Polemik Soal Beras

Jika kita mengaimati secara seksama, ada yang berubah dari Perum Bulog dalam beberapa bulan belakangan ini, khususnya setelah pelantikan jajaran direksi baru.  Perum Bulog sudah berganti peran, selama ini lembaga parastatal itu mempunyai tugas utama menstabilkan harga beras di tingkat produsen dan konsumen. Akan tetapi, sekarang peran itu berkurang.

Perum Bulog yang sekarang mempunyai tugas menekan impor karena peran khusus yang dimilikinya itu membuat Perum Bulog berupaya keras membeli beras dari petani, tengkulak ataupun pengusaha penggilingan dan pedagang beras dengan harga berapapun.

Untuk mendukung misi khusus agar tidak mengimpor beras pemerintah mengerahkan TNI AD. Melalui jajaran TNI AD di daerah dan di desa, petani, tengkulak, dan penggilingan kecil diimbau menjual beras ke Perum Bulog, tentunya dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar, sekalipun menggunakan jalur komersial.

Perubahan orientasi peran Perum Bulog mau tidak mau membuat pasar terguncang. Pengusaha penggilingan beras besar yang biasa mendapat pasokan beras dari penggilingan kecil berteriak karena mereka kesulitan bahan baku.

Petani, tengkulak, dan pengusaha penggilingan kecil juga berteriak karena mereka juga harus menjual gabah atau beras lebih rendah dari harga pasar. Satu hal yang tidak pernah diperhitungkan pemerintah, aksinya tersebut membuat usaha perberasan berjalan dalam suasana kecemasan dan kondisi tidak nyaman.

Orang takut menjalankan usahanya karena sewaktu-waktu bisa dipaksa menjual beras ke Perum Bulog dengan harga rendah. Sistem perdagangan beras yang berada dalam pengawasan ketat juga membuat penguasa tidak leluasa menjalankan bisnisnya.

Belum lagi adanya kebijakan pembatasan stok beras oleh pedagang maksimal tiga bulan berjalan yang mengakibatkan sistem perencanaan usaha berantakan.

Padahal semua tau karateristik produksi beras dalam negeri. Di Indonesia dalam setahun terdapat tiga musim tanam padi, yaitu musim hujan, musim kemarau I, dan musim kemarau II.

Usia tanam padi hingga panen 100 hari atau tiga bulan sepuluh hari. Ditambah olah lahan sekitar dua minggu dan pembenihan, total satu siklus tanam butuh waktu empat bulan.

Belum lagi kenyataan produksi beras di Indonesia sangat bergantung pada musim. Produksi beras dimusim hujan menyumbang 60-65 persen produksi beras nasional. Adapun produksi beras saat musim kemarau I dan musim kemarau II berturut-turut hanya 25 persen dan 10 persen.

Distorsi Pasar

Dengan disparitas produksi beras antarmusim yang lebar, pembatasan stok beras maksimal tiga bulan hanya akan menganggu arus perdagangan beras di pasar.

Bisa saja pemerintah berasumsi bahwa dengan stok beras dibatasi maksimal tiga bulan, peredaran beras dipasar akan semakin banyak. Dengan begitu ada harapan pasar jenuh dan harga beras tertahan sehingga ada peluang bagi Perum Bulog membeli beras untuk keperluan stok.

Apabila mekanisme kebijakan belum efektif, pemerintah melalui aparat TNI AD di daerah akan mendorong percepatan proses masuknya beras kepasar dengan menahan penjualan beras ke perusahaan penggilingan atau pedagang beras besar. Dengan begitu, Perum Bulog akan semakin leluasa menyerap gabah dari pasar.

Jika strategi itu yang digunakan, seharusnya saat ini terjadi pelambatan laju kenaikan harga beras di pasar. Akan tetapi, apa yang terjadi? Di tingkat pedagang grosir harga beras Agustus 2015 naik 12,3 persen dibanding dengan Mei 2015. Sampai kapan harga beras akan berhenti naik? Belum bisa diprediksi. Bila sampai akhir tahun atau bahkan sampai menjelang musim panen raya padi 2016. Apalagi El Nino yang berdampak pada kekeringan lebih panjang baru saja mulai. Musim paceklik sebentar lagi tiba. Produksi beras akan terhenti dalam waktu tiga-empat bulan kedepan. (HERMAS E PRABOWO)

Sumber : Kompas

Archive

Panduan Teknis

Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)
Panduan Teknologi Budidaya Padi SRI
Panduan Teknologi Budidaya Padi SALIBU

Buku

Deskripsi Varietas 2017
Laporan Tahunan 2015
Prosiding Padi 2016 Buku 2
Prosiding Padi 2016 Buku 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan
Segengam Malai Padi akan ku bawa dan tanam di tanah Papua
PENAS XV 2017 Aceh "Padi tumbuh subur dilahan suboptimal"

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini172
Hari kemarin2459
Minggu ini7593
Bulan ini40412
Jumlah Pengunjung958405
Online sekarang
19

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Polemik Soal Beras

Jika kita mengaimati secara seksama, ada yang berubah dari Perum Bulog dalam beberapa bulan belakangan ini, khususnya setelah pelantikan jajaran direksi baru.  Perum Bulog sudah berganti peran, selama ini lembaga parastatal itu mempunyai tugas utama menstabilkan harga beras di tingkat produsen dan konsumen. Akan tetapi, sekarang peran itu berkurang.

Perum Bulog yang sekarang mempunyai tugas menekan impor karena peran khusus yang dimilikinya itu membuat Perum Bulog berupaya keras membeli beras dari petani, tengkulak ataupun pengusaha penggilingan dan pedagang beras dengan harga berapapun.

Untuk mendukung misi khusus agar tidak mengimpor beras pemerintah mengerahkan TNI AD. Melalui jajaran TNI AD di daerah dan di desa, petani, tengkulak, dan penggilingan kecil diimbau menjual beras ke Perum Bulog, tentunya dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar, sekalipun menggunakan jalur komersial.

Perubahan orientasi peran Perum Bulog mau tidak mau membuat pasar terguncang. Pengusaha penggilingan beras besar yang biasa mendapat pasokan beras dari penggilingan kecil berteriak karena mereka kesulitan bahan baku.

Petani, tengkulak, dan pengusaha penggilingan kecil juga berteriak karena mereka juga harus menjual gabah atau beras lebih rendah dari harga pasar. Satu hal yang tidak pernah diperhitungkan pemerintah, aksinya tersebut membuat usaha perberasan berjalan dalam suasana kecemasan dan kondisi tidak nyaman.

Orang takut menjalankan usahanya karena sewaktu-waktu bisa dipaksa menjual beras ke Perum Bulog dengan harga rendah. Sistem perdagangan beras yang berada dalam pengawasan ketat juga membuat penguasa tidak leluasa menjalankan bisnisnya.

Belum lagi adanya kebijakan pembatasan stok beras oleh pedagang maksimal tiga bulan berjalan yang mengakibatkan sistem perencanaan usaha berantakan.

Padahal semua tau karateristik produksi beras dalam negeri. Di Indonesia dalam setahun terdapat tiga musim tanam padi, yaitu musim hujan, musim kemarau I, dan musim kemarau II.

Usia tanam padi hingga panen 100 hari atau tiga bulan sepuluh hari. Ditambah olah lahan sekitar dua minggu dan pembenihan, total satu siklus tanam butuh waktu empat bulan.

Belum lagi kenyataan produksi beras di Indonesia sangat bergantung pada musim. Produksi beras dimusim hujan menyumbang 60-65 persen produksi beras nasional. Adapun produksi beras saat musim kemarau I dan musim kemarau II berturut-turut hanya 25 persen dan 10 persen.

Distorsi Pasar

Dengan disparitas produksi beras antarmusim yang lebar, pembatasan stok beras maksimal tiga bulan hanya akan menganggu arus perdagangan beras di pasar.

Bisa saja pemerintah berasumsi bahwa dengan stok beras dibatasi maksimal tiga bulan, peredaran beras dipasar akan semakin banyak. Dengan begitu ada harapan pasar jenuh dan harga beras tertahan sehingga ada peluang bagi Perum Bulog membeli beras untuk keperluan stok.

Apabila mekanisme kebijakan belum efektif, pemerintah melalui aparat TNI AD di daerah akan mendorong percepatan proses masuknya beras kepasar dengan menahan penjualan beras ke perusahaan penggilingan atau pedagang beras besar. Dengan begitu, Perum Bulog akan semakin leluasa menyerap gabah dari pasar.

Jika strategi itu yang digunakan, seharusnya saat ini terjadi pelambatan laju kenaikan harga beras di pasar. Akan tetapi, apa yang terjadi? Di tingkat pedagang grosir harga beras Agustus 2015 naik 12,3 persen dibanding dengan Mei 2015. Sampai kapan harga beras akan berhenti naik? Belum bisa diprediksi. Bila sampai akhir tahun atau bahkan sampai menjelang musim panen raya padi 2016. Apalagi El Nino yang berdampak pada kekeringan lebih panjang baru saja mulai. Musim paceklik sebentar lagi tiba. Produksi beras akan terhenti dalam waktu tiga-empat bulan kedepan. (HERMAS E PRABOWO)

Sumber : Kompas

Galeri Video

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi