OPT pada Pertanaman Padi di Brebes, Jawa Tengah

Terkait dengan kunjungan Presiden RI ke Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan dilansir di media online dan disebutkan terdapat kerusakan pada pertanaman bawang oleh OPT. Empat orang staf dari Kelti Proteksi, Dr. Bambang Nuryanto, Eko H. Iswanto SP., Nono Sumaryono, dan Rahmini untuk melakukan pengamatan terhadap OPT pada pertanaman padi di sekitar pertanaman bawang tersebut.

Monitoring perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dilakukan pada hamparan sawah di sekitar kecamatan Ketanggungan dan Larangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah pada MH 2015/206. Hamparan sawah di Desa Luwung Gede, kecamatan Larangan yang terletak di sebelah utara jalan raya sekitar lebih dari 100 ha kondisi vegetasi didominasi oleh pertanaman bawang merah 80% sedangkan pertanaman padi hanya ditemukan sekitar 2-3%, sisanya ditanami palawija dan sayuran lain seperti jagung, cabai, cabai rawit dan labu kuning. Pada pertanaman bawang, banyak dijumpai ulat grayak, Spodoptera exigua (Lepidoptera; Noctuidae), yang menyerang bawang merah. Menurut laporan POPT setempat intensitas serangan mencapai 60%. Ulat tersebut tidak dijumpai menyerang tanaman padi.

Pertanaman bawang merah yang terserang ulat grayak (Spodoptera sp.)

Hamparan sawah di sebelah selatan jalan raya, masuk wilayah Desa Kubangsari Kecamatan Ketanggungan. Di hamparan seluas lebih dari 75 ha didominasi oleh pertanaman padi yang cara tanamnya model tumpang sari dengan jagung atau cabe. Varietas padi yang umum ditanam petani adalah IR64, Ciherang dan Muncul. Hama yang ditemukan pada pertanaman padi adalah penggerek batang padi, pelipat daun dan walang sangit. Intensitas serangan penggerek batang mencapai 18,9%; pelipat daun 5% sedangkan populasi walang sangit 1-2 ekor/rumpun. Musuh alami yang banyak ditemukan adalah laba-laba, Paederus dan Ophionea. Pengendalian terhadap walang sangit direkomendasikan segera dilakukan karena masih banyak pertanaman dengan stadia pengisian bulir. Penyakit yang ditemukan di pertanaman adalah blas leher, hawar daun bakteri (kresek) dan hawar pelepah.  Pada varietas IR64 intensitas blas leher 15%, kresek 20%, dan hawar pelepah 10%, sedangkan pada varietas Muncul blas leher 5%, kresek 10% dan hawar pelepah 5%.

Dari hasil pengamatan tersebut telah direkomendasikan kepada petugas dan petani setempat agar :

  1. Segera dilakukan pengendalian terhadap walang sangit terutama pertanaman pada stadia pengisian bulir, disarankan menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC, dengan cara menyemprot pada sisi luar atau keliling petak sawah terlebih dahulu, dilajutkan ke tengah sawah. Walang sangit yang ada pada saat padi vegetatif atau sebelum pengisian bulir belum perlu dikendalikan.
  2. Penggunaan lampu perangkap pada musim selanjutnya untuk efektifitas pengendalian penggerek batang padi.
  3. Penggunaaan Bagan Warna Daun untuk menentukan dosis urea agar sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hal ini berhubungan dengan intensitas serangan penyakit di wilayah tersebut.
  4. Pengamatan intensif untuk mengetahui perkembangan OPT. (Rmn)

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini698
Hari kemarin839
Minggu ini3007
Bulan ini30079
Jumlah Pengunjung779719
Online sekarang
23

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

OPT pada Pertanaman Padi di Brebes, Jawa Tengah

Terkait dengan kunjungan Presiden RI ke Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dan dilansir di media online dan disebutkan terdapat kerusakan pada pertanaman bawang oleh OPT. Empat orang staf dari Kelti Proteksi, Dr. Bambang Nuryanto, Eko H. Iswanto SP., Nono Sumaryono, dan Rahmini untuk melakukan pengamatan terhadap OPT pada pertanaman padi di sekitar pertanaman bawang tersebut.

Monitoring perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dilakukan pada hamparan sawah di sekitar kecamatan Ketanggungan dan Larangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah pada MH 2015/206. Hamparan sawah di Desa Luwung Gede, kecamatan Larangan yang terletak di sebelah utara jalan raya sekitar lebih dari 100 ha kondisi vegetasi didominasi oleh pertanaman bawang merah 80% sedangkan pertanaman padi hanya ditemukan sekitar 2-3%, sisanya ditanami palawija dan sayuran lain seperti jagung, cabai, cabai rawit dan labu kuning. Pada pertanaman bawang, banyak dijumpai ulat grayak, Spodoptera exigua (Lepidoptera; Noctuidae), yang menyerang bawang merah. Menurut laporan POPT setempat intensitas serangan mencapai 60%. Ulat tersebut tidak dijumpai menyerang tanaman padi.

Pertanaman bawang merah yang terserang ulat grayak (Spodoptera sp.)

Hamparan sawah di sebelah selatan jalan raya, masuk wilayah Desa Kubangsari Kecamatan Ketanggungan. Di hamparan seluas lebih dari 75 ha didominasi oleh pertanaman padi yang cara tanamnya model tumpang sari dengan jagung atau cabe. Varietas padi yang umum ditanam petani adalah IR64, Ciherang dan Muncul. Hama yang ditemukan pada pertanaman padi adalah penggerek batang padi, pelipat daun dan walang sangit. Intensitas serangan penggerek batang mencapai 18,9%; pelipat daun 5% sedangkan populasi walang sangit 1-2 ekor/rumpun. Musuh alami yang banyak ditemukan adalah laba-laba, Paederus dan Ophionea. Pengendalian terhadap walang sangit direkomendasikan segera dilakukan karena masih banyak pertanaman dengan stadia pengisian bulir. Penyakit yang ditemukan di pertanaman adalah blas leher, hawar daun bakteri (kresek) dan hawar pelepah.  Pada varietas IR64 intensitas blas leher 15%, kresek 20%, dan hawar pelepah 10%, sedangkan pada varietas Muncul blas leher 5%, kresek 10% dan hawar pelepah 5%.

Dari hasil pengamatan tersebut telah direkomendasikan kepada petugas dan petani setempat agar :

  1. Segera dilakukan pengendalian terhadap walang sangit terutama pertanaman pada stadia pengisian bulir, disarankan menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC, dengan cara menyemprot pada sisi luar atau keliling petak sawah terlebih dahulu, dilajutkan ke tengah sawah. Walang sangit yang ada pada saat padi vegetatif atau sebelum pengisian bulir belum perlu dikendalikan.
  2. Penggunaan lampu perangkap pada musim selanjutnya untuk efektifitas pengendalian penggerek batang padi.
  3. Penggunaaan Bagan Warna Daun untuk menentukan dosis urea agar sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hal ini berhubungan dengan intensitas serangan penyakit di wilayah tersebut.
  4. Pengamatan intensif untuk mengetahui perkembangan OPT. (Rmn)

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:230

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:252

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:881

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi