Produksi Meningkat, Impor Pangan Menurun

Belum genap setahun, pencapaian program swasembada mulai menampakan hasil. Hal itu berkat terobosan kebijakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang salah satunya telah merevisi revisi Perpres Pengadaan Barang/Jasa dari semula tender menjadi penunjukan langsung dan menggunakan e-katalog.

Terobosan pendukung lain yakni refocusing kegiatan dan anggaran untuk tujuh komoditas utama padi, jagung, kedelai,  gula, daging sapi, bawang merah, dan cabai, memberikan bantuan saprodi/benih tidak dilokasi existing, dan menerapkan sistem reward and punishment.  Mentan juga mengupayakan pelepasan ego-sektoral, mengawal dan mendampingi UPSUS secara masif, mengendalikan impor untuk memberikan insentif kepada petani, melakukan evaluasi serapan anggaran harian/mingguan, antisipasi dini banjir, kekeringan & OPT, IB untuk 30 juta sapi, dan sistem lelang jabatan secara murni.

Dampaknya kini, produksi tujuh komoditas pangan utama meningkat dan impor menurun. Kementan juga terus mengupayakan program upaya khusus alias UPSUS yang hingga saat ini telah memecahkan beberapa permasalahan utama, di antaranya soal jaringan irigasi yang separuh lebih rusak. Dan hingga kini, rehab jaringan irigasi telah mencapai 1,5 juta ha, distribusi bantuan alsintan 43.290 unit, dan optimasi lahan 1,2 juta ha diantaranya telah berdampak pada peningkatan  tambah tanam padi seluas 494,4 ribu ha dan peningkatan produksi pangan utama.

Upaya itu berdampak pada Angka Ramalan I produksi padi yang diperkirakan sebesar 75,55 juta ton GKG, meningkatkan 4,71 juta ton GKG atau 6,64% dibandingkan tahun 2014. Produksi jagung sebesar 20,67 juta ton pipilan kering, meningkatkan sebesar 1,66 juta ton 8,72% dibandingkan tahun 2014. Hal serupa terjadi pada komoditas kedelai, gula, cabai, bawang merah, bahkan daging sapi dan kerbau. Secara ekonomi, kenaikan produksi padi, jagung dan kedelai nilainya masing-masing mencapai Rp 24,28 Triliun, Rp 5,31 triliun dan Rp 350 miliar. Kenaikan produksi terjadi karena adanya peningkatan luas panen dan peningkatan produktivitas, yang didukung oleh penyaluran benih, pupuk, dan alsintan secara tepat.

Impor juga dilaporkan menurun terlihat dari impor beras yang ada 2014 mencapai 815.307 ton, namun hingga saat ini belum ada impor dilakukan. Demikian juga jagung, pada 2014 impor jagung mencapai 3,3 juta ton pada tahun 2015 hanya 1,6 juta ton. Impor kedelai sebesar 5,8 juta ton pada 2014, pada 2015 sebesar 3,6 juta ton. Impor daging sapi sebesar 75.858 ton pada tahun 2014 menurun menjadi 24.199 ton pada tahun 2015. Impor gula putih sebesar 213.505 ton pada tahun 2014, pada tahun 2015 sebelum ada impor. Penurunan impor pangan utama tersebut sebagai dampak dari meningkatnya ketersediaan akibat meningkatnya produksi.

Potret produksi dan importasi itu juga menjadi bagian dari upaya penanggulangan dam[Ka kekeringan akibat El Nino sekarang ini. Kejadian El Nino moderat yang diprediksi masih menguat sampai dengan Nopember 2015 diprediksi akan berdampak pada kekeringan dan puso pada pertanaman padi di beberapa wilayah. Kementan terus berupaya mengulangi kekeringan secara serius di antaranya dengan cara meningkatkan ketersediaan air melalui rehab jaringan irigasi tersier yang sampai saat ini telah mencapai 1,5 juta ha dan pengembangan sumber-sumber air yang meliputi pembangunan 1.000 unit embung/dam parit, pembangunan long storage, pembangunan 1.000 unit sumur air tanah dangkal dan memberikan bantuan pompa air yang sampai dengan saat ini telah terelasiasi sebanyak 21.953 unit.

Dampak dari upaya penanggulangan kekeringan tersebut adalah terjadinya pengurangan luas pertanaman padi yang mengalami puso. Jika dibandingkan anatara periode Oktober 2013-Agustus 2014 dan periode yang sama 2014/2015, maka pertanaman padi seluas 114,71 ribu ha dapat diselamatkan dari puso. Hal ini menjadi bukti konkrit dari kinerja yang telah dijalankan Kementrian Pertanian.

Sumber : Rakyat Merdeka

 

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) 2015
Poster Inpari 13
Poster Inpari 10

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"
Malai dan Bulir akan membentuk pola makan dan budaya seluruh umat manusia

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini528
Hari kemarin1089
Minggu ini5915
Bulan ini25516
Jumlah Pengunjung849414
Online sekarang
28

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Produksi Meningkat, Impor Pangan Menurun

Belum genap setahun, pencapaian program swasembada mulai menampakan hasil. Hal itu berkat terobosan kebijakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang salah satunya telah merevisi revisi Perpres Pengadaan Barang/Jasa dari semula tender menjadi penunjukan langsung dan menggunakan e-katalog.

Terobosan pendukung lain yakni refocusing kegiatan dan anggaran untuk tujuh komoditas utama padi, jagung, kedelai,  gula, daging sapi, bawang merah, dan cabai, memberikan bantuan saprodi/benih tidak dilokasi existing, dan menerapkan sistem reward and punishment.  Mentan juga mengupayakan pelepasan ego-sektoral, mengawal dan mendampingi UPSUS secara masif, mengendalikan impor untuk memberikan insentif kepada petani, melakukan evaluasi serapan anggaran harian/mingguan, antisipasi dini banjir, kekeringan & OPT, IB untuk 30 juta sapi, dan sistem lelang jabatan secara murni.

Dampaknya kini, produksi tujuh komoditas pangan utama meningkat dan impor menurun. Kementan juga terus mengupayakan program upaya khusus alias UPSUS yang hingga saat ini telah memecahkan beberapa permasalahan utama, di antaranya soal jaringan irigasi yang separuh lebih rusak. Dan hingga kini, rehab jaringan irigasi telah mencapai 1,5 juta ha, distribusi bantuan alsintan 43.290 unit, dan optimasi lahan 1,2 juta ha diantaranya telah berdampak pada peningkatan  tambah tanam padi seluas 494,4 ribu ha dan peningkatan produksi pangan utama.

Upaya itu berdampak pada Angka Ramalan I produksi padi yang diperkirakan sebesar 75,55 juta ton GKG, meningkatkan 4,71 juta ton GKG atau 6,64% dibandingkan tahun 2014. Produksi jagung sebesar 20,67 juta ton pipilan kering, meningkatkan sebesar 1,66 juta ton 8,72% dibandingkan tahun 2014. Hal serupa terjadi pada komoditas kedelai, gula, cabai, bawang merah, bahkan daging sapi dan kerbau. Secara ekonomi, kenaikan produksi padi, jagung dan kedelai nilainya masing-masing mencapai Rp 24,28 Triliun, Rp 5,31 triliun dan Rp 350 miliar. Kenaikan produksi terjadi karena adanya peningkatan luas panen dan peningkatan produktivitas, yang didukung oleh penyaluran benih, pupuk, dan alsintan secara tepat.

Impor juga dilaporkan menurun terlihat dari impor beras yang ada 2014 mencapai 815.307 ton, namun hingga saat ini belum ada impor dilakukan. Demikian juga jagung, pada 2014 impor jagung mencapai 3,3 juta ton pada tahun 2015 hanya 1,6 juta ton. Impor kedelai sebesar 5,8 juta ton pada 2014, pada 2015 sebesar 3,6 juta ton. Impor daging sapi sebesar 75.858 ton pada tahun 2014 menurun menjadi 24.199 ton pada tahun 2015. Impor gula putih sebesar 213.505 ton pada tahun 2014, pada tahun 2015 sebelum ada impor. Penurunan impor pangan utama tersebut sebagai dampak dari meningkatnya ketersediaan akibat meningkatnya produksi.

Potret produksi dan importasi itu juga menjadi bagian dari upaya penanggulangan dam[Ka kekeringan akibat El Nino sekarang ini. Kejadian El Nino moderat yang diprediksi masih menguat sampai dengan Nopember 2015 diprediksi akan berdampak pada kekeringan dan puso pada pertanaman padi di beberapa wilayah. Kementan terus berupaya mengulangi kekeringan secara serius di antaranya dengan cara meningkatkan ketersediaan air melalui rehab jaringan irigasi tersier yang sampai saat ini telah mencapai 1,5 juta ha dan pengembangan sumber-sumber air yang meliputi pembangunan 1.000 unit embung/dam parit, pembangunan long storage, pembangunan 1.000 unit sumur air tanah dangkal dan memberikan bantuan pompa air yang sampai dengan saat ini telah terelasiasi sebanyak 21.953 unit.

Dampak dari upaya penanggulangan kekeringan tersebut adalah terjadinya pengurangan luas pertanaman padi yang mengalami puso. Jika dibandingkan anatara periode Oktober 2013-Agustus 2014 dan periode yang sama 2014/2015, maka pertanaman padi seluas 114,71 ribu ha dapat diselamatkan dari puso. Hal ini menjadi bukti konkrit dari kinerja yang telah dijalankan Kementrian Pertanian.

Sumber : Rakyat Merdeka

 

Berita Terbaru

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Berita Utama | 11-08-2017 | Hits:173

Pemerintah Berhak Tertibkan Harga Beras

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Info Teknologi | 01-08-2017 | Hits:1025

Pemahaman Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Info Aktual | 31-07-2017 | Hits:463

Kenali Karakter Beras Premium dan Medium

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi