Gabah Petani Mulai Diserap

Bulog mulai menyerap gabah petani, bersaing dengan para tengkulak yang berani mematok harga tinggi.

Satuan Kerja (Satker) Pengadaan dan mitra Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, mulai menyerap gabah dan beras hasil panen petani. Saat ini, mereka harus bersaing dengan para tengkulak dari Jawa Barat, yang juga menyerbu Banyumas dan Cilacap.

Humas Bulog Subdivisi Banyumas M. Priyono menjelaskan, saat kunjungan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Cilacap, beberapa waktu lalu, Bulog setempat langsung menyerap gabah kering panen (GKP) para petani di Maos.

“Kami membeli dengan harga Rp3.700 per kg sesuai dengan harga pembelian pemerintah karena kualitasnya medium. Jika ada gabah yang memiliki kualitas premium. Bulog akan menyesuaikan harga pasar dan masuk penyerapan premium,“ Kata Priyono, kemarin. Menurutnya, Satker telah menyerap 10 ton dari panenan di Maos, Cilacap.

Sementara itu, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), dalam sepekan ini, harga beras terus naik. Rata-rata kenaikan bervariasi Rp200 per kg hingga Rp500 per kg.

Untuk meredam gejolak harga , Pemprov Kalteng bekerja sama dengan Bulog menggelontorkan beras murah. Saat ini, sudah 795 ton beras Bulog yang digelontorkan di seluruh Kalteng pada Februari lalu. “Penggelontoran beras ini bisa untuk menstabilkan harga beras di pasar,” Kata Asisten II Pemprov Kaleng, Syahrin Daulay. Sementara itu, pada Maret ini, Pemprov Kalteng akan menggelontorkan 775 ton rasta.

Di sejumlah daerah, harga beras masih belum stabil. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, harga GKP mengalami kemerosotan karena terguyur hujan. Petani biasanya menjual gabah langsung ke tengkulak karena mereka mampu membeli dengan harga mahal. Akibat produksi dan kualitas tidak baik, harga GKP pun turun dari Rp5.800 per kg menjadi Rp2.400 per kg di tangan tengkulak.

Demikian juga di Temanggung, Jawa Tengah, harga beras sudah turun sejak pekan lalu di penggilingan padi. Sebaliknya dipasaran, harga beras masih mahal.

Cetak Sawah

Pada bagian lain, untuk memenuhi kebutuhan beras lokal di Bangka Belitung, Pemprov setempat melakukan cetak sawah. Namun, cetak sawah yang telah dilakukan baru memenuhi kebutuhan beras lokal sebesar 14,7% dari target 25% pada tahun ini.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Provinsi Bangka Belitung Toni Batubara menjelaskan pada tahun ini cetak sawah dipercayakan pada Zeni TNI seluas 6.800 ha.

Di Kalimantan Barat, untuk meningkatkan produksi beras, petani setempat menerapkan metode Hazton. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat Dwi Suslamanto, saat menghadiri panen raya padi yang dilaksanakan kantor perwakilan BI Kalbar, melaporkan petani yang mengaplikasikan metode Hazton berhasil meningkatkan panen dari rata-rata 3,38 ton per ha menjadi 10,42 ton per ha.

Metode Hazton merupakan metode tanam benih padi yang dikembangkan sejak 2013. Pada metode tanam itu, dalam satu lubang tanam, digunakan 20-30 bibit/anakan padi. (SS/AD/TS/RF/AR/N-4)

Sumber: Liliek Dharmawan Media Indonesia

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini78
Hari kemarin1058
Minggu ini7360
Bulan ini26961
Jumlah Pengunjung850859
Online sekarang
19

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Gabah Petani Mulai Diserap

Bulog mulai menyerap gabah petani, bersaing dengan para tengkulak yang berani mematok harga tinggi.

Satuan Kerja (Satker) Pengadaan dan mitra Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, mulai menyerap gabah dan beras hasil panen petani. Saat ini, mereka harus bersaing dengan para tengkulak dari Jawa Barat, yang juga menyerbu Banyumas dan Cilacap.

Humas Bulog Subdivisi Banyumas M. Priyono menjelaskan, saat kunjungan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Cilacap, beberapa waktu lalu, Bulog setempat langsung menyerap gabah kering panen (GKP) para petani di Maos.

“Kami membeli dengan harga Rp3.700 per kg sesuai dengan harga pembelian pemerintah karena kualitasnya medium. Jika ada gabah yang memiliki kualitas premium. Bulog akan menyesuaikan harga pasar dan masuk penyerapan premium,“ Kata Priyono, kemarin. Menurutnya, Satker telah menyerap 10 ton dari panenan di Maos, Cilacap.

Sementara itu, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), dalam sepekan ini, harga beras terus naik. Rata-rata kenaikan bervariasi Rp200 per kg hingga Rp500 per kg.

Untuk meredam gejolak harga , Pemprov Kalteng bekerja sama dengan Bulog menggelontorkan beras murah. Saat ini, sudah 795 ton beras Bulog yang digelontorkan di seluruh Kalteng pada Februari lalu. “Penggelontoran beras ini bisa untuk menstabilkan harga beras di pasar,” Kata Asisten II Pemprov Kaleng, Syahrin Daulay. Sementara itu, pada Maret ini, Pemprov Kalteng akan menggelontorkan 775 ton rasta.

Di sejumlah daerah, harga beras masih belum stabil. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, harga GKP mengalami kemerosotan karena terguyur hujan. Petani biasanya menjual gabah langsung ke tengkulak karena mereka mampu membeli dengan harga mahal. Akibat produksi dan kualitas tidak baik, harga GKP pun turun dari Rp5.800 per kg menjadi Rp2.400 per kg di tangan tengkulak.

Demikian juga di Temanggung, Jawa Tengah, harga beras sudah turun sejak pekan lalu di penggilingan padi. Sebaliknya dipasaran, harga beras masih mahal.

Cetak Sawah

Pada bagian lain, untuk memenuhi kebutuhan beras lokal di Bangka Belitung, Pemprov setempat melakukan cetak sawah. Namun, cetak sawah yang telah dilakukan baru memenuhi kebutuhan beras lokal sebesar 14,7% dari target 25% pada tahun ini.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Provinsi Bangka Belitung Toni Batubara menjelaskan pada tahun ini cetak sawah dipercayakan pada Zeni TNI seluas 6.800 ha.

Di Kalimantan Barat, untuk meningkatkan produksi beras, petani setempat menerapkan metode Hazton. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat Dwi Suslamanto, saat menghadiri panen raya padi yang dilaksanakan kantor perwakilan BI Kalbar, melaporkan petani yang mengaplikasikan metode Hazton berhasil meningkatkan panen dari rata-rata 3,38 ton per ha menjadi 10,42 ton per ha.

Metode Hazton merupakan metode tanam benih padi yang dikembangkan sejak 2013. Pada metode tanam itu, dalam satu lubang tanam, digunakan 20-30 bibit/anakan padi. (SS/AD/TS/RF/AR/N-4)

Sumber: Liliek Dharmawan Media Indonesia

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:179

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1044

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:471

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi