hujan yang terjadi sejak 17 hingga 24 Januari 2014 khususya di Kabupaten Subang, menyebabkan banjir dengan ketinggian 50-200 m melanda pertanaman padi sawah yang cukup luas, serta melanda perkampungan penduduk dan menimbulkan kerugian yang cukup besar (Gambar 1-2). Selain disebabkan oleh meningkatnya curah hujan, banjir di lokasi ini disebabkan pula oleh meluapnya kali Ciasem dan kali Cipunagara, serta naiknya air pasang di pesisir laut, seperti yang terjadi di kecamatan Blanakan. Gambar 1 memunjukkan kondisi pertanaman padi terendam banjir setinggi tanaman selama lima hari di kecamatan Blanakan, Subang.

 

Kerusakan pertanaman padi paling serius di kabupaten Subang, terjadi di lima kecamatan yaitu: Kecamatan Ciasem, Blanakan, Pamanukan, Pusakanegara, dan Pusakajaya. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Tim BB Padi ke lokasi, kerusakan tersebut mencapai sekitar 10.000 ha (Sumber BPP Kecamatan). Sekitar 60% dari luasan tersebut, merupakan fase pertumbuhan padi, yang baru memasuki pembibitan hingga umur 20 HST. Fase tersebut merupakan fase pertumbuhan yang rawan oleh genangan air dan diperkirakan tidak dapat bertahan hidup atau melakukan recovery setelah terendam, karena varietas yang ditanam petani di lokasi ini seperti Mekongga, Ciherang dan Inpari 10 tidak mempunyai ketahanan terhadap rendaman atau genangan air. Pada areal pertenaman ini disarankan agar dilakukan semai benih dan tanam ulang. Sebagian pertanaman yang terlanda banjir pada fase vegetative hingga generatif (tanam akhir November) diperkirakan masih mampu bertahan hidup melakukan recovery (Gambar 3-4). Pertanaman tersebut disarankan segera diatur drainasenya hingga air mencapai ketinggian 3-5 cm, segera dilakukan pemupukan sebagai pengganti pupuk yang hilang terbawa banjir.

 

Ketersediaan teknologi untuk mengantisipasi dampak buruk dari banjir dan rendamantelah dihasilkan Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, berupa VUB padi adaptif atau toleran terhadap rendaman/genangan fase vegetative. VUB ini memiliki gen ketahanan terhadap rendaman, yaitu gen Sub-1 (Submergence 1), yang menyebabkan varietas ini dapat bertahan hidup terendam air selama 7-14 hari, dan pasca rendaman dapat melakukan recovery hingga dapat dipanen. Namun demikian VUB tersebut belum dikembangkan oleh petani, sehingga untuk musim berikutnya penggunaan varietas tersebut harus menjadi pertimbangan khususnya di daerah-daerah rawan banjir/genangan. Varietas-varietas tersebut disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Varietas unggul baru padi toleran terhadap rendaman fase vegetatif

 Nama varietas

Tinggi tanaman (cm)

Umur tanam (hari)

Rasa nasi

Bentuk beras

 

Ketahan rendaman (hari)

Potensi hasil (t/ha)

Inpara-3

108

126

Pera

Panjang

6

5,6

Inpara-4

94

135

Pera

Panjang

14

7,6

Inpara-5

92

115

Pulen

Panjang

14

7,2

Inpari-29

103

110

Pulen

Panjang

14

9,5

Inpari-30

101

111

Pulen

panjang

15

9,6

Inpara-3 sangat cocok untuk ditanam di daerahrendaman pada lahan rawa lebak, pasang surut dan juga sawah rawan banjir yang konsumennya menyukai tekstur nasi pera. Varietas Inpara-4 untuk lahan rawa lebak, pasang surut, dan cocok pula untuk lahan sawah rawan banjir karena tingkat ketahanannya terhadap rendaman lebih baik disbanding dengan Inpara 3. Varietas Inpara-5 berasal dari IR64 yang telah diperbaiki ketahanannya terhadap rendaman, sedangkan Inpari 29 dan Inpari 30 berasal dari varietas Ciherang yang telah diperbaiki ketahanannya terhadap rendaman. Varietas-varietas tersebut selain memiliki ketahanan terhadap rendaman, juga bertekstur nasi pulen. Deskripsi varietas padi adaptif atau toleran terhadap kondisi banjir dan rendaman, disajikan dalam Tabel 1. (Dr. Made Jana Mejaya, Kepala BB Padi Sukamandi dan Tim)

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1063
Hari kemarin1782
Minggu ini2845
Bulan ini30865
Jumlah Pengunjung854763
Online sekarang
32

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

TANAMAN PADI SAWAH DI JALUR PANTURA SUBANG TERENDAM BANJIR : Jangan Separuh Hati Tanam Padi INPARA

Terjadinya anomali iklim yang berakibat meningkatnya curah hujan dan distribusi curah hujan saat ini khususnya di Jawa Barat Pantai Utara (Karawang, Subang dan Indramayu) telah mengakibatkan banjir dan rendaman yang berdampak serius terhadap kelangsungan pertumbuhan tanaman padi khususnya pada fase pembibitan dan pertumbuhan awal hingga 15 Hari Setelah Tanam (HST). Meningkatnya curah hujan yang terjadi sejak 17 hingga 24 Januari 2014 khususya di Kabupaten Subang, menyebabkan banjir dengan ketinggian 50-200 m melanda pertanaman padi sawah yang cukup luas, serta melanda perkampungan penduduk dan menimbulkan kerugian yang cukup besar (Gambar 1-2). Selain disebabkan oleh meningkatnya curah hujan, banjir di lokasi ini disebabkan pula oleh meluapnya kali Ciasem dan kali Cipunagara, serta naiknya air pasang di pesisir laut, seperti yang terjadi di kecamatan Blanakan. Gambar 1 memunjukkan kondisi pertanaman padi terendam banjir setinggi tanaman selama lima hari di kecamatan Blanakan, Subang.

 

Kerusakan pertanaman padi paling serius di kabupaten Subang, terjadi di lima kecamatan yaitu: Kecamatan Ciasem, Blanakan, Pamanukan, Pusakanegara, dan Pusakajaya. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Tim BB Padi ke lokasi, kerusakan tersebut mencapai sekitar 10.000 ha (Sumber BPP Kecamatan). Sekitar 60% dari luasan tersebut, merupakan fase pertumbuhan padi, yang baru memasuki pembibitan hingga umur 20 HST. Fase tersebut merupakan fase pertumbuhan yang rawan oleh genangan air dan diperkirakan tidak dapat bertahan hidup atau melakukan recovery setelah terendam, karena varietas yang ditanam petani di lokasi ini seperti Mekongga, Ciherang dan Inpari 10 tidak mempunyai ketahanan terhadap rendaman atau genangan air. Pada areal pertenaman ini disarankan agar dilakukan semai benih dan tanam ulang. Sebagian pertanaman yang terlanda banjir pada fase vegetative hingga generatif (tanam akhir November) diperkirakan masih mampu bertahan hidup melakukan recovery (Gambar 3-4). Pertanaman tersebut disarankan segera diatur drainasenya hingga air mencapai ketinggian 3-5 cm, segera dilakukan pemupukan sebagai pengganti pupuk yang hilang terbawa banjir.

 

Ketersediaan teknologi untuk mengantisipasi dampak buruk dari banjir dan rendamantelah dihasilkan Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, berupa VUB padi adaptif atau toleran terhadap rendaman/genangan fase vegetative. VUB ini memiliki gen ketahanan terhadap rendaman, yaitu gen Sub-1 (Submergence 1), yang menyebabkan varietas ini dapat bertahan hidup terendam air selama 7-14 hari, dan pasca rendaman dapat melakukan recovery hingga dapat dipanen. Namun demikian VUB tersebut belum dikembangkan oleh petani, sehingga untuk musim berikutnya penggunaan varietas tersebut harus menjadi pertimbangan khususnya di daerah-daerah rawan banjir/genangan. Varietas-varietas tersebut disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Varietas unggul baru padi toleran terhadap rendaman fase vegetatif

 Nama varietas

Tinggi tanaman (cm)

Umur tanam (hari)

Rasa nasi

Bentuk beras

 

Ketahan rendaman (hari)

Potensi hasil (t/ha)

Inpara-3

108

126

Pera

Panjang

6

5,6

Inpara-4

94

135

Pera

Panjang

14

7,6

Inpara-5

92

115

Pulen

Panjang

14

7,2

Inpari-29

103

110

Pulen

Panjang

14

9,5

Inpari-30

101

111

Pulen

panjang

15

9,6

Inpara-3 sangat cocok untuk ditanam di daerahrendaman pada lahan rawa lebak, pasang surut dan juga sawah rawan banjir yang konsumennya menyukai tekstur nasi pera. Varietas Inpara-4 untuk lahan rawa lebak, pasang surut, dan cocok pula untuk lahan sawah rawan banjir karena tingkat ketahanannya terhadap rendaman lebih baik disbanding dengan Inpara 3. Varietas Inpara-5 berasal dari IR64 yang telah diperbaiki ketahanannya terhadap rendaman, sedangkan Inpari 29 dan Inpari 30 berasal dari varietas Ciherang yang telah diperbaiki ketahanannya terhadap rendaman. Varietas-varietas tersebut selain memiliki ketahanan terhadap rendaman, juga bertekstur nasi pulen. Deskripsi varietas padi adaptif atau toleran terhadap kondisi banjir dan rendaman, disajikan dalam Tabel 1. (Dr. Made Jana Mejaya, Kepala BB Padi Sukamandi dan Tim)

 

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi