Genjot Produksi Padi, Ini Cara Kementan

Jakarta -Kementerian Pertanian (Kementan) menekankan perlunya penerapan sistem tata kelola air yang kolaboratif antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kolaborasi yang harmonis dari ketiga kementerian tersebut dilakukan dalam mengelola air. 

Langkah ini dilakukan untuk menggenjot produksi padi. Sebab, tata kelola infrastruktur pertanian meliputi tata kelola lahan, tata kelola air dan tata kelola informatika.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian, Ani Andayani menuturkan berdasarkan data yang dirilis Litbang Kementerian Pekerjaan Umum Pekerjaan Rumah (PUPR), bahwa untuk menghasilkan 1 ton beras di Indonesia diperlukan 2.500 meter kubik air irigasi. Namun, di negara lain seperti Vietnam cukup membutuhkan 1.600 meter kubik air.

Menurut Ani, hal tersebut menunjukkan efisiensi air bagi budidaya padi di Indonesia perlu diantisipasi dengan penerapan sistem irigasi yang tepat dan efisien disamping menanam padi tahan kering.

"Selain itu, menghitung kecukupan air bagi budidaya padi sawah, padi gogo, padi gogo rancah atau jenis tanaman pangan lainnya menjadi aspek penting untuk diteliti lebih lanjut dalam upaya menjaga ketersediaan air," tutur Ani dalam siaran pers Kementan, Jumat (11/3/2016).

Ani menjelaskan tata kelola air yang benar yaitu mulai dari hulu di bawah kewenangan KLHK sebagai up stream, kemudian middle stream-nya yaitu irigasi primer dan sekunder, termasuk pengelolaan daerah aliran sungai dan komponennya merupakan kewenangan Kementerian PUPR.

"Sementara destinasi akhirnya, mulai dari irigasi tersier yang pemanfaatannya untuk pangan merupakan kewenangan Kementerian Pertanian. Sehingga upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi, ditentukan pula oleh peran kolaboratif dari kementerian lain, " tegas Ani.

Pembagian kewenangan pengelolaan air tersebut, terungkap dalam pertemuan bilateral Joint Steering Committee Republic of Indonesia and the Netherlands in the Field of Water Management, pada tanggal 23 Februari 2016 yang diselenggarakan di kantor Kementerian PUPR.

Dalam pertemuan bilateral tersebut menyimpulkan ada dua aspek yang harus didedikasikan untuk tata kelola air irigasi untuk menjamin ketersediaan air bagi produksi pangan, yaitu pertama,  efisiensi air dengan kualitasnya. 

"Dan kedua menyangkut ketersediaan air irigasi yang cukup dan keberlanjutannya," pungkas Ani.

Sumber: Feby Dwi Sutianto - detikfinance

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1
Laporan Tahunan 2014

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia
Teknologi Jarwo Super untuk Kedaulatan Pangan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini503
Hari kemarin839
Minggu ini2812
Bulan ini29884
Jumlah Pengunjung779524
Online sekarang
14

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Genjot Produksi Padi, Ini Cara Kementan

Jakarta -Kementerian Pertanian (Kementan) menekankan perlunya penerapan sistem tata kelola air yang kolaboratif antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kolaborasi yang harmonis dari ketiga kementerian tersebut dilakukan dalam mengelola air. 

Langkah ini dilakukan untuk menggenjot produksi padi. Sebab, tata kelola infrastruktur pertanian meliputi tata kelola lahan, tata kelola air dan tata kelola informatika.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian, Ani Andayani menuturkan berdasarkan data yang dirilis Litbang Kementerian Pekerjaan Umum Pekerjaan Rumah (PUPR), bahwa untuk menghasilkan 1 ton beras di Indonesia diperlukan 2.500 meter kubik air irigasi. Namun, di negara lain seperti Vietnam cukup membutuhkan 1.600 meter kubik air.

Menurut Ani, hal tersebut menunjukkan efisiensi air bagi budidaya padi di Indonesia perlu diantisipasi dengan penerapan sistem irigasi yang tepat dan efisien disamping menanam padi tahan kering.

"Selain itu, menghitung kecukupan air bagi budidaya padi sawah, padi gogo, padi gogo rancah atau jenis tanaman pangan lainnya menjadi aspek penting untuk diteliti lebih lanjut dalam upaya menjaga ketersediaan air," tutur Ani dalam siaran pers Kementan, Jumat (11/3/2016).

Ani menjelaskan tata kelola air yang benar yaitu mulai dari hulu di bawah kewenangan KLHK sebagai up stream, kemudian middle stream-nya yaitu irigasi primer dan sekunder, termasuk pengelolaan daerah aliran sungai dan komponennya merupakan kewenangan Kementerian PUPR.

"Sementara destinasi akhirnya, mulai dari irigasi tersier yang pemanfaatannya untuk pangan merupakan kewenangan Kementerian Pertanian. Sehingga upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi, ditentukan pula oleh peran kolaboratif dari kementerian lain, " tegas Ani.

Pembagian kewenangan pengelolaan air tersebut, terungkap dalam pertemuan bilateral Joint Steering Committee Republic of Indonesia and the Netherlands in the Field of Water Management, pada tanggal 23 Februari 2016 yang diselenggarakan di kantor Kementerian PUPR.

Dalam pertemuan bilateral tersebut menyimpulkan ada dua aspek yang harus didedikasikan untuk tata kelola air irigasi untuk menjamin ketersediaan air bagi produksi pangan, yaitu pertama,  efisiensi air dengan kualitasnya. 

"Dan kedua menyangkut ketersediaan air irigasi yang cukup dan keberlanjutannya," pungkas Ani.

Sumber: Feby Dwi Sutianto - detikfinance

Berita Terbaru

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Info Teknologi | 21-06-2017 | Hits:230

Pentingnya Konservasi Tanah Pertanaman Padi Gogo

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Info Teknologi | 20-06-2017 | Hits:249

Hama Uret pada Padi Gogo dengan Teknik Seed Treatment

Type Ketahanan Tanaman

Info Teknologi | 29-05-2017 | Hits:880

Type Ketahanan Tanaman

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi