Perluas Varietas Unggul Tahan Cuaca Ekstrem

Desember, hujan diprediksi mulai merata diseluruh wilayah Indonesia. Namun, tidak serta merta menghalau dampak kemarau panjang. Untuk mendukung produksi pertanian diperlukan varietas unggul dan adaptif terhadap cuaca ekstrem.

El Nino, yang melanda sejak Mei lalu dan menguat pada Agustus-November, menyisakan ancaman krisis air. Sebagian Jawa, Sulawesi, dan pulau-pulau di Nusa Tenggara merupakan daerah paling rawan kekurangan air, terutama untuk irigasi lahan pertanian. Sementara daerah lain, seperti Aceh, justru rawan mengalami banjir di akhir tahun.

Menyikapi kondisi tersebut, perlu langkah nyata memperluas persebaran varietas tanaman yang tahan terhadap iklim kering dan sekaligus tetap produktif dimusim hujan. Tidak hanya terpusat di sentra produksi pangan, tetapi hingga seluruh wilayah di Indonesia. Sebab, perubahan iklim sudah terjadi sehingga iklim di Indonesia pun rentan mengalami kondisi cuaca yang tidak menentu.

Ketua Komisi Riset untuk  Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional (DRN) Dr. Haryono mengatakan El Nino adalah peristiwa alam yang efeknya meluas terhadap perekonomian Indonesia. Sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kesehatan paling merasakan imbasnya. Meskipun, tidak selalu berdampak negatif, langkah antisipatif tetap harus dilakukan. Apalagi, ada prakiraan El Nino akan berlangsung hingga pertengahan 2016.

Dampak fenomena alam tersebut, yakni terjadinya pergeseran musim di Indonesia yang menyebabkan beberapa daerah mengalami kemunduran awal musim hujan dan sebagian lagi justru lebih cepat awal musim kemaraunya. Kondisi ini juga berdampak pada panjangnya masa panceklik dan gagal panen karena kekeringan, “Produktivitas per hektare lahan pertanian bisa jadi akan menurun  karena distribusi curah hujan tidak memenuhi kebutuhan tanaman. Pertumbuhan tidak maksimal karena musim tanam terlambat. Fenomena alam ini perlu diantisipasi dengan serius,” kata Haryono.

Varietas Adaktif

Beberapa dampak El Nino, menurut Haryono, semestinya jadi perhatian pemerintah pusat daerah. Di sektor pertanian misalnya, harus mulai memikirkan program sinergi untuk antisipasi. Seperti, efisiensi penggunaan air dan menggunakan kekuatan kearifan lokal atau local wisdom. Contohnya di Aceh dan dengan menanam varietas adaptif, yang cocok dikembangkan di daerah tersebut.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementrian Pertanian  selama ini sudah menghasilkan padi varietas unggul yang cocok ditanam di lahan kering maupun rawa. Bahkan ada varietas unggul baru di lahan kering, seperti Limboto, Batutegi, Towuti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Inpari 10 Laeya, serta Inpago 4-9.

Kepala Balitpangtan Muhamad Syakir mengatakan, karateristik varietas-varietas unggul tersebut antara lain umur genjah, tahan dan adaptif terhadap kekering , serta memiliki sifat amfibi atau dapat bertahan pada dua kondisi iklim yang berbeda yakni lahan kering maupun tergenang. Semuanya, tandas Syakir mampu bertahan pada kondisi kering seperti halnya padi gogo yang ditanam di ladang, dengan potensial air tanah (pF) sampai 2,90. Disebut unggul, karena juga mampu bertahan dan produktif layaknya padi sawah, terutama pada musim kemarau atau saat kondisi iklim tidak menentu

“Sampai pertengahan 2015 Balitbangtan telah mendistribusikan benih sumber padi gogo sebanyak 526,2 ton ke beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Selatan,” kata Syakir.

Meningkatkan Riset

Selain berdampak negatif, El Nino juga memberi imbas positif bagi Indonesia. Sektor perikanan terutama , karena pendinginan air laut di belahan bumi lain maka di perairan Indonesia. Seperti bagian barat Sumatra dan Selatan Jawa panen ikan. Populasi beberapa jenis ikan akan bergeser dan terpusat di wilayah tersebut , karena berebut klorofil atau makanan ikan. Populasi yang tumbuh banyak. Semestinya, hasil tangkapan ikan bisa melimpah. Begitu pula bagi petambak garam. El Nino merupakan berkah. Sebab. Dengan curah hujan yang rendah mereka bisa lebih banyak memanen garam.

Untuk memanfaatkan dampak positif tersebut, menurut Haryono, perlu adanya riset mendalam. Agar berkah tidak lagi menjadi musibah. “Dampak buruk sudah banyak, dan itu perlu diantisipasi jauh sebelum El Nino berlangsung. Sementara itu, dampak positifnya juga harus dimanfaatkan dengan strategi yang tepat. Semua itu memerlukan dukungan riset,” katanya.

Melalui riset, akan dihasilkan sejumlah rekomendasi sebagai masukan bagi pemerintah untuk merumuskan strategi menghadapi berbagai kondisi iklim, termsuk El Nino. Penelitian mengenai lahan kering juga perlu ditingkatkan mengingat ancaman dampak El Nino diperkirakan semakin parah seiring dengan pengaruh pemanasan global (global warming). Indonesia sebagai negara Kepulauan akan mengalami dampak terburuk dari perubahan iklim. “Kombinasi pemanasan global dan El Nino ini perlu diwaspadai. Kementrian Pertanian, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementrian Kelautan dan Perikanan mesti lebih bersinergi dan bersama-sama menghadapi ancaman tersebut,” kata Haryono.

Heny Ariesta Diana dan Faris Sabilar Rusdi

Sumber : Majalah Sains Indonesia Edisi 47

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini59
Hari kemarin1137
Minggu ini59
Bulan ini28079
Jumlah Pengunjung851977
Online sekarang
17

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Perluas Varietas Unggul Tahan Cuaca Ekstrem

Desember, hujan diprediksi mulai merata diseluruh wilayah Indonesia. Namun, tidak serta merta menghalau dampak kemarau panjang. Untuk mendukung produksi pertanian diperlukan varietas unggul dan adaptif terhadap cuaca ekstrem.

El Nino, yang melanda sejak Mei lalu dan menguat pada Agustus-November, menyisakan ancaman krisis air. Sebagian Jawa, Sulawesi, dan pulau-pulau di Nusa Tenggara merupakan daerah paling rawan kekurangan air, terutama untuk irigasi lahan pertanian. Sementara daerah lain, seperti Aceh, justru rawan mengalami banjir di akhir tahun.

Menyikapi kondisi tersebut, perlu langkah nyata memperluas persebaran varietas tanaman yang tahan terhadap iklim kering dan sekaligus tetap produktif dimusim hujan. Tidak hanya terpusat di sentra produksi pangan, tetapi hingga seluruh wilayah di Indonesia. Sebab, perubahan iklim sudah terjadi sehingga iklim di Indonesia pun rentan mengalami kondisi cuaca yang tidak menentu.

Ketua Komisi Riset untuk  Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional (DRN) Dr. Haryono mengatakan El Nino adalah peristiwa alam yang efeknya meluas terhadap perekonomian Indonesia. Sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kesehatan paling merasakan imbasnya. Meskipun, tidak selalu berdampak negatif, langkah antisipatif tetap harus dilakukan. Apalagi, ada prakiraan El Nino akan berlangsung hingga pertengahan 2016.

Dampak fenomena alam tersebut, yakni terjadinya pergeseran musim di Indonesia yang menyebabkan beberapa daerah mengalami kemunduran awal musim hujan dan sebagian lagi justru lebih cepat awal musim kemaraunya. Kondisi ini juga berdampak pada panjangnya masa panceklik dan gagal panen karena kekeringan, “Produktivitas per hektare lahan pertanian bisa jadi akan menurun  karena distribusi curah hujan tidak memenuhi kebutuhan tanaman. Pertumbuhan tidak maksimal karena musim tanam terlambat. Fenomena alam ini perlu diantisipasi dengan serius,” kata Haryono.

Varietas Adaktif

Beberapa dampak El Nino, menurut Haryono, semestinya jadi perhatian pemerintah pusat daerah. Di sektor pertanian misalnya, harus mulai memikirkan program sinergi untuk antisipasi. Seperti, efisiensi penggunaan air dan menggunakan kekuatan kearifan lokal atau local wisdom. Contohnya di Aceh dan dengan menanam varietas adaptif, yang cocok dikembangkan di daerah tersebut.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementrian Pertanian  selama ini sudah menghasilkan padi varietas unggul yang cocok ditanam di lahan kering maupun rawa. Bahkan ada varietas unggul baru di lahan kering, seperti Limboto, Batutegi, Towuti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Inpari 10 Laeya, serta Inpago 4-9.

Kepala Balitpangtan Muhamad Syakir mengatakan, karateristik varietas-varietas unggul tersebut antara lain umur genjah, tahan dan adaptif terhadap kekering , serta memiliki sifat amfibi atau dapat bertahan pada dua kondisi iklim yang berbeda yakni lahan kering maupun tergenang. Semuanya, tandas Syakir mampu bertahan pada kondisi kering seperti halnya padi gogo yang ditanam di ladang, dengan potensial air tanah (pF) sampai 2,90. Disebut unggul, karena juga mampu bertahan dan produktif layaknya padi sawah, terutama pada musim kemarau atau saat kondisi iklim tidak menentu

“Sampai pertengahan 2015 Balitbangtan telah mendistribusikan benih sumber padi gogo sebanyak 526,2 ton ke beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Selatan,” kata Syakir.

Meningkatkan Riset

Selain berdampak negatif, El Nino juga memberi imbas positif bagi Indonesia. Sektor perikanan terutama , karena pendinginan air laut di belahan bumi lain maka di perairan Indonesia. Seperti bagian barat Sumatra dan Selatan Jawa panen ikan. Populasi beberapa jenis ikan akan bergeser dan terpusat di wilayah tersebut , karena berebut klorofil atau makanan ikan. Populasi yang tumbuh banyak. Semestinya, hasil tangkapan ikan bisa melimpah. Begitu pula bagi petambak garam. El Nino merupakan berkah. Sebab. Dengan curah hujan yang rendah mereka bisa lebih banyak memanen garam.

Untuk memanfaatkan dampak positif tersebut, menurut Haryono, perlu adanya riset mendalam. Agar berkah tidak lagi menjadi musibah. “Dampak buruk sudah banyak, dan itu perlu diantisipasi jauh sebelum El Nino berlangsung. Sementara itu, dampak positifnya juga harus dimanfaatkan dengan strategi yang tepat. Semua itu memerlukan dukungan riset,” katanya.

Melalui riset, akan dihasilkan sejumlah rekomendasi sebagai masukan bagi pemerintah untuk merumuskan strategi menghadapi berbagai kondisi iklim, termsuk El Nino. Penelitian mengenai lahan kering juga perlu ditingkatkan mengingat ancaman dampak El Nino diperkirakan semakin parah seiring dengan pengaruh pemanasan global (global warming). Indonesia sebagai negara Kepulauan akan mengalami dampak terburuk dari perubahan iklim. “Kombinasi pemanasan global dan El Nino ini perlu diwaspadai. Kementrian Pertanian, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementrian Kelautan dan Perikanan mesti lebih bersinergi dan bersama-sama menghadapi ancaman tersebut,” kata Haryono.

Heny Ariesta Diana dan Faris Sabilar Rusdi

Sumber : Majalah Sains Indonesia Edisi 47

 

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:191

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1073

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:476

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi