Menteri Amran Paparkan Kebijakannya Dongkrak Produksi Pertanian

KEBIJAKAN Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan sangsi pencabutan anggaran bagi daerah yang gagal tinggalkan produktivitas pertanian di wilayahnya ternyata ampuh mengangkat produktivitas pertanian. Dari 26 Bupati/Walikota yang mendapat raport merah, kini hanya menyisakan 6 Kabupaten/Kota.

Menteri Amran mengungkapkan, salah satu bantuan yang ditebar pemerintah berupa benih. Dalam paket bantuan benih tersebut, Menteri Amran menyarankan agar benih tersebut dibagikan kepada petani yang menggarap lahan sawah baru, bukan lahan yang sudah ada, “Dengan penanaman di lahan baru, praktis produksi padi kita meningkat.” Kata Menteri Amran saat bertandang di kantor redaksi Rakyat Merdeka, di Jakarta kemarin.

Awalnya kebijakan itu banyak diprotes para Bupati dan Walikota. Namun Menteri asal Bone, Sulawesi Selatan ini tidak goyah. Selain itu, Menteri Amran juga menggariskan kepada para Bupati dan Walikota yang telah meminta bantuan dari pemerintah jika tidak berhasil meningkat produksi pertaniannya maka anggarannya akan dipotong.

Menurut Menteri Amran, penerapan kebijakan itu merupakan bagian dari sistem reward and punishment dalam rangka mengoptimalkan bantuan pertanian pemerintah yang naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya, “Hasilnya yang tadinya ada 26 Kabupaten mampu merah dan kini di periode April, September ini tinggal 5-8 Bupati,” katanya.

Lebih lanjut, untuk menggenjot hasil pertanian, Menteri Amran juga merevisi aturan tender dalam pengadaan bantuan pemerintah bagi petani. Dulu diungkapkan Menteri Amran, bantuan benih, pupuk, dan alsintan (alat mesin pertanian) ditender, “Anda tahu, APBN pagunya munculnya di Januari-Febuari saat musum hujan. Lelang butuh waktu tiga bulan, sementara umur padi 3 bulan. Artinya apa, setelah panen baru bibit, pupuk, dan traktornya datang,” katanya.

Atas dasar itu, Menteri Amran meminta Presiden Joko Widodo merevisi peraturan presiden tentang tender menjadi penunjukan langsung, “Ini dilakukan karena dipertanian itu tanaman semusim, tidak bisa disamakan dengan membangun DAM, jalan raya. Ini semusim, kalau lewat kita tidak bisa balik lagi.” Jelasnya.

Bukan hanya itu, Menteri Amran juga berupaya memastikan pupuk bagi petani tersedia tepat waktu. Bagi para pemain, dia tidak segan-segan melaporkan ke aparat penegak hukum. Sampai hari ini, 30 orang sudah diculik karena berupaya oplos pupuk.

Dari berbagai terobosan itu pula, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan produksi padi yang pada tahun 2014 sebesar 70.884707 ton meningkat 5 juta ton menjadi 75.550.895. “(peningkatan produksi padi) 5 juta ini selesai (swasembada padi, red). Cuma saat ini ada ada el-nino. Mudah-mudahan tidak terlalu terpengaruh, yang penting kita sudah berbuat bagi republik ini,” tutunya.

Sumber : Rakyat Merdeka

Archive

Panduan Teknis

Teknik Ubinan
Daftar Periksa Budidaya Padi Sawah Lahan Irigasi (Indonesia Rice Check)
Jajar Legowo Super
Panduan Teknologi Budidaya Padi Tanam Benih Langsung (TABELA)

Buku

Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 2 Bagian 1
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 2
Prosiding Padi 2017 Buku 1 Bagian 1

Booklet, Leaflet, Poster

Seminar Nasional dan Gelar Teknologi Varietas Unggul Padi Terbaru
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 43 Agritan GSR
Varietas Padi Green Super Rice (GSR): Inpari 42 Agritan GSR
Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS 2015

Jajak Pendapat

Dari 6 konten website BBPADI berikut ini, apa yang menjadi konten favorit anda?

Berita - 37.4%
Galeri Foto - 22%
Galeri Video - 12.1%
Kliping Padi - 13.2%
Publikasi - 4.4%
Tahukah Anda - 11%
The voting for this poll has ended on: 01 Des 2017 - 00:00

Infografis

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Keunggulan Varietas Tarabas
Varietas Unggul Baru Untuk Agroekosistem Tertentu
Pengendalian Virus Kerdil
Fakta Tentang Wereng: Wereng Batang Coklat
Padi adalah Kehidupan

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Sosial Media

Statistik Website

Hari ini536
Hari kemarin2568
Minggu ini15563
Bulan ini59107
Jumlah Pengunjung1385019
Online sekarang
53

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Menteri Amran Paparkan Kebijakannya Dongkrak Produksi Pertanian

KEBIJAKAN Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan sangsi pencabutan anggaran bagi daerah yang gagal tinggalkan produktivitas pertanian di wilayahnya ternyata ampuh mengangkat produktivitas pertanian. Dari 26 Bupati/Walikota yang mendapat raport merah, kini hanya menyisakan 6 Kabupaten/Kota.

Menteri Amran mengungkapkan, salah satu bantuan yang ditebar pemerintah berupa benih. Dalam paket bantuan benih tersebut, Menteri Amran menyarankan agar benih tersebut dibagikan kepada petani yang menggarap lahan sawah baru, bukan lahan yang sudah ada, “Dengan penanaman di lahan baru, praktis produksi padi kita meningkat.” Kata Menteri Amran saat bertandang di kantor redaksi Rakyat Merdeka, di Jakarta kemarin.

Awalnya kebijakan itu banyak diprotes para Bupati dan Walikota. Namun Menteri asal Bone, Sulawesi Selatan ini tidak goyah. Selain itu, Menteri Amran juga menggariskan kepada para Bupati dan Walikota yang telah meminta bantuan dari pemerintah jika tidak berhasil meningkat produksi pertaniannya maka anggarannya akan dipotong.

Menurut Menteri Amran, penerapan kebijakan itu merupakan bagian dari sistem reward and punishment dalam rangka mengoptimalkan bantuan pertanian pemerintah yang naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya, “Hasilnya yang tadinya ada 26 Kabupaten mampu merah dan kini di periode April, September ini tinggal 5-8 Bupati,” katanya.

Lebih lanjut, untuk menggenjot hasil pertanian, Menteri Amran juga merevisi aturan tender dalam pengadaan bantuan pemerintah bagi petani. Dulu diungkapkan Menteri Amran, bantuan benih, pupuk, dan alsintan (alat mesin pertanian) ditender, “Anda tahu, APBN pagunya munculnya di Januari-Febuari saat musum hujan. Lelang butuh waktu tiga bulan, sementara umur padi 3 bulan. Artinya apa, setelah panen baru bibit, pupuk, dan traktornya datang,” katanya.

Atas dasar itu, Menteri Amran meminta Presiden Joko Widodo merevisi peraturan presiden tentang tender menjadi penunjukan langsung, “Ini dilakukan karena dipertanian itu tanaman semusim, tidak bisa disamakan dengan membangun DAM, jalan raya. Ini semusim, kalau lewat kita tidak bisa balik lagi.” Jelasnya.

Bukan hanya itu, Menteri Amran juga berupaya memastikan pupuk bagi petani tersedia tepat waktu. Bagi para pemain, dia tidak segan-segan melaporkan ke aparat penegak hukum. Sampai hari ini, 30 orang sudah diculik karena berupaya oplos pupuk.

Dari berbagai terobosan itu pula, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan produksi padi yang pada tahun 2014 sebesar 70.884707 ton meningkat 5 juta ton menjadi 75.550.895. “(peningkatan produksi padi) 5 juta ini selesai (swasembada padi, red). Cuma saat ini ada ada el-nino. Mudah-mudahan tidak terlalu terpengaruh, yang penting kita sudah berbuat bagi republik ini,” tutunya.

Sumber : Rakyat Merdeka

Berita Terbaru

Sensor Tanah Proximal: Uji Tanah Cepat, Tepat, dan Murah

Info Teknologi | 11-04-2018 | Hits:410

Sensor Tanah Proximal: Uji Tanah Cepat, Tepat, dan Murah

Sekam Padi, Dari Limbah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Info Teknologi | 02-04-2018 | Hits:377

Sekam Padi, Dari Limbah Jadi Bahan Bakar Alternatif

Mengenal Padi Sejak Usia Dini

Berita Utama | 15-03-2018 | Hits:599

Mengenal Padi Sejak Usia Dini

Launching Inovasi Baru Lahan Kering

Berita Utama | 13-02-2018 | Hits:1126

Launching Inovasi Baru Lahan Kering

Dengan Inovasi, Lahan Kering Mampu Berproduksi Tinggi

Info Aktual | 01-02-2018 | Hits:3268

Dengan Inovasi, Lahan Kering Mampu Berproduksi Tinggi

Padi Gogo Potensi Hasil Tinggi

Info Teknologi | 18-01-2018 | Hits:3732

Padi Gogo Potensi Hasil Tinggi

Padi  Lahan Kering Dataran Tinggi

Info Teknologi | 11-01-2018 | Hits:3643

Padi Lahan Kering Dataran Tinggi

Kontak Informasi

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

  • Alamat Jl. Raya 9, Sukamandi, Subang 41256, Jawa Barat
  • Telepon (0260) 520157
  • Fax (0260) 520158

Hak Cipta © 2015. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi