Serap Gabah Ikhtiar Menyelamatkan Jatuhnya Harga Padi

Derita petani adalah ketika harga gabah jatuh berguguran jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Oleh karena itu, ikhtiar untuk menyelamatkan harga gabah yang jatuh salah satunya dilakukan dengan program serap gabah.

Serap gabah kemudian diterapkan di berbagai provinsi, satu di antaranya di Lamongan, Jawa Timur, yang dimulai dengan dilakukannya nota kesepahaman bersama antara Divre Perum Bulog dengan kePala dinas pertanian dan TNI.

Ketua Upsus Tim Peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai propinsi Jawa Timur yang juga Dirjen Prasarana dan sarana pertanian, Sumarjo Gatoto Irianto mengatakan pemerintah telah mencanangkan program Sergap (serap gabah petani).

Presiden sebagai Ketua Dewan Ketahanan Pangan sudah menginstruksikan untuk melakukan Serap gabah Petani.

"Dengan komitmen tersebut Perum Bulog dapat sepenuhnya menyerap gabah petani agar sesuai dengan ketetapan pemerintah. Bulog juga diharapkan dapat melaporkan hasil penyerapan setiap minggunya," katanya.

Pemerintah memang menargetkan Bulog bisa menyerap 10% hingga 20% produksi petani.

Sementara Perum Bulog sendiri sudah menetapkan target untuk masing-masing wilayah kerjanya. Misalnya, Divre Banyuwangi sebanyak 65 ribu ton setara beras. Divre Madura 25 ribu, Bondowoso SS ribu, Ponorogo 65 ribu, Malang 71 ribu, Surabaya Utara 95 ribu, Surabaya Selatan 85 ribu, Kediri 55 ribu. Madiun 50 ribu, Tulungagung 50 ribu, dan Jombang 70 ribu ton.

Gatot mengatakan, untuk penyerapan gabah petani. Bulog akan dibantu penyuluh dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten dan Komandan Komando Distrik Militer TNI-AD dengan jajarannya setempat.

Program serap gabah menjadi fokus pemerintah dengan anggaran yang disediakan sekitar Rp20 triliun. Dana itu diperuntukan bagi upaya menyerap gabah hasil panen petani pada tahun ini melalui Perum Bulog untuk penyediaan pangan nasional.

"Anggaran Rp20 triliun disediakan pemerintah untuk program serap beras, ini juga disertai dengan target yakni mampu menyerap gabah petani empat sampai lima juta ton setara beras," kata Gatot.

Keterlibatan berbagai pihak diharapkan mendorong program serap gabah tersebut Pihaknya menekankan agar Penyuluh pertanian selalu mendampingi para petani untuk bisa membantu menyerap gabah hasil panen di wilayahnya kemudian disetorkan ke Bulog.

Gabah Melimpah Pemerintah sebelumnya memperkirakan ketersediaan beras Januari-Maret 2016 akan melimpah mengingat pada Februari 2016 akan dipanen 5 juta ton gabah setara 3,1 juta ton beras dan pada Maret 2016 akan dipanen 12,56 juta ton gabah setara 7,9 juta ton beras, sedangkan konsumsi beras penduduk hanya 2,6 juta ton per bulani

Hal itu menjadi siklus lanjutkan dari tahun lalu ketika Indonesia mengalami surplus produksi beras nasional 2015. Tahun lalu BPS memang sempat merilis Angka Ramalan-11 (ARAM-ID 2015 produksi padi 74,99 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 5,84% dari produksi tahun 2014. Dengan produksi gabah tersebut diperoleh beras setara 43,61 juta ton yang berarti surplus untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan sekitar 33,35 juta ton beras nasional. Surplus beras sebesar 10,25 juta ton saat ini berada tersebar di produsen, penggilingan, pedagang, industri, rumah makan, restoran, konsumen dan di Bulog.

Hal itu menjadi bukti kerja keras Pemerintah dalam melakukan antisipasi terhadap El-Nino 2015 yang lebih berat dibandingkan dengan El-Nino tahun 1997, yang nyatanya berhasil meningkatkan produksi beras nasional. Pada saat El-Nino 1997, Indonesia mengimpor beras total 7,1 juta ton untuk memenuhi konsumsi 202 juta penduduk, sedangkan pada tahun 2015 dengan penduduk 252 juta jiwa belum mengonsumsi beras impor.

Namun untuk menyelamatkan harga gabah yang anjlok lantaran melimpahnya pasokan dibutuhkan kerja keras yang lain. Serap gabah kemudian digalakkan untuk menjadi solusi agar harga gabah tidak kemudian jatuh tersungkur di bawah HPP.

Maka Badan Urusan Logistik (Bulog) pun dituntut untuk menyerap gabah petani dengan baik. Satu di antara yang menjalankan peran tersebut yakni Bulog Sub Divisi Regional (divre) II Surabaya Selatan (Mojokerto-Jombang) yang bahkan menargetkan pada musim panen raya Maret 2016 mampu menyerap gabah petani sebesar 200 ton perhari.

Untuk itu para petani melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), bisa langsung datang ke gudang bulog untuk menjual hasil penen mereka dengan harga diatas tengkulak.

Bulog tersebut pada pembukaan panen raya awal Maret lalu telah menyerap sebesar 1500 ton gabah petani. Rinciannya dari petani asal Jombang sebesar 1300 ton dan petani Mojokerto sebesar 200 ton dalam sehari.

Bulog untuk tiga kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto/kota Mojokerto menargetkan mampu menyerap sebesar 10 ribu ton pada panen raya tahun ini.

Selain itu Bulog juga akan membeli gabah petani sesuai dengan harga Pokok Penjualan (HPP) sesuai dengan aturan yang ada yakni sebesar Rp 3.700 per kilogram.

Hingga kini, satu di antara gudang Bulog yang berada di Tunggoro Jombang juga bahkan telah menampung sebanyak 100 ton gabah kering giling. Gudang Bulog juga menyediakan pengering konvensional dan juga pengering mekanis dengan kapasitas mencapai 42.000 ton sehari.

Sementara, proses penger-ingan gabah kering sawah secara konvensional, menjadi gabah kering giling butuh waktu sekitar 2- 3 hari dengan kondisi cuaca panas.

Sedangkan dengan menggunakan pengering Mekanisme dari kapasitas 42 ribu ton, hanya membutuhkan waktu sebanyak 18 jam.

Untuk diketahui, harga jual gabah kering sawah saat musim panen ini anjlok jauh diatas HPP pemerintah. Harga gabah Kering sawah ditingkat petani hanya berkisar Rp 2.500 -Rp 3.100 per kilogram.

Sedangkan harga tertinggi di petani rata rata berkisar Rp3.100 per kilogram, padahal harga sesuai HPP seharusnya Rp 3.700 per kilogram.

Terjunkan Penyuluh untuk mendorong berhasilnya program serap gabah, beragam "jurus" diterapkan Kementerian Pertanian untuk tujuan akhir menyejahterakan petani.

Tim Serap gabah atau Tim Sergap pun kemudian dibentuk yang terdiri atas Penyuluh pertanian Lapangan (PPL), Kelompok Nelayan Tani Andalan (KTNA), Badan Urusan Logistik (Bulog), TNI, pemerintah daerah.

Saat ini, tercatat sebanyak 50 ribu PPL dikerahkan untuk menyerap gabah petani di seluruh nusantara.

Disebutkan Gatot sebelum ada tim, atau serapan Jawa Timur hanya 100 ribu ton perhari. Dengan ada tim, langsung naik 2000 ribu ton perhari.

Ke depan, dalam jangka panjang, Kementerian Pertanian juga akan membenahi regulasi, jnfrastruktur dibangun, pupuk dan benih tepat waktu, rantai pasok dipangkas dan mengendalikan impor.

Soal Tim Sergah sendiri merupakan strategi yang diterjemahkan dari intruksi Presiden. Saat memasuki masa panen, presiden khawatir harga gabah turun.

Misalnya saja jika harga gabah di bawah Rp3.700 pemerintah kemudian akan segera melakukan intervensi.

"Ini menghindari harga gabah turun sampai Rp 2000. Kita potong rantai pasar, sehingga Bulog yang mengambil alih, bekerja sama dengan 50 ribu PPL Kemantan dan BRI untuk permodalan," katanya.

Kalau 50 ribu PPL ini dikerahkan dan setiap orang dapat membeli 1000 ton, sudah dapat 50 juta ton. Karenanya, Kementan mewajibkan setiap PPL menyerap 1000 ton.

Gatot meyakini, sampai April 2016 penyerapan gabah akan maksimal yakni 31 Juta ton atau setara 17 juta ton beras. "Bulog, petani, PPL dapat manfaat. Kami berharap untuk komoditas yang lain akan ikut sistem seperti ini," ujar dia.

Ia sendiri berpendapat Tim Sergab akan sangat efektif mengatasi rendahnya serapan gabah petani saat ini.

Tim gabungan itu diharapkan juga dapat memutus rantai perniagaan beras yang selama ini selalu menguntungkan pihak ketiga (tengkulak).

Sumber : Media Indonesia

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini1373
Hari kemarin2644
Minggu ini6335
Bulan ini39154
Jumlah Pengunjung957147
Online sekarang
26

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Serap Gabah Ikhtiar Menyelamatkan Jatuhnya Harga Padi

Derita petani adalah ketika harga gabah jatuh berguguran jauh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Oleh karena itu, ikhtiar untuk menyelamatkan harga gabah yang jatuh salah satunya dilakukan dengan program serap gabah.

Serap gabah kemudian diterapkan di berbagai provinsi, satu di antaranya di Lamongan, Jawa Timur, yang dimulai dengan dilakukannya nota kesepahaman bersama antara Divre Perum Bulog dengan kePala dinas pertanian dan TNI.

Ketua Upsus Tim Peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai propinsi Jawa Timur yang juga Dirjen Prasarana dan sarana pertanian, Sumarjo Gatoto Irianto mengatakan pemerintah telah mencanangkan program Sergap (serap gabah petani).

Presiden sebagai Ketua Dewan Ketahanan Pangan sudah menginstruksikan untuk melakukan Serap gabah Petani.

"Dengan komitmen tersebut Perum Bulog dapat sepenuhnya menyerap gabah petani agar sesuai dengan ketetapan pemerintah. Bulog juga diharapkan dapat melaporkan hasil penyerapan setiap minggunya," katanya.

Pemerintah memang menargetkan Bulog bisa menyerap 10% hingga 20% produksi petani.

Sementara Perum Bulog sendiri sudah menetapkan target untuk masing-masing wilayah kerjanya. Misalnya, Divre Banyuwangi sebanyak 65 ribu ton setara beras. Divre Madura 25 ribu, Bondowoso SS ribu, Ponorogo 65 ribu, Malang 71 ribu, Surabaya Utara 95 ribu, Surabaya Selatan 85 ribu, Kediri 55 ribu. Madiun 50 ribu, Tulungagung 50 ribu, dan Jombang 70 ribu ton.

Gatot mengatakan, untuk penyerapan gabah petani. Bulog akan dibantu penyuluh dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten dan Komandan Komando Distrik Militer TNI-AD dengan jajarannya setempat.

Program serap gabah menjadi fokus pemerintah dengan anggaran yang disediakan sekitar Rp20 triliun. Dana itu diperuntukan bagi upaya menyerap gabah hasil panen petani pada tahun ini melalui Perum Bulog untuk penyediaan pangan nasional.

"Anggaran Rp20 triliun disediakan pemerintah untuk program serap beras, ini juga disertai dengan target yakni mampu menyerap gabah petani empat sampai lima juta ton setara beras," kata Gatot.

Keterlibatan berbagai pihak diharapkan mendorong program serap gabah tersebut Pihaknya menekankan agar Penyuluh pertanian selalu mendampingi para petani untuk bisa membantu menyerap gabah hasil panen di wilayahnya kemudian disetorkan ke Bulog.

Gabah Melimpah Pemerintah sebelumnya memperkirakan ketersediaan beras Januari-Maret 2016 akan melimpah mengingat pada Februari 2016 akan dipanen 5 juta ton gabah setara 3,1 juta ton beras dan pada Maret 2016 akan dipanen 12,56 juta ton gabah setara 7,9 juta ton beras, sedangkan konsumsi beras penduduk hanya 2,6 juta ton per bulani

Hal itu menjadi siklus lanjutkan dari tahun lalu ketika Indonesia mengalami surplus produksi beras nasional 2015. Tahun lalu BPS memang sempat merilis Angka Ramalan-11 (ARAM-ID 2015 produksi padi 74,99 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 5,84% dari produksi tahun 2014. Dengan produksi gabah tersebut diperoleh beras setara 43,61 juta ton yang berarti surplus untuk memenuhi kebutuhan pangan dan non pangan sekitar 33,35 juta ton beras nasional. Surplus beras sebesar 10,25 juta ton saat ini berada tersebar di produsen, penggilingan, pedagang, industri, rumah makan, restoran, konsumen dan di Bulog.

Hal itu menjadi bukti kerja keras Pemerintah dalam melakukan antisipasi terhadap El-Nino 2015 yang lebih berat dibandingkan dengan El-Nino tahun 1997, yang nyatanya berhasil meningkatkan produksi beras nasional. Pada saat El-Nino 1997, Indonesia mengimpor beras total 7,1 juta ton untuk memenuhi konsumsi 202 juta penduduk, sedangkan pada tahun 2015 dengan penduduk 252 juta jiwa belum mengonsumsi beras impor.

Namun untuk menyelamatkan harga gabah yang anjlok lantaran melimpahnya pasokan dibutuhkan kerja keras yang lain. Serap gabah kemudian digalakkan untuk menjadi solusi agar harga gabah tidak kemudian jatuh tersungkur di bawah HPP.

Maka Badan Urusan Logistik (Bulog) pun dituntut untuk menyerap gabah petani dengan baik. Satu di antara yang menjalankan peran tersebut yakni Bulog Sub Divisi Regional (divre) II Surabaya Selatan (Mojokerto-Jombang) yang bahkan menargetkan pada musim panen raya Maret 2016 mampu menyerap gabah petani sebesar 200 ton perhari.

Untuk itu para petani melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), bisa langsung datang ke gudang bulog untuk menjual hasil penen mereka dengan harga diatas tengkulak.

Bulog tersebut pada pembukaan panen raya awal Maret lalu telah menyerap sebesar 1500 ton gabah petani. Rinciannya dari petani asal Jombang sebesar 1300 ton dan petani Mojokerto sebesar 200 ton dalam sehari.

Bulog untuk tiga kabupaten Jombang, Kabupaten Mojokerto/kota Mojokerto menargetkan mampu menyerap sebesar 10 ribu ton pada panen raya tahun ini.

Selain itu Bulog juga akan membeli gabah petani sesuai dengan harga Pokok Penjualan (HPP) sesuai dengan aturan yang ada yakni sebesar Rp 3.700 per kilogram.

Hingga kini, satu di antara gudang Bulog yang berada di Tunggoro Jombang juga bahkan telah menampung sebanyak 100 ton gabah kering giling. Gudang Bulog juga menyediakan pengering konvensional dan juga pengering mekanis dengan kapasitas mencapai 42.000 ton sehari.

Sementara, proses penger-ingan gabah kering sawah secara konvensional, menjadi gabah kering giling butuh waktu sekitar 2- 3 hari dengan kondisi cuaca panas.

Sedangkan dengan menggunakan pengering Mekanisme dari kapasitas 42 ribu ton, hanya membutuhkan waktu sebanyak 18 jam.

Untuk diketahui, harga jual gabah kering sawah saat musim panen ini anjlok jauh diatas HPP pemerintah. Harga gabah Kering sawah ditingkat petani hanya berkisar Rp 2.500 -Rp 3.100 per kilogram.

Sedangkan harga tertinggi di petani rata rata berkisar Rp3.100 per kilogram, padahal harga sesuai HPP seharusnya Rp 3.700 per kilogram.

Terjunkan Penyuluh untuk mendorong berhasilnya program serap gabah, beragam "jurus" diterapkan Kementerian Pertanian untuk tujuan akhir menyejahterakan petani.

Tim Serap gabah atau Tim Sergap pun kemudian dibentuk yang terdiri atas Penyuluh pertanian Lapangan (PPL), Kelompok Nelayan Tani Andalan (KTNA), Badan Urusan Logistik (Bulog), TNI, pemerintah daerah.

Saat ini, tercatat sebanyak 50 ribu PPL dikerahkan untuk menyerap gabah petani di seluruh nusantara.

Disebutkan Gatot sebelum ada tim, atau serapan Jawa Timur hanya 100 ribu ton perhari. Dengan ada tim, langsung naik 2000 ribu ton perhari.

Ke depan, dalam jangka panjang, Kementerian Pertanian juga akan membenahi regulasi, jnfrastruktur dibangun, pupuk dan benih tepat waktu, rantai pasok dipangkas dan mengendalikan impor.

Soal Tim Sergah sendiri merupakan strategi yang diterjemahkan dari intruksi Presiden. Saat memasuki masa panen, presiden khawatir harga gabah turun.

Misalnya saja jika harga gabah di bawah Rp3.700 pemerintah kemudian akan segera melakukan intervensi.

"Ini menghindari harga gabah turun sampai Rp 2000. Kita potong rantai pasar, sehingga Bulog yang mengambil alih, bekerja sama dengan 50 ribu PPL Kemantan dan BRI untuk permodalan," katanya.

Kalau 50 ribu PPL ini dikerahkan dan setiap orang dapat membeli 1000 ton, sudah dapat 50 juta ton. Karenanya, Kementan mewajibkan setiap PPL menyerap 1000 ton.

Gatot meyakini, sampai April 2016 penyerapan gabah akan maksimal yakni 31 Juta ton atau setara 17 juta ton beras. "Bulog, petani, PPL dapat manfaat. Kami berharap untuk komoditas yang lain akan ikut sistem seperti ini," ujar dia.

Ia sendiri berpendapat Tim Sergab akan sangat efektif mengatasi rendahnya serapan gabah petani saat ini.

Tim gabungan itu diharapkan juga dapat memutus rantai perniagaan beras yang selama ini selalu menguntungkan pihak ketiga (tengkulak).

Sumber : Media Indonesia

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi