Meningkatkan Produktifitas Melalui Katam Terpadu dan Standing Crops

Jakarta (Web TP)  : Bertempat di Ruang Kepala Litbang Pertanian Gedung Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Haryono M.Sc yang sekaligus menjabat Plt. Dirjen Tanaman Pangan, berkesempatan melakukan dialog bersama TVRI yang dipandu oleh Sandy Nayoan (16/9).

Dalam kesempatan itu Haryono menjelaskan bahwa produktivitas padi yang saat ini dicapai, menurutnya sudah tinggi dan masih bisa ditingkatkan.  Produksi padi kita (ARAM I) BPS 2014 69,87jt GKG. Apabila dibandingkan dengan ATAP 2013 sejumlah 71,28 juta ton GKG, memang ada penurunan sebesar 1,4 juta ton GKG atau 1,98%. Pada tahun 2013 kita surplus 6 juta ton dengan konsumsi beras 125-135 perkapita pertahun. Sementara penurunan yang terjadi pada tahun ini menurutnya, karena akibat adanya banjir di sejumlah sentra padi di awal tahun sehingga terjadi gagal panen atau puso, juga di picu luas panen padi yang mengalami penurunan 1,92% atau sekitar 265.310 hektare (ha). BPS juga mendata penurunan produktivitas sekitar 0,03%.Penurunan juga karena penyusutan luas panen akibat mundur tanam karena kelangkaan tenaga kerja, konversi lahan sawah ke non sawah, kerusakan jaringan irigasi, banjir di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten. Kemudian terjadi anomali musim kemarau basah tahun lalu, pelaksanaan kegiatan pokok sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT) padi tertunda penyaluran bansos, adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kelangkaan pupuk dan penyaluran benih subsidi yang terkendala. Dan ini terjadi di beberapa provinsi yang mengalami penurunan (18 Provinsi) seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Adapun 16 Provinsi lainnya mengalami surplus seperti Sulsel yg mencapai 8%. Haryono juga optimis kalau tahun ini akan mencapai target mengingat optimisme seluruh kepala dinas dalam beberapa kali pertemuan dan kunjungan ke beberapa daerah serta para petani yang hebat. Haryono memperkirakan, tahun ini ada kelebihan atau surplus beras sebesar 4,2 juta ton. Tahun ini Kementan menetapkan sasaran produksi padi sebesar 70,24 juta ton GKG. Jumlah penduduk tahun ini mencapai 252.164.800 jiwa. "Bila konsumsi menggunakan angka 139,15 kg per kapita per tahun. Tahun 2014 Indonesia surplus 4,2 juta ton," kata Haryono yang juga Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan.

Oleh karenanya, pertambahan lahan dan perbaikan infrastruktur baik yang langsung bagi produksi dan yang tidak langsung sangat penting. Penggunaan varieats unggul juga cukup signifikan dalam meningkatkan produksi dan mutu produksi. Selain itu, melakukan pengamanan terhadap penanaman padi terakhir (standing crops). "Pengamanan ini melalui pengendalian OPT, penyediaan pupuk, pengurangan penyusutan hasil panen (losses) serta penyediaan pompa-pompa air untuk mengantisipasi kekeringan," pungkas Haryono.

Lebih lanjut Haryono merekomendasikam kepada seluruh kepala dinas dan para petani untuk menggunakan Sistem Informasi Kalender Tanam (Katam) Terpadu, untuk mendapatkan informasi tentang potensi pola tanam, waktu tanam, luas areal tanam potensial dan rekomendasi teknologi adaptif pada level sampai dengan tingkat kecamatan di seluruh Indonesia. Sistem ini sangat operasional, disusun berdasarkan prakiraan iklim per musim, dapat diintegrasikan dengan rekomendasi pemupukan, benih dan pengelolaan hama terpadu (PHT).

Sistem Informasi Katam Terpadu bersifat dinamik karena informasinya disusun dengan mempertimbangkan hasil interpretasi prakiraan curah hujan dan prakiraan awal musim dari BMKG. Informasi yang dihasilkan pada sistem informasi ini, antara lain hasil prediksi curah hujan dan awal musim, prediksi awal musim tanam, pola tanam, luas tanam potensial, dan intensitas tanam. Istilah ‘terpadu’ dimunculkan karena Sistem Informasi Katam Terpadu, disamping informasi-informasi tadi, juga menampilkan informasi tentang rekomendasi dosis pupuk, rekomendasi kebutuhan pupuk, varitas padi eksisting, rekomendasi varietas padi, potensi serangan OPT, serta informasi potensi kerawanan banjir dan kekeringan. Keunggulan sistem Informasi Katam Terpadu, antara lain :

1.     Bersifat dinamis, karena disusun berdasarkan prakiraan iklim per musim; 

2.     Sangat operasional, karena disusun hingga skala kecamatan;

3.     Bersifat spesifik lokasi, karena mempertimbangkan potensi sumberdaya iklim, air & tanah, wilayah rawan bencana (banjir, kekeringan, OPT) yang belum tentu sama antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya; 

4.     Dapat diintegrasikan dengan rekomendasikan teknologi (pupuk, benih, PHT); 

5.     Mudah diperbaharui/di update sesuai dengan perkembangan prakiraan hujan bulanan atau musiman serta 

6.     Mudah dipahami, karena disusun secara spasial dan tabular dengan uraian yang jelas. 

Dijelaskan lagi, prediksi iklim MH 2O14/2O15 dari BMKG dan Balitbangtan menggambarkan bahwa awal MH di Sumatera,Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan (73,4 persen zona musim) terjadi pada Oktober dan November 2O14. Sifat hujan dominan (67,4 persen adalah normal.Diprediksi terjadi kemunduran awal MH 2O14/2O15 dibeberapa wilayah di Jawa,Sulawesi dan Bali (47,4 persen) hingga lebih dari 3 dasarian. Pada MH 2O14/2O15 diterbitkan Sistem Informasi Katam Terpadu versi 2.O.Versi mengalami beberapa penyesuaian dalam upaya adaptive maintenance, terutama terkait dengan siklus meterolisnomenklatur klimatologis kalender tanam petani, serta dinamika dengan sistem prediksi musim BMKG. Mulai MH 2O14/2O15 Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu dilaunching 2 kali setahun, masing-masing adalah musim hujan untuk periode Oktober-Maret dan musim kemarau untuk periode April-September. Namun, kedua launching tersebut tetap menginformasikan secara utuh 3 musim tanam (MT-1/MH, MT-2/MK-1 dan MT3/MK-2). Selain itu, Katam Terpadu versi 2.O ini juga dilengkapi dengan informasiStanding Crop muktahir sesuai dengan fase pertumbuhan padi sawah, khususnbya di Pulau Jawa dan Bali.

Analisis Katam Terpadu MH 2O14/2O15 menunjukkan bahwa sifat hujan normal menyebar di 4.78O.895 Ha sawah baku, mencakup Sumatera,Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi.Sifat hujan bawah normal menyebar di 2.98O.776 Ha sawah baku mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.Sifat hujan atas normal menyebar di 481.651Ha sawah baku mencakup sebagian Sumatera,Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua.

Untuk memperoleh informasi melalui Katam, para petani dapat mengaksesnya di website khusus Katam (http://katam.litbang.deptan.go.id/), dapat juga melalui sms center 0821-23456500, bahkan dapat diunduh melalui Play Store yang ada di Android. "Jangan salah, petani-petani di Indonesia kini sudah pada modern. Banyak yang bawa gadget," selorohnya.

Haryono berharap petani kita menjadi petani modern dan punya daya saing tinggi. Ciri-ciri petani modern menurutnya adalah petani yang menguasai IPTEK bidang pertanian, menguasai teknologi dan inovasi merespon perubahan iklim, pemanfaatan mekanisasi dan alsintan sesuai karakter Indonesia, dan yang tidak kalah pentingnya adalah penguasaan teknologi informasi untuk hulu hilir pertanian.

Sehingga opsi paling tepat untuk peningkatan produksi padi dalam jangka pendek adalah peningkatan produktivitas dengan perbaikan teknologi budidaya melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yang menjadi triger peningkatan produktivitas  tanaman padi. Yang merupakan keharusan sebagai karakter/ciri khas  PTT adalah : Benih Varietas unggul bermutu (label); Penanaman tepat waktu; Pemupukan, Pemberian air; Perlindungan Tanaman; Penanganan panen dan pasca panen. Komponen PTT tersebut pada umumnya dapat diterapkan langsung dilapangan dan berpengaruh terhadap peningkatan hasil dan pendapatan petani. Prinsip-prinsip PTT : terpadu, sinergis, spesifik lokasi dan partisipatif serta optimalisasi pembinaan & pemanfaatan bantuan benih, pupuk, alsintan, dan kemitraan. Disamping goodwill pemerintah menyangkut optimalisasi peran kelembagaan serta SDM yang kompeten, pemberdayaan masyarakat pertanian serta seluruh pemangku kepentingan dalam bidang pembangunan pertanian, secara terencana, berkesinambungan dan berkelanjutan, urainya. (RR)

Sumber : Subbagian Hukum dan Humas Setditjen TP

 

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini437
Hari kemarin2426
Minggu ini5092
Bulan ini21717
Jumlah Pengunjung1070064
Online sekarang
44

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Meningkatkan Produktifitas Melalui Katam Terpadu dan Standing Crops

Jakarta (Web TP)  : Bertempat di Ruang Kepala Litbang Pertanian Gedung Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Haryono M.Sc yang sekaligus menjabat Plt. Dirjen Tanaman Pangan, berkesempatan melakukan dialog bersama TVRI yang dipandu oleh Sandy Nayoan (16/9).

Dalam kesempatan itu Haryono menjelaskan bahwa produktivitas padi yang saat ini dicapai, menurutnya sudah tinggi dan masih bisa ditingkatkan.  Produksi padi kita (ARAM I) BPS 2014 69,87jt GKG. Apabila dibandingkan dengan ATAP 2013 sejumlah 71,28 juta ton GKG, memang ada penurunan sebesar 1,4 juta ton GKG atau 1,98%. Pada tahun 2013 kita surplus 6 juta ton dengan konsumsi beras 125-135 perkapita pertahun. Sementara penurunan yang terjadi pada tahun ini menurutnya, karena akibat adanya banjir di sejumlah sentra padi di awal tahun sehingga terjadi gagal panen atau puso, juga di picu luas panen padi yang mengalami penurunan 1,92% atau sekitar 265.310 hektare (ha). BPS juga mendata penurunan produktivitas sekitar 0,03%.Penurunan juga karena penyusutan luas panen akibat mundur tanam karena kelangkaan tenaga kerja, konversi lahan sawah ke non sawah, kerusakan jaringan irigasi, banjir di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten. Kemudian terjadi anomali musim kemarau basah tahun lalu, pelaksanaan kegiatan pokok sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL-PTT) padi tertunda penyaluran bansos, adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kelangkaan pupuk dan penyaluran benih subsidi yang terkendala. Dan ini terjadi di beberapa provinsi yang mengalami penurunan (18 Provinsi) seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Adapun 16 Provinsi lainnya mengalami surplus seperti Sulsel yg mencapai 8%. Haryono juga optimis kalau tahun ini akan mencapai target mengingat optimisme seluruh kepala dinas dalam beberapa kali pertemuan dan kunjungan ke beberapa daerah serta para petani yang hebat. Haryono memperkirakan, tahun ini ada kelebihan atau surplus beras sebesar 4,2 juta ton. Tahun ini Kementan menetapkan sasaran produksi padi sebesar 70,24 juta ton GKG. Jumlah penduduk tahun ini mencapai 252.164.800 jiwa. "Bila konsumsi menggunakan angka 139,15 kg per kapita per tahun. Tahun 2014 Indonesia surplus 4,2 juta ton," kata Haryono yang juga Kepala Badan Litbang Pertanian Kementan.

Oleh karenanya, pertambahan lahan dan perbaikan infrastruktur baik yang langsung bagi produksi dan yang tidak langsung sangat penting. Penggunaan varieats unggul juga cukup signifikan dalam meningkatkan produksi dan mutu produksi. Selain itu, melakukan pengamanan terhadap penanaman padi terakhir (standing crops). "Pengamanan ini melalui pengendalian OPT, penyediaan pupuk, pengurangan penyusutan hasil panen (losses) serta penyediaan pompa-pompa air untuk mengantisipasi kekeringan," pungkas Haryono.

Lebih lanjut Haryono merekomendasikam kepada seluruh kepala dinas dan para petani untuk menggunakan Sistem Informasi Kalender Tanam (Katam) Terpadu, untuk mendapatkan informasi tentang potensi pola tanam, waktu tanam, luas areal tanam potensial dan rekomendasi teknologi adaptif pada level sampai dengan tingkat kecamatan di seluruh Indonesia. Sistem ini sangat operasional, disusun berdasarkan prakiraan iklim per musim, dapat diintegrasikan dengan rekomendasi pemupukan, benih dan pengelolaan hama terpadu (PHT).

Sistem Informasi Katam Terpadu bersifat dinamik karena informasinya disusun dengan mempertimbangkan hasil interpretasi prakiraan curah hujan dan prakiraan awal musim dari BMKG. Informasi yang dihasilkan pada sistem informasi ini, antara lain hasil prediksi curah hujan dan awal musim, prediksi awal musim tanam, pola tanam, luas tanam potensial, dan intensitas tanam. Istilah ‘terpadu’ dimunculkan karena Sistem Informasi Katam Terpadu, disamping informasi-informasi tadi, juga menampilkan informasi tentang rekomendasi dosis pupuk, rekomendasi kebutuhan pupuk, varitas padi eksisting, rekomendasi varietas padi, potensi serangan OPT, serta informasi potensi kerawanan banjir dan kekeringan. Keunggulan sistem Informasi Katam Terpadu, antara lain :

1.     Bersifat dinamis, karena disusun berdasarkan prakiraan iklim per musim; 

2.     Sangat operasional, karena disusun hingga skala kecamatan;

3.     Bersifat spesifik lokasi, karena mempertimbangkan potensi sumberdaya iklim, air & tanah, wilayah rawan bencana (banjir, kekeringan, OPT) yang belum tentu sama antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya; 

4.     Dapat diintegrasikan dengan rekomendasikan teknologi (pupuk, benih, PHT); 

5.     Mudah diperbaharui/di update sesuai dengan perkembangan prakiraan hujan bulanan atau musiman serta 

6.     Mudah dipahami, karena disusun secara spasial dan tabular dengan uraian yang jelas. 

Dijelaskan lagi, prediksi iklim MH 2O14/2O15 dari BMKG dan Balitbangtan menggambarkan bahwa awal MH di Sumatera,Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan (73,4 persen zona musim) terjadi pada Oktober dan November 2O14. Sifat hujan dominan (67,4 persen adalah normal.Diprediksi terjadi kemunduran awal MH 2O14/2O15 dibeberapa wilayah di Jawa,Sulawesi dan Bali (47,4 persen) hingga lebih dari 3 dasarian. Pada MH 2O14/2O15 diterbitkan Sistem Informasi Katam Terpadu versi 2.O.Versi mengalami beberapa penyesuaian dalam upaya adaptive maintenance, terutama terkait dengan siklus meterolisnomenklatur klimatologis kalender tanam petani, serta dinamika dengan sistem prediksi musim BMKG. Mulai MH 2O14/2O15 Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu dilaunching 2 kali setahun, masing-masing adalah musim hujan untuk periode Oktober-Maret dan musim kemarau untuk periode April-September. Namun, kedua launching tersebut tetap menginformasikan secara utuh 3 musim tanam (MT-1/MH, MT-2/MK-1 dan MT3/MK-2). Selain itu, Katam Terpadu versi 2.O ini juga dilengkapi dengan informasiStanding Crop muktahir sesuai dengan fase pertumbuhan padi sawah, khususnbya di Pulau Jawa dan Bali.

Analisis Katam Terpadu MH 2O14/2O15 menunjukkan bahwa sifat hujan normal menyebar di 4.78O.895 Ha sawah baku, mencakup Sumatera,Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi.Sifat hujan bawah normal menyebar di 2.98O.776 Ha sawah baku mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.Sifat hujan atas normal menyebar di 481.651Ha sawah baku mencakup sebagian Sumatera,Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua.

Untuk memperoleh informasi melalui Katam, para petani dapat mengaksesnya di website khusus Katam (http://katam.litbang.deptan.go.id/), dapat juga melalui sms center 0821-23456500, bahkan dapat diunduh melalui Play Store yang ada di Android. "Jangan salah, petani-petani di Indonesia kini sudah pada modern. Banyak yang bawa gadget," selorohnya.

Haryono berharap petani kita menjadi petani modern dan punya daya saing tinggi. Ciri-ciri petani modern menurutnya adalah petani yang menguasai IPTEK bidang pertanian, menguasai teknologi dan inovasi merespon perubahan iklim, pemanfaatan mekanisasi dan alsintan sesuai karakter Indonesia, dan yang tidak kalah pentingnya adalah penguasaan teknologi informasi untuk hulu hilir pertanian.

Sehingga opsi paling tepat untuk peningkatan produksi padi dalam jangka pendek adalah peningkatan produktivitas dengan perbaikan teknologi budidaya melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yang menjadi triger peningkatan produktivitas  tanaman padi. Yang merupakan keharusan sebagai karakter/ciri khas  PTT adalah : Benih Varietas unggul bermutu (label); Penanaman tepat waktu; Pemupukan, Pemberian air; Perlindungan Tanaman; Penanganan panen dan pasca panen. Komponen PTT tersebut pada umumnya dapat diterapkan langsung dilapangan dan berpengaruh terhadap peningkatan hasil dan pendapatan petani. Prinsip-prinsip PTT : terpadu, sinergis, spesifik lokasi dan partisipatif serta optimalisasi pembinaan & pemanfaatan bantuan benih, pupuk, alsintan, dan kemitraan. Disamping goodwill pemerintah menyangkut optimalisasi peran kelembagaan serta SDM yang kompeten, pemberdayaan masyarakat pertanian serta seluruh pemangku kepentingan dalam bidang pembangunan pertanian, secara terencana, berkesinambungan dan berkelanjutan, urainya. (RR)

Sumber : Subbagian Hukum dan Humas Setditjen TP

 

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi